
Saat waktunya pulang sekolah, seperti biasa, Kania selalu di minta untuk menunggu Arya di halaman parkir tidak jauh dari mobil Arya.
Dengan santai, dia pun duduk bersandar di sela area taman yang ada di sana.
Namun saat dia sedang duduk santai seperti itu, tiba-tiba saja..
“Kan, lo ngapain duduk di sini?” tanya Novi, sang wakil ketua kelas.
“Oh. Gue lagi nunggu seseorang, Nov,” sahut Kania apa adanya.
“Nunggu seseorang? Pacar ya?” tanya Novi kepo.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania pun hanya tersenyum saja.
“Oh gue ngerti. Ya udah. Gue gak ganggu deh kalau begitu,” ucap Novi yang kemudian pergi.
Walau sudah mengatakan seperti itu dan pergi, Novi yang rasa penasarannya terbilang cukup tinggi ini pun akhirnya berdiri tidak jauh dari tempat Kania berada untuk memantau Kania.
Dan beberapa saat kemudian, tampak terlihat Arya datang menghampiri Kania dan bicara sesuatu lalu keduanya pun masuk ke dalam mobil.
Novi yang melihat itu pun terkejut. Dia bingung, sebenarnya ada hubungan apa antara Arya dan juga Kania.
Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang bisa di pantau, Novi pun pergi.
Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda...
Kania saat ini sedang merasa sangat teramat kesal sekali pada Arya. Pasalnya tugas yang diberikan Arya itu sama saja seperti dia tidak boleh santai untuk sesaat. Meskipun itu untuk hari libur sekali pun.
“Kan, kamu kenapa? Kok aku perhatikan dari tadi kamu itu cemberut aja,” ucap Arya sambil fokus dengan kemudinya.
“Pikir aja sendiri,” sahut Kania sewot.
Arya yang melihat respons Kania seperti ini pun terdiam dan tidak melanjutkan obrolannya.
Hingga mereka pun sampai di rumah dan Kania langsung turun begitu saja meninggalkan Arya.
Arya yang memperhatikan tingkah Kania ini pun hanya bisa diam. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Kania bersikap aneh seperti ini dari saat mereka di sekolah.
Arya pun langsung memarkirkan mobilnya dan kemudian turun.
Setelah masuk ke dalam rumah, dia langsung mencari keberadaan Kania namun tidak juga dia temukan.
__ADS_1
Karena merasa aneh, Arya pun bergumam, “Ngumpet di mana dia? Rasanya rumahku ini gak terlalu besar deh, terus kenapa sampai sekarang aku masih belum bisa menemukannya?!”
Dicarinya lagi Kania ke setiap sudut rumah, namun tidak juga dia temukan.
“Aduh, Kan. Kamu ini di mana sih?!” gumam Arya yang sudah agak putus asa.
Sementara itu, di tempat lain, Kania yang begitu masuk langsung masuk ke kolong tempat tidur ini pun tanpa sadar ketiduran.
Dan setelah lelah mencari selama hampir satu jam, Arya pun mengunci semua pintu rumah dan kemudian terduduk lemas di atas tempat tidur.
Saat itu dia lagi-lagi bergumam, “Rumahku ini cuma ada dua pintu yang dua-duanya mengarah ke luar. Tadi waktu aku ada di luar, Kania gak ada kelihatan ke luar. Tapi kenapa bisa di dalam dia bisa hilang?! Gak mungkin kan dia pindah dimensi ke tempat lain.”
Banyak pikiran yang terlintas di otak Arya. Namun semua itu hanyalah pikiran yang seharusnya sangat tidak penting untuk dipikirkan. Mengingat yang dia khawatirkan ternyata sedang tidur nyenyak di kolong tempat tidur.
Hari pun semakin sore dan Arya masih belum juga melihat Kania sama sekali. Namun ketika dia sedang terdiam membayangkan Kania, tiba-tiba saja...
'Srek.. srek.. srek..’
Terdengar suara dari bawah tempat tidur sehingga membuat Arya menengoknya dan...
