The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 27


__ADS_3

Gue dan Gina berjalan keluar dari cafe young menuju ke rumah green house yang kebetulan jaraknya lumayan dekat.


"Cat, lu cantik banget sih sekarang" puji Gina sambil mencubit pipi kiriku


"Au, gina sakit tau" rengekku sambil memegang pipi kiriku


"Catlyn, kenapa lu nggak balikan aja sama Dion?" ujar Gina menuju parkiran


"Suka suka gue dong" sahutku sambil memutarkan bola mata


"Ihhh, lu tuh ya gemesin banget sekarang" ucap Gina sambil menjotos tangan kiriku pelan pelan


"Apaan sih gin sakit tau" ucapku seketika


Aku memasuki mobilku dan bersiap untuk menjadi supir dari sahabatku sendiri.


"Sudah siap non?" ucapku sambil melihat ke arah Gina yang sedang asik bermain hp di dalam mobil


"Hmmm" sahut Gina


"Baiklah, kali ini kamu akan rasakan sensasi di area pembalap, bersiaplah" ucapku sambil bersiap untuk mengegas mobil dengan kepandaianku seperti pembalap


"Lu nggak pernah berubah ya dari dulu sampai sekarang" ucap Gina sambil menaruh hpnya di dalam tasnya


"Lukan tau gue" ucapku sambil mengegas mobil seketika dan memberi kecepatan penuh


"Woyy, lu mau bikin gue celaka?" ucap Gina sambil berpegang erat pada sabuk pengamannya


"Udah deh diem aja" sahutku yang fokus dalam menyetir


"Sumpah, lu tuh kayak pembalap" teriak Gina tak tahan


Aku hanya melirik ke arah Gina dan membarikan tubuhku melakukan hal yang dulu biasa aku lakukan sambio mengeraskan suara audio di mobil itu.


Jari jariku menghentak hentak di setir mobil dan Gina ia hanya menatap aku dengan penuh ketakutan.


"Lu kenapa Gin, takut?" ucapku


"Nggak gue nggak takut" sahut Gina seketika


"Kok muka lu seperti orang ketakutan gitu sih" sahutku dengan menatap ke arah Gina


"Lu tuh udah sahabatan sama gue berapa tahun sih?, ya iyalah gue takut orang lu nyetir mobilnya kayak orang kesambet" ucap Gina


Tak terasa ternyata gue sama Gina udah sampai di depan rumah green house dan mobil yang mengerem mendadak membuat Gina terkejut seketika.


"Mending tadi gue yang nyetir" ucap Gina


"Yah udah terlanjur, ya udahlah intinya kita udah sampai di depan rumah" ucapku sambil keluar mobil


Aku memasuki rumah green house tanpa mengucapkan salam dan sopan santun. Sejujurnya gue emang kangen menjadi diri gue yang sukanya ngelanggar aturan dan bikin orang jengkel.


"Bi, bikini jus strowberry ya tanpa lama, 5 menit harus sudah sampai ke kamar" teriakku sambil memasuki arah kamar


"Baik non" ucap Bibi yang sedang mengelap meja ruang tamu


Gue memasuki kamar dan merebahkan tubuhku di kasur empukku sedangkan Gina ia langsung berlari menuju ke kamar mandi, mungkin ia sedang muntah muntah karna mabok perjalanan.


"Eh gin lu kenapa habis muntah?" ucapku saat lihat Gina berusaha memasuki kamarku dengan wajah yang sangat pucat


"Lu nggak liat gue kenapa" teriak Gina yang langsung mengambil posisi tidur di kaasurku.


Aku hanya melirik ke arah Gina tanpa membalas kata katanya

__ADS_1


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari luar kamar membuatku untuk mempersilhakan masuk.


"Ini non jusnya" ucap Bibi


"Taruh aja di meja" sahutku sebelum bibi pergi meninggalkan jusnya di meja


Cringg...


Bunyi hpku yang mengejutkanku seketika


(Tante Rani) nama yang muncul di layar hpku


"Hallo tante?" ucapku mengangkat telfon dari tante Rani yang membuatku penasaran


"Siti, kamu lagi sibuk?" ujar Tante Rani di Telfon


"Emm, kalo di bilang sibuk sih sibuk, tapi kalo mau di bilang enggak ya juga enggak terlalu sibuk" ucapku sambil emnjauh dari arah Gina


"Tapi kamu bisakan membujuk Brayn untuk mau di kemo?" pinta Tante Rani


"Bukanya nolak tante, tapika hubungan Siti dengan kak Brayn lagi nggak enak" sahutku tanpa pikir panjang


"Ayolah Siti, tolongin Tante, kalo dia nggak mau di kemo kondisi dia akan semakin memburuk sayang" ucap Tante Rani memohon


"Baiklah tante, nanti akan Siti coba" ucapku dengan sangat terpaksa.


Aku mematikan telfon dan mencari kontak Kak Brayn di hpku dan memberanikan diriku untuk memulai mengirim pesan ke kak Brayn dalam via Whats App.


