
Bu Ana memanggilku untuk segera menemuinya diruang guru. Langkahku tak cukup terburu buru. Susana ini mungkin sudah tak jarang lagi bagiku. Namun dulu berbeda dengan sekarang. Aku sekarang lebih disegani oleh orang lain daripada dulu. Aku sekarang mampu menatap mata siapapun orang yang berani mencaciku.
"Iya Brayn pingsan didalam kelas"ujar siswi lain
Telingaku seakan terkejut mendengar kata Brayn. Bola mataku mengarah kepada dua orang siswi yang baru saja lewat dihadapanku. Entah kenapa kakiku seolah berkeinginan menuju kelas kak Brayn. Namun aku masih memantapkan hatiku untuk segera menemui bu Ana.
Disudut dalam kantor bu Ana terlihat panik sat melihat layar hpnya. Sorot matakupun menuju ke arahnya.
"Permisi bu Ana" Sapaku sembari mencium tangan beliau
"Kebetulan kamu cepat sampai Lyn. Mungkin kamu sudah tahu siapa saya. Jadi saya ingin kamu menjabat sebagai ketua PMR disekolah ini setelah ibu dan guru guru lainnya melihat nilai kamu yang cukup tinggi" Ujar bu Ana membuatku menelan ludah seketika
"Tapi... Bu sayakan hanya sebatas murid baru, kenapa harus saya? Memangnya apa keunggulan saya? "
"Alyn kamu itu berbakat jadi dokter seperti apa yang kamu cita citakan. Kamu itu menarik, berbeda dengan siswa lainnya, pemikiranmu Luas dan kritis. Ibu lihat kamu jugs pandai untik berkomunikasi"
"Ibu harap kamu mampu bertanggung jawab penuh atas UKS kita. Dan rencananya ibu akan merenovasi UKS itu supaya terlihat lebih nyaman"
Disela - sela pembicaraanku dengan Bu Ana suara langkah yang sedang lari terburu buru membuka pintu ruang guru. Memecah konsetrasiku dengan bu Ana. Siswa itu terengap engap mendekati posisi bu Ana.
"Bu Ana.. Itu.. "sela sela nafas terengap engap
"Apa? " tanya bu Ana heran
"Brayn pingasan" ucap siswa itu
"Alyn, saya tahu penyakit riwayat Brayn itu seperti apa. Saya mau kamu tanganin Brayn segera dan saya akan mencarikan obat obatnya"
__ADS_1
"Baik bu"ujarku
******
Kali pertama aku melihat Brayn yang sedang tak berdaya kembali disaat aku menjadi sosok Catlyn.
"Permisi, saya garap kalian dapat keluar dari ruangan ink terlebih dahulu. Biar kak Brayn saya yang tanganin"
"Sok sokan lo" ujar salah siswa dikerumunan siswa
"Udah nganut aja sama dia. Lo kan tau Brayn mengidap penyakit apa" Ujar siswa lainnya
Tak cukup lama aku menunggu mereka keluar dari pintu. Aku memegang tangan kak Brayn yang dingin namun berkeringat. Wajah kak Brayn yang pucat. Dan darah yang mulai keluar dari hidungnya.
"Ya Tuhan. Kasihan kak Brayn kenapa harus dia yang menanggung penyakit ini" ujarku dalam hati.
Aku mulai mengobatinya dengan memasang infus cairan ke dalam tubuhnya. Matanya masih menutup rapat. Pertanda bahwa dia sedang menahan rasa yang begitu sakit.
"Iya bu, ngga papa" ucapku
"Alyn tolong kamu minumkan obat ini ke Brayn ya, Ibu may telfon kedua orang tula Brayn"
"Bu Ana apa tidak sebaiknya kita bawa kak Brayn ke rumah sakit?"
"Biar nanti kedua orang tuanya yang memutuskan"
Aku menakar obat yang harus diminum oleh Kak Brayn. Membuatkan dia teh hangat juga salah satu tugasku disini.
__ADS_1
"Alyn jika nanti kedua orang tuanya Brayn Sudah datang, kamu kabarin ibu ya, soalnya ibu Ada keperluan"
Tak sedikitpun Kak Brayn membuka matanya. Keadaanya masih sama, ia masih rapat Menutup matanya.
"Astaga kak Brayn, kenapa hobi banget sih Menutup mata" gumamku.
Tak ku sangka tangan kak Brayn mulai bergerak dan matanya perlahan Laban mulai membuka.
"Syukurlah lo Udah sadar"
"Gua ngapain bisa Ada disini? Sama lo lagi" Ketus Kak Brayn
"Yeyyy... Udah ditolongin ngga Mau berterimakasih malah kerjaannya ngomel ngomel mulu" sahutku sembari meletekkan obat obatnya kw dalam piring kecil.
"Nih obat lo"
Ku sodorkan satu nampan yang berisi teh hangat dan sepiring kbat obatan untuknya.
"Taruh aja dimeja"
Aku meletekkan nampan itu dimeja dekat kak Brayn. Ku tahu tubuh kak Brayn masih lemas tapi aku juga tahu bahwa kak Brayn itu orang ya nyebelin Dari duly hingga Sekarang. Sampai sampai ingin membuat tekanan darah ku nail sebabnya.
Sambil menghela nafas berat aku menatap sepiring kecil obat obatan. Tangan kak Brayn mulai meraba raba ke arah nampan itu. Namun karna tubuhnya leman ia tak mampu menjangkau nampan itu.
"Sini gua Bantu" ujarku sembari membantu kak Brayn untuk duduk sambil bersandar.
Kak Brayn mulai meminum obatnya dan teh hangatnya meskipun Sudah ku paisa untuk menghabiskan teh hangatnya, ia tak pernah Mau mendengarkan sedikitpun kata kataku Sampai pads akhirnya dia memutuskan untuk tidur.
__ADS_1
"Dasar keras kepala" decakku
Satu hal yang perlu kamu tahu. Bahwa kamu mampu mengubah apapun itu yang menyangkut dengan diriku. Termasuk Membuatku untuk kembali mengalah dengan perlakuanmu