
Sampai di depan rumah tubuhku merasa kesal namun aku tahan, batinku ingin menjerit mengakhiri semua tapi aku tak bisa. Aku terlihat lesu dengan tas yang semula masih terlihat baru dan sekarang jadi kotor, rambutku yang semula terkepang rapi sekarang kepangan tersebut teracak acak.
"Loh non Katlyn kenapa?" Sapa Pak Parman yang sedang meminum kopi didepan rumah
"Capek pak, oh iya pak Parman kalo saya ada dirumah sini atau di lingkungan sini pak Parman jangan panggil non dan juga Katlyn panggil saja saya Siti." Ujarku menahan lesu
Krekkk....
Aku memasuki kamarku dan membaringkan tubuhku di kasur manjaku. Aku mulai memejamkan mata, mengingat semua kejadian kejadian yang ada di sekolah hari ini, aku merasa benci dan sesekali ingin keluar dari permasalahan ini, emosiku juga meluap namun aku melampiaskannya dengan meneteskan air mataku.
Aku menangis tersendu sendu. Kenapa di Indonesia penampilan lebih di utamakan? Aku ingin marah dengan diriku sendiri kenapa aku mencoba untuk menjad Siti? Padahal aku Katlyn bukan Siti. Dalm kamar aku menherit rasa benci dan kecewa pada saat itu.
Krekk... Pintu kamar terbuka
"Siti kamu kenapa?" Ujar bi Ani yang berada di ambang pintu
"Bi Ani" teriakku sambil berlari menuju sumber suara dan memeluk erat tubuh bi Ani seketika.
"Kenapa?, coba cerita sama bibi" ujar bi Siti sambil memeluk kembali.
"Bi, siti benci" ucapku dalam pelukan bi Ani
"Loh kenapa sayan?" Ujar bi Ani yang melepaskan pelukanku kemudian memegang wajahku
"Siti" aku masih belum bisa untuk menceritakan semua kejadian di sekolah dengan bi Ani
Bi ani kemudian mengajakku untuk duduk di kasur manjaku dan menyuruhku untuk membaringkan tubuhku, kepalaku terlaskan oleh paha dari bi Ani.
"Siti, bibi tau kamu bisa menghadapi semua ini, bibi juga tau kalo Siti orang yang kuat dan berbeda dengan Katlyn yang manja" ujar bi Ani sembari mengelus elus rambutku dengan pelan
"Bi, Siti jadi korban bully di sekolah, pertama kali masuk saja Siti udah dapat banyak masalah" ujarku sambil menangis di pangkuan bi Ani
"Loh inikan baru pertama belum kedua, ketiga atau selamanya?" Ujar bi Ani
__ADS_1
"Tapikan bi awal Siti masuk saja Siti udah dapat masalah, apalagi nanti kalo Siti udah melewati hari hari Siti pasti Siti dapat banyak masalah" sahutku kepada bi Ani yang masih setia mengelus elus rambutku.
"Jadi sekarang kamu meragukan penampilanmu?" Sahut kembali bi Ani
"Bukan gitu bi" sahutku kemudian
"Kalo bukan gitu kenapa sekarang kamu menyesal menjadi seorang Siti, ayolah Siti harus tegar menghadapi masalah awal ini bibi yakin Siti bisa" ujar bi Ani yang kemudian membangkitkan tubuhku dari pangkuannya.
"Ttap.." Ucapanku terpotong oleh kata kata bi Ani lagi
"Kenapa?, kamu masih ragu?" Ucap bi Ani sambil menatap mataku dan menggenggam erat telapak tanganku.
"Enggak bi, Siti akan coba untuk bangkit dan tidak menangis aku akan membuat sosok Siti menjadi sosok yang kuat" ucapku sambil mengusap air mata yang sudah membadahi pipiku.
**********
Pagi ini aku kembali menjalankan rutinitasku di sekolah dan kebetulan ini pelajaran matematika peminatan pelajaran yang paling di benci oleh siswa Nusa bahkti namun berbeda denganku, menurut mereka ini pelajaran yang sungguh membosankan dan mengabiskan banyak akal untuk menjawab dengan benar. Siswa disini memilih untuk keluar dari pelajaran Matematika dan hanya sebagian kecil yang mengikuti pelajaran matematika peminatan.
"Siang pak" ucap 6 anak yang kali itu masih tetap berada di kelas.
"1,2,3,4,5, loh kok 6 berarti ada perkembangan dong dari siswa lain" ujar Pak Handoko dengan senang hati
"Mana mungkin kelas kita ada perkembangan, dia itu anak baru pak" ujar salah satu siswa yang duduk di bangku paling depan
"Oh ya? Baguslah kalo gitu anak baru masih mau mengikuti pelajaran saya" ucap Pak Handoko debgan serius
"Baiklah kali ini akan di adakan ulangan dadakan, pastinya kalian belum tau itukann?" Ucap pak Handoko sambil menata soal soal ualangan.
"Ahh pak, kenapa sih harus ulangan?dadakan lagi seperti tahu bulat," ucap Anton siswa yang slalu mendapatkan peringkat ke 4 di kelas
"Ya bapak mau mengetes kemampuan kalian sampai mana terutama si anak baru" ucap pak Handoko yang pandangannya tertuju padaku
"Bapakkan tau sendiri kemampuan kita seperti apa ,kalau bapak mau mengetes anak baru ya silahkan jangan sama kami dong pak" teriak Sisil
__ADS_1
"Kalau kalian nggak suka dengan cara saya kalian bisa keluar" teriak Pak Handoko sambil menunjukkan pintu dengan ganas dan serius
Saat itu yang tersisa di kelas hanya 3 anak itu saja anak yang slalu mendapatkan peringkat 1 dan 2 di kelas dan aku.
Pak Handoko mulai menyebarkan soal soal itu pada kami. Menurutku Matematika bukanlah hal yang sulit kalo kita dapat memahami rumus rumusnya.
"Kalian bisa mengerjakan soal 50 itu dalam waktu 1 jam" ucap pak Handoko dengan mengelus elus kumis manjanya.
"Hah satu jam?" teriakku dalam hati
Kami bertiga berususah payah untuk mulai mengerjakan kami berhitung sekuat tenaga dan membolak balikkan otak dan akal demi menjawab soal tahu bulat ini.
1 jam kemudian...
"Baiklah anak anak waktu sudah selesai dan kalian boleh mengumpulkan ke depan SEKARANG..!" perintah pak Handoko
Serempak kami semua mengumpulkan jawaban kami ke Pak Handoko. Kali itu aku berhasil menjawab semua pertanyaan yang ada di ulangan itu dan aku merasa lega sekali walaupun sebelumnya aku masih ragu ragu.
Tujuan adalah untuj mencari ilmu bukan malah untuk memamerkan tahta dan kekayaan...
Lantas buat apa orang tua kalian membanting tulang demi menyekolahkan kalian?...
Jika kalian malah membuang kesempatan itu dengan sia sia..
Tolehlah perjuangan orang tua kalian demi kalian..
Jangan lupa vote..vote..dan vote..
Jangan lupa juga komentarnya..
Author juga ingin mencari aspirasi dari kalian yang mau mencurahkan buat cerita ini
Love you😘
__ADS_1