
Cringg...
Bel pulang sekolah berbunyi dan aku bergegas memasukkan semua buku bukuku ke dalam tasku.
"Sit kita jadikan" ujar ditto berjalan menuju arah bangkuku
"(Aku hanya menangguk)"
"Ntar sepeda lu taroh di bagasi mobil gue dan lu naik mobil gue saja" ujar ditto
Di dalam mobil tak ada perbincangan sedikitpun kali itu namun setelah ditto membuka perbincangannya akhirnya dalam mobil tersebut suasana tidak hening lagi.
"Sit lu kok berani banget sih nantang kak Brayn?" ucap ditto sambil menyetir
"Diakan manusia dit, mana mungkin aku takut sama dia" ujarku kepada ditto.
"Padahal dia itu bisa melakukan berbagai cara buat ngehancurin lu" ucap ditto lagi
"Dit, gue percaya kok gue bisa ngerubah sikap kak Brayn yang angkuh" ujarku.
Tak terasa mobil ditto sudah berada di depan rumah sederhanaku.
"Assalamualakum yah" sapaku kepada pak Parman
"Siti dia siapa?" ujar pak Parman yang kali itu sedang ngopi di depan rumah
"Temen yah" ujarku
Kemudian aku dan ditto mencium tangan pak Parman dengan sopan.
"Dit masuk yuk, maaf ya kondisi rumah aku memang begini" ujarku kepada ditto
"Santai aja lah sit" ucap ditto
"Buk, ada temen Siti datang nih" teriakku memanggil bi Ani
"Iya" teriak kembali bi ani
Dan aku dan dittopun melakukan hal yang sama kepada bi Ani.
"Ya udah kalian ngobrol dulu saja ya, ibuk mau cuci piring" ucap bi Ani
"Loh buk, bukannya itu tugas Siti, ibuk istirahat saja di kamar" ucapku berbohong kepada ditto
"Udahlah sit, ibu tau kamu capek" sahut bibi
"Emm sit rumah lu adem juga ya" ujar ditto
"Ya beginilah dit ,oh iya sampe lupa nawarin kamu minuman" ucapku
"Nggak usahlah sit" ujar ditto sambil melihat lihat keadaan ruang tamuku
"Lu kan tamu, eh lu mau minum apa? Air putih atau teh?" sapaku
"Terserah" ujar ditto
"Dit, maaf ya gue nggak punya minuman mahal" ucapku
"Sit, air putih saja" ujar ditto.
"Okey" sahutku
Setelah selesai memberikan minum kepada ditto akupun duduk kembali di kursi ruang tamu
"Piala lu banyak banget" ujar ditto
"Iya dit, dari dulu aku suka mengikuti berbagai lomba di sekolah maupun di luar" ujarku kembali kepada ditto.
Tak lama kemudian ditto berpamitan pulang kepada aku, bi Ani, dan pak Parman atau orang tua abal abalku.
*****
Pagi ini adalah hari kak Brayn mengikuti lomba basketnya. Ia menjadi kapten di tim basket SMANBhak. Semua siswi terlihat antusias dalam menonton lomba tersebut dan menyemangati kak Brayn salah satu tujuan dari siswi siswi itu.
"Sit lu datengkan di acara lomba basket sekolah kita?" ujar ditto
"Enggak ah dit, aku nggak terlalu suka sama yang gituan" ucapku sambil menutup novel yang aku baca
"Ayolah sit lu dateng ya, gini deh lu dateng buat nyemangati gue" ujar ditto memohon
__ADS_1
"Okelah dit kalo kamu maksa" ucapku menatap mata ditto
Tiga jam lagi pertandingan akan di mulai siswa siswa lebih memilih untuk datang lebih awal di pertandingan agar mereka dapat kursi paling depan. Berbeda denganku aku menyibukkan diriku untuk membeli dua botol air minum buat Ditto teman baikku di sekolah dan satu lagi buat kak Brayn yang diam diam aku menaroh botol air minum untuk kak Brayn di lokernya.
"Eh PU lu ngapain ada di loker laki laki?" ujar Kanya
"Kebetulan aja lewat terus akk..u" ucapku dengan ragu ragu karna aku kepergok ada di loker laki laki
"Santai aja kali PU, pasti lu mau nyemangatin ditto kan?" ujar Kanya yang membuat aku nerves
"Iya aku mau nyemangatin ditto" ujarku dengan ragu ragu.
Dengan santai aku memasuki gedung olahraga dan berpenampilan seadanya itu ciri aku. Aku memilih untuk duduk di bangmu kosong yang kebetulan ada di deretan nomer dua. Aku memasang mataku dan menemukan ditto dan kak Brayn di salah satu tempat di gedung ini.
Pertandingan basket segera di mulai. Semua siswa antusias memasang matanya hanya untuk melihat aksi dari kak Brayn yang sangat keren. Mereka memasang hp mereka untuk memotret segala gaya yang di pertontonkan oleh kak Brayn.
