The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 29


__ADS_3

Masih dalam keadaan yang sama, aku berada di depan ruangan kak Brayn di kemo. Sebenarnya aku ingin sekali menemani pria angkuh itu didalam, namun dokter melarangku untuk masuk karna aku bukan dari keluarga Kak Brayn.


Aku terdiam duduk di depan ruangan Kemo Kak Brayn dengan keadaan diriku seperti Catlyn. Banyak orang yang memasang wajah aneh dan sinis ke arahku, termasuk salah satu pria berbadan kekar yang sekarang duduk di sampingku. Aku teringat akan kata kata Kak Rama dan Dedi mengenai musuh bisnis keluargaku.


Namun aku sama sekali tidak memasang raut curiga terhadap laki laki itu. Aku berusaha untuk mengehela nafas dengan santai agar fikiranku kembali jernih dan tidak berfikiran negatif terhadap pria ini.


Satu jam berlalu...


Masih dalam keadaan yang hening aku selalu berusaha untuk meramaikan perasaanku yang sekarang campur aduk.


"Siapa orang ini? Apakah dia musuh bisnis dedi?" pertanyaan yang tiba tiba hanyut dalam fikiranku


"Ahhh apa sih, postif thingking aja" ujarku dalam hati untuk menenangkan diriku sendiri


Seseorang pria berbadan kekar itu menamati diriku dengan tatapan yang sangat tajam dan menakutkan.


"Apa yang harus aku perbuat Tuhan?" ucapku lirih dalam hati


Aku berusaha untuk mengalihkan pandanganku pada dia dan menenangkan diriku kembali.


"Dek, dengan siapa kamu kesini?" ucap laki laki itu


aku bingung entah bagaimana cara aku menjawab agar tidak salah jawab.


Aku pura pura tak mendengar dan membuka handphoneku sambil mengotak atiknya.


"Ahhh Tuhan, kali ini aku benar benar nggak tau harus bagaimana" ucapku pasrah


Badanku bergemetar dari atas sampai bawah, kakiku tak berhenti untuk gerak dan tanganku mencoba untuk menyusuri huruf demi huruf.


"Aku harus bilang sama siapa ya?" ujarku terdiam


"Kak Rama? Ahh bukannya nanti malah aku dimarahin karna penampilanku seperti ini dan tanpa kawalan, Dedi? Nggak mungkinlah nanti pasti Dedi marah besar, Pak Parman? Tap..i Pak Parman ada tugas di rumah Kak Rama  jam segini" ujarku sambil mensecroll kontak dalam handphone


"Ohhh Tuhan, bantulah aku" harapku dalam kecemasan


Pria itu masih memandangiku, tepatnya kali ini serasa pria itu sedang mengabadikan momen denganku.


"Sayang ya cantik cantik kok tuli" ujar pria itu menyindirku


Aku sudah geram buat kali ini dan aku memutuskan untuk pindah tempat dan cari ketempat yang lebih aman.


Kali ini aku berada di taman belakang rumah sakit dan aku masih mencoba untuk mencari seseorang yang akan membantuku kali ini.


"Reynan, yah dia..! Siapa tau dia bisa bantu" ujarku sontak langsung mensecroll nama itu


Dirtt... Dritt...


Suara dentuman telfon masih terdengan dan belum ada respon dari Reynan.


"Hallo?" ujar Reynan dalam telfon


"Rey, help me" ucapku sontak membuat Reynan terkejut


"Alyn kenapa?" ucap Reynan yang terkejut


"Please help me" ujarku kali ini


Aku melihat ke arah belakang dan ternyata pria berbadan kekar itu mengikutiku sampai kesini. Pria itu memasang senyum sinis yang membuat tubuhku semakin bergemetar.

__ADS_1


"Okey, posisi lu dimana?" ujar Reynan


"Rey, gue takut" ucapku berbisik dan melirik ke arah pria tersebut


"Lu tenang ya, gue kesitu sekarang" sahut Reynan tanpa pikir panjang


"Gue ada di RS. Medika Jaya, tepatnya ditaman belakang" ucapku


Pria itu semakin dekat ke arahku dan membuatku terkejut sampai sampai handphoneku yangku genggam terbanting secara tidak sengaja.


"Hahahaha, tenanglah nona Catlyn" teriak pria itu dengan suara yang keras


"Siapa kamu?" sahutku dengan lirih


"Non Catlyn yang manis, ingatkah kamu dengan wajah saya?" ucap Pria itu yang membuatku mengingat kembali masa laluku


"Tak usah pikir lama lama, aku adalah musuh bebuyutan keluargamu, so saya adalah keluarga Pratama yang akan menghalalkan segala cara untuk memghancurkam kehidupan keluargamu, hahahahaha" ucap Pria itu sambil memasang senyum sinis


Pria itu adalah pria yang pernah menculikku waktu kecil namun usahanya itu gagal.


