
Sesaat setelah mengetahui kalau Sintia ternyata memang bersekolah di sana, Arya pun terdiam di ruang guru untuk beberapa saat. Dia membayangkan jika Sintia sudah datang, berarti itu tandanya dia dan Kania harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Haissss..”
Arya pun menghela nafas panjang dan ini di lihat oleh Adi.
“Lo kenapa?” tanya Adi.
“Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gue lagi mikirin cara supaya bisa menghindari Sintia.”
“Sintia!? Maksud lo itu siswa baru tadi?” tanya Adi memastikan.
Arya pun mengangguk sehingga membuat Adi bertanya, “Emangnya Sintia itu siapa sih? Kok sepertinya kamu sangat gak nyaman benget dengan kehadirannya.”
Untuk sejenak Arya pun terdiam dan sesaat kemudian akhirnya dia menceritakan semuanya pada Adi kecuali perihal hidup kembalinya dia dan Kania.
Setelah beberapa saat mendengarkan cerita Arya, Andi pun langsung berkata, “Ya sudah. Lakukan saja sesuai dengan apa yang udah lo rencanain. Tapi saran gue, lo harus bilang dulu ke Kania soal ini.”
Arya pun mengangguk dan kemudian dia meminta Adi untuk memanggilkan Kania saat istirahat nanti.
Adi pun mengangguk dan Arya pun berkata, “Terima kasih, Di.”
***
Saat jam istirahat, seperti yang sudah di katakan oleh Adi kalau dirinya akan memanggilkan Kania untuk Arya ini langsung menuju ke kelas Kania.
Gylsa yang melihat Adi sedang celingak-celinguk ini pun langsung menghampiri dan bertanya, “Ngapain ke sini?”
“Kania mana?” tanya Adi.
“Kenapa cari Kania?” tanya Gylsa sewot.
Adi yang merasa ada yang salah dengan Gylsa ini pun langsung berkata, “Haisss.. kamu ini kenapa sih, Gyl? Aku mencari Kania karena Arya ingin bertemu dengan dia diam-diam.”
“Maksudnya?” tanya Gylsa yang tidak paham dengan penjelasan Adi.
“Aih. Nanti aja aku jelasin. Pokoknya Kanianya mana sekarang?” tanya Adi.
Sambil memasang wajah kesal, Gylsa pun langsung menunjukkan ke arah Kania yang saat itu sedang duduk termangu menatap ke arah luar jendela.
Walau setelah diberi tahu seperti itu, tetap saja Adi meminta Gylsa untuk memanggilkannya.
__ADS_1
Dengan enggan, Gylsa akhirnya memanggil Kania. Sementara itu, Kania yang di panggil oleh Gylsa ini pun langsung datang menghampiri Gylsa.
“Ada apa, Gyl?” tanya Kania.
“Tuh,” sahut singkat Gylsa sambil menunjuk ke arah Adi yang membuat Kania langsung menengok ke arah Adi.
“Ada apa, Kak?” tanya Kania.
“Kan, itu.. Arya, Sintia,” ucap Adi.
‘Deg’
Hati Kania tiba-tiba saja merasa gelisah ketika mendengar nama itu disebut dan dengan segera Kania bertanya, “Pak Arya yang panggil?”
Adi pun mengangguk dan kemudian Kania pun kembali bertanya, “Di mana?”
***
Setelah mengetahui di mana Arya menunggunya, dengan segera Kania pun ke sana menemui Arya.
Dia sangat tidak menyangka kalau Arya masih saja mengingat semuanya. Termasuk mengingat tempat biasa mereka sedang berdua saja di kehidupannya yang lalu.
Sesaat setelah itu, akhirnya Kania pun sampai di pohon kesayangannya di belakang sekolah.
“Kamu mau apa, sayangku?” tanya Arya yang langsung menarik tangan Kania sehingga membuat tubuh Kania bersandar di pohon tersebut.
“Hmm.. itu, aku cuma mau mengagetkanmu aja,” ucap Kania.
“Oh begitu. Tapi sayangnya aku gak keget tuh. Aku justru,...”
Ucapan Arya tidak dia lanjutkan. Dia justru langsung mencium bibir Kania dengan mesra sehingga membuat Kania sejenak lupa untuk apa dia datang menemui Arya saat itu.
