
Kania pun dengan tampang bingung pun bertanya, “Dia siapa?”
Arya yang mendengar ucapan Kania ini pun langsung syok. Dengan gelisah dia berkata, “Kan, aku Arya. Aku suamimu.”
“Gak. Gak mungkin. Aku gak kenal kamu, aku gak kenal kalian semua. Pergi!!!” teriak Kania histeris yang membuat Mama Kiran dan juga Arya saling menatap.
Walau dalam hati risau, Mama Kiran pun berkata, “Baik, sayang. Kami pergi. Kamu tenang ya.”
Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, Mama Kiran pun langsung merangkul lengan Arya dan mengajaknya pergi.
Setelah mereka berada di luar, sambil mengintip ke arah dalam, Arya pun berkata, “Kenapa bisa seperti ini, Ma?”
“Mama juga bingung, Ar. Saat tadi dia bangun, dia juga tidak mengenal siapa dirinya sendiri,” jelas Mama Kiran.
“Apa, Ma? Jadi itu artinya Kania mengalami hilang ingatan?” tanya Arya terkejut.
“Mama sendiri gak tahu, Ar. Lebih baik kita tanyakan hal ini pada Dokter saja ya,” ucap Mama Kiran yang diangguki oleh Arya
Setelah beberapa saat kemudian, tanpa membuang waktu, Arya dan Mama Kiran pun langsung datang menemui Dokter. Dengan segera mereka pun menceritakan semuanya termasuk menanyakan kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Mendengar cerita Arya dan juga Mama Kiran, Dokter itu pun menjelaskan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Namun semua itu bisa kembali atau tidaknya seperti semula, itu tergantung dari dalam diri orang yang bersangkutan.
Sesaat setelah mendengar penjelasan Dokter, Arya pun langsung bertanya pada Dokter tentang bagaimana cara melakukan pendekatan dengan Kania agar tidak terjadi penolakan.
Dokter pun memberikan saran yang membuat Mama Kiran dan juga Arya tahu harus bagaimana.
***
Siang harinya, Arya dan Mama Kiran kembali mencoba mendatangi kamar Kania yang saat itu sedang duduk termangu sambil menatap ke arah luar jendela.
Dengan hati-hati, Arya pun berkata, “Kania.”
Kania pun menengok dan kemudian berkata, “Kamu mau ngapain lagi datang ke sini?”
“Kan, kamu jangan marah dulu. Kami ini benar-benar keluargamu dan ini buktinya,” ucap Arya yang memberikan bukti pernikahan mereka dan juga bukti tes DNA.
__ADS_1
Sesaat setelah itu Kania melihat itu semua, Arya pun berkata, “Bagaimana? Apakah kamu udah bisa percaya?”
Kania pun terdiam sejenak dan kemudian sesaat kemudian dia pun berkata, “Soal tes DNA, bisa tidak kita melakukan tes lagi? Dan untuk buku nikah, walau begitu, aku masih belum bisa menerimamu. Aku tidak mencintaimu.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun syok. Sementara itu, Mama Kiran pun berkata, “Baiklah, Kania. Kita akan lakukan tes DNA ulang. Namun untuk soal pernikahanmu, walau kamu kamu gak bisa terima, aku tetaplah istri Arya.”
Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Enggak. Aku gak cinta dia. Aku gak mungkin anggap dia suamiku. Gak.”
Melihat respons Kania yang cukup keras kepala dengan apa yang menjadi keputusannya, Arya pun tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukan pendekatan dari awal lagi.
Dengan menarik nafas dalam-dalam, Arya pun berkata, “Baiklah, Kania. Aku gak akan memaksamu. Tapi aku hanya ingin kamu tahu satu hal, aku tidak akan menceraikan kamu. Ok?!”
Kania pun hanya terdiam dan ekspresi yang ditujukan oleh wajahnya saat itu adalah ekspresi wajah datar.
***
Kurang lebih dua Minggu telah berlalu dan hasil tes DNA pun sudah keluar. Karena memang Kania ini adalah anak kandung Mama Kiran, maka hasilnya pun sudah pasti positif.
Setelah mengetahui kalau dirinya memang benar-benar anak kandung Mama Kiran, Kania pun tidak dapat mengelak.
