The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 48


__ADS_3

Perihal mengikhlaskan atau melepaskan aku masih terlalu sakit untuk menerimanya. Sebab dia yang selama ini aku kasihkan masih saja tetap saja berujung pada sebuah Hal mengecewakan. Tubuhku seaman goyah menopang segalanya prahara yang terjadi antara aku dan sesosok duniawi yang menyedu pilu. Meski ku sadar Kak Brayn adalah satu sosok dimana aku harus berusaha belajar bersabar.


"Dorrr" Kejut Ditto


"Apaan sih dit"


Tubuhku terpejap mendengarkan teriakan Dari ditto yang mampu membuat lamunanku terpecah seketika.


"Lo lagi mikirin apa sih?"


"Isss kepo"


"Nih anak kalo ditanya pasti jawabnya ngawur"


"Dit, menurut lo gua orangnya gimana? "


Tanyaku membuat ditto semakin bertanya Tanya Ada apakah tentang diriku.


"Hah? Kepala lo habis kebentok apaan?" Tanya Ditto terheran Herman


"Serahlah dit"


Ujarku pergi meninggalkan ditto.


"Ehh, woyy..! "


Teriak ditto tak mengubah keadaanku. Aku berjalan dengan langkah yang cukup tegas.


Brukkk...


Tubuhku jatuh. Kakiku terluka. Dia terlihat sangat teledor karna barusan menabrakku.


"Ish..."


"Sorry, ya.. "


Ucapnya sembari membantuku untuk berdiri.


"Lain kali kalo jalan pake mata ya"


Decakku.


"Iya maaf, soalnya saya murid baru"


Pandanganku yang masih membersihkan rokku langsung menatap ke arahnya.


"Reynan? " Tanyaku


"Oh, kenalin gua Rayhan"


"Lo Reynankan? "


Tanyaku kembali, laki laki itu benar benar seperti Reynan. Matanya, lesung pipinya, bibirnya.


"(huhhuhhuh..) Sumpah lo kampret banget sih lyn"


Ucap ditto terengap - engap.


"Iyakan lo itu Reynan? "


Tanyaku menegaskan kembali kepadanya.


"Hah Reynan? "

__ADS_1


Ucap ditto membuat keadaan semakin rumit. Sedangkan laki laki itu hanya mengerutkan dahinya.


"Gua Rayhan bukan Reynan"


Tegasnya


"Sumpah lo yakin lo bukan Reynan? "


Tanya ditto mengintrogasi


"Bukan, gua Rayhan gua pindahan dari Bandung"


Mataku menatapnya dengan jeli. Seketika ditto menepuk pundakku.


"Oh maaf ya, mungkin temen gua kepalanya lagi kepentok, lo mau ke ruang kepsek ya? "


Tanya Ditto


"Iya, bisakah kalian mengantarkan saya kesana? "


Pinta Rayhan.


"Iya boleh"


Jawabku masih kaku.


Setelah aku dan ditto menghantarkannya ke ruang kepsek kamipun segera kembali. Langkah kami memang tidak sama. Dan disetiap jalan kami mendebatkan pasal Reynan dan juga Rayhan. Aku tahu mungkin ini sedang dalam mimpi ataukah sebuah ilusi. Tapi Ditto selalu menaegaskan bahwa ini nyata dan fakta. Berulan kali aku menyuruhnya untuk menampar pipiku.


"Dit.. Itu Reynan benerankan? "


"Aduh Lyn itu Rayhan bukan Reynan"


"No, itu Reynan"


"Alyn.. Reynan udah ada didalam kuburan dan lu kan lihat sendiri matanya lu bawa, masa iya orang mati bisa hidup lagi sih"


"Lo lagi halu tau nggak, lebih baik lo segera masuk kelas duduk terus minum aqua yang banyak biar lo bisa fokus!"


Ujar Ditto menapuk jidatku.


"Ih ditto"


Jeritku.


******


Sore ini mulai petang. Sedangkan tubuhku sudah mulai lelah. Taxi tak kunjung datang. Dan kak Raka memilih untuk menghilang.


"Mau bareng ngga? "


Tanya Ditto.


