The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 51


__ADS_3

Suara dering hpku memecahkan keheningan. Mamah kak Brayn melepaskan pelukan di tubuhku. Mungkin ini telfon dari Momi, kalau enggak yaa Dady. Tapi seketika aku melihat nomor hp tak dikenal. Seketika aku menutup panggilan itu.


"Lyn, kenapa nggak diangkat? " Tanya mamah Kak Brayn


"Ngga tau tan, nomor tak dikenal"


"Siapa tahu orang rumah. Kan kamu belum pulang Lyn"


Mataku terkejut seketika melihat foto profil yang mirip sekali dengan Rayhan. Tapi apa benar ini Rayhan?. Tapii.. Dapat darimana nomor hpku.


Sejetika hpku berbunyi kembali. Kalimat terakhir berkata bahwa itu Rayhan.


"Siapa Lyn? " Tanya mamah Kak Brayn kembali.


"Temen, Alym tante. Tanya Alyn ada dimana"


"Ya sudah Lyn, kalo kamu mau pulang. Pulang saja ngga papa"


"Alyn udah ijin tan tadi sama momi"


Jari jemariku berhenti mengetik. Rayhan sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Apalagi yang anak itu buat.


30 menit kemudia Rayhan datang. Pas didepanku. Dia membawakan jaket untukku dan dia memberikan buku tugas matematikaku.


"Nih, gua tau lo nungguin orang sakit. Tapi lo jangan lupa diri juga. Tuh mata lo sampai sembab" ujar Rayhan


"Tante izin bawa Alyn ke kantin dulu ya" Ucap Rayhan lagi.


"Ayo"


Aku berdiri meninggalkan Mamah Kak Brayn sendiri. Jaket yang dibawakan Kak Brayn aku pakai. Hingga menutupi kedinginan malam.


"Lo mau makan apa? " Tanya Rayhan sesampainya dikantin rumah sakit


"Mie rebus aja" sahutku


"Mie rebus ngga sehat Alyn, nasi aja"


"Ray, gua pingin mie rebus! " ujarku


"Hmmm. Ya udah tunggu bentar"


Menunggu Rayhan memesankan makanan akupun membuka tugas matematikaku yang sama sekali belum aku kerjakan. Sedangkan besok tugas harus udah selesai dan ulangan matematika juga udah didepan mata. Inginku mengeluh namun aku malu sama Rayhan.


"Nih teh hangatnya. Lo kerjain sebisa lo dulu, ntar gua bantu"


"Males" jawabku


"Lo ngga malu sama Reynan? " tanya Rayhan membuatku terkejut. Bagaimana ia tahu pasal Reynan,kalau aku aja sedikitpun belum pernah menceritakan perihal Reynan kepadanya.


"Kok lo bisa tahu Reynan? "


"Oh itu..."

__ADS_1


"Permisi ini mie rebusnya"


"Terimakasih bu" jawabku.


"Habis makan kerjain dulu PRnya"


"Iya - iya"


Rayhan meraih buku matematika dihadapanku. Mentap soal soal dan tersenyum aneh. Entah apa yang ia pikirkan. Ia mulai meraih pulpen dan sepertinya ia mulai mengerjakan soal soal itu.


"Lo ngapain? " Tanya ku ingin tahu.


"Kalo makan ngga usah banyak omong, cepet dihaabisin"


Rayhan cukup ganteng sih, tapi gantengan Reynan. Tapi kenapa Rayhan mirip banget dengan Reynan. Apa mungkin sih Reynan punya kembaran? Ah tapi enggak. Reynan masa iya kalaupun punya kembaran ia punya kembaran kayak Rayhan bentuknya. Kayak dua unsur yang berbeda.


"Kenapa lihatin gua mulu? " Tanya Rayhan membuatku terkejut. Pasalnya kenapa ia bisa tahukan ia lagi menulis.


"Ishh.. Kepedean banget" jawabku sembari memakan mie rebusku kembali.


"Alah ngga usah bohong, awas lo kalo suka"


"Apaan sih Rayhan, juatru Rayhan nanti yang suka sama Alyn. "


"Oke, kita lihat nanti siapa yang suka duluan"


"Amit - amit deh kalau Alyn suka sama Rayhan"


"Yakin?"


Setelah mie rebusnya telah habis ternyata Rayhan sudah menjawab beberapa soal yang menurutku susah. Waktu menunjukkan pukul 00.05 namun aku masih mencari rumus demi rumus agar bisa menjawab PR matematika ini.


"Ishhh... Susah banget sih" ucapku ngeluh


"Dasar cewek, baru gini aja udah ngelu" Ujar Rayhan sembari tersenyum picik.


Rayhan menyibukkan dirinya dengan menatap ponsel hpnya. Sedangkan aku masih saja tetap terpaku pada soal matematika ini.


"Akhirnya finishh..! " Jeritku


"Usttt... Diem! "


"Eh"


Rayhanpun tersenyum hangat kepadaku sembari meneliti satu persatu jawabannya.


