
Reynan mencabik pipiku di dalam mobil yang sedang ia kendarai. Dan aku masih dalam keadaan yang sedang memikirkan kondisi kak Brayn untuk saat ini.
"Tumben lu jadi pendiem" sindir Reynan
"Gue diem salah, kalo crewet lu suka bilang berisik, terus gue harus gimana?" ucapku
"Yaaa standarnya lahh" ujar Reynan sambil mengklakson mobil yang ada persis didepan mobilnya
"Emang gue montor, kok pake standar" sahutku dalam kebingungan
"Lu itu bukan montor" ucap Reynan sambil melihat raut wajahku yang sedikit marah
"Terus apaan?" sahutku
"Lu itu upil, dan dari dulu lu itu masih sama kalo lu itu upil yang slalu singgah di hidung gue, hahahaha" ujar Reynan sambil tertawa terbahak bahak
"Ya kali gue upil yang singgah di hidung lu dari dulu lagi" ujarku sambil menahan tawa
"Iya, lu inget waktu dulu lu suka ngintil di belakang gue mulu" ujar Reynan sambil tertawa
"Iuhh lu nggak nyadar juga apa, kalo ada PR suka mohon mohon sama gue agar gue mau ngasih jawaban gue ke lu" ujarku sambil melirik ke arah Reynan
"Lu lupa waktu lu jatuh karna ulah si kambing hitam? Terus lu nangis dan disitu gue yang ngebantuin lu? Dasar upil" ujar Reynan sambik berteriak didalam mobil yang tertutup
"Bully gue aja terus" ujarku sambil mengaku kalah
"Udah ah, gue udah nggak sanggup ketawa lagi" sahut Reynan yang mencoba menghentikan tawanya
Dalam mobil aku masih ragu akan keadaan kak Brayn yang sekarang. Bagaimana tidak Kak Brayn berangkat bersamaku dan harusnya ia pulang denganku dan bukan dengan cara seperti ini.
"Udahlah nggak usah dipikirin, gue cuman bercanda" ujar Reynan yang melihat ke raut wajahku yang terlihat jelas sedang melamun
Aku masih terdiam tanpa menghiraukan ucapan Reynan. Dan dalam keadaan yang sama Reynan masih melihat gerak gerik wajahku yang begitu terlihat kebingungan.
"Lyn? Lu kenapa sih? Ada masalah apa?" ujar Reynan
Aku masih tak menghiraukan ucapan Reynan sampai pada waktunya Reynan memberhentikan mobilnya dan mencoba bicara lagi denganku.
"Lyn?" ujar Reynan yang memalingkan wajahku ke arahnya
"Iy...a kenapa Rey?" ucapku tak mengerti atas apa yang telah Reynan ucapkan ke aku
"Lu nggak papa?" ujar Reynan
"Emmm, Rey gue turun disini aja ya" sahutku setelah berpikit dua kali untuk melihat keadaan kak Brayn.
"Nggak, nanti kalo lu di jahatin sama orang gimana?" cegah Reynan
"Rey, gue akan panggil bodyguard gue, dan lu tenang aja ya" ujarku meyakinkan Reynan
__ADS_1
"Baiklah, kalo itu mau kamu dan aku yang bukan siapa siapa kamu tidak bisa menolak" sahut Reynan angkat tangan
"Makasih Rey" ujarku sambil keluar dari mobil Reynan
"Perlu gue anter?" sahut Reynan
"Nggak perlu kok" ucapku sebelum pergi mencari taxi
2 jam kemudiannn.....
Aku telah kembali di rumah sakit tempat kak Brayn di kemo dan tepat persis di depan ruangan kak Brayn.
Suster keluar dari kamar kak Brayn.
"Sus, saya boleh masuk?" ucapku
"Boleh, namun pasien perlu istirahat jadi minimalisir anda berbicara dengan pasien" ujar suster tersebut dan mempersilahkanku untuk masuk
Aku memasuki ruangan tempat kak Brayn di kemo dan disana terlihat keadaan kak Brayn yang sangat pucat.
Aku mendekati posisi kak Brayn, sambil mencoba untuk mencari sisi manis dari kak Brayn.
