
Tinggal menghitung hari Rayhan hatus mengikuti ujian nasional. Aku tahu jika ini adalah sesuatu hal yang tidak cukup mudah baginya. Perihal tentang evaluasi pembelajaran selama 3 tahun.
Aku tau kamu adalah salah satu spesies langka dimuka bumi ini. Mulai dari hadirmu yang tiba tiba datang. Dan tingkahmu yang membuatku merasa nyaman. Sejak kapan kamu harus bermunculan seperti ini. Harusnya aku sudah mengubur dalam dalam tentang cinta. Namun kamu selalu mempercayai aku untuk tetap tumbuh seperti perempuan biasanya. Yang kenal dengan cinta dan tangguh dalam berbagai hal.
Dalam perjalananku bersama Rayhan. Ia membawa tas sekolahnya, ku tahu pasti itu berisi buku - buku pelajarannya. Memang cukup susah baginya seorang laki laki yang harus bersusah payah mengejar nilai demi mewujudkan mimpinya. Kuliah di harvard bukanlah perihal yang mudah.
"Lyn, lo kenapa bisa berubah pikiran mau ikut gua? " Tanya Rayhan diselangi dengan kebisingan suara kendaraan lainnya.
"Gua kasihan sama lo" ketusku
"Yang pentingkan udah diniatin mau ke warung babe sama gua"
"Lo kan tau sendiri kalo gua terpaksa"
"Ya serah"
Sambil menunggu makanan yang sudah dipesankan di warung babe. Rayhan membaca lembar demi lembar buku yang sangat tebal.
"Rayhan capek ngga sih mahamin buku setebal itu? " Ujarku memecahkan keheningan
"Kalo gua capek, gua udah nyerah sebelum mulai"
"Den Rayhan ini siapa? " ucap babe
"Oh.. Ini Alyn be, Alyn kenalin ini babe pemilik warung ini"
Aku dan babepun berjabat tangan selayaknya orang berkenalan.
"Cantik ya" ucap Babe
"Babe bisa aja" sahutku
"Rayhan memang ngga salah pilih. Punya pacar kayak bidadari"
"Babe, Rayhan bukan pacar Alyn" jawabku
"Ihh eneng masih malu malu aja"
"Udah ah be, jangan digodain mulu Alyn nya anak manusia ini nanti kalo marah"
"Nanti kalo marah bisa diobrak abrik nih warung babe, ganas ngalahin ganasnya si mpok" Ucap kembali Rayhan
"Rayhan... " sahutku mencubit tangan Rayhan
"Au, nih be udau mulai nih marahnya. Rayhan aja udah kena cubit"
"Walah neng Alyn jangan galak galak sama mas Rayhan nanti kalo dipatuk ayam lo neng" ucap babe
"Kan Alyn ayamnya be" Sahut Rayhan sambil tertawa
"Rayhannn" teriakku
"Ya udah neng mas saya pergi dulu nyiapin pesenan kalian" ujar Babe meninggalkan kami
"Rayhan se care itu sama babe? " tanyaku
"Iya, Babe udah gua anggap seperti keluarga gua sendiri" ujar Rayhan
Rayhan menulis kata demi kata yang telah ia pahami. Sedangkan waktu yang sudah mulai larut malam. Tak ku sangka ternyata pesanannya belum datang juga.
"Ray, pesanan kita kok belum dateng si" ucapku.
"Lo pesennya ke siapa? "
"Ke ibu ibu yang lagi masak itu"
"Ohh ke mpok endang"
"Ngga tau"
__ADS_1
"Mpok Endang kalo udah masak pasti telinganya agak ada gangguan, ya udah sana pesen lagi sama babe"
"Hisss, lo kok ngga bilang sih dari tadi"
"Kan lo ngga tanya"
Aku pergi memesan makanan lagi. Sembari berbincang bincang dengan babe yang menurutku cukup ramah. Ia bercerita tentang Rayhan yang sering kali ke warung babe.
"Ini neng pesanannya. Ini punyaya mas Rayhan mie goreng tanpa bawang goreng" ucap mpok Endang
"Kamu pasti belum tahu ya neng kalo mas Rayhan itu alergi bawang goreng" ujar Babe
"Ahh masa sih be? Tapi biasanya Rayhan kalo makan bakso ada bawang gorengnya" sahutku
"Kamu itu ngga tahu kalo bawang gorengnya suka dibuang sama dia"
"Babe keburu dingin tuh mie nya, neng buruan dianter ya" sahut mpok Endang
"Ya udah deh be mpok aku kesana dulu ya"
Aku membawa pesanan Rayhan menuju meja kami. Namun langkahku berhenti saat aku menyadari bahwa Rayhan telah tertidur dengan tangan yang masih memegang bolpoint, dan kepala yang beralaskan bukunya.
