The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 16


__ADS_3

Cringg....


Bel istirahat berbunyi aku masih menempatkan diriku di tempat dudukku lebih spesifikasinya lagi bangku yang aku tempati, karna kali ini Bi Ani memberikan bekal kepada Siti.


"Sit lu mau ke kantin?" sapa Ditto berberes beres buku


"Nggak dulu Dit, aku mau makan makanan buatan ibuk" sahutku mencari bekal buatan bi Ani


"Oh, kalo gitu gue duluan ya" ujar Ditto


Kali ini yang tersisa di kelas hanya aku, Viola, dan Amel and the gengs. Viola dan Amel and the gengs terlihat akrab dan ia berbisik bisik tanpa aku bisa dengar. Mereka menatapku dengan tatapan sinis namun aku mencoba untuk membuang tatapan mereka dengan mengalihkan tatapan mataku ke kotak makanku dan melahap makanan yang didalamnya.


"Nama lu siapa?" sapa Viola di sampingku dengan raut wajah yang sinis


"Sit..i" ujarku yang sedang menelan roti


"Hah? Siti pantes deh sama penampilan kamu yang Cupu (hahahaaaa)" sahut Viola yang tertawa terbahak bahak


"Kenapa salah?" sahutku tak menghiraukan mereka


"Eh, Pu gue ingetin sama lu ya..! Jangan deket deket sama pacar gue ...!" teriak Viola yang ditonton oleh Amel and the geng.


"Emang siapa pacarmu?" sahutku serasa sok tak tau


"Ditto..!" teriak Viola


"Oh" sahutku tanpa basa basi


"Awas ya lu, kalo sampai deket deket sama pacar gue, gue nggak segan segan bikin hidup lu hancur" teriak Viola secara mengancam


"Mainnya ngancam" uajrku bicara sendiri tanpa melihat wajah dia.


"Eh, jangan sok pede ya..! Lu itu cuman C.U.P.U" teriak Amel yang ikut ikutan


"Tadi ngancam, sekarang ngroyok" ujarku


"Apa lu bilang? Sekarang gue mau lu teriak bilang seperti tadi di depan gue" teriak Viola yang membuat tubuhku untuk berdiri dari posisiku yang duduk


"Habisin aja tuh orang" sahut Amel


"Bener juga lu mel, nih Cupu enaknya di habisin biar nggak ngelunjak" sahut Viola yang mencekam kedua pipiku dengan satu tangan.


"Lepasin aku" teriakku


"Kenapa lu takut?, atau lu mau nyerah duluan" ujar Viola yang sinis menghadap ke mukaku


Ingin rasanya tubuhku memberontak dengan mengeluarkan jurus karateku kepada nih anak anak yang sombong dan angkuh. Namun kembali lagi disini posisiku bukan sebagai Katlyn tapi sebagai Siti.


"Gue, takut sama lu??, anying kali gue" sahutku dengan tanganku yang melepaskan cemkamannya Viola


"Berani juga tuh Cupu" ketus Amel


"Kalian semua itu basi tau nggak," ketusku dengan berteriak


"Wow, hebat ya seorang Cupu bisa ngeberontak seperti ini" sahut Viola


"Mending gue Cupu tapi punya muka, nggak seperti kalian sombong, angkuh dan nggak punya muka, upss.." sahutku dengan menutup bibirku saat mengucap kalimat terahir

__ADS_1


"Eh, pu sadar diri dong, sekali kali miror" sahut Amel


"Yang seharusnya miror itu bukan gue tapi kalian, eh gue lupa lebih tepatnya kalian itu udah nggak punya muka sekarang lagi cari muka(hahaha)" ketusku


"Awas ya lu pu" sahut Viola


"Apa apaan ini?" sapa Ditto yang tiba tiba datang.


"Eh dit, udah kamu makannya" sahut Viola terkejut


"Nggak usah sok perhatian sama gue, Sit lu nggak di apa apainkan sama Viola?" sahut Ditto


"Sebenarya sih...." ujarku dengan bola mata menatap Viola dengan sinis


"Em sayang, nanti kita pulang bareng ya" sahut Viola


"Ogah banget gue pulang bareng sama cewek munafik seperti lu" Ketus Ditto didepan Viola


"Udah yuk sit ikut gue nemuin Pak Handoko" ujar Ditto yang memegang tangan sebelah kananku dan menggeretnya menuju luar kelas


"Dit" sahut Viola sebelum Ditto pergi


"Bay bay cewek munafik" sahutku di depan Viola setelah Ditto berjalan duluan didepanki.


