
Aku mencoba untuk menghubungi Tante Rani selaku mamahnya kak Brayn dan memberitahu kondisi kak Brayn.
Tante Rani
Assalamualaikum Tante Rani, maaf kalo Siti mengganggu ,Siti mau memberitahu kalo kak Brayn tadi pingsan dan sekarang kak Brayn ada di uks
Makasih ya infonya, tante akan kesana sekarang
Iya tante, Siti tunggu di UKS ya..
----0----
Aku memasukkan hpku ke dalam saku seragam dan kemudian kembali masuk ke UKS untuk melihat kondisi kak Brayn yang sampai sekarang masih belum sadarkan diri.
"Dit, kak Brayn masih belum sadar ya?" ujarku melihat kondisi kak Brayn yang masih terbaring dan tentunya matanya masih terpejam
"Iya nih, gue itu heran sama kak Brayn kenapa dia akhir akhir ini suka pingsan?" ucap Ditto yang membuatku terdiam mengingat perkataan dokter di rumah sakit waktu itu.
"Apa mungkin kak Brayn mengidap penyakit sesuatu?" ujar Ditto
"Atau kalo nggak lagi, mungkin kak Brayn emang lagi sakit" sahut Ditto kembali
"Emm, Sit menurut lu kak Ditto kenapa sih?" ujar Ditto tanpa aku sadari aku lagi memikirkan masalah penyakit kak Brayn
"Woy Sit, lu kenapa? Bengong mulu" sahut Ditto yang menggerakkan telapak tangannya di hadapan mataku
"Eh dit, nggak papa kok" sahutku secara terkejut
"Jadi??" ujar Ditto
"Jadi apanya" sahutku secara heran
"Tadi yang gue bilang??" ujar Ditto
"Apa?" sahutku karna aku tadi tak mendengar perkataan yang diucapkan oleh Ditto
"Jadi lu nggak ngedengerin gue bicara dari tadi?" teriak Ditto merasa kesal
"Hehehe, maaf Dit" ujarku menanggung rasa malu
"Huftt, mikirin apa sih lu sampai segitunya?" ujar Ditto
"Nggak kok dit, nggak mikirin apa apa" ucapku
"Sayang, aku cariin kamu dari tadi, tapi nggak ketemu ketemu juga, ehh malah ternyata kamu lagi berduaan sama CUPU kampungan" ujar Viola yang tiba tiba datang
"Ihhh apaan sih lu, Vi guekan udah pernah bilang sama lu kalo kita udah putus" ketus Ditto
"Sayang, ayok kita pergi dari sini" ujar Viola yang sok cantik
"Ogah" sahut Ditto
"Kalian bisa baca nggak sih?" ujarku
"Bisa" sahut Amel
"Jadi kalo bisa, kenapa kalian bikin keributan di UKS?" sahutku
"Tuh dengerin" sahut Ditto
"Kalo emang kalian mau ribut, mending sono deh jangan ribut di UKS" ujarku
"Eh Pu ngapain sih ngurusin urusan kita" ketus Viola
"Dit, aku mohon sama kamu tolong kamu pergi dari UKS dan juga bawa mereka pergi" ujarku
__ADS_1
"Tap..ppi" sahut Ditto
"Sayang, kita pergi aja yuk dari si Cupu" ujar Viola dengan manja
"Dit, pliss aku mohon" ujarku memohon
"Baiklah demi kamu" ujar Ditto dengan menatapku
"Ihh apaan sih sayang, harusnya demi aku" sahut Viola
"Vi, keluar yuk" ujar Ditto
"Iya sayang" ucap Viola sambil melangkahkan kaki keluar dari UKS
Sekarang yang ada di dalam UKS hanya aku, dan Kak Brayn. Aku duduk di sebelah ranjang kak Brayn sambil memandang mandang wajah Kak Brayn yang begitu manis dan terlihat pucat. Sekejap aku teringat kejadian waktu aku terlambat, aku tertawa dan tersenyum sendiri tanpa aku sadari.
"Siti" suara yang ku dengar dari telingaku serasa tidak asing lagi bagiku
"Tante Rani" ujarku saat aku melihat sumber suara
Kemudian aku menjabatkan tanganku dan mencium tangan Tante Rani secara sopan.
"Gimana keadaan Brayn?" ujar Tante Rani melihat keadaan Kak Brayn yang masih pingsan
"Ya seperti tante lihat, dari tadi Kak Brayn masih belum sadar" ucapku dengan sopan.
"Dokter" ucap Tante Rani kepada dokter UKS
"Iya bu," sapa dokter UKS
"Saya bolehkan membawa anak saya ke rumah sakit?" ucap Mamah kak Brayn dengan serius
"Tentu boleh bu," sahut Dokter UKS
"Baiklah saya akan bawa Brayn ke Rumah Sakit sekarang" ujar tante Rani dengan raut wajah yang sangat khawatir
"Tentu boleh Siti" ucap Tante Rani dengan senang hati
Tante Rani, Kak Brayn, dan aku memasuki mobil Keluarga Kak Brayn dan membawa kak Brayn menuju rumah sakit terdekat. Ke adaan kak Brayn sampai sekarang masih belum sadarkan diri.
Begitu sampai di rumah sakit kami membawa kak Brayn langsung menuju ruang UGD. Tante Rani begitu terlihat sangat khawatir dan sedih, dia terus menangis di pelukanku. Aku mencoba untuk tetap tegar dan menguatkan keadaan Tante Rani.