"Kalo neliti yang teliti ya" Ujarku


"Kalo ngejawab juga harus teliti, jangan asal asalan" sahut Rayhan


Setelah selesai mengerjakan tugas kami berdua kembali ke ruangan ICU. Mamah kak Brayn sudah pergi menunggu di ruang tunggu khusus untuk pendamping. Sedangkan aku dengan Rayhan cukup tidur di kursi depan ruang ICU. Kepalaku tertopang oleh pundak Rayhan.


*****

__ADS_1


Suara gemuruh dari lantai bawah membangunkan tidurku. Aku dan Rayhanpun terbangun. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 04.45 kamipun bergegas untuk siap siap menuju ke sekolah.


"Dokter, Alyn boleh masuk ngga? Sebentar saja." ucapku kepada dokter yang jaga.


Setelah diperbolehkan masuk akupun melihat kembali keadaan Kak Brayn yang masih sama. Selang masih terpasang disejujur tubuhnya. Alat alat medis yang menkutkan itupun juga.


"Kak Brayn, Alyn sekolah dulu ya. Kakak harus semangat. I Love You" ucapku di telinga kak Brayn


Seketika aku melihat air mata yang tiba tiba keluar dari mata kak Brayn yang masih tertutup rapat.  Aku menghapus air matanya dan meraba wajahnya. Wajah yang pucat dan dingin. Membuat akupun merinding seketika. Kecil harapan buat kak Brayn untuk bertahan hidup. Tapi menurutku ia sudah cukup kuat.


Aku keluar dari ruang ICU dan berpamitan bersama Rayhan. Kamipun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit. Btw Rayhan kali ini pakai mobil. Jadi aku bisa sedikit memoles wajahku dimobil.


Setelah kami sampai di sekolah. Akupun menuju ruang kelasku dengan diantarkan oleh Rayhan yang dengan senang hati mensejajarkan langkahnya denganku.


"Jangan lupa rumusnya!" ujar Rayhan


Akupun membalasnya dengan tersenyum hangat. Bel berbunyi dan waktu ulangan matematikapun segera dimulai. Aku menyibukkan diriku memahami beberapa rumus yang telah diajarkan Rayhan semalam.


"Baik anak - anak Ulangan matematika dimulai" ucap pak Handoko


Mataku terpelongo melihat 30 soal essay yang nyata. Apalagi ini soal matematika. Aku mengeluh dalam hati. 10 soal sudah aku kerjakan dengan benar sesuai rumus yang aku ketahui. Tiba - tiba suara ponselku berbunyi. Dan Mamahnya Kak Brayn yang menelfonku.


"Hp siapa itu? " teriak pak Handoko dengan tegas


"Hp saya pak" jawabku


"Izin mengangkat telfon pak, siapa tahu penting" ucapku kembali.


"Silahkan"


Aku meninggalkan pekerjaanku dan keluar dari kelas.


"A... l... y... i... n" suara terpotong dan tersendu sendupun terdengar keras ditelingaku


"Kenapa tan? " tanyaku


"Brayn sudah meninggal Alyn.." Ujar mamah kak Brayn sambil menahn nafas berat meskipun setelah itu terdengar suara tangisan.


"Apa? Tante ini bohongkan? " tanyaku kembali


"Alyn tante tunggu"


Tubuhku melemas seketika. Aku tak kuat menopang tubuhku lagi. Tangianku pecah kala itu. Namun karna pak Handoko terlihat sedang meneliti gerak gerikku, akupun mengusap dan menahan tangisanku sembari masuk ke dalam kelas dan mengerjakan soal soal ulangan sebisaku dan secepat mungkin. Speaker dari dalam kelas berbunyi sangat keras. Mengucap kata "Innalillahi Wa Innalillahi Raji'un" Pulpen yang aku genggampun jatuh seketika.


"Alyn lo kenapa? " Tanya Ditto


Tok tok tok tok... Suara ketukan pintu dari luar ruangan. Pak handoko keluar dari ruangan dan menemui si pengetuk pintu. Dari sudut arah jendela terlihat Rayhan sedang berbincang kepada Pak Handoko. Sebelum memasuki ruang kelasku.


"Alyn, lo udah selesai ngerjain? " Tanya Rayhan membuat para siswa lainnya gagal fokus


"Udah" sahutku


"Sini alyn pekerjaan kamu, dan kamu boleh langsung meninggalkan kelas" ujar pak handoko

__ADS_1


Sontak siswa lainnya bersorak keras "huu" namun aku tak menghiraukan sedikitpun dari perlakuan mereka. Aku meraih tasku dan keluar dari ruangan untuk menemui Rayhan yang sudah menungguku di luar kelas.


Apapun yang tak ditakdirkan untukku. Tak pantas ku genggam. Aku melepaskan atas kepergianmu. Atas apapun yang perlahan mulai menghilang. Pergi untuk selamanya dan menghilang untuk seutuhnya. Mengikhlaskanmu adalah salah satu alasanku agar aku bisa tergar.


__ADS_2