The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Cemburu


__ADS_3

Melihat wajah khawatir Kania yang seperti itu, Arya yang kala itu sedang serius membahas masalah pekerjaan dengan Henry pun akhirnya langsung menyudahi teleponnya dan kemudian berteriak, “Kaniaaaaaaaa!!!”


Kania yang mendengar teriakan Arya ini pun bingung dan dalam hatinya bergumam, “Ni orang kenapa teriak? Apa aku tadi ada buat kesalahan?”


Arya pun langsung mendekati Kania dan berkata, “Kan, aku benar-benar gak tahu bagaimana caranya supaya kamu mengerti. Tapi aku benar-benar berharap lain kali jangan bahas cowok lain di hadapanku.”


'Deg'


“Rupanya dia sedang cemburu,” gumam Kania yang baru saja sadar akan hal itu.


Namun walau dia sudah menyadarinya, tapi tetap saja Kania merasa tidak enak dan kemudian berkata, “Tapi, Mas. Aku merasa gak enak udah ninggalin Vino gitu aja tanpa kasih tahu dia.”


Arya pun menepuk jidatnya dan kemudian berkata, “Kan, bukannya kamu udah bilang supaya dia gak nunggu kamu lagi. Iya kan? Nah, kalau ada pulangnya dirimu tanpa kasih tahu dia , itu resikonya dia kan? Jadi kamu gak usah merasa bersalah kayak gini.”


Mendengar ucapan Arya, Kania pun terdiam dan mencoba berpikir ulang lalu sesaat kemudian berkata, “Bener juga sih, Mas. Tapi tetep aja aku kok ngerasa gak enak, ya.”


“Lebih gak enakan mana antara ninggalin dia tanpa pamit atau buat aku emosi lalu menyiksamu dengan sebuah ciuman lagi atau bahkan bisa lebih. Ayo?” tanya Arya.


Kania pun terdiam sejenak lalu berkata, “Aku lebih milih merasa gak enak pada Vino dari pada sama Mas. Soalnya kalau sama Mas, bukannya merasa gak enak. Tapi justru merasa nikmat.”


Setelah mengatakan hal itu, Kania pun dengan secepat kilat langsung kabur dan berlari ke kamar lalu mengunci pintunya.


Sementara itu, Arya yang mendengar ucapan Kania ini pun mengepalkan tangannya seperti sedang menahan sesuatu lalu berkata, “Sabar, Ar. Sabar. Ini cobaan buat kamu.”


Arya pun mengelus-elus dadanya sambil menghela nafas panjang.


Sedangkan di saat yang bersamaan, Kania yang sedang berada di dalam kamar itu bergumam, “Sungguh bodoh. Kenapa bisa-bisanya aku tadi bilang kayak begitu. Cari masalah aja.”


***


Keesokan harinya, Kania ke sekolah seperti biasanya dan di perjalanan menuju kelasnya, Kania lagi-lagi berpapasan dengan Vino.


Vino yang melihat Kania ini pun spontan langsung memanggil Kania sehingga membuat Kania berhenti dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


‘Deg’

__ADS_1


Betapa terkejutnya Kania karena ternyata yang sudah memanggilnya tadi itu adalah Vino.


Vino pun berjalan mendekati Kania dan kemudian bertanya, “Kan, lo kemarin ke mana?”


“Maksud lo apa, Vin?” tanya balik Kania.


“Gue kemarin kan nungguin lo. Tapi lo lama jadinya gue nyusulin lo ke ruang guru. Terus pas waktu gue sampai di sana, lo nya gak ada dan Pak Arya juga udah pulang katanya. Nah gue bingung, lo kemarin tuh sebenarnya ke mana?” tanya Vino.


Kania pun terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu. Dia bingung harus jawab apa dan menjelaskannya seperti apa pada Vino.


“Kan, lo kok diem aja?” tanya Vino lagi.


Belum juga Kania menjawab pertanyaan Vino, Arya pun berdehem dan dengan nada jutek, Arya pun berkata, “Tolong sampaikan pada teman sekelasmu. Hari ini hasil ujian akan dibagikan. Maka bersiap-siaplah menerima hukuman.”


Setelah mengatakan hal itu, Arya pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban Kania.


“Kan, tadi Pak Arya kenapa?” tanya Vino bingung melihat sikap Arya yang sedikit jutek.


Kania pun hanya terdiam saja sambil mengangkat ke dua bahunya. Sangat tidak mungkin baginya untuk bilang kalau Arya sedan mencemburuinya.