"Sit, tante takut kalo Brayn akan ninggalin tante" ujar Tante Rani menangis di pelukanku
"Tan, Siti yakik Kak Brayn kuat, Kak Brayn bukan tipe orang yang lemah tan" ujarku menenangkan Tante Rani
"Tapi, tante nggak mau kehilangan dia" ujar tante Rani menangis sambil terhisak hisak
"Tante, Kak Brayn pasti sembuh, tante sebagai orang tua jangan gini, tante harus menyemangati kak Brayn agar dia sembuh" ucapku masih di oelukan tante Rani
"Iya Siti, tante nggak boleh kelihatan sedih di mata Brayn" ujar Tante Rani sambil melepaskan pelukan dan menghapus air mata yang membasahi pipinya
"Tante, Siti yakin Kak Brayn akan kuat" ujarku sambil menhatuhkan telapak tanganku di atas telapak tangan tante Rani
"Makasih kamu sudah menguatkan tante Rani" ucap tante Rani secara tenang.
"Keluarga Brayn Nata Negara" ujar dojter yang keluar dari ruang UGD
"Saya dok" sahut Tante Rani
"Keadaan Brayn untuk sekarang masih sangat lemah, penyakit yang di deritanya sudah hampir menyebar di seluruh tubuh Brayn" ujar Dokter teresebut.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk anak saya dok?" ujar Tante Rani dengan mata yang mulai membawang lagi
"Ibu hanya bisa perbanyak doa buat kesembuhan Brayn, baik kalo gitu saya mau menengok pasien lain" ucap dokter tersebut sebelum pergi
__ADS_1
Tanpa pikir panjang aku dan tante Rani masuk ke ruang UGD melihat bagaimana kondisi Kak Brayn sekarang. Ia masih tertidur karna pengaruh obatnya. Tante Rani duduk di samping ranjang kak Brayn sambil mengamati keadaan anaknya sekarang dan aku hanya bisa terdiam melihat sosok kak Brayn yang angkuh telah menghilang.
Drdrrtt....
Suara telfon di hpku bergetar, aku keluar adi UGD dan melihat siapa yang menelfon, ternyata Ditto lalu aku mengangkatnya.
"Hallo dit?" ucapku
"Sit, Gengers atau gengnya Kak Brayn lagi nyariin keberadaannya kak Brayn dimana" ujar Ditto di telfon
"Kamu bilang aja Kak Brayn ada di Rumah Sakit Permata, dan sejarang kak Brayn mau di pindahin je ruang Anggrek" ujarku
"Oke, gue konfirmasi ke gengersnya ya, eh btw lu kok tau sih?" ucap Ditto dengan heran
"Ohh, tadi aku disuruh ikut sama nyokapnya kak Brayn, dit udah ya aku masih di rumah sakit tajutnya ganggu" ucapku sebelum mengakhiri pembicaraan di telfon.
Aku memutuskan untuk membeli minum dan makanan ringan buat cemilan tante Rani. Aku memasuki ruang UGD kembali dan melihat kondisi kak Brayn yang kelihatannya sudah siuman.
"Assalamualaikum" sapaku memasuki ruangan UGD
"Waalaikumussalam" sapa tante Rani yang melihat posisiku sekarang
"Tan ini tadi aku habis ke kantin dan membeli ini minum dan makanan ringan buat tante Rani dan Kak Brayn di sini" ujarku sambil memberikan satu kresek makanan ringan
"Pu, lu ngapain ke sini" ujar Kak Brayn yang sudah tersadar
"Eh kak Brayn..." ucapku terpotong
"Mamah yang nyuruh" sahut Tante Rani
"Mahh.., ngapain sih suruh si Cupu ngggak jelas dan kampungan seperti dia dateng ke sini?" ucap Kak Brayn dengan nada seperti tak menyukai
"Brayn namanya itu Situ bukan Cupu" bentak Tante Rani
"Mah, dia itu CUPU dan nggak pantes buat berada disini" ketus Kak Brayn
"Brayn, jaga ya omonganmu..!" teriak tante Rani
"Tante, kalo gitu saya pulang dulu" ucapku
"Permisi, An. Brayn mau saya pindahkan ke ruang Anggrek" ucap suster yang datang
"Oh, baiklah sus" ujar Tante Rani
*****
Aku pulang menuju rumah dengan keadaanku yang begitu lesu dan dengan pikiranki yang mulai tak karuan. Pikiranku mengenai kak Brayn yang tadi pagi berubah dan Kak Brayn yang detik ini berbeda. Aku ingin berteriakkk melepaskan semua masalah yang aku hadapi buat kali ini.
"Assalamualaikum" ucapku membuka pintu rumah
"Non baru pulang?" ujar Pak Parman yang duduk di ruang tamu
Tanpa aku pedulikan ucapan pak Parman aku kangsung masuk kamar dan menutup pintu kamarku rapat rapat. Bi Ani yang sedang memasak di dapurpun juga heran melihat tingkahku kali ini.
"Aku bencii...!" teriakku sembari merebahkan tubuhku ke atas kasur.
Sampai kapan kamu terus merubah notaben sikap aslimu??
Aku lelah dengan topeng yang kamu buat selama ini
So, gimana ceritanya???
Jangan luoa vote vote dan vote
Komennya juga...!
__ADS_1
Follow akun author juga ya
Love you😘