"Dasar cewek cupu" sahut Viola sebelum aku pergi meminggalkan mereka


Sampai di depan koridor kantor...


"Dit, kamu mau ngapain ajak gue ke pak Handoko?" ujarku dengan heran


"Enggak, nggak jadi gue cuman enek aja ngelihat cewek munafik di kelas " sahut Ditto


"Siapa lagi kalo bukan dia" ujar Ditto tanpa dia sadar masih memegang tangan kananku


"Emm, Dit tangan kamu" ujarku yang membuat Ditto melepaskan tangannya yang memegang tanganku


"Sorry" sahut Ditto


"Dit, dit itu bukannya Kak Brayn?" ucapku menepuk nepuk pundak Ditto saat melihat Kak Brayn yang sedang memegangi kepalanya


"Iya, kok tumben dia sendirian ya, gengnya mana?" sahut Ditto


"Dit, samperin yuk" ucapku yang masih memperhatikan tubuh Kak Brayn yang sedang berjalan


"Lu nggak takut dimarahin dia?" sahut Ditto


"Dit jangan pikirkan ego dulu, lihat tuh Kak Brayn mukanya pucet banget" ujarku


"Iya ,ya udah yuk" sahut Ditto


Aku dan Ditto berlari menghampiri tubuh Kak Brayn yang berjalan sendiri dan terlihat pucat.


"Kak Brayn" teriakku sambil berlari


Kak Brayn menoleh ke belakang tepatnya ke sumber suara ya itu ke arahku tubuhnya semakin memucat. Aku terengah engah setelah berlari menemui kak Brayn


"Ditto, Cupu" ujar Kak Brayn

__ADS_1


"Kak, kakak jalannya cepat banget" sahut Ditto


"Kak, kakak kok terlihat pucat sih, kakak Sakit?" ucapku


"Enggak kok pu" sahut kak Brayn yang nadanya semakin melemah


"Kakak nggak usah bohong deh, kakak itu lagi sakit kan" sahut Ditto


Tanpa pikir panjang aku menjijitkan kakiku agar tanganku bisa menempel ke jidat kak Brayn yang tubuhnya tentu lebih tinggi dariku.


"Ya Ampun, kak jidat kakak panas banget kaka sakit beneran?" ujarku


"Bro, lu bener sakitkan" sahut Ditto


"Ah kalian itu nggak usah lebay" sahut Kaka Brayn


Aku kemudian mencoba untuk memegang telapak tangan dan leher kak Brayn


"Astaga kak, tangan kakak dingin banget dan kakak keluar kringet tapi badan kakak dingin" ucapku secara panik


"Pu, kepala gue..." ujar kak Brayn belum selesai


Brukk....


Tubub kak Brayn terjatuh yang membuat aku dan Ditto panik dengan keadaaan ini.


"Kak Brayn bangun" sapaku yang kemudian duduk dan memangku kepala kak Brayn di paha kakiku yang terduduk


"Kak? Bro?" sapa Ditto


"Kak Brayn?" sapaku lagi sambil memegangi wajah kak Brayn yang masih pucat.


"Ya udah Sit, kita bawa ke UKS aja" ujar Ditto


"Iya dit" sahutku


Ditto dan aku mencoba untuk membopong tubuh kak Brayn meskipun satu sekolah terlihat tatapan matanya menuju ke arah kita. Namun di dalam perjalanan menuju UKS aku juga merasa aneh dan heran mengenai teman teman dan sahabatnya Kak Brayn yang sampai sekarang nggak mau menolong kak Brayn.


Sesamlainya di UKS......


"Brayn" ujar Dokter UKS


"Emm Dit, gue ke luar bentar ya" ucapku kepada Ditto


"Iya" sahut ditti yabg masih berada di samping kak Brayn.


Aku mencoba untuk menghubungi Tante Rani selaku mamahnya kak Brayn dan memberitahu kondisi kak Brayn.


Berhasil merebut kekasih orang bukanlah sebuah kebanggan, melainkan beban.


Percayalah memelihara seorang pengkhianat tidaklah mudah.


Gimana gays ceritanya...?


So, vote..vote..dan vote..


Komenya juga jangan lupa

__ADS_1


Maafkan author kalo semisal banyak typo


Love you


__ADS_2