"Rayhan.. Kamu itu aneh" decakku
Aku melanjutkan langkahku menuju meja. Membereskan buku bukunya yang masih berserakan dan mengambil bolpoint yang ada digenggamannya dengan penuh was was. Inginku membangunkannya namun aku merasa kasihan dengan Rayhan. Karena mungkin dia terlalu lelah buat memahami materi demi materi yang harus ia kuasai.
Aku mengelus - elus rambut Rayhan sembari membangunkannya secara perlahan.
"Ray.. " ucapku
"Rayhan.. Makan dulu, itu mienya keburu dingin" ujarku kembali
Rayhan terbangun dengan raut wajah yang masih ngantuk.
"Kamu ngantuk ya Ray? " Tanyaku sembari memberikan sepiring mie goreng buatnya
"Engga kok" sahut Rayhan
5 menit kemudian Rayhan kembali dengan raut wajah yang lumayan cukup segar.
"Nanti habis makan kita pulang aja ya Ray"
"Kamu udah ngantuk? "
"Bukan aku tapi kamu"
"Enggak kok"
"Ray.. "
"Apa? "
"Belajarnya jangan terlalu diforsir. Kamu juga butuh istirahat"
"Iya"
Rayhan melahap mienya yang sudah mulai dingin. Menamati semua hal apapun tentang Rayhan. Dia berbeda dengan Reynan tapi dia memiliki sifat yang sama seperti Reynan. Aku beruntung bisa dipertemukan seseorang seperti halnya Reynan.
"Kenapa lihatin gua? "
"Ngga papa" ujarku memalingkan pandangan
"Aneh" sahut Rayhan
"Ray"
"Apa? "
"Kamu segitu kerasnya belajar supaya bisa kuliah di harvard ya"
__ADS_1
"Iyalah, gua punya cita cita jadi dokter. Jadi nanti kalo lo sakit lo bisa gua obatin"
"Ray"
"Apa? "
"Kamu tuh ngingetin gua sama Reynan"
"Iya gua tahu, makannya lo mau jalan sama gua karena menurut lo gua itu Reynan kan? "
"Enggak kok Ray. Gua mau jalan sama lo karena murni dari diri lo sendiri dan bukan karna ada sangkut pautnya sama Reynan. "
"Tapi kenapa lo mau sedekat ini sama gua? "
"Karna lo beda sama yang lainnya"
"Dasar anak manusia"
"Ray"
"Apa lagi? "
"Gua takut"
"Takut kenapa? Siapa yang mau nyakitin lo? "
"Ngga ada yang mau nyakitin gua"
"Terus kenapa takut? "
"Takut kalo lo... "
"Gua kenapa Alyn? "
"Ngga jadi Ray. Kalo makannya udah kita langsung pulang aja ya, Gua mau istirahat"
"Lyn, jangan bohong. Lo sebenarnya kenapa? "
"Alyn ngga papa kok Ray"
"Lo bener ngga papa? "
"Iya. "
Rayhanpun segera menyelesaikan makannya dan membawaku pulang dari sini. Dalam perjalanan aku terdiam tanpa kata sedikitpun. Lagi - lagi aku menatap kaca mobil menuju luar.
"Lyn? Lo bener ngga papa? "
Beberapa menit telahku lalui sampai aku dan Rayhan tiba di depan rumahku. Ternyata kak Raka sudah berdiri didepan pintu rumah. Aku tahu mungkin dia menanti kepulanganku.
"Lyn habis dari mana? " Ujar kak Raka
Tanpa salam, tanpa ngejawab pertanyaan kak Raka aku langsung memasuki rumah. Membiarkan Rayhan berbincang dengan kak Raka.
"Kenapa si Alyn? " ujar kak Raka kepada Rayhan
"Ngga tau. Adek lo tuh aneh. Tiba tiba kayak gitu. Kayak orang kesambet" ujar Rayhan
"Tapi lo sayangkan sama dia? "
"Gua masih berusaha ka. Gua sebenarnya ngga enak hati sama Reynan. Tapi ini amanat Reynan. Gua tau mungkin kedatangan gua salah buatnya. Tapi janji gua kepada Reynan harus gua tepati"
"Rayhan. Lo tau kenapa Reynan bisa suka sama Alyn? "
"Mungkin karena Alyn itu aneh. Reynan sering bercerita kalo Alyn memiliki watak seperti itu. Tapi sebenarnya Alyn itu cantik dan dia beda dengan perempuan lainnya. Dia memiliki jiwa yang tangguh Ka. Beruntung lo punya adik seperti dia"
"Gua harap lo bakal menyayanginya seperti halnya Reynan"
"Ya udah gua cabut dulu"
__ADS_1
Lamunanku terpecah menatap langit langit kamar yang berwarna putih. Melupakan bukanlah sebuah perihal yang mudah. Dan menggantinya yang barupun bukan hal yang segampang itu. Lagi lagi aku harus jatuh untuk kesekian kalinya.
Jangan pergi jika kamu masih berhak untuk menetap