“Ya udah, Vin. Aku ke kelas duluan ya,” pamit Kania yang langsung pergi begitu saja tanpa menjawab terlebih menjawab pertanyaan Vino sebelumnya.


Namun lagi-lagi Vino tidak mendapatkan jawaban dari Kania.


“Haiss..” gumam Vino lesu.


***


Di dalam kelas, Kania yang baru saja datang ini tidak menyangka kalau keadaan kelas sudah ramai dan ini membuat dia ingat tentang pesan Arya tadi.


“Ehm. Teman-teman semuanya. Ada amanah dari Pak Arya. Katanya hari ini hasil ujian kemarin bakal dibagiin. Jadi dia nyuruh kita buat bersiap-siap untuk mendapatkan hukuman jikalau nilai kita jelek,” teriak Kania di depan kelas.


Teman-teman yang mendengar itu pun ada salah satunya yang menceletuk, “Kan, lo dapet bocoran gak, kira-kira siapa aja yang dapet nilai jelek?”


Kania pun menggelengkan kepalanya dan itu membuat teman-temannya jadi merasa was-was.

__ADS_1


Setelah menyampaikan hal itu, Kania pun langsung duduk di bangkunya dan memandang lurus ke luar jendela kelas.


Hingga jam masuk pun tiba dan suasana kelas tiba-tiba saja semakin terasa mencekam.


Kania yang semula melihat ke arah luar jendela ini tiba-tiba merasa aneh. Kenapa kelas hening dalam hitungan detik.


Dia pun memperhatikan seluruh teman-temannya dan kemudian bertanya lirih pada Gylsa, “Gyl, kenapa suasana kelas jadi aneh begini?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kania, dengan lirih Gylsa pun menjawab, “Ah lo ini, Kan. Ini kan udah jam masuk dan itu berarti sebentar lagi pelajaran Pak Arya juga dimulai kan?! Nah, anak-anak yang ada di kelas ini tuh sedang khawatir dengan nilai ujian mereka. Emangnya lo gak khawatir juga, Kan?”


“Khawatir?! Ada yang lebih mengkhawatirkan dari itu,” gumam Kania tapi masih bisa didengar oleh Gylsa.


“Ha? Maksud lo?” tanya Gylsa bingung.


Menyadari kalau dirinya udah mengatakan hal yang tidak seharusnya di ucapkan, Kania pun langsung berkata, “Ah. Udah lupain aja. Bukan apa-apa kok.”


Kania pun langsung membenarkan posisi duduknya dan tak selang berapa lama Arya pun datang.


“Pagi semuanya,...” seru Arya dengan semangat, “bagaimana? Apa kalian semua sudah siap mengetahui nilai ujian kalian kemarin?”


Mendapatkan pertanyaan itu, sontak seluruh siswa secara kompak langsung menggelengkan kepalanya dan Arya yang mendapatkan respons seperti itu pun langsung tersenyum.


“Sudahlah. Kalau emang kalian gak mau lihat hasil ujian kalian, bagaimana kalau hukumannya di samaratakan saja ya. Semuanya dapet hukuman. Gimana? Kalian setuju?” tanya Arya yang mengusili siswanya sendiri.


Mendengar ucapan Arya seperti itu, seluruh siswa yang ada di kelas pun langsung spontan menjawab, “Gak mau!!!”


Arya yang lagi-lagi mendengar hal itu pun akhirnya berpura-pura bingung. Dia pun akhirnya bertanya, “Kalau kalian gak mau tahu hasil ujian kalian dan gak mau hukumannya di samaratakan, terus kalian maunya apa?”


Mendapatkan pertanyaan ini, ada salah satu yang menceletuk, “Pak, kami maunya kalau hukumannya di tiadakan. Ya gak teman-teman?”


“Iya!!!” seru kompak seluruh siswa yang ada di kelas.


Arya yang mendapatkan respons seperti itu pun akhirnya berkata, “Sudah saya duga. Baiklah. Saya akan tetap bagikan hasil ujian kalian dan juga tidak akan menghukum kalian, tapi kalian tetap harus mengerjakan semua soal ini dan kumpulkan satu Minggu lagi dari sekarang.”


Arya pun menyuruh salah seorang siswa untuk membagikan tiga lembar soal untuk masing-masing siswa.

__ADS_1


Saat semua siswa melihat itu, spontan semuanya berkata, “Bapaaaaaak!!! Banyak banget. Kenapa soalnya ada 210 soal?”


Bersambung...


__ADS_2