The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 50


__ADS_3

Jam dilayar ponsel Kak Rayhan menunjukkan pukul 21.30. Tubuhku sudah mulai lelah dan akupun sudah ingin menyerah. Sedangkak Kak Rayhan ia masih tetap melanjutkan tugas tugasku. Bahkan ia membiarkanku untuk tertidur pulas. Ia hanya bisa tersenyum heran melihatku. Akupun mulai bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di London.


"Lyn, ayok pulang cafenya sudah mau ditutup" ujar Kak Rayhan membangunkan tidurku seketika.


"Alynn.. " Ucap lagi kak Rayhan


Akupun terbangun dengan raut wajah yang udah nggak mau tahu mau cantik mau jelek yang penting bodoamat.


"Ayo pulang"


"Bentar kak ngerapihin buku dulu"


"Tuh udah gua masukin didalem tas lo maaf kalo lancang"


"Makasih ya kak"


Kamipun berjalan keluar. Udara malam hari memang cukup dingin sekali buatku. Apalagi aku harus pulang dengan berkendara montor bersama dengan kak Rayhan. Seketika aku berdiri didepan cafe sambil menunggu kak Rayhan membayar makananya.


"Kenapa kedinginan? " Tanya Kak Rayhan


"Nggak kok kak"


Tak pikir lama Kak Rayhan melepaskan jaketnya dan memberikannya kepadaku.


"Udah pake aja"


Kamipun beranjak pergi dari cafe itu. Lagi lagi udara malam membuatku semakin mengantuk karena waktu yang sudah menunjukkan larut malam.


"Kak, Alyn ngantuk" ujarku dengan nata yang menahan kantuk


"Ya udah tidur aja, tapi jangan lupa pegangan yang erat, takutnya nanti kamu malah jatuh"


Spontan saja kedua tanganku memeluk tubuh kak Rayhan dan seketika saja Kak Rayhan melihatku di sepion kaca motornya yang mengarah ke arahku. Satu tangan Kak Rayhan memegang kedua tanganku agar aku aman.


*****


Pagi ini terasa aneh. Bagaimana tidak? Aku yang semalam sepertinya tidur di cafe tiba tiba bisa tidur di kasur favorite aku. Sontak aku merasa terkejut dan sesegera mungkin kwluar darj tangga untuk menghampiri bi Ani.


"Bi Ani" teriakku tak pandang siapapun.


"Iya non ada apa? " Teriak Bi Ani kembali.


Ternyata bi Ani sedang masak di dapur. Dan akupun mulai mendekati bi Ani.

__ADS_1


"Bi, bilang sama Alyn tadi malam kenapa Alyn bisa ada di dalam kamar Alyn? Terus kak Rayhan kemana? Kok bibi ngga ngebangunin Alyn sih" Decakku


"Tadi malam non Alyn udah dibangunin berulang kali tapi masih tetep aja tidur, terus den Rayhan udah pulang non, tadi balam yang ngebopong non Alyn juga den Rayhan non, romantis banget deh non" Ujar Bi Ani.


"Ishhh berarti kebo banget dong gua" gumamku


"Ya udah deh bi, kalo gitu Alyn ke atas lagi"


Aku meninggalkan bi Ani yang masih sibuk memasak sarapan.


*****


"Lyn dicari kak Brayn tuh" ucap Febby menghentikan langkahku.


"Gua?" Ujarku penuh tanda tanya.


Aku menuju tempat posisi kak Brayn sekarang berada. Rasa gugup, cemas, dab khawatirpun seakan telah kompak menghasut di tubuhku. Sebenarnya aku sudah tidak mempermasalahkan masa lalu yang saat ini tiba - tiba muncul kembali.


Yang ku lihat di taman sekolah adalah laki - laki yang menggunakan kursi roda. Ia seakan tak berada, bahkan tubuhnyapun sudah kurus. Ia sudah tak memiliki rambut lagi, dan selang oksigen yang menyangkut di tubuhnyapun membuat keadaannya semakin memperihatinkan.


"Kak Brayn? " Tanyaku dalam lamunannya.


"Alyn? " suara dari bibirnya yang menandakan bahwa tubuhnya sedang tidak normal.


"Lyn, maafin gua atas semua kesalahan gua. Atas masa lalu yang mungkin sudah kamu lupakan. Atas kepergianmu yang pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhirinya."


"Jadi kak Brayn tahu kalau aku Siti?" Gugupku.


"Bagaimana gua ngga tahu lo Siti?, lo setiap kali datang ke rumah sakit mamah gua meminta lo untuk bersikap selayaknya lo itu Alyn. "


"Kak, jikalau Alyn boleh jujur sebenarnya Alyn masih ingin merawat kak Brayn dan yang perlu kak Brayn ketahui Alyn itu ngga pernah sedikitpun membenci kak Brayn, bahkan disetiap kali kak Brayn menumbuhkan luka di hati Alyn, Alyn berusaha untuk kuat dan memaafkan segala kesalahan kak Brayn. "


"Terimakasih, atas segalanya Lyn. "


"Kak, bilang sama Alyn kenapa tubuh kak Brayn malah seperti ini? Bukannya kemarin kemarin Kak Brayn sudah sehat?"


