
Aku duduk didepan taman rumah, sesekali meghirup udara luar tanpa tekanan. Aku melamun mengingat begitu banyak masalah yang aku hadapi untuk kali ini. Aku tak ingin membuat repot semua orang dengan kondisiku kali ini.
"Dorr" suara kak Raka mengejutkanku
"Ihh, kak Raka kebiasaan deh" ketusku
"Lyn, sabar ya" ucap Kak Raka dengan nada lirih
"Buat?" tanyaku
"Kakak punya dua kabar buat kamu, antara kabar baik dan kabar buruk" ucap Kak Raka
"Ihhh kak Raka suka buat orang penasaran" geramku
"Jadi kamu mau kabar baik atau buruk?" ujar Kak Raka dengan nada menahan tangis
"Baik" sahutku seketika
"Oke, jadi sebentar lagi lo bisa ngelihat karna ada orang yang mau donorin matanya" ujar Kak Raka yang bersimpuh dihadapanku dan menggenggam erat kedua tanganku
"Lantas kabar buruknya?" tanyaku perjelas
"Lo harus sabar ngadepin semua kenyataan ini yaa dear" ujar Kak Raka seperti sedang menangis
"Kak Raka menangis yaa?" tanyaku yang tidak mengerti apa apa
"Nggak kak Raka nggak nangis, kamu yang kuat ya" ucap Kak Raka kembali
"Sebenarnya ada apa sih?" ujarku
"Jadi, Reynan..." ucap Kak Raka terhenti
"Reynan kenapa" sahutku memotong pembicaraan kak Raka
"Reynan meninggal" jelas kak Raka membuat tubuhku melemas seketika
Air mataku lolos seketika
"Aaaaa, Reynan" teriakku sambil berulang kali meloloskan air mata
Kak Raka seketika memelukku dan menguatkan tubuhku. Aku masih tak percaya kabar ini, kabar yang membuatku semakin tak ada artinya hidup lagi.
"Kak, sekarang aku minta Kak Raka cubit pipiku sekeras kerasnya" ujarku masih tak mempercayainya
"Percuma kakak cubit pipi kamu, Reynan benar benar udah ninggalin kita" ucap Kak Raka
Kak Raka mencubit kedua pipiku cukup keras, sampai aku merengek kesakitan. Buatku Reynan adalah segalanya. Berulang kali aku masih tidak mempercayai hal ini.
"Lyn, sekarang kita ke rumah sakit ya" bujuk kak Raka
"Enggak..! Alyn nggak mau ke rumah sakit, buat apa Alyn bisa ngelihat lagi kalo ujung ujungnya orang orang yang selama ini Alyn sayang pergi meninggalkan Alyn sendiri disini dengan keadaan seperti ini" ucapku yang berulang kali meloloskan air mata yang membuat mataku lebam.
"Heyy, jangan pernah kamu menyalahkan takdir sayang" ujar Kak Raka sesekali membuatku berfikir kembali
"Semua itu sudah takdir sayang, kalo semisal kamu nggak ke rumah sakit berarti kamu membuat kecewa Reynan secara tidak langsung" ucap kembali kak Raka memperjelas
Aku teridam, fikiranku terbayang oleh kejadian kejadian yang pernah aku alami bersama Reynan dari kecil. Lagi lagi itu membuat air mataku lolos seketika dan kak Raka tak henti hentinya menepuk pundakku agar aku bisa tegar menerima kenyataan ini.
"Baiklah kak, Alyn nggak mau kecewain Reynan" ujarku manja
__ADS_1
Kak Raka tersenyum melihat aku bisa menerima kenyataan yang harus ku hadapi.
********
Untuk saat ini aku sudah benar benar siap menjalani operasi donor mata. Namun aku lagi lagi ingin mengetahui kondisi Reynan sebelum dikebumikan.
"Kak, Alyn bolehkan minta satu permintaan?" sapaku
"Kenapa?" ujar kak Raka
"Alyn mau tau kondisi Reynan untuk yang terahir kali" ucapku dengan tatapan kosong
"Alyn, apapun mau kamu kakak akan berusaha untuk mernuruti" ujar kak Raka secara pasrah
Aku tinggal di Indonesia bersama kak Raka karna Mom dan Dady sudah pulang ke England beberapa waktu yang lalu jadi Kak Raka yang memutuskan untuk menjagaku selama di Indonesia.
Kak Raka mendorong kursi rodaku aku terdiam duduk melihat bayangan hitam yang mungkin bisa ku ubah menjadi sebuah imajinasi sosok Reynan.
Crekkk(suara membuka pintu)
"Tante, ijinkan Alyn untuk mengetahui kondisi Reynan" ucap kak Raka penuh sopan kepada mamahnya Reynan
"Silahkan anak mamah, nggak usah sungkan sungkan" sahut mamahnya Reynan
"Mah, maafin Alyn ya" ujarku sambil meraba mencari keberadaan telapak tangan Mamahnya Reynan
"Sayang, maafin semua kesalahan Reynan yaa" ujar Mamahnya Reynan
Aku sungguh begitu akrab dengan mamahnya Reynan sebab Reynan selalu menceritakan segala kisahku ke mamahnya begitupun juga aku namun bedanya aku menceritakan kisahku dengan Kak Raka bukan Momy.