“Kania!” teriak Arya saat mendapati Kania sedang tertidur pulas.
“Ya ampun, Kan. Bangun, Kania. Ngapain kamu tidur di kolong? Kan, bangun!” teriak Arya berusaha membangunkan Kania.
Arya yang mendengar ucapan Kania ini pun berkata, “Siapa juga yang larang kamu buat istirahat, Kan. Kamu boleh istirahat, tapi gak di kolong kaya gini juga kali.”
Namun ucapan Arya ini tidak di respons oleh Kania. Dia malah melanjutkan tidurnya lagi.
Mendapati situasi seperti ini, Arya pun bergumam, “Hadeuh, Kan. Aku baru tahu kalau kamu itu seperti ini rupanya. Ya sudahlah. Yang penting sekarang aku tahu kalau kamu gak ke mana-mana.”
Arya pun langsung bangun dan kemudian mandi.
***
Malam harinya, Kania yang dari siang tidur nyenyak ini pun akhirnya terbangun. Dengan menggeser tubuhnya, dia pun langsung keluar dari kolong tempat tidur dan kemudian mandi.
Setelah semuanya selesai, tiba-tiba saja dia merasakan lapar.
“Duh. Kalau gak salah ingat, tadi siang Mas Arya gak ada mampir beli makanan. Lha terus sekarang gimana donk?! Laper... Hiks hiks hik,” gumam Kania sambil memegang perutnya.
Setelah bergumam seperti itu, Kania pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Di sana dia melihat ada Arya sedang asyik menonton televisi.
__ADS_1
Sedangkan Arya yang menyadari kehadiran Kania ini pun langsung berkata, “Oh. Sudah bangun rupanya. Ya sudah. Ayo kita berangkat.”
“Be—berangkat ke mana, Mas?” tanya Kania bingung.
“Ya berangkat cari makanan lha. Emangnya kamu gak lapar apa dari siang gak makan?” tanya Arya.
“Lapar lapar lapar,” sahut Kania.
“Ya udah. Ayo berangkat,” ajak Arya sambil berjalan mengambil kunci mobil.
Kania yang memang sudah merasakan lapar ini pun langsung mengikuti Arya.
Saat di perjalanan, ada hal yang sebenarnya sudah dari siang ingin sekali Arya tanyakan, namun belum berhasil dan kini dia akan mencoba untuk menanyakannya.
“Hmm, Kan. Siang tadi, kenapa wajahmu cemberut aja dan kenapa juga kamu tadi siang bilang kalau kamu sedang capek pikiran. Emangnya ada apa, Kan? Apa ada yang sedang mengganjal pikiranmu?” tanya Arya.
Kania yang mendapatkan pertanyaan itu pun menyahut, “Hum. Hanya ada satu jawaban untuk ke dua pertanyaan Mas tadi.”
“Apa itu?” tanya Arya kepo.
“Hmm itu,...” ucap Kania yang terjeda sejenak, “itu adalah semua tugas-tugas mu. Percaya atau gak, tapi semua tugasmu itu menusuk hatiku.”
Mendengar jawaban Kania, spontan Arya pun mengerem mobilnya.
***
Keesokan paginya..
Seperti biasa Kania berjalan sendirian menuju kelas. Namun saat di tengah perjalanan, ada beberapa orang murid perempuan dan salah satu diantaranya adalah Novi, mereka menghadang jalan Kania.
Kania yang mendapatkan perlakuan seperti ini pun kemudian bertanya, “Ini ada apa, ya?”
“Halah. Lo gak usah banyak alasan deh. Lo ma Pak Arya ada hubungan apa hah?” tanya Novi.
'Deg'
“Nov, maksud lo tuh apa sih?” tanya Kania.
“Eh, Kan. Mendingan lo jangan sok kecantikan deh. Pak Arya itu cuma sukanya sama gue. Jadi lo mendingan mundur aja deh,” ucap Novi.
“Eh?”
__ADS_1
Bersambung...