Kak Bryn Songong, Dekil, Nyebelin


Kak Brayn?


Kak maaf kalo aku lancang, aku cuman mau ngingetin kalo ini jadwal kakak untuk kemo


Jangan ngatur hidup gue..!


Bukannya ngatur kak, tapi ini memang jadwal kakak untuk kemo


Siapa sih lu, lu itu cuman benalusi hidup gue aja, jadi nggak usah sok ngatur ngatur hidup gue..!


Kakak nggak kasihan sama mamahnya kakak? Yang setiap hari selalu mengkhawatirkan keadaan kakak?


Gue tau lu nyuru nyuru gue buat kemo, karna lu itu nggak tau rasanya di kemo itu seperti apa..!, jadi menurut gue mending lu nggak usah nyuruh nyuruh gue sembelum lu ngalamin rasanya di kemo seperti apa..!


Ya emamangĀ  Siti nggak tau rasanya di kemo tapi setidaknya Siti pernah ngerasaain gelapnya dunia ini kak.


-----0-----


Namun usahaku membujuk kak Brayn hanya berbuah sia sia, mengapa tidak kak Brayn langsung mengeblok nomer wa ku dan mematikan hpnya seketika.


Aku tak ingin kelihatan murahan di depan kak Brayn, namun di sisi lain aku kasihan dengan tante Rani secara Kak Brayn adalah anak satu satunya Tante Rani sepengetahuanku.


"Gin, gue mau pergi dulu" ucapkku seraya mengambil tas yang aku gantung


"Eh, lu mau pergi kemana? Cepat banget " sahut Gina


"Bentar aja kok, kalo lu mau apa apa bilang aja sama bibi" teriakku menuju keluar kamar


Aku bergegas untuk menuju ke rumah bi Ani dan membereskan rambutku seperti biasanya.


Tak lama kemudian aku menuju ke rumah Kak Brayn dan bertemu dengan Kak Brayn meskipun aku masih sakit hati nengenai kejadian kamarin.

__ADS_1


Tok tok tok..


"Kak Brayn..." ujarku di depan pintu rumah Brayn Nata Negara


"Silahkan masuk non, mau cari siap?" ujar Bibi yang bekerja di rumah kak Brayn


"Siapa bi?" teriak Tante Rani menuju pintu


"Ada Siti ternyata, ayo masuk" ujar Tante Rani yang mempersilahkanku untuk memasuki rumahnya


"Iya tante" ucapku sambil memberi senyuman hangat keoada tante Rani


"Tante mohon bujukin Brayn ya, supaya dia mau untuk di kemo" Pinta tante Rani dalam perjalanan menuju ruang tamu


"Siti akan coba tante" sahutku sambil memberikan sebuket bunga kepada tante Rani untuk di berikan kepada Kak Brayn setelah aku pulang.


"Bentar ya, tante panggilin Brayn dulu" ucap Tante Rani sambil mempersilahkanku untuk duduk


"Brayn" teriak tante Rani


Bola mataku berputar putar kesana kemari melihat isi rumah dari seorang Brayn Nata Negara. Banyak foto foto kak Brayn yang masih tertata rapi.


"Lu ngapain ke sini" kejut kak Brayn yang tiba tiba datang


"Emm, anu kak" ucapku yang masih kagok


"Apa?" sahut Kak Brayn yang masih berdiri di hadapanku


"Bryn Nata Negara" teriak suara dari luar rumah


"Hah? Dara" ujar kak Brayn dengan pelan


"Kenapa kak?" sahutku


"Lu ikut gue sekarang" ujar kak Brayn sambil memegan tanganku seketika dan membawaku menuju ke kamarnya


"Lu diem disini" ucap Kak Brayn yang memasukkanku ke dalam kamarnya


"Kak Brayn mau apakan aku?" sahutku dengan polos


"Intinya lu diem di sini, jangan ada suara" ujar Kak Brayn seperti orang ketakutan


Aku membalas kak Brayn dengan anggukan, sebelum kak Brayn meninggalkanku di dalam kamarnya.


"Hay Dar, mau ngapain?" terdengar suara Kak Brayn dari luar kamar


Aku mulai melihat lihat isi kamar kak Brayn dan mencari sesuatu untuk bisa ku lihat mengenai sisi dari kak Brayn. Sampai sampai aku menemukan buku yang sangat usam di dalam laci dari kamar kak Brayn.


"Buku apa ini?" tanyaku pada diriku sendiri


Yang membuatku makin penasaran, dilihat dari covernya buku tersebut seperti mengisahkan banyak kenangan, namun aku tak tau akan isi buku itu seperti apa.


Jika kamu adalah pelaku utama dalam kehidupannya maka, majulah jangan berhenti untuk dapat merebut posisimu itu.


Bagaimana ceritanya gays?


Menurut kalian apa sih isi buku itu? Sampai bisa membuat Siti penasaran...?


Slow update ya,


Budayakan vote dan komen ya..!


Authornya baik kok, jangan takut kalo mau komen atau mau kirim pesan...!

__ADS_1


Love you..!


__ADS_2