Aku meraba wajah Reynan yang terasa sangat dingin. Aku mulai meraba rambut Reynan yang agak begitu basah, kemudian tanganku menuju mata Reynan yang tertutup sangat rapat, telinga Reynan sungguh terasa begitu dingin, dan bibir Reynan yang menutup lengket. Yang ku rasakan kali ini adalah Reynan benar benar pergi meninggalkanku. Aku menangis seketika merasakan bagaimana kondisi Reynan yang sekarang.
"Rey maafin gue, gue tau gue banyak salah sama lo, gue tau gue terlalu nuntut lo, gue tau gue suka usil, suka jail sama lo, tapi gue benar benar nggak mau kehilangan lo" rengekku
"Reynan, lo pernah janji sama gue, kalo lo nggak bakal ninggalin gue..! Lo jahat Rey lo jahat...!!!" teriakku menuntut perjanjian itu
Mamah Reynan memelukku seketika. Aku merasakan kehangatan dari hadirnya sosok Reynan dikehidupanku meskipun hal ini harus ku terima.
"Mah, Reynan jahatt..!" ucapku menggenggam tubuh mamah Reynan
"Mamah tau sayang, maafin Reynan yaa" ujar mamah Reynan.
Setelah aku sudah cukup menghabiskan tenagaku untuk menangis aku memutuskan untuk menenangkan tubuhku sambil menunggu waktunya aku untuk operasi.
"Lyn, gue nggak pergi kok gue masih ada dikehidupan lo, hanya saja gue nggak hadir dihidup lo seperti halnya dulu, gue senang bisa kenal sama lo, gue seneng bisa punya sahabat seperti lo, dan gue seneng bisa menyayangi lo, janjiku tak akan pernah gue ingkari aku masih ada ditubuhmu, wanita kecil,cantik, imut, yang pengennya selalu dimanja sekarang harus bisa berjalan sendiri, aku pergi dulu" ujar Reynan.
"Reynan" teriakku terbangun dalam tidurku
"Ada apa Lyn?" tanya Kak Raka
"Reynan mana?" ujarku
"Lyn, Reynan udah nggak ada" sahut kak Raka
Aku kembali memejamkan mataku berharap mimpi itu bisa ku ulang lagi.
******
17.05 aku memasuki ruang operasi. Aku tau ini sungguh berat untukku tapi aku juga harus sadar untuk mengikhoaskan Reynan tenang dialamnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan buat Reynan kecewa ya.." ujar mamah Reynan
"Mamah Reynan, doain Alyn ya" ucapku
Ku rasa dokter sedang menyuntik tanganku dan mataku mulai terpejam. Aku tak merasakan hal apapun dalam operasi ini.
2 jam kemudian...
Aku mulai merasakan duniaku kembali meskipun hanya semu.
"Kak Raka" ujarku
"Hey, Alyn udah bangun sayang" ujar Kak Raka
"Kak, Alyn mau diambil kotak musik pemberian Reynan di laci kamar Alyn" ucapku
"Siap, nanti kakak suruh ambil bi Ani ya" ujar Kak Raka
"Makasih" sahutku
Aku meraba matakau yang mungkin sekarang sedang diperban. Aku menunggu waktu waktu sebelum aku kembali melihat lagi.
2 jam kemudian....
Dokter datang ke kamarku dengan sapaan yang cukup hangat. Aku masih memutar kembali kotak musik pemberian Reynan. Suasana kamar tak terlalu henung karna kotak musik Reynan.
"Catlyn, kamu sudah siap?" sapa Doketer
"Siap dok" sahutku dengan lantang
"Baiklah" ujar dokyer sambil membuka perlahan lahan perban yang melilit di kepalaku. Dokter membuka kapas yang menutupi kedua mataku.
"Sudah siap?" tanya kembali dokter
"Siap sekali" sahutku
"Dengarkan suara saya baik baik" ujar dokter
"Dalam hitungan ketiga kamu buka kedua mata kamu secara perlahan-lahan ya" jelas dokter
"Satu" mataku masih dalam keadaan tertutup dan entah kenapa aku begitu menikmati masa masa ini.
"Dua" aku membuka sedikit kedua mataku dembari mendengarkan orang lain antusias melihatku
"Tiga" dengan jeda yang lumayan cukup lama aku membuka mataku sepenuhnya, dan...
Semua terlihat namun seakan blur. Tampak namun tak jelas. Aku mencoba mengedipkan kedua mataku berulang kali.
"Kak Raka" sapaku merujuk pada sesosok laki laki tinggi yang berada di sebelahku persis
"Alyn??" tanya kak Raka seakan tak mempercayainya
"Mamah Reynan?" Tanyaku menatap mata yang sama persis seperti Reynan
"Iya alyn" sahut mamah Reynan
"Jadi Alyn udah bisa melihat??" tanyaku dengan begitu antisias
"Iya Catlyn, selamat yaa" ujar dokter sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Seakan tak percaya namun aku harus mempercayainya. Mamah Reynan langsung memelukku seketika menatap mata Reynan yang kini sudah menjadi bagian dsri tubuhku.
Tuhan punya skenario lain pada setiap umatnya, meskipun kadang kenyataan sungguh begitu menyakitkan daripada sebuah angan.