The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Dia istriku


__ADS_3

Malam hari di kediaman keluarga Aditya, Kania yang sudah melalui hari yang panjang bersama Arya ini pun tetap harus menghadapi Sintia.


Dengan ragu dan juga dengan menggandeng lengan Arya, Kania melangkah masuk ke dalam rumah Sintia.


Arya yang mengetahui akan hal ini pun menepuk punggung tangan Kania yang ada di lengannya sambil berkata, “Kan, tenang saja. Aku yang sekarang akan selalu ada di dekatmu.”


Mendengar hal tersebut, Kania pun hanya terdiam saja. Walau sudah ada perkataan seperti itu dari Arya, tapi tetap saja di hati Kania merasa gelisah.


Di saat yang bersamaan, Papa Aditya pun keluar menyambut Arya dan juga Kania. Ada perasaan familiar di hati Papa Aditya. Namun dia sendiri bingung bagaimana cara mengungkapkannya.


“Selamat datang, Arya. Ini?” tanya Papa Aditya sambil melihat ke arah Kania.


“Oh. Ini istriku, Om,” sahut Arya.


“Oh. Jadi benar kata Ayahmu. Kamu udah menikah. Cantik juga istrimu, Ar,” sanjung Papa Aditya.


Arya pun tersenyum lalu berkata, “Iya, Om. Aku sangat beruntung sekali bisa bertemu dengannya.”


Kania pun hanya tersenyum mendengar percakapan mereka berdua.


Sementara itu dari sisi lain, datang Sintia yang tiba-tiba saja langsung merangkul lengan tangan Arya dan langsung menariknya masuk ke dalam area pesta.


Papa Aditya yang melihat ini pun spontan langsung merasa tidak enak pada Kania dan kemudian meminta maaf atas sikap Sintia tersebut.


Karena merasa kalau kejadian ini hanya faktor ketidaksengajaan, Kania pun menyahut, “Oh. Gak apa-apa, Om. Anak Om kan belum tahu hal yang sebenarnya.”


“Oh begitu. Terima kasih pengertianmu, Kan,” ucap Papa Aditya yang kini merasa lega.


Sesaat setelah itu, Papa Aditya pun langsung mengajak Kania masuk bersamanya dan ini di sambut baik oleh Kania.


Sementara itu di dalam ruangan pesta, Arya pun berkata, “Sin, sebentar. Aku harus pergi dulu.”


“Kamu mau ke mana, Ar?” tanya Sintia namun tidak dihiraukan oleh Arya.


Sintia yang mendapat perlakuan begini pun tiba-tiba merasa kesal. Diikutinya Arya dari belakang.


Lalu sesaat kemudian,...


“Kan, kamu udah masuk rupanya. Sini jangan jauh-jauh dariku,” ucap Arya yang langsung menarik tangan Kania.


“Siapa juga yang jauh-jauh?! Yang ada Mas tuh yang tahu-tahu di tarik masuk tanpa ijin dulu sama aku,” rajuk Kania pun ON.

__ADS_1


Arya pun tersenyum melihat sikap Kania tersebut. Namun di saat yang bersamaan,...


“Ar, bukannya ini tuh anak magang yang ada di kantormu tempo hari itu, ya?! Kenapa dia kamu ajak ke pestaku ini?” tanya Sintia yang hampir sama seperti kejadian di masa lalu.


Kania pun menoleh ke arah Arya dan sementara itu, Arya langsung menjawab, “Maaf, Sin. Waktu itu ada kesalahpahaman. Sebenarnya dia bukanlah anak magang di kantorku.”


“Kalau dia bukan anak magang, lalu dia itu siapa?” tanya Sintia.


“Dia istriku,” sahut Arya singkat, padat dan jelas.


‘Deg’


Tiba-tiba saja Sintia seperti tersambar petir mendengar ucapan Arya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Arya sudah menikah.


“Kamu bohong kan, Ar?” tanya Sintia yang masih tidak mau mengakui kenyataan.


“Aku gak bohong, Sin. Dia memang istriku. Kami menikah dua hari yang lalu,” jelas Arya.


“A—Apa?! Gak. Kamu pasti bohong. Masa’ kamu sudah menikahi anak SMU yang sepantaran denganku?! Gak. Gak mungkin,” ucap Sintia setengah agak histeris.


“Kenapa memangnya kalau dia masih SMU? Apakah ada masalah sama hal itu? Atau apa ini masalah buatmu?” Serang balik Arya.