Dan setelah beberapa hari telah berlalu, Arya pun berkata kalau biar bagaimana pun Kania tetap harus melanjutkan sekolah.
Dengan mengandalkan posisinya sebagai pemilik sekolah, Kania pun akhirnya bersekolah di sana.
Arya pun juga memutuskan untuk menjadi guru di sana agar tetap bisa terus mengawasi Kania.
Dan hari ini adalah hari pertama sekolah bagi Kania. Dengan memaksakan untuk kabur dari Arya, Kania akhirnya berangkat sendiri ke sekolah dan kemudian kembali bertemu dengan sahabatnya di kehidupan yang dulu, yaitu Gylsa dan juga Fiko.
Sambil melangkahkan kakinya dengan santai, Kania pun menolah-noleh ke sekeliling hingga sampailah dia di kelas.
Gylsa yang saat itu menjadi orang pertama yang datang ke kelas pun melihat Kania.
Dengan ceria dan sok akrab, Gylsa pun berjalan mendekati Kania dan bertanya, “Murid baru ya? Pindahan dari mana? Nama lo siapa?”
Kania pun hanya terdiam hingga akhirnya Arya datang menghampiri lalu kemudian berkata, “Kan, kenapa kabur gitu aja?! Kan udah aku bilang kalau aku akan berangkat bersama denganmu.”
__ADS_1
Sambil membuang muka, Kania pun menyahut, “Untuk apa juga aku berangkat bersama denganmu?! Aku punya kaki, aku pun udah besar. Untuk apa kamu terus-menerus kamu perlakukan seperti anak kecil, hah?!”
Gylsa yang ada di sana pun menjadi bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua.
Sambil memasang wajah melongo, Gylsa pun duduk sambil menopang dagu menyaksikan pertunjukan antara Arya dan juga Kania.
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Arya pun berkata, “Baik. Kamu udah besar kan?! Kalau kamu memang udah besar, maka lakukan tugasmu di rumah dan juga tugasmu sebagai siswa di sekolah. Kamu pasti mengerti kan apa maksudku?”
Kania pun terdiam sesaat dan kemudian berkata, “Baik. Aku akan lakukan. Siapa takut.”
“Baik. Mulai hari ini, aku akan mulai menilaimu. Jika kamu terbukti melakukan kesalahan dalam melakukan tugasmu, maka kamu harus menerima kalau aku menganggapmu seperti ABG pada umumnya, ok?!”
Setelah mengatakan hal tersebut Arya pun langsung pergi meninggalkan Kania dengan hati kesal. Begitu pula dengan Kania yang dengan seketika suasana hatinya berubah.
Melihat kedua orang tersebut seperti itu, Gylsa pun langsung menceletuk dengan bertanya, “Kalian ini sebenarnya ada hubungan apa?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania pun langsung menoleh ke arah Gylsa dan kemudian menjawab, “Kami ya?! Hubungan kami itu pastinya sebuah hubungan permusuhan.”
Mendengar jawaban Kania, Gylsa pun langsung berkata, “Permusuhan?! Benarkah? Kok tadi gue lihatnya gak gitu ya?!”
“Lo salah lihat kali,” ucap Kania yang kemudian melangkahkan kakinya mencari tempat untuk duduk.
Sementara itu, Gylsa yang telah ditinggal Kania ini bergumam, “Masa’ iya gue salah lihat?!”
Dan setelah itu,...
“Hei. Lo tadi belum jawab. Lo pindahan dari mana dan nama lo siapa?” tanya Gylsa sambil melangkahkan kakinya ke arah Kania.
***
Saat pulang sekolah, Kania yang dari awal sudah merasa kesal bertemu dengan Arya ini pun akhirnya memutuskan untuk tidak langsung pulang.
Sementara itu, Arya yang sebelum pulang sudah memastikan terlebih dahulu Kania sudah pulang atau belum akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Namun saat sudah sampai di rumah, ternyata rumah masih kosong sehingga membuat Arya menjadi kesal dan berteriak, “Kania!!!! Kamu ternyata udah berani ya?!”
__ADS_1
Bersambung...