"Jangan deketin saya" ucapku setelah melihat langkahan kaki dari pria itu terus mendekat


"Ohhhh gadis yang malang" sahut pria itu sambil melangkahkan kakinya dan mendekat ke arahku


Tubuhku semakin bergemetar dan level ketakutanku naik seketika.


"Alyn?" ucap Reynan dalam telfon karna telfonnya belum aku matikan


"Tolong, tolong" teriakku yang terdengar oleh Reynan


"Alyn??, oke gue bentar lagi samapai" ucap Reynan yang tak ku dengar


Pria itu sudah tepat berada didepan tubuhku dan berlaga sinis dihadapanku. Ia nencoba untuk meraih tanganku namun aku berusaha untuk mundur beberapa langkah agar bisa menjauh darinya.


Masih dalam keadaan yang begitu menakutkan, aku masih memundurkan langkahku sampai pada titik pojok terakhir dan kali ini aku sudah tidak bisa mundur lagi karna sudah terhalang oleh tembok tembok sekat yang besar.


"Mau kemana lagi sayang?" ucap Pria itu yang mencoba mendekat denganku


"Reynan, reynan, reynan" ucapku lirih dalam hati


Pria itu mencekam pipiku dengan sangat keras dan tersenyum sinis.


"Kamu bisaku jadikan bahan untuk merebut kekuasaan" ucap Pria itu kepadaku


"Tap..i kenapa kamu lakukan seperti itu? Apa salah keluargaku?" ujarku dalam cengkaman


"Banyak" teriak laki laki itu yang kemudian melepaskan cengkamannya dan berbalik pada tamparan.


Plakkk...


Seketika pria itu menampar pipi kiriku. Tamparan yang sangat keras karna telah mrmbuat pipiku memerah dan tanganku berusaha untuk memegangi pipi kiriku tersebut.


"Alyn" teriak Reynan berasal dari lorong menuju taman belakang


"Reynan" ucapku melihat ke arah lorong tersebut


Seketika Reynan melihatku ia lamgsung berlari ke arahku dan menemuiku.


"Kamu nggak papa?" ucap Reynan yang meletakkan tangannya dipundakku dan melihat wajahku

__ADS_1


Pria itu membawa dahan pohon yang besar dan ingin berusaha untuk memukul Reynan yang tepat ada di depannya.


"Rey awass" teriakku saat melihat kayu itu akan dipukulkan ke Reynan.


Sontak Reynan langsung berbalik badan dan mencegah kayu itu turun dan menyakiti badannya.


Reynan membuang kayu itu dan langsung mengeluarkan jurusnya.


Kali ini yang ku lihat ialah pertunujukan pertarungan antara Reynan dengan pria itu.


1 jam kemudian...


Reynan berhasil melumpuhkan laki laki itu. Namun wajah Reynan terlihat sangat pucat dan setelah sampai berada dititik depanku Reynan terjatuh pingsan.


"Reynan" teriakku sambil mencoba untuk memangku kepala Reynan yang tertatap oleh tanah.


"Alyn? Gue seneng bisa bantu lu" ujar Reynan yang tangannya berusaha untuk megenag pipi kananki


"Rey, lu harus kuat ya" ucapku sebelum Reynan menutup matanya.


Aku langsung membawa Reynan menuju dalam rumah sakit dan Reynan mendapatkan perawatan dari dokter.


"Alyn?" ujar Reynan saat terbangun


"Syukurlah Rey kamu sudah sadar" ucapku dengan senang


"Baiklah, karna kondisi pasien sudah membaik maka pasien diperbolehkan rawat jalan" ujar dokter yang berada disampingku


"Iya dok makasih" ucapku dengan senyum hangatku


Setelah kondisi Reynan membaik, aku dan Reynan memutuskan untuk pulang ke rumah. Di tengah tengah lorong rumah sakit menuju pintu depan aku teringat dengan kak Brayn yangs sedang di kemo.


"apakah kemonya sudah selesai?" ujarku dalam hati


Sampai didepan ruang resepsionis, Reynan yang menggandeng tanganku saat itu, aku lepaskan.


"Kenapa?" ujar Reynan


"Gu..e harus balik" ucapku gugup


"Emang kenapa? Siapa yang sakit" sahut Reynan yang menghentikan langkahnya


"Temen gue" ujarku yang membuat alis Reynan terangkat satu


Kali ini aku benar benar bingung apakah aku harus pulang bersama Reynan atau menunggu kak Brayn selesai dikemo.


"Ya udahkan besok bisa" ujar Reynan yang mengkerutkan keningnya


Dan sampai pada titik ini akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti apa kata Reynan dan Reynan kembali menggandeng tanganku sambil bercanda gurau ditengan perjalanan pulang.


Dia tiba tiba datang tanpa kata permisi, setelah apa yang pernah dia lakukan sebelumnya


Gimana gays ceritanya??


Jujur author udah kehabisan kata kata :)


Oh ya, jangan lupa vote and koment ya...!


Terus pantengin lanjutan cerita ini ya gays..!

__ADS_1


Kalian adalah penyemangat author;)


Love you:v


__ADS_2