The Perfect Cupu

The Perfect Cupu
Part 19


__ADS_3

Aku mulai menyusuri hangatnya senja secara sendiri. aku berjalan dengan ragaku yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di salah satu kursi taman saat itu sembari menunggu seseorang yang akan hadir di hidupku.


"Siti" ucap sosok yang muncul dari belakang tubuhku


"Kak Brayn" sahutku dengan senyuman hangat


Dia berjalan dengan langkah yang tegas.


"Sit, sorry lama" ucap Kak Brayn dengan lemah


Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Kak, kenapa kakak tiba tiba baik sih sama siti? Bukannya dulu kak Brayn nggak suka sama Siti?" ucapku secara penasaran


"Nyokap gue sit yang udah ngerubah ego gue ke elu. Lu kan yang slama ini slalu ada di belakang gue buat mastiin kalo keadaan gue baik baik aja?" ucap Kak Brayn


"Lu kan yang slama ini sudah mengirimkan untaian kata, bunga, makanan saat gue ada di rumah sakit?" ucao Kak Brayn sambil menggenggam tanganku


"Siti, siti nggak tau kak Siti harus bilang apa, Siti malu kalo kakak udah tau apa yang Siti lakukan ke kakak" ujarku sambil mengalihkan pandangan dari kak Brayn


"Siti juga malu kak, Siti udah ada di belakang kakak dan memastiin kalo keadaan kakak itu baik baik saja" ujarku kemudian


"Siti tau kak Siti bukan orang terpandang di sini, Siti cuman anak dari seorang satpam dan pembantu di salah satu komplek green hous" sahutku kembali sembari mata mulai membawang


"Siti rasa Siti selama ini bodoh, Kenapa Siti di lahirin kalo ujung ujubgnya seperti ini" sahutku yang kelopak mataku meneteskan air mata yang sudah tepat berada di kedua pipiku.

__ADS_1


"Sit, lu, lu nggak salah kok dalam skenario Tuhan ini" sahut kak Brayn yang menghapuskan air mataku di pipi.


"Sit lu jangan menyalahkan diri lu sendiri, sebenarnya selama ini gue yang salah Sit" ujar Kak Brayn yang memeluk hangat tubuhku seketika.


"Kak, Siti juga nggak pantas buat berada di kehidupan kakak, Benar seperti apa yang di bilang Kak Dara kalo Siti ini benalu di kehidupan kakak" ucapku yang di peluk hangat oleh Kak Brayn


"Sit, lu jangan terus salahin diri lu sendiri, Dara itu bodoh karna dia nggak tau diri kamu yang sebenarnya" sahut kak Brayn


"Kak Dara itu benar kak, Emang siapa Siti? Siti cuman anak kampungan" ujarku sambil melepas pelukan dari Kak Brayn


"Nggak seharusnya wanita cantik seperti kamu menangis" ucap Kak Brayn yang menghapus air mataku lagi


"Kak aku bisa menghapus air mataku sendiri tanpa kakak, maaf kalo Siti selama ini sudah jadi benalu di kehidupan kak Brayn" ucapku sambil berdiri meninggalkan posisi kak Brayn saat ini


"Siti" ucap kak Brayn yang jauh dari posisiku


Kali ini senja telah usai dan berubah menajadi malam yang kelam tubuhku masih berada tepat di bawah pohon itu. Aku menjerit mencoba untuk berbincang pada kesunyian malam. Namun kali itu malam tak bersahabat denganku ia mulai menurunkan air hujan di saat saat aku ingin berjerita. Entah apa alasan malam untuk menangis kali itu. Tubuhku mencoba untuk bangkit dan kaki memulai untuk melangkah menyusuri gelapnya malam dan dinginnya tubuh. Posisiku kali ini sedang kehujanan namun lagi lagi ada seseorang yang melindungiku dari rintihan malam. Ia mendekatkan payung yang ia bawa ke arah tubuhku. Kali ini tubuhku berhenti menggigil dan tidak ada air hurjan yang mengenaiku sama sekali.


"Nggak seharusnya lu seperti ini Sit" ucap Seseorang itu.


Aku menoleh menuju ke arah sumber suara yang nyatanya adalah Kak Brayn.


"Kenapa sih kakak slalu hadir dalam hidup Siti, Siti nggak perlu lindungan dari kakak." sahutku sambil membuang payung yang tepat berada di atas kepalaku


"Kalo kamu membuangnya gue juga akan membuangnya Sit, karna gue tau lu nggak selamanya lu kuat sit, ada satu titik nanti kamu akan merasakan hal yang lemah" sahut kak Brayn sambil membuang jauh jauh payungnya, dan sekarang kita sama sama untuk bermain hujan.

__ADS_1


"Apa-Apaan sih kak, kalo kakak buang payungnya kakak bisa sakit" ucapku sambil berlari mengejar ke arah payung itu berada


"Sitiii, nggak perlu lu kejar payung itu" Teriak kak Brayn yang membuat langkahku terhenti seketika.


"Ah, kak Brayn apa apaan sih yaudah kalo gitu kita pulang" ucapku


"Kenapa harus pulang? Apa kamu nggak mau menghabiskan rintihan malam ini bersama sama?" ujar Kak Brayn


"Kak, kesehatan kakak lebih penting daripada rintihan malam" sahutku sambil menarik tangan kak Brayn pergi dari lokasi itu.


Kali ini ego yang menguatkan rasa


Walaupun ego mencoba untuk menyerah


Entah seberapa banyak rasa mencoba untuk tetap bertahan


Di keadaan yang tak mungkin terjadi


Gimana gays ceritanya?


Baper or nggak?


Jangan lupa vote and komentnya ya..!


Follow akun author juga..!

__ADS_1


Love you...!


__ADS_2