“Ini, Ma. Arya ternyata sudah menikah dan dia menikahi anak SMU yang sama sepertiku,” ucap Sintia mengadu pada Mamanya.


Mendengar ucapan Sintia, Mama Kiran pun melihat ke arah Kania. Saat menatap Kania, entah mengapa sama seperti Papa Aditya, ada perasaan familiar di hati Mama Kiran. Sehingga membuat Mama Kiran merasakan kerinduan yang teramat sangat di hatinya.


“Jadi kamu ya istrinya Arya?” tanya Mama Kiran ramah.


“Iya, Tan. Aku istrinya Mas Arya,” sahut Kania lembut.


“Oh. Kamu beneran masih SMU?” tanya Mama Kiran.


“Iya, Tan. Aku masih SMU,” sahut Kania apa adanya.


“Hmm, begitu. Terus kenapa kamu bisa putusin buat menikah di usia belia seperti ini?” tanya Mama Kiran yang sangat menyayangkan hal itu.


“Oh itu. Sebenarnya aku sendiri belum mau menikah, Tan. Hanya saja,...”


Ucapan Kania terpotong dengan ucapan Arya yang berkata, “Hanya saja aku yang memaksanya, Tan. Aku terlalu takut buat kehilangan dia. Jadinya memaksanya untuk menikah denganku.”


Mama Kiran yang mendengar ucapan Arya ini pun menyipitkan matanya lalu berkata, “Kamu ini. Terlalu gak sabaran banget sih. Tapi kalian belum melakukan apa-apa kan?”

__ADS_1


“Oh. Nggak Tante. Kamu belum melakukan apa-apa kok,” ucap Kania spontan yang membuat Arya tersenyum.


“Iya, Tan. Kami belum melakukannya. Tunggu sampai dia lulus sekolah dulu baru deh aku berani nyerang dia habis-habisan. Ya.. walau pun aku akui kalau saat ini tuh sangat berat sekali,” ucap Arya dengan nada lesu.


“Apaan sih si Mas ini?” ucap Kania sambil mencubit pinggang Arya karena malu.


Mama Kiran yang melihat ini pun tersenyum namun berbeda dengan Sintia. Di wajahnya terpancar aura kemarahan.


“Ma, kenapa Mama malah sepertinya bahagia dengan pernikahan mereka?” tanya Sintia.


“Sin, sudah. Terima kenyataan. Mereka saling mencintai. Jadi relakan saja, ya?!” pinta Mama Kiran memohon.


“Gak. Aku gak bisa terima,” sahut Sintia dengan nada meninggi.


Mendengar suara Sintia seperti itu, Papa Aditya pun langsung datang dan bertanya, “Ini ada apa sih? Gak enak di lihat tamu. Malu.”


“Ini, Pa. Mama masa’ belain Arya yang menikahi anak SMU,” ucap Sintia yang lagi-lagi membahas tentang masalah SMU dengan nada merengek.


“Kan, sudah. Cukup. Biarkan saja Arya mau menikahi siapa pun yang dia mau. Kamu jangan bertingkah seperti ini,” ucap Papa Aditya.


“Ah, Papa. Papa sama aja sama Mama. Sama-sama gak bisa memahami perasaan Sintia,” ucap Sintia yang langsung berlari meninggalkan pestanya sendiri.


Sementara itu, Arya dan Kania yang melihat kejadian ini pun hanya bisa saling tatap antara satu dengan lainnya.


“Maaf, Arya dan Kania. Maafin sikap Sintia tadi, ya,” ucap Mama Kiran.


“Iya, Tante. Gak apa-apa kok,” ucap Arya.


Karena berhubung Sintia yang punya acara ini pun sedang merajuk, akhirnya Pestanya di bubarkan lebih awal.


Arya mau pun Kania yang sudah merasa tidak ada kepentingan lagi ini pun akhirnya berpamitan.


Sesaat setelah itu...


Di dalam mobil, Kania pun bergumam, “Untuk kejadian tadi, sepertinya alurnya sudah mulai berubah. Semoga aja dengan perubahan ini akan menunjukkan hasil yang baik pada akhirnya.”


Arya yang mendengar ini pun akhirnya menimpali, “Bagaimana pun hasilnya kelak, aku tidak akan pernah mau meninggalkanmu lagi.”


Kania pun langsung menengok ke arah Arya yang sedang fokus menyetir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2