The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 40


__ADS_3

"Lyn, lo mau makan apa?" ujar Reynan


"Mmm, terserah kamu aja deh Rey" sahutku sambil menatap dunia gelap yang benar benar kosong


"Okey, bentar ya" ucap Reynan yang meninggalkanku disalah satu sudut kantin.


Aku mencoba untuk menikmati dunia gelap ini.


"Catlyn" sapa seseorang dari arah belakang


"Siapa?" sahutku sambil mencoba meraba mencari keberadaanya


"Gue, Ditto" sahut Ditto


"Eh Dit, apa kabar lo?, tumben gue baru denger suara lo" sahutku


"Perasaan lo aja kali, btw pipi lo tembem banget sih Lyn, inginku mencubit" ujar Ditto sambil mengeluarkan ekspresi geram


"Yahhh, gagal dong dietku" sahutku sambil mencoba untuk tersenyum


Disudut kantin sisi lain terdapat Kak Brayn yang sedang memperhatikanku. Sekarang ia tidak mau menggunakan kursi roda karna menurutnya itu lemah, berbeda denganku aku masih menggunakan kursi roda karna kecelakaan kemarin dan mataku yang tak kunjung pulih dari gelapnya dunia.


"Eh lyn, tuh ada Brayn" ejek Ditto


"Dit, panggilin Reynan gue nggak mood" sahutku sambil berusaha untuk menjauh daru keberadaan Kak Brayn


"Lyn, nih baksonya" ujar Reynan menyodorkan bakso dihadapanku


"Rey, kita cari tempat lain yuk aku nggak mau disini" rengekku


"Loh kenapa?" tanya Ditto


"Rey, ayo cepet" pintaku


Reynan mendorong kursi rodaku dan meninggalkan semangkuk bakso yang telah ia pesan sebelumnya.


"Reynan" teriak Kak Brayn dari arah belakang


"Siapa Rey?" ujarku saat Reynan mendadak menghentikan kursi rodaku


Kak Brayn memberikan isyarat agar Reynan tak memberitahuku mengenai keberadaannya yang sekarang.


"Reyn??" tanyaku


"Lyn, lo disini bentar ya gue dipanggil" ujar Reynan


Aku menganggukan kepalaku. Aku mencoba membayangkan saat saat sekarang dengan kedua mataku. Aku tak pernah menuntut Tuhan seperti dulu waktu pertama kali aku merasakan buta. Aku sadar skenario Tuhan jauh lebih sempurna, dan akupun sudah mulai sadar bahwa jika ini jalan terbaik bagiku.


"Lyn, sorry lama" sapa Reynan


Reyman melanjutkan mendorong kursi rodaku. Aku tak mengerti sekarang aku ada dimana yang jelas Reynan terus mendorong kursi rodaku.


"Rey, kita mau kemana?" ucapku saat merasa sudah cukup jauh Reynan mendorong kursi rodaku


"Ada deh" sahut Reynan membuatku mendecak kesal


Aku berdiam diri, sembari merasakan suasana sekarang ini.


"Rey, udah sampe?" ujarku saat Reynan memberhentikan langkah kakinya di suatu tempat


"Lyn, gue tinggal bentar ya" sahut Reynan


"Rey, gue takut" teriakku

__ADS_1


"Jangan takut, selagi gue masih ada dimuka bumi ini gue nggak bakal ninggalin lo sendiri, meskipun umur gue bisa dihitung menggunakan jari" ujar seseorang yang tak asing ditelingaku


"Kak Brayn?" tebakku


"Ternyata lo masih tetap sama, bersikap lugu dan sopan meskipun lo itu bukan Siti" ujar Kak Brayn


"Maaf kak, ak...." ucapku terpotong


"Plisss jangan tinggalin gua, satu hal yang perlu kamu tau meskpun kamu telah membohongi diri saya dan juga dirimu sendiri, dan meskipun saya ini sedang berusaha membencimu tapi entah kenapa sedikitpun saya tidak bisa membencimu" ujar Kak Brayn


"Karna mungkin rasa saya sudah terpaku dalam tutur katamu yang sungguh bisa membuat saya luluh dalam pelukanmu" jelas kk Brayn membuatku sesekali meneguk ludah


"Kak, saya tau mungkin kakak bersikap seperti ini karna kakak memeiliki rasa empatik sama saya? Karna saya sekarang sudah buta, saya sudah tak bisa seperti dulu lagi, dan yang perlu kakak ketahui karna saya yang selama ini selalu ada buat Kak Brayn disaat teman teman kak Brayn pergi satu persatu" perjelasku


Aku mencoba untuk menjauh dari kak Brayn, mencoba untuk mendorong kursi rodaku sendiri.


"Lyn, maaf" ujar Kak Brayn dengan tulus sambil menahan tanganku untuk mendorong kursi rodaku sendiri


"Kenapa kakak baru minta maaf?, kakak tau bagaimana rasanya tidak dimaafin seseorang, bagaimana rasanya tidak dipahami oleh seseorang? Dan bagaimana rasanya dihina dihadapan mata saya sendiri" jelasku sambil tersenyum picik


"Lyn, maafin gua" ujar Kak Brayn sambil menahanku


"Tapi sayang, kadar kesabaran saya sama kakak udah habis" ujarku sambil meninggalkan kak Brayn dan berusaha untuk pergi


Aku mencoba pergi dari kak Brayn dan tentunya berusaha ubtuk mendorong kursi rodaku sendiri, meskipun cukup sulit untuk kondisiku yabg sekarang.