"Kak?" ucapku secara lirih sambil mengelus elus rambut kak Brayn
Namun kak Brayn hanya memalingkan wajahnya seketika tanpa melihat ke arahku sedikitpun.
"Kak Brayn udah baikan?" ujarku
"Kakak marah sama aku?" ujarku dengan lirih
"Bagaimana gue tidak marah dengan lu, jelas jelas gue lihat lu sedang menggandeng pria lain di luar rumah sakit dan dengan mesranya kalian bercanda gurau diatas penderitaan gue" teriak Kak Brayn
"Bukan gitu kak, dia..." bicaraky terputus saat kak Brayn mempersilahkanku untuk keluar dari hadapannya
"Gue mau lu keluar sekarang....!" teriak kak Brayn
"Tap...i" ujarku
"KELUAR, dan jangan datang dihidup gue lagi....!!!!" teriak kak Brayn kak Brayn yang membuatku untuk segera keluar dari ruangan kak Brayn dengan wajah yang kesal.
Aku lari keluar dari kamar itu dan duduk di salah satu sudut teras yang menurutku bisa membuatku tenang. Aku mencoba untuk menahan air mataku yang hampir mulai jatuh. Menurutku sebelumnya aku tak pernah diperlakukan sperti itu oleh kekuarga maupun temanku sendiri. Saat itu aku seperti sampah karna sudah disia siakan oleh seseorang.
Aku berdiri dan berjalan menjauh dari rumah sakit itu. Tanpa arah aku hanya terdiam melewati jalanan yang penuh asap dan debu.
Dittt.. Ditt... Dit.. (Suara klakson mobil yang membuatku untuk berhenti sejenak melihat ke arah belakang"
"Lyn, lu kenapa?" ujar Reynan yang keluar dari mobilnya
Tanpa pikir panjang aku langsubg mendekap Reynan dengan pelukan hangat dan sehangat hangatnya. Rasa yang sebelumnya sudah ku coba untuk menahannya tibabtiba tertuang semua dalam pelukan itu.
__ADS_1
"Heyy, siapa yang berani buat kamu seperti ini?" ujar Reynan dalam pelukan sambil mengelus rambutku
"Catlyn??" sahut Reynan kembali
Reynan membiarkanku untuk tetap dalam pelukannya, karna menurutnya sebelumnya aku tak pernah seperti ini.
"Rey gue mau pulang" ujarku melepaskan pelukan Reynan
Reynan membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkanku untuk masuk.
Dalam perjalanan setiap kali pandangan Reynan slalu memusatkan ke diriku yang terdiam seperti orang kebungungan dan murung.
"Lyn, jawab gue siapa yang nyakitin kamu?" ujar Reynan yang masih melihat ke arahku.
"Kalo lu masih nggak mau jawab, its okey" sahut Reynan kembali.
30 menit kemudian., aku dan Reynan sampai didepan rumah Green house.
"Rey makasih" ujarku sebelum bergegas meninggalkan Reynan dan memasuki rumah itu.
Reynan masih memusatkan kelopak matanya ke arahku sampai aku memasuki rumah yang bercat warna abu abu.
*******
"Kenapa lu?" ujar Gina yang berada di kamarku
"Gue pengen balik ke England Gin" ujarku sambil memeluk Gina
"Usttt, tenang ya" ujar Gina sambil mencoba untuk menenangkanku dalam pelukannya
"Gue, capek Gin" ucapku dalam pelukan Gina
"Siapa yang berani beraninya nyakitin sahabat gue??" ujar Gina
Aku melepaskan pelukan itu dan mencoba untuk menenangkan diriku sendiri, Gina yang berada di kasurku masih belum tau apa yang tekah terjadi denganku
"Sekarang lu mandi dulu tenangin pikiran" ujar Gina
*******
Mungkin kehadiranku di kehidupanmu sudah tak berarti lagi
Kamu menyianyiakanku seperti sampah yang tak memiliki arti.
Gimana gays ceritanya???
Jangan lupa vote, komen dan follow ya...!!
Maaf kalo updatenya lama;)
__ADS_1
Maafin author kalo selama ini banyak typonya_-
Terimakasih, love you:)