The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Kenapa jadi aku yang salah?


__ADS_3

Keesokan harinya, Kania pun memutuskan untuk tetap berangkat ke sekolah. Bukan karena apa, hanya saja jika dia tetap berada di rumah, dia membayangkan kejadian semalam.


\=\=Flashback On\=\=


“Aaaaaaaargh.. Maaaaaaaas!!”


Tanpa memedulikan teriakan Kania, Arya tetap menggendongnya hingga memasuki kamar.


“Mas mau ngapain? Bukannya tadi pagi bilangnya gak akan mau macam-macam sama aku,” protes Kania saat tubuhnya di letakkan di atas tempat tidur.


“Memang,” sahut Arya sambil menatap wajah Kania.


“Lha terus ini apa?” tanya Kania.


“Maksudnya memang gak akan macam-macam tapi hanya satu macam saja kok,” ucap Arya yang kemudian langsung menciumi Kania hingga setengah jam lamanya tanpa membiarkan Kania lepas darinya.


\=\=Flashback Off\=\=


“Hadeuh,” gumam Kania yang kala itu datang terlalu pagi karena terlalu tidak inginnya berangkat bersama Arya.


Karena keadaan kelas yang masih kosong, Kania pun memutuskan untuk memejamkan mata sebentar.


Namun ketika hampir saja Kania terpejam, tiba-tiba saja,...


“Ehm.”


Karena merasa mendengar suara seseorang sedang berdehem, Kania pun langsung mendongakkan kepalanya.


“Ba—bapak?!” ucap Kania terkejut karena melihat Arya sedang berdiri di dekat mejanya.


“Kamu ngapain berangkat pagi sekali?” tanya Arya.


“Gak ngapa-ngapain,” sahut Kania yang kemudian melanjutkan memejamkan matanya.


“Oh. Ya sudah. Tapi nanti, saat istirahat sekolah, kamu datang ke ruang guru,” perintah Arya


“Mau ngapain?” tanya Kania.


“Nanti kamu juga tahu sendiri,” ucap Arya yang kemudian langsung pergi begitu aja.


“Ish. Gak jelas,” gumam Kania saat melihat Arya pergi.


Tak selang berapa lama kemudian, Gylsa dan teman yang lainnya pun datang satu persatu. Seperti biasa, saat itu kelas pun menjadi ramai.


Sementara itu, Gylsa yang duduk di belakang Kania ini pun bertanya, “Lo kemarin kenapa gak masuk, Kan?”


“Gue lagi ada urusan keluarga, Gyl,” ucap Kania apa adanya.

__ADS_1


“Oh gitu. Kemarin Pak Arya juga gak masuk gara-gara ada acara keluarga juga,” ucap Gylsa.


“Oh,” sahut Kania singkat.


“Kok oh sih?” protes Gylsa.


“Lha terus gue harus jawab apa? Masa' iya gue harus jawab, iyakah, ah yang bener, terus terus,” ucap Kania bingung.


“Ya gak gitu juga sih, Kan,” ucap Gylsa.


“Nah. Ya udah kalau begitu,” ucap Kania santai.


Dan setelah beberapa saat kemudian, terjadi sedikit kehebohan. Diantaranya terdengar seperti ada yang sedang membicarakan Arya.


Kania yang mendengar itu pun langsung bertanya, “Gyl, sebenarnya apa yang udah terjadi?”


“Oh. Maksud lo itu sih Novi barusan?” tanya Gylsa memastikan.


Kania pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Emangnya ada hubungan apa dia dengan Pak Arya?”


“Ya kurang tahu juga, Kan. Hanya saja beberapa hari yang lalu sepertinya Pak Arya pernah menolong Novi yang saat itu hampir saja akan jatuh dari tangga sekolah,” jelas Gylsa.


“Oh. Adegan romantis donk?” tebak Kania.


“Kayaknya sih begitu kalau dilihat dari penilaian Novi. Tapi itu kan belum tentu sama dengan penilaian Pak Arya,” ucap Gylsa.


“Oh,” sahut Kania sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


***


Siang harinya saat hendak pulang sekolah, Kania tiba-tiba saja teringat sesuatu.


“Mampus deh aku. Kenapa bisa lupa?” gumam Kania yang lupa kalau istirahat di suruh datang ke ruang guru.


“Lo kenapa, Kan?” tanya Gylsa yang ternyata memperhatikan tingkah laku Kania.