"Lyn hati-hati" ucap Reynan


"Pergi dari hadapan gue...!!!" teriakku


"Lyn, tap.."


"Pergiii....!!!!" tegasku kembali


Ku dengar Reynan mekangkahkan kakinya menjauh dari hadapanku. Aku mencoba untuk berusaha jalan dengan sebuah rabaan.


Aku menyerah seketika karna ku tau hal ini benar benar menyulitkanku.


**********


Pagi ini aku telah memutuskan untuk tidak lagi sekolah di SMABhak karna kondisku yang tidak memungkinkan. Aku juga telah membuang jauh jauh nomer hp yang selama ini aku gunakan pada saat aku menyamar menjadi Siti.


"Dear, makan dulu yaa" sapa Kak Raka


"Nggak laper" ujarku didepan teras rumah


"Ya udah kalo kamu nggak mau terus maunya apa?" tanya kak Raka


"Catlyn nggak mau apa apa" ucapku


"Kamu kenapa sih?" tanya kembali kak Raka


"Kak, aku capek aku mau istirahat" ujarku sambil berjalan menuju kamar


Aku tak pernah membenci siapapun mengenai keadaanku kali ini, aku juga tak pernah membencimu meskipun kamu sudah memberikan lara di hidupku, sebab aku tak suka membenci tanpa alasan yang pasti.


*********


Mataku masih terlalu lengket untukku buka sehingga aku memutuskan untuk tidur kembali.


"Catlyn, bangun sahang" ujar Momy diambang pintu


"Males ah" sahutku sambil menggeret kembali slimutku

__ADS_1


"Di luar ada yang cari kamu" ucap momy


"Bilangin aja Catlyn lagi nggak mau diganggu" teriakku sambil menutup telingaku dengan bantal


"Lohh, sayang jangan gitu" ujar Momy sambil masih terus mengetuk pintu kamarku


"Mom, catlyn capek catlyn mau istirahat" sahutku


Mungkin buat kali ini momy benar benar angkat tangan saat sudah mendengarkan kata aku capek. Karna momy tau sendiri bagaimana rasanya jadi aku.


********


Pagi ini aku tak ingin mengubah duniaku meskipun ku tau kali ini aku tak sempurna seperti sebelumnya, jujur untuk kehidupanku yang kali ini aku cukuo terkekang oleh dunia ini.


Crekkkk...


"Lyn, kamu nggak sekolah?" ujar Momy membangunkan tidurku


"Mom, Catlyn mau home scholl aja" ujarku sambil memejamkan mata


"Kenapa?" tanya momy


"Catlyn berbeda dengan mereka mom, Catly buta Catlyn.." ujarku


"Alynn" teriak Reynan diambang pintu kamar


"Ngapain lo kesini?" sahutku sambil meraba yang ada disekitarku


"Ya elah, masak sih gue kesini nggak dibolehi sama lo" sahut Reynan kemudian duduk dikasurku


"Catlyn, nanti momy cariin guru buat kamu yaa" ucap Momy


"Reynan cepet berangkat sekolah nanti kalo telat" ujar Momy sebelum pergi meninggalkanku


"Aaaa siyap tante" sahut Reynan siap 4 5


"Lyn, nanti gue kesini lagi yaa ,tungguin gue pulang" ujar Reynan sambil mencoba menggenggam tanganku


"Lo mau ajak gue kemana?" ketusku


"Emmm, kemana aja yang kamu mau yang penting kamu bahagia" ujar Reynan dengan serius


"Kalo lenyap dari dunia ini?" sahutku


"Bisa, bisa banget" ujar Reynan mengacak acak rambutku


"Sana gih berangkat, nanti kalo telat" ucapku


"Eh Lyn, nih gue kasih sesuatu buat lo, tapi nanti bukanya waktu lo lihat gue udah balik lagi yaaa" ucap Reynan serius


"Apa ini?" tanyaku sambil meraba dan menebak barang ini


"Ada deh, pokoknya lo pas ngebuka harus dihadapan gue dan saat itu mata lo udah bisa ngelihat lagi" ucap Reynan


"Bagaimana bisa?" tanyaku semakin penasaran


"Skenario Tuhan lebih indah Lyn, percayalah sama hal itu, gue akan slalu menemani lo sampai kapanpun ,bahkan sampai dititik terendah lo" jelas Reynan membuatku teringat masa kecil kita


"Kenapa lo masih mau temenin gue? Gue udah nggak normal lagi seperti dulu Rey" Rintihku


"Karna lo, gue tau apa arti sahabat yang sebenarnya" jelas Reynan membuatku terdiam seketika


"Gue berangkat dulu, jaga diri baik baik ,jangan bandel, jangan keras kepala, see you" ucap Reynan sambil mengacak acak rambutku sebelum ia pergi keluar dari kamarku.

__ADS_1


Aku terdiam seketika melihat tingkah Reynan yang tak pernah malu ataupun lelah punya sahabat seperti aku.


Karna seorang sahabat bagaimanapun ia, dimanapun posisi ia, ia masih tetap sahabatmu jika dia masih bertahan dengan kondisimu.


__ADS_2