The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 52


__ADS_3

Rayhan menggenggam tanganku. Menguatkan tubuhku agar aku tidak terjatuh. Ia sama seperti Reynan selalu ada tanpa harus aku minta.


"Lyn, lo yang kuat ya" ujar Rayhan dalam langkahan kaki yang sejalan.


"Ray, temenin gua ya"


"Tanpa lo mintapun, gua akan nemenin lo. Udah ya jangan nangis dulu"


Rayhan mempercepat langkahnya. Kamipun pergi meninggalkan sekolah. Dengan kecepatan yang lumayan cepat Rayhan mengendarai mobil secara teliti. Terlihat sesekali ia menatapku. Memastikan diriku agar baik - baik saja.


"Alyn, lo harus tegar. Bagaimanapun nantinya lo ngga boleh lemah"


Ternyata setelah aku cek kembali mamah kak Brayn mengirimkan pesan kalau kak Brayn sudah dibawa ke rumah. Akupun segera memberitahu Rayhan.


"Ray cepetan yaa.. " ucapku


Rayhan mempercepat laju mobilnya. Sesampainya dirumah kak Brayn. Bendera kuning terpasang didepan rumahnya. Aku berusaha untuk menguatkan tubuhku agar tidak terjatuh untuk saat ini. Rayhan yang menyatukan jari jemari tangannya ke jari jemari tanganku. Mulai terlihat mengisyaratkanku agar aku tetap kuat. Aku mulai memasuki rumah Kak Brayn dengan suasana yang penuh tangisan.


"Lyn, lo kuat" ucap Rayhan


"Pasti" sahutku.


Terlihat jenazah kak Brayn sudah dibaringkan. Jarik batik berwarna cokelat telah menutupi tubuhnya. Mamah kak Brayn masih tetap duduk disamping kak Brayn. Akupun mulai memberanikan diriku agar tetap mendekat meskipun aku sendiri sudah menyerah menahan tangisan. Seketika, mamah Kak Brayn memeluk tubuhku erat dengan penuh tangisan. Aku mulai melihat wajah kak Brayn yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia terdiam. Telinganya, hidungnya tertutup oleh kapas.


"Lyn, gua bantuin yang lain ya, buat mempersiapkan pemakaman Brayn" ujar Rayhan


"Iy... A" sahutku.


Tangisanku pecah seketika. Semuanyaa seakan berlalu begitu cepat. Antara aku dan kak Brayn yang nyatanya tidak bisa menjadi kita. Rayhan dengan wajah yang badboy membantu mempersiapkan segala perlengkapan kak Brayn sebelum dimakamkan.


Tak lama kemudian, tubuh Kak Brayn dimasukkan ke liang lahat. Papah kak Brayn mengadzani anak kesayanganbya yang sudah tak bernyawa lagi. Rayhan yang masih memeluk tubuhkupun ikut menabur bunga diatas makam kak Brayn. Dalam batu nisan yang sudah berdiri kokoh tertulis nama Kak Brayn dengan sangat jelas. Rayhan membiarkanku sejenak berada disamping makam Kak Brayn.


"Kak Brayn yang tenang, Alyn akan selalu doain kak Brayn" ucapku


"Alyn" ujar mamah Kak Brayn


Suasana dimakam sungguh mencekam. Hanya tinggal mamah papah kak Brayn, aku, dan juga Rayhan.


"Ini ada kotak buat kamu dari Brayn. Kemarin sebelum Brayn menemui kamu disekolah Brayn sudah menitipkan kotak ini kepada tante. Brayn bilang juga sama tante kalau kamu boleh ngebuka kotak ini pada saat kamu sudah menemukan seseorang yang menggantikan posisi Brayn dihidup kamu." jelas mamah Kak Brayn


Kotak bewarna abu - abu itupun diserahkan kepadaku. Dengan mata yang masih menangis akupun menerima kotak itu didepan makam Kak Brayn.


*****


Aku memasuki kamarku dengan rasa yang masih tak ingin mengikhlaskan. Aku tau jika cerita antara aku dan kak Brayn adalah sebuah cerita singkat. Hingga aku telah melepaskannya meskipun aku sendiri tak ingin cerita ini berakhir pilu.


"Alyn" ucap Kak Raka dari luar kamar.


"Iya kak" sahutku sembari menghapus air mata dan berusaha tersenyum.


Aku membuka pintu kamarku. Tubuh Kak Raka tepat berada dihadapanku.


"Nanti ikut gua ya"


"Kemana? "


"Udah pokoknya Nanti jam 4 lo udah harus siap!"

__ADS_1


"Ahhh.. Ngga mau ah, ngapain juga ikut, kan aku ngga tahu mau kemana"


Aku memutar tubuhku kembali masuk kedalam kamar. Namun karena porsi kak Raka yang lebih tinggi dari aku ia secara cepat menghambat langkahku dengan menarik kepalaku dengan tangan panjangnya.


"Dasar bandel" ucap kak Raka mencubit pipiku


"Kak Raka sakit" tubuhku mengelus elus pipi kananku.


"Udah ah, gua mau ngurusin berkas berkas kantor dulu."


