The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Terungkap salah satu rahasia


__ADS_3

Kania yang ditarik paksa oleh Arya ini pun hanya bisa bersembunyi di belakang tubuh Arya. Dalam ingatannya di kehidupan yang lalu, Ayah Surya memang orang satu-satunya yang baik terhadapnya. Namun itu tidak lama karena Ayah Surya tiba-tiba saja meninggal karena kecelakaan dan tak ada orang lagi yang akan melindunginya.


Saat itu, dia sangat khawatir kalau kejadian dulu terulang lagi dan dia juga harus melihat kenyataan yang menyedihkan di tinggalkan oleh satu-satunya orang yang menyayanginya itu lagi.


Tak selang berapa lama, mereka pun kini berada di dalam rumah dan di saat yang bersamaan,...


“Kalian sudah datang rupanya. Ini pasti anak menantuku kan?! Maaf ya sayang, waktu acara Ijab mu dengan Arya, ayah gak bisa hadir. Soalnya ayah sedang mengurus beberapa masalah,” jelas Ayah Surya ramah.


Kania yang masih tegang ini pun berusaha tersenyum dan menjawab, “Gak apa-apa kok Om.”


“Kok om sih?! Panggil Ayah donk,” protes Ayah Surya.


“Oh. Iya, Ayah. Gak apa-apa kok,” ucap Kania dengan agak sedikit sungkan.


“Nah, gitu donk,” ucap Ayah Surya sambil tersenyum.


Dan di saat yang bersamaan, Arya yang menyadari kalau ada sedikit masalah yang sedang ingin Ayahnya ini rundingkan membuat Arya berkata, “Kan, ayo aku tunjukkan kamarku di mana.”


Kania pun mengangguk cepat karena dia sudah merasa tidak begitu nyaman berlama-lama bersama dengan Ayah Surya.


“Sebentar, Yah. Aku antar Kania ke kamar dulu. Soalnya tadi dia merasa sangat ngantuk sekali,” pamit Arya.


“Ya sudah. Antarkan saja dulu dia ke kamar untuk istirahat,” sahut Ayah Surya yang diangguki oleh Arya.


“Ayo Kan,” ajak Arya sambil menggandeng tangan Kania.


***


Sesaat setelah beberapa lama kemudian, Arya pun kembali menemui Ayahnya yang kala itu sedang berdiri menghadap ke luar jendela di ruang kerjanya.


Sama halnya dengan Kania, Arya pun tiba-tiba teringat dengan kejadian di kehidupannya yang lalu yang mendapati Ayahnya meninggal karena kecelakaan dan itu disebabkan oleh Kania.


Setelah dipikir-pikir, betapa bodohnya dirinya waktu itu yang main asal tuduh pada Kania dan membencinya tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.


“Ada apa, Yah? Ayah kenapa tiba-tiba menyuruhku untuk pulang?” tanya Arya.


“Arya, Ayah sudah tua. Ayah ingin melimpah aset yang ayah miliki pada cucu Ayah nanti. Tolong jaga sampai dia dewasa dan berikan padanya,” pesan Ayah Surya.

__ADS_1


'Deg'


Dalam hatinya Arya, sebenarnya ada maksud di balik ucapan Ayahnya itu. Hanya saja, ragu untuk menanyakannya.


“Hmm, Yah. Ayah ini bicara apa sih? Kenapa juga Ayah punya pikiran seperti itu? Lagi pula, Kania masih sekolah dan belum waktunya untuk memberikan Ayah seorang cucu. Kenapa Ayah sudah membicarakan hal itu sekarang?” tanya Arya bingung.


Mengetahui Arya sedang merasa khawatir dengan dirinya, Ayah Surya pun berbalik badan dan tersenyum lalu berkata, “Ar, semua ada masanya masing-masing. Ayah hanya ingin anak ayah dan juga menantu serta cucu Ayah bisa hidup nyaman dan bahagia.”


“Tapi gak harus bilang seperti itu juga kan, Yah?!” protes Arya.


“Iya iya,...” sahut Ayah Surya, “o ya, sebenarnya bukan itu inti dari alasan ayah menyuruhmu pulang.”


“Kalau bukan karena itu, lalu apa Yah?” tanya Arya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ayah Surya pun terdiam sesaat dan kemudian berkata, “Ar, belum lama ini kamu sudah melakukan kesepakatan kerja sama dengan seseorang kan?”