"PU, lu kok bisa banyak masalah sih sama kak Brayn?" ucap Amira yang duduk di sebelah kursiku dengan rasa herannya.
"Dia yang mulai duluan" ujarku tanpa menatap sedikitpun wajah Amira
"Gitu ya pu, eh puu lihat deh seseorang yang duduk di sebelah dana" ujar Amira yang menunjukkan aku untuk melihat seseorang yang duduk di bangku sebrang dari kita.
Aku melihat wanita yang cantik dengan rambut teruai, rambutnya bergelombang, tapi masih cantikan aku sih.
"Siapa?" ucapku yang ingin tau
"Itu mantannya kak Brayn ,tapi dia masih ngejar ngejar kak Brayn" ucap Amira sambil memakan Pop Cron.
"Kasihan dong cewek itu, pacaran kok sama orang yang angkuh" ujarku kepada Amira
"Cihh..."
Sekor sementara SMANBhak mendapatkan 5 dan SMA Adiwijaya mendapatkan 4.
Aku mendecu kesal karna aku tidak terlalu suka dengan olahraga basket karna aku iri dengan mereka. Mereka bisa bermain basket dengan sepuasnya sedangkan aku, aku disini berpenampilan sebagai Siti yang tidak suka bermain basket.
Kak Brayn menunujukkan berbagai aksinya. Namun saat ia berhasil mendapatkan bola dan ingin memasukkannya di ring lawan kaki kak Brayn tersandung oleh kaki lawan mainnya yang lawan mainnya melakukan dengan sengaja, sehingga membuat kak Brayn jatuh seketika.
BRUKK...
Kak Brayn terjatuh semua siswa berdiri dan terkejut melihat kak Brayn terkapar. Kepala kak Brayn terpentok oleh lantai gedung olah raga dan ia tak sadarkan diri seketika. Permainan lomba basket babak pertamapun sudah selesai dan aku bergegas beranjak dari temoat duduk penonton dan membawa air minum untuk ditto dan menghampiri ditto.
"Thanks ya sit, lu udah mau dateng dan ngasih minum ke gue" ujar ditto sambil mrnebarkan senyum manisnya.
"Dit kamu hebat banget main basketnya" ujarku yang kagum melihat penampilan ditto
"Thanks ya pujiannya, oh ya sit kamu kesini sendiri?" ujar ditto sambil mengelap elap keringat yang bercucuran di tubuhnya
"Iyalah dit, emang saya sama siapa kalo nggak sendiri" ujarku kepada ditto
"Emm, kalo gitu ntar gue boleh anterin pulang lu kan?" ujar ditto
"Dit, aku nggak mau kamu kecapekan" ujarku yang menolak perlahan lahan ajakan ditto
"Sit, gue seneng banget lu perhatian sama gue tapi gue lebih seneng kalo lu mau nerima tawaran gue" ujar ditto memohon
"Ttta...ap" ucapanku terpotong oleh kata kata salah satu teman dari ditto di tim basket
"Gays, Brayn terluka parah dan dia harus di larikan di rumah sakit" teriak laki laki itu.
Mataku langsung melotot mendengar kata kata dari temen Ditto, pikiranku terngiang ngiang akan penyakit gejala radang selaput otak dari kak Brayn.
"Emang segitu lemahnya kak Brayn?" ujar ditto
"Dit, aku pergi dulu ya soalnya aku udah di telfon pak Handoko buat nyelesaiin berkas berkas olimpiade hari ini" ujarku berbohong kepada ditto agar aku dapat melihat kondisi dari kak Brayn
Aku berlari menuju ruang dari kak Brayn berada dan aku melihat bibir kak Brayn memucat dan hidung kak Brayn terpasang oksigen dan yang lebih parahnya lagi kak Brayn belum membuka matanya sama sekali.
Ambulance datang dan membawa segera kak Brayn ke rumah sakit. Disana terlihat ada mantan dari kak Brayn ikut mengantarkan kak Brayn ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit kak Brayn masih belum sadar dan langsung di bawa menuju ruang UGD disana terlihat ada mantan dari kak Brayn dan dua orang teman laki lakinya. Aku hanya bisa melihat kondisi kak Brayn dari sudut tersembunyi.
"Emm Dar, kita pamit dulu ya soalnya kita juga ada urusan lainnya" ujar dua teman dari kak Brayn kepada mantan kak Brayn
Mantan kak Brayn hanya bisa mengangguk dan menunggu dokter keluar namun. Sudah hampir 30 menit dokter masih belum keluar dari ruangan kam Brayn. Aku merasa sangat khawatir dengan kondisi kak Brayn yang sekarang berada di ruang UGD dan dengan penyakit dideritanya .