"Ya udah sana" sahutku.


******


Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB kak Raka mulai menggedor - nggedor pintu kamarku. Maklum kak Raka adalah tipe orang yang ontime. Dan aku?? Boro boro ontime relationship 5 menit saha Sudah Alhamdulillah.


"Ayo lyn, cepet! " Teriak kak Raka


"Iya bentar"


"Catlyn... Ayo buruan woyy!"


"Ihhh... Ngga sabaran banget sih"


Aku keluar dari dalam kamar. Mengenakan pakaian seadanya. Kak Brayn menggeret Tangianku. Ia membawaku ke sebuah mall yang ada dikawasan Jakarta.


"Lyn, kakak mau ngenalin kamu sama seseorang"


"Siapa? Si nenek lampir? "


"Iya si Dara yang sok cantik itukan"


"Nanti lo juga tahu sendiri" Ujar kak Raka sambio mengacak - apal rambutku.


Kamipun berjalan seiringan. Mungkin orang orang banyak yang mengira bahwa kami adalah dua Sekali yang sedang berpacaran, Namun ternyata tidak.


"Lyn, Lo mau minta gua beliin apa? "


"Kakak mau beliin apapun buat Alyn? "


"Udah bilang aja kalo semisal lo mau beli sesuatu, mumpung gua lagi baik hati"


"Cihhhhh... Ada apa sih sama lo? Tumbenan bangett"


"Nggak usah banyak suudzon jadi orang "


Sudah lama sekali kami tak berjalan bersama seperti ini. Biasanya kak Raka ada sesuatu jika mengajakku keluar rumah. Apalagi berniat membelikan sesuatu padaku.


"Raka" teriak perempuan dari arah salah satu toko tas yang ada di mall ini.


"Hay" teriak kak Raka kembali


"Oalah, jadi ini alasan kak Raka minta temenin keluar sama aku" ujarku


Kak Raka mendekati perempuan itu. Itu bukan nenek lampir. Dia terlihat lebib cantik dan lebih sopan.


"Apa kabar ka? " sapa perempuan itu

__ADS_1


"Kabar baik, lo sendiri udah selesai nyelesaiin S2?"


"Iya baru aja kemarin, terus gua balik ke Indonesia karna gua kangen sama Indonesia"


"Hebat dong kamu masih mau balik ke Indonesia "


"Gua mau mengabdi di negara kelahiran gua sendiri, pasalnya disana banyak yang sering membicarakan keburukan Indonesia tentang pendidikannya yang masih dibawah rata rata"


"Iya, gua juga agak risih sih dengernya"


"Oiya, ini pasti Catlyn kan? " sapa perempuan itu ke arahku


"Eiya sampai lupa gua, iya itu Alyn"


"Udah gede ya ternyata, padahal dulukan masih imut imut. "


"Siapa sih, sok kenal aja" sahutku menatap sinis wajah perempuan itu


"Astaga Caty, lo lupa sama gua? Ya ampunnn.. "


"Alyn, itukan kak Pricil" jawab kak Raka


"Emang ya dari dulu judesnya masih ngga hilang - hilang nih anak lo"


"What? Kak sisil? " Kejutku menatap lagi wajah perempuan itu


"Iya aku sisil"


"Eh mending kita ngobrolnya di cafe aja ya"


"Boleh" sahutku.


Kak Raka berjalan dibelakangku, dan aku bersama dengan Kak Sisil melangkah bersamaan. Kak Sisil menceritakan kisahnya selama ia berada di sydney.


"Eh kak Sisil btw udah punya pacar belum? " ucapku sesampainya di cafe.


"Belum" sahut kak Sisil


"Ahh masa sih kak? Kan kakak cantik, kenapa belum pacaran juga? " Tanyaku


"Ya karena Kak Sisil cintanya sama gua" ujar kak Raka membuatku ternganga seketika


"Ishhh.. Kak Sisil kenapa masih mau sama spesies tak tau malu ini? Gua aja sebagai adik kandungnya kadang suka merasa risih kalo jalan sama dia" ucapku


"Ya elah, lo tuh ngga pernah ya sesekali muji kakak lo sendiri" jawab kak Raka sambil melepar kentang goreng ke arahku.


"Aneh ya kalian dari dulu sampai sekarang selalu aja berantem mulu. Kayak kucing sama tikus"


"Kan dia yang mulai dulu kak! Kenapa sih kak Sisil mau sama tuh orang? " tanyaku


"Karena gua itu ganteng, baik, keren, pokoknya pas banget buat Sisil. Dan seharusnya lo itu bersyukur banget punya kakak macam gua. !"


"Hmmm... Iya iya bersyukurrr bangett"


Kami bertigapun menghabiskan hari ini dengan penuh cerita. Ternyata Kak Raka sama Kak Sisil masih sama sama daling mencintai. Dan perihal si nenek lampir ternyata kak Raka sudah tau sifat aslinya saat ia meiljat cctv di sekolahku.


Ternyata selepas kepergiannya. Aku dengan mudah bisa melupakannya. Meskipun hanya sesaat saja.

__ADS_1


__ADS_2