“Oh. Gak.. gak apa-apa, Gyl. Ya udah. Gue duluan ya,” ucap Kania yang langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan bagaimana tanggapan Gylsa.


Di tengah perjalanan, Kania pun sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah emosinya Arya saat ini.


Namun di sela-sela Kania sedang berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba saja tangannya di tarik dan di bawa masuk ke dalam mobil.


“Jalan Pak,” perintah seseorang yang ternyata Arya pada sopir pribadinya.


“P—p—pak?!”


“Apa Pak pek pak pek? Ngapain tadi istirahat kamu gak datang ke ruang guru?” tanya Arya kesal.

__ADS_1


“Lupa,” sahut Kania singkat namun apa adanya.


“Lupa?! Aduh ya ampun, Kania. Gak biasanya kamu serius belajar sampai lupa semuanya,” ucap Arya.


“Ya emang lupa kok. Mau gimana lagi coba!?” celetuk Kania.


Arya pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Emangnya kelasmu hari ini ada pelajaran siapa aja?” tanya Arya.


Mendengar pertanyaan Arya, Kania pun langsung melirik dan kemudian berkata, “Kenapa setelah menikah, Mas jadi lebih posesif kaya gini sih?”


“Mas? Posesif?” ucap Arya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri dan Kania pun mengangguk.


“Eh dengar ya, Kania sayang. Mas ini suamimu. Wajar donk kalau seorang suami ingin tahu istrinya dekat dengan cowok mana aja. Emangnya salah?” tanya Arya.


Kania pun langsung menatap ke arah Arya lalu berkata, “Oh. Gak salah. Sama sekali gak salah. Tapi ingat Mas. Di sekolah, aku ini siswa mu dan kamu guruku. Asal tahu aja ya, jika dibandingkan berapa banyak yang suka sama mas dengan yang suka sama aku itu lebih banyak yang suka sama mas, tahu gak?! Ingat itu dan lagi ingat posisimu sebagai suami.”


Arya yang mendengar ucapan Kania pun menyipitkan mata menatap ke arah Kania.


“Maksud kamu apa, Kan?” tanya Arya.


“Mas belum sadar juga rupanya. Di sekolah ya mas ya.. di sekolah ternyata ada siswi yang baper sama mas. Jadi tolong, sadari posisi status mas saat ini, Ok?!” ucap Kania ketus.


Arya pun menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Kan, mas gak peduli siapa orang yang baper ma mas. Mas hanya peduli sama kamu aja dan itu selamanya. Ok?!”


“Kalau emang seperti itu kenyataannya, maka jagalah sikap Mas layaknya seorang pria yang sudah beristri,” ucap Kania.


Sesudah debat seperti itu, mereka pun saling diam. Namun di sisi lain, dalam hati Arya, dia bergumam, “Kenapa jadi aku yang salah?”


Setelah beberapa saat kemudian, keheningan pun terpecahkan dengan sopir bertanya, “Pak, kita ini mau ke kantor atau pulang ke rumah?”


“Ke kantor aja Pak,” sahut Arya.


Kania yang mendengar hal ini pun sontak protes dengan berkata, “Mas, hai. Helo.. Masih ada aku di sini. Ngapain juga ke kantor. Bukannya antarkan aku dulu.”


“Kenapa? Gak mau ikut aku ke kantor?” tanya Arya.


“Enggak,” sahut Kania singkat padat dan jelas.


“Walau kamu berkata seperti itu juga gak akan mempengaruhi aku. Pokoknya ke kantor ya harus ke kantor. Titik gak ada koma. Soalnya ada pekerjaan yang juga harus kamu selesaikan dan itu membutuhkan pengawasanku,” ucap Arya.


“Ha?”


Tak selang berapa lama kemudian, mereka pun sampai di kantor. Dengan masih berpakaian seragam sekolah, Kania pun mendengar ada beberapa orang yang diam-diam membicarakannya.


“Cih. Gak di mana, gak di mana. Bisanya cuma ngomongin di belakang dan gak berani di depan,” gerutu Kania pelan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka pun akhirnya sampai di ruangan Arya. Namun di sana ternyata sudah ada seorang wanita yang entah siapa, tiba-tiba saja datang menghampiri Arya dan kemudian berkata, “Hai Arya, lama tak jumpa. Kamu masih saja tampan seperti dulu. Aku makin sayang dan cinta deh sama kamu.”


Bersambung..


__ADS_2