"Haloo mah," ujar mantan kak Brayn yang sedang memangkat telfon
"Iy..ya mah Dara pulang sekarang" ujar mantan daribkak Brayn sebel bergegas meninggalkan ruangan kak Brayn
__ADS_1
Sekarang tidak ada satupun orang yang masih setia menununggu kak Brayn kecuali aku. Aku berjalan menuju tuang UGD dan menunggu dokter keluar dari ruangan itu.
"Pah Brayn gimana keadaannya" ujar seorang wanita yang tiba tiba datang dengan suaminya ke ruang UGD
"Udah mamah tenang ya" ujar laki laki itu menguatkan istrinya
"Ehh, kamu siapa?" ujar wanita itu dengan heran bertanya kepada saya
"Saya teman dari Brayn om tante" ujarku dengan lembut dan sopan
"Jadi, hanya kamu saja yang menemani Brayn disini?" ujar laki laki itu yang kelihatannya mereka berdua adalah kedua orang tua dari kak Brayn.
"Tadi sebenarnya ada kak Dara, sama dua orang temannya tapi mereka pamit pulang dulu ada keperluan mendadak katanya" ujarku
"Nama kamu siapa?, kok saya belum pernah lihat kamu ya?" ujar mamah dari kak Brayn
"Saya Siti tante" ucapku dengan lembut
"Ohh kamu yang kemarin mengechat hp saya Brayn pingsan?" sahut mamah dari kak Brayn
"I..ya tante" ucapku dengan pelan
Di tengah obrloanku dengan kedua orang tuanya kak Brayn dokter keluar dari ruang UGD.
"Permisi, keluarga dari pasien tersebut" ujar dokter tersebut
"Iya kami" ucap papah daribkak Brayn yang beranjak dari tempat duduknya
"Jadi begini, Brayn mengalami penyakit radang selaput ota yang masih belum menyebar, radang selaput otak yang diderita pasien tersebut masih kecil" ujar dokter tersebut yang membhat aku dan kedua orang tuanya kak Brayn syok seketika.
Mamah kak Brayn langsung menangis dan memilih untuk duduk lagi setelah memepersilahkan dokter tersebut pergi.
Berbeda dengan kedua orang tua kak Brayn akupun tidak pernah menyangka bahwa kak Brayn benar benar menderita penyakit itu. Mamah kam Brayn kemudian memelukku dengan hangat dan aku kembali memeluk mamah dari kak Brayn yang terlihat sangat sedih.
"Siti, mamah, apa kalian bisa jaga rahasia kalian buat Brayn?" ujar papah kak Brayn yang memudarkan pelukanku dengan mamah kam Brayn
"Maksut papah apa?" ujar mamah dari kak Brayn
"Jadi kita senbunyikan penyakit Brayn dari Brayn, papah takut kalo dia tau keadaan dia akan semakin memburuk" ujar papah kak Brayn
"Iya om, Siti ngerti dan Siti akan janji sama om dan tante kalau Siti nggak akan ngasih tau soal ini kepada kak Brayn" ucap janjiku kepada mereka berdua
"Papah yakin?" ucap mamah kak Brayn
"Iya mah ,kita cari waktu yang tepat untuk menberi tahu semuanya" ujar palah kak Brayn yang menguatkan pendapatnya
Kemudian aku dan kedua orang tuanya kak Brayn memasuki ruang UGD tempat kak Brayn sekarang berada. Dia terlihat sangat pucat dan lemah dengan tubuhnya yang seperti ini. Aku di persilahkan duluan oleh kedua orang tua kak Brayn mslihat kondisi kak Brayn dari dekat. Aku menggenggam tangab kak Brayn yang tanpa tenanga.
Entah kenapa air mataku tiba tiba jatuh membasahi tangan kak Brayn.
"Kak, Siti tau kakak suka debat dan bertengkar sama Siti tapi siti nggak tega kalo lihat kakak seperti ini, kakak yang angkuh dan sombong seakan telah hilang" ucapku yang duduk di kursi sampung kak Brayn berada dan memegang tangan kak Brayn dan mengacak acak rambut kak Brayn
"Kak, Siti yakin kakak kuat kok" ujarku kepada kak Brayn yang masih belum sadar.
"Siti kamu boleh pulang kok sayang, kalo kamu mau pulang" ujar mamah kak Brayn dengan lembut
"Iya tante" ucapku kemudian menghapus air mataku yang terjatuh membasahi kedua pipiku
"Om antar kamu ya" ujar papah dari kak Brayn
"Nggak usah om, Siti bisa pulang sendiri" ucapku
"Hati hati kamu sayang, tante sangat nyaman sekali kalo kamu disini" ujar mamah dari kak Brayn sebelum aku meninggalkan ruang tersebut dan pulang ke rumah.
Ini perihal cinta
Antara aku, kamu, dan dia
Dimana sekarang posisiku bukan sebagai pelaku utama di hidupmu
Jangan lupa vote..vote..dan vote..
Komentar,aspirasinya juga author tunggu
Maafin author ya kalo banyak typonya
Jangan lupa juga follow akun author ya
Love you😘
__ADS_1