"Lo nggak waras dit? Gimana gua bisa bareng sama lo kalo lo ngeboncengin salsa"


Ketusku memutar bola mataku. Ditto memang spesies langka yang pernah ku temui. Sesekali aku tahu bahwa ia juga merjpakan laki laki playboy disekolah ini.


30 menit kemudian..


Antara aku harus pasrah ataulun aku harus berjalan melangkah. Posisi hp sudah mati dan sorepun berganti malam. Aku memutuskan untuk beranjak pergi dengan langkahan kaki yang tak pasti. Sembari menunggu keajaiban terjadi.


Tint tint..  (Suara klakson mobil terdengar jelas)


Harapannya semoga aku bisa ditebengin pulang sama dia. Siapa tahu dia kenal sama gua. Secara seketika aku membalikkan tubuhku. Ada perasaan cemas dan khawatir.

__ADS_1


"Neng, mau ikut abang ngga? "


Wajah laki laki paruh baya yang menakutkan. Badannya besar dan hitam. Dia memakai kalung berantai. Mirip seperti preman. Aku berjalan cepat meninggalkannya. Harapanku pupus. Aku harus berlari sekencang kencangnya agar ia tak mampu menagkapku.


Mobilnya mendahului langkah kakiku. Tepat ia memberhentikannya didepanku. Sampai sampai tak ada akses untuk tubuhku melangkah mendahuluinya. Mereka turun dengan mengeluarkan wajah wajah menakutkan. Entah aku harus bagaimana ini. Ia mulai mendekatiku dengan posisiku yang sudah tidak bisa bergerak. Mulai mencoba memegang tubuhku.


"Ya Tuhan tolongg.. "


Pintaku.


Tak lama kemudian mereka memegang tanganku dan membawaku ke dalam mobilnya. Aku masih terus berusaha untuk menolaknya.


"Woy lepasin tuh cewek"


"Eh ada yang sok jago nih, lo mah mundur atau gua yang paksa lo mundur? "


Tanya preman itu dengan wajah yang judesnya minta ampun.


"Reynan gua takut"


Teriakku. Meskipun dia adalah Rayhan. Tapi aku terbiasa dengan Reynan.


"Kalo lo berani sini satu satu kalian maju, jangan kroyokan?!"


Reynan mulai melawan para preman preman itu. Dan aku memilih untuk berlindung ditubuhnya. Wajahnya berulang kali terkena pukulan namun ia masih tetap tak ingin nyerah. Kemampuan bela dirinya boleh dibilang handal. Tak pikir lama karna tubuh Reyhan yang sudah terlihat kewalahan akupun mulai ikut melawan. Aku tahu mungkin kemampuan bela diriku tak sebagus dia, tapi aku memmpunyai kemamluan bela diri meskipun hanya sedikit.


"Eh lo, lo yakin bisa? Kalo lo ngga bisa mundur aja"


Teriak Reyhan.


Tak lama kemudia preman preman itu mengaku kalah dan pergi meninggalkan kami berdua.


"Lo ngga papa? "


Tanya Rayhan


"Seharusnya gua yang tanya lo ngga papa? "


"Ngga papa mungkin cuman memar aja"


"Reynan muka lo bonyok bonyok tuh bukan hanya memar saja"


"Bukan Reynan tapi Rayhan"


Ujarnya sambil tersenyum heran.


"Eh iya maksud gua Rayhan, makasih udah bantuin gua"


"Iya, lain kali lo hati hati ngapain juga jalan sendirian malam malam lagi"


"Nungguin taxi ngga ada"


"Ya udah, gua antar balik"


"Tapi lo kita cari tempat dulu ya buat ngobatin luka lo"


"Nanti gua bisa obatin sendiri"


"Ya kan lo gini gara gara gua, jadi gua juga mau ngobatin luka lo sampe sembuh, biar gua ngga ngerasa bersalah sama lo"


Decakku sambil memaksanya.


"Ya udah naik, keburu hujan"

__ADS_1


Menurutku mungkin ini terlalu aneh, sebab didalam perjalanan Rayhan selalu membuka pembucaraan, sampai sampai ia menyuruhku untuk berpegangan dengan keadaan seperti memeluk dirinya agar aku masih tetap aman saat bersamanya.


"Apakah kamu ditakdirkan Tuhan untuk menggantikan pemeran utama dalam kehidupanku? "


__ADS_2