Setelah beberapa saat kemudian, di sela-sela ciuman Arya yang semakin menggebu, Kania teringat tentang satu nama. Ya, dia mengingat Sintia. Dengan sebisa mungkin dia menghentikan ciuman Arya dan kemudian berkata, “Sintia.”
Mendengar nama Sintia di sebut oleh Kania, membuat Arya langsung melepaskan Kania dan berkata, “Dia ada di sekolah ini, Kan.”
“Apa!?...” ucap Kania terkejut, “Kapan?”
Arya pun mengangguk dan kemudian berkata, “Baru hari ini dia datang. Kita sebisa mungkin harus berusaha berhati-hati mulai dari sekarang.”
Kania pun mengangguk dan kemudian berkata, “Oh iya, Mas. Sebentar lagi acara sekolah kan. Sebisa mungkin Mas aja yang menentukan semuanya dan jangan pilih aku untuk jadi bendahara lagi, Ok!?”
__ADS_1
Arya pun mengangguk. Dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Kania.
“Ya sudah. Untuk sementara kita diam-diam seperti ini saja kalau mau bertemu. Untuk selebihnya, kamu pulang saja dulu. Aku mungkin untuk satu minggu ini bakalan pulang telat karena harus ke rumah Henry atau ke kantor dulu,” ucap Arya yang kemudian diangguki oleh Kania.
Setelah beberapa saat berunding dengan Kania, mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Arya ke ruang guru dan Kania ke kelas.
Hingga tak terasa jam pulang pun tiba. Sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan. Kania pulang sendiri ke rumah mereka dan Arya pun terlebih dahulu mampir ke kantor untuk mengurusi beberapa urusan perusahaan atau langsung ke kantor.
Dan ini juga sesuai dengan prediksi Arya yang ternyata Sintia selalu diam-diam membuntutinya.
Keadaan ini mereka lakukan selama hampir satu minggu lamanya dan tepat di hari itu, Sintia tiba-tiba saja menghampiri Arya di kantornya.
Dengan tiba-tiba, Sintia langsung saja menyelonong masuk sehingga membuat Arya terkejut.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Arya.
“Ar, kamu bohong kan kalau bilang sudah menikah dan mempunyai istri?” tanya Sintia.
“Aku gak bohong. Aku emang sudah menikah,” sahut Arya.
“Halah aku tahu kamu bohong. Kenapa sih, Ar? Bukannya kamu itu selalu menyukaiku dari waktu aku kecil?” tanya Sintia.
Arya pun terdiam mendengar ucapan Sintia. Memang tidak bisa dipungkiri kalau awalnya memang seperti itu. Tapi semua kini telah berubah. Arya lebih mencintai Kania sekarang. Di hatinya, dia sudah tidak bisa mencintai Sintia seperti dulu lagi.
“Maaf, Sin. Aku udah berubah. Aku lebih menyukai dan mencintai istriku sekarang. Jadi tolong, lupakan aku,” pinta Arya.
“Gak. Aku tahu kamu bohong. Aku gak akan menyerah. Aku tetap harus mendapatkanmu. Lihat saja nanti,” ucap Sintia yang kemudian pergi.
Sesaat setelah Sintia sudah tidak berada di kantornya lagi, Arya pun langsung menunduk dengan kedua tangannya yang memegang keningnya.
Dalam keadaan seperti itu, Arya pun bergumam, “Gak bisa begini terus. Aku harus mengubah jalan cerita cintaku dengan Kania. Aku gak mau berakhir sama seperti yang sudah-sudah.”
Merasa sudah aman, Arya pun langsung memutuskan untuk pulang dan begitu sampai di rumah, dia langsung memeluk Kania yang saat itu sedang berada di dapur.
Mendapatkan perlakuan tiba-tiba seperti itu dari Arya, membuat Kania terkejut dan akhirnya berkata, “Ya ampun, Mas. Kaget aku. Kapan Mas pulangnya?”
“Barusan sayang,...” sahut Arya sambil masih memeluk tubuh Kania, “sayang,...”
Arya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya sehingga membuat Kania bertanya, “Ya, Mas. Ada apa?”
“Sintia tadi datang ke kantorku dan bilang kalau dia harus tetap bisa mendapatkan aku. Aku harus bagaimana lagi, sayang supaya Sintia menyerah dan gak membahayakanmu!?” ucap Arya lesu.
__ADS_1
“Ha!?”
Bersambung...