Arya pun terdiam dan coba menelaah siapa orang yang Ayahnya maksud. Hingga akhirnya dia teringat dengan Papanya Kania.


“Iya, Yah. Lalu ada apa dengan soal itu?” tanya Arya.


“Sebenarnya orang itu agak sedikit bermasalah,” ucap Ayah Surya.


“Begini, dari hasil penyelidikan yang Ayah lakukan diam-diam, ada kemungkinan kalau Orang Tua Kania menjadikan Kania sebagai alat pembalasan dendam mereka,” jelas Ayah Surya.


'Deg'


Betapa terkejutnya Arya mendengar akan hal itu. Ini benar-benar sudah tidak sejalur dengan cerita kehidupannya sebelumnya.


“Kenapa Ayah bisa nyimpulin begitu?” tanya Arya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ayah Surya pun menjelaskan bahwa Orang Tua Kania itu sebenarnya menemukan Kania saat dia masih kecil yang saat itu sedang ditinggalkan sendirian oleh Orang Tuanya ke suatu tempat.


Orang tua Kania ini juga sebenarnya dulunya adalah Asisten Pribadinya. Karena diketahui telah melakukan penggelapan uang di perusahaannya. Dia di berhentikan secara tidak hormat dan sempat di penjara beberapa lama.


Jadi saat menerima hasil penyelidikan dan menggabungkannya, maka ada kemungkinan jika Kania yang sekarang ini akan dijadikan alat untuk membalas dendam mereka pada keluarga Surya.


Arya yang mendengarkan penjelasan Ayahnya ini pun akhirnya menyadari kalau ternyata ada kisah tersembunyi yang belum terungkap di kehidupannya yang lalu sehingga membuatnya menjadi sangat salah paham dan membenci Kania saat itu.

__ADS_1


“Yah, setelah Ayah mengetahui semua itu, Apa Ayah akan merestui pernikahanku dengan Kania?” tanya Arya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ayah Surya pun tersenyum. Sambil memegang pundak anaknya, Ayah Surya pun berkata, “Mereka gak ada kaitannya. Justru Kania adalah korban di sini. Dia sama sekali tidak tahu akan masalah ini. Jadi pesan ayah, kamu harus jaga dia baik-baik dan lindungi dia agar tidak menjadi alat balas dendam orang tuanya.”


Arya pun mengangguk mendengar permintaan Ayahnya itu. Dengan spontan Arya pun langsung memeluk Ayahnya sambil berkata, “Terima kasih Ayah. Terima kasih atas dukungannya.”


Ayah Surya pun menepuk-nepuk punggung Arya dengan penuh kasih sayang.


***


Hari semakin sore, Kania yang sudah tidur cukup lama ini pun akhirnya di bangunkan untuk pulang.


Dengan masih merasa sedikit kurang nyaman, Kania pun berpamitan dengan Ayah Surya.


Seakan dapat mengerti apa yang di rasakan oleh Kania, Ayah Surya pun hanya tersenyum dan kemudian berkata, “Kania, apa pun yang terjadi, kamu harus tetap percaya dan yakin kalau Arya itu sangat mencintaimu dan akan menjagamu selalu ya.”


‘Deg'


Hati Kania tiba-tiba saja seperti merasa pilu mendengar ucapan Ayah Surya.


“I—iya, Ayah. Kania akan mengingat pesan Ayah ini,” sahut Kania.


“Bagus. Anak pintar,” ucap Ayah Surya sambil tersenyum.


Sesaat setelah berpamitan dengan Ayah Surya, Arya dan Kania pun langsung pergi.


Dalam perjalanan, mereka berdua hanya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing.


Hingga tak terasa mereka pun sampai di rumah dan Kania pun langsung masuk dan membersihkan diri.


Malam harinya saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi, tiba-tiba saja Kania teringat tentang kejadian di sekolah dan di ruang guru.


Dengan ucapan onengnya, Kania pun berkata, “Mas, tadi di sekolah sepertinya udah ada kejadian. Itu kejadiannya apa ya?! Terus tadi di ruang guru, Mas itu bilang apa ya ma aku?”


Arya yang mendengar Kania mempertanyakan soal itu pun spontan menengok ke arah Kania heran sambil berkata, “Kan, seharian ini pikiranmu ada di mana?”


“Maksudnya?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2