"Penyakit itu sudah menggerogoti sekujur tubuh gua, bahkan untuk berjalanpun gua ngga bisa Lyn, Rambut gua helai demi helai rontok seketika. Gua berusaha kuat disisa sisa umur gua Lyn. Gua udah stadium akhir dan dokter udah memvonis gua kalo umur gua ngga akan bertahan lama Lyn."


Hidupku seakan berhenti didetik ini. Menghela nafasĀ  berat mendengarkan cerita pilu yang barusan saja dilontarkan oleh Kak Brayn. Aku tak mengerti lagi harus bagaimana. Dari dulu rasa pernah muncul sebabnya. Namun perlahan rasa ini juga mulai hilang karnanya.


"Kak, Jaga kondisi lo baik baik. Alyn udah lupakan semua kejadian masa lampau. Kak Brayn harus kuat. Kak Brayn harus tegar. Alyn akan selalu nemenin Kak Brayn"


"Terimakasih Lyn. Lo udah mau berbesar hati untuk gua yang ngga punya hati"

__ADS_1


"Udahlah kak ngga usah dibahas, sekarang Kak Brayn balik ke rumah sakit ya, Alyn yang anter"


Dalam perjalanan kami, kak Brayn hanya bisa terdiam sembari melihat ke arah kaca.


"Kak" Tanyaku memecahkan keheningan


"Kak, Kak Brayn harus semangat. Kak Brayn harus kuat. Alyn tau Kak Brayn pasti sembuh"


"Gua udah capek lyn. Bolak balik ke rumah sakit, kemo setiap minggu dan guapun harus nahan sakit ini lyn. Gua udah ngga kuat. Mungkin udah waktunya lyn"


"Jangan nyerah! Kakak masih punya Alyn, kak Brayn jangan pergi lagi dari Alyn! "


"Lyn, gua ngga akan pergi. Hanya saja gua harus menepi. "


Seketika keheningan kembali terjadi. Hingga sampai di rumah sakitpun aku tak berani menjawab perkataan kak Brayn.


Kak Brayn sudah memasuki ruang perawatannya selang osksigen masih terpasang di hidungnya. Hingga mamah Kak Brayn menceritakan semua tentang aku.


"Tante, setidaknya Kak Brayn udah beejuang hingga detik ini. Kak Brayn pasti kuat kok tan"


"Terimakasih ya Alyn, kamu selalu ada disamping Brayn"


Tiba - tiba dokter keluar dari ruangan mak Brayn dengan wajah yang cukup mengkhawatirkan.


"Ada apa dok? " tanya mamah Kak Brayn


"Kondisi Brayn semakin lemah. Terpaksa kami harus memindahkan Brayn ke ICU"


"Lakukan sebaik mungkin dok" ujar mamah kak Brayn dengan tangisan yang pecah.


"Dok, saya mohon izinkanlah saya masuk terlebih dahulu" ucapku


"Silahkan saya kasih waktu 5 menit sebelum Brayn dipindahkan ke ICU" ujar dokter.


Aku memasuki ruangan yang hening itu. Kak Brayn bener bener sudah menutup matanya. Tak terasa waktu sangat cepat. Aku menggenggam tangan kak Brayn, berusaha menyemangatinya.


"Kak, Alyn tau Kak Braun kuat! Kak Brayn harus kuat! Jangan kecewain Alyn lagi" ujarku menahan tangisan


"Alyn janji, Alyn akan temenin kak Brayn. Tapi kak Brayn harus janji sama Alyn kalo kak Brayn kuat!"


"Kak Brayn semangat! " ucapku di telinga kanan kak Brayn.


Aku pergi meninggalkan kak Brayn karna dokter sudah mengisyaratkan aku untuk segera pergi. Mamah Kak Brayn masih menangis di luar ruangan kak Brayn. Aku hanya pasrah tentang apapun yang Tuhan berikan kepada kak Bray. Mamah kak Brayn terus memelukku dengan erat. Tubuh kak Brayn dikeluarkan dari ruangannya menuju ke ruang ICU. Aku tahu jika ruang ICU adalah ruang mematikan. Ngga banyak orang yang selamat setelah masuk di ruang itu. Termasuk Reynan. Suster masih terus memompa nafas kak Brayn. Karna barusan dokter berkata lagi kepada Mamahnya kak brayn, bahwa Kak Brayn gagal nafas. Kamipun sudah pasrah menerima semua keadaan. Bahkan di depan ruangan ICUpun suasana sudah tak karuan. Tangisanku sudah pecah sedangkan mamah kak Brayn iya terus terusan menghubungi papah kak Brayn agar segera datang dan orang rumah untuk membersihkan kamar kak Brayn serta rumah. Mungkin manah Kak Brayn sudah memikirkan lebih jauh tentang keadaan kak Brayn.

__ADS_1


Percayalah rencana Tuhan pasti jauh lebih indah.


__ADS_2