
Waktu terus berputar secepat air yang mengalir sangat deras. Bahkan aku harus berkutik keluar untuk melihat masa depnku kembali. Saat ini aku sudah terbiasa tanpa hadirnya sesosok Reynan. Momi dan Dedy sudah membiarkanku menjadi pribadiku yang sesungguhnya. Aku kembali ke sekolah lamaku dengan penamlilan ala ala Catlyn. Kakiku terus melangkah melewati lorong demi lorong sambil berusaha mengingat kembali kejadian masa lampau.
****
Aku memasuki ruang kantor karna aku kembali menjadi murid baru disekolah ini.
"Kamu Catlyn ya?" Ujar Bu Mia
"Iya, gue Catlyn!" sahutku dengan wajah judes ala ala Catlyn
"Baiklah ibu sudah tau sifat kamu, mari ibu antar kamu ke kelas barumu" ucap Bu Mia sembari mengambil buku buku yang ada dimejanya.
Aku melangkahkan kakiku dengan penuh percaya diri. Tas yang aku gendong hanya satu lengan, Rambut yang ku ikat seperti halnya diriku, dan sepatu seneakres warna putih mencolok. Tak lupa tatanan baju yang benar benar tidak rapi sama sekali.
"Bu Mia, emang kak Raka jadi donatur disekolah ini sudah berapa lama?" ujarku
"Udah lama, sejak ada murid yang bernama Siti sekolah di sini" Jawab bu Mia membuatku tersedak menelan ludahku seketika.
"Siti? Cupu banget nama tuh orang. Anak mana sih dia? " ucapku berpura pura tak mengenalinya
"Ibu juga kurang tau, tapi dengar dengar dia itu dekat sama yang namanya Brayn murid ibu" celoteh ibu mia
"Brayn? Siapa tuh orang?" ujarku
" Orang tuanya juga salah satu donatur di sekolah ini. Dia anak kelas 12 IPA. Dia itu dikagumi semua siswi disekolah ini. Tapi sayang dia mengidap penyakit kanker" Jelas bu Mia
__ADS_1
"Kanker? Kasihan banget tuh bocah. Eh btw ya tuh Brayn gimana keadaannya bu? Sudah meninggalkah? " ujarku
"Husss, kamu ini ada ada aja. Brayn masih sehat karna ada seseorang yang membuat ia terus berjuang melawan Penyakitnya" Jelas Bu Mia
Tak terasa langkah kakiku dan langkah kaki bu Mia sudah tepat berada di depan kelas. Aku tidak gugup sama sekali. Tanpa pikir panjang aku memasuki kelas itu dan memperkenalkan diriku.
"Hello, perkenalkan gue Catlyn, lo bisa panggil gue alyn. Selebihnya kita bicarakan nanti" ucapku membuat seisi kelas terdiam menaikkan alis.
"Judes banget tuh bocah" Ujar Amel
"Kenapa lo ngga suka? " sahutku tersenyum picik
"Eh sadar diri dong. Lo itu murid baru di kelas ini, jangan sok belagu jadi orang" Teriak Amel membuat tegang seisi kelas
"Sudah sudah, Amel hormati teman barumu. Alyn kamu bisa duduk disamping Dara ya" ujar Bu Mia
"Hai, gue dara" ujar dara tersenyum hangat.
"Gue ngga tanya" ucapku
"Baiklah anak anak kita buka halaman 65, kerjakan tugas individunya" ujar Bu Mia
******
Hari ini semua mapel telah terselesaikan. Aku bergegas mengganti bajuku dengan baju olahraga.
__ADS_1
Aku memulai melakukan pemanasan di area lapangan basket. Aku tau jam segini adalah jam waktunya pulang, namun beda denganku. Sudah lama aku tidak memainkan bola basket sejak aku merubah penampilanku sebagai Siti.
Tok tok tok tok (suara pantulan bola basket)
Tanganku memainkan bola basket secara lihai. Memasukkan bola basket ke dalam ring adalah salah satu dari Beberap teknik permainan bola basket yang sudah aku kuasai.
"Alyn" teriak dara
Aku melihat ke arah dara dan ternyata ia sedang menggandeng seseorang. Yang tak asing lagi di mata Reynan.
"Apa? " ujarku menghampiri dara
"Nih kenalin, ini kak Brayn. Sapupu gue" ucap Dara
"Oh ini yang namanya Brayn?" ucapku melihat seluruh tubuh kak Brayn
"Dar, lo apa apaan sih ngenalin gue sama murid baru yang songong kayak gini" ujar kak brayn.
"Songong? Helooo, emang lo tau gue kalo gue sesongong itu? " ketusku sembari mendribel bola badket.
"Dari penampilan lo" jawab kak Brayn dengan ketus
"Kenapa sih harus mencaci orang dari penampilannya? Ilmu lo kurang tinggi. Dan lo tau lo ngga perlu ngehina orang karna penampilan" ujarku dengan melemparkan bola basket ke arah Baryn dengan cukup keras sebelum aku meninggalkannya.
Tanpa pikir panjang aku pergi meninghalkan dua orang saudara itu di lapangan bola basket. Aku mengambil tasku dan bergegas untuk pulang.
__ADS_1
Mulailah dengan hal hal baru. Bukan hal hal lama yang pernah membuatmu terluka. Sudah cukup membodohi hatimu. Kamu tidak perlu sakit lagi karna luka.