
“Sintia Kabur, Ar. Setelah tahu akan kenyataan kalau kamu memang benar-benar sudah menikah,” jelas Papa Aditya.
“Apaaaa!?”
Mendengar kabar tersebut, baik Arya maupun Kania, keduanya sama-sama saling menatap satu sama lainnya. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau akan ada hari ini.
“Bagaimana ini Mas?” tanya Kania lirih.
Untuk sesaat Arya terdiam dan setelah itu...
“Pa, ayo kita cari Sintia bersama-sama. Dan untuk Kania, kamu di sini aja sama Mama. Di sini soalnya lebih aman di banding kamu di luar,” ucap Arya.
Kania yang mendengar ucapan Arya ini pun langsung mengangguk. Dia tahu dan juga mengerti kenapa Arya berpesan seperti itu padanya.
Setelah ucapannya diangguki oleh Kania, Arya mengajak Papa Aditya segera mencari keberadaan Sintia.
Sesaat setelah Arya dan Papa Aditya pergi, Mama Kiran pun bertanya, “Kamu dan Arya sepertinya sudah baik-baik aja.”
“Iya, Ma. Aku udah mengingat semuanya dan Mas Arya pun sudah menceritakan semuanya,” jelas Kania.
Betapa lega dan senangnya hati Mama Kiran saat mendengar itu. Kini tinggal hanya Sintia yang menjadi rasa resah di hatinya.
“Syukurlah kalau begitu, Kania. Mama sangat senang mendengarnya,” ucap Mama Kiran yang kemudian diangguki oleh Kania sambil tersenyum.
***
Arya menemani Papa Aditya berkeliling ke setiap sudut kota untuk mencari Sintia.
Dia juga tidak lupa meminta tolong pada Henry agar ikut mencari menelusuri kota.
Di perjalanan, Papa Aditya berkata kalau dia sangat menyesali sikap Sintia yang seperti ini.
Padahal dia dan juga Mama Kiran tidak pernah mengajarkannya hal seperti ini. Tapi kenapa dia malah membuat mereka kecewa seperti ini.
“Pa, aku boleh tanya sesuatu tentang Sintia?” tanya Arya sambil masih dengan fokus mengemudinya.
“Mau tanya apa, Ar?” tanya Papa Aditya.
“Hmm, Pa. Maaf sebelumnya. Sebenarnya bagaimana ceritanya Papa bisa mengangkat anak Sintia?” tanya Arya.
Mendapatkan pertanyaan seperti ini, Papa Aditya pun terdiam sejenak dan kemudian menjawab, “Sebenarnya Sintia itu adalah anak dari Adiknya Mama Kiran. Ibunya meninggal saat melahirkannya dan Ayahnya kabur bersama wanita lain di saat Ibunya melahirkannya. Karena merasa kasihan dengan Sintia yang baru lahir, akhirnya kami mengadopsinya. Kebetulan saat itu Kania kami sudah berumur 3 bulan. Jadi kami berpikir, apa salahnya merawat keduanya.”
Mendengar cerita Papa Aditya, Arya pun terdiam. Dalam hatinya bergumam, “Ternyata latar belakang Sintia sebenarnya sangat menyedihkan.”
__ADS_1
Di saat sedang mengobrol dengan Papa Aditya, tiba-tiba saja Henry menelepon dan langsung diangkat oleh Arya.
“Ya, Hen. Gimana? Udah ada petunjuk?” tanya Arya sesaat setelah mengangkat teleponnya.
“Tuan, sepertinya Nona Sintia saat ini berada di area rumah Pak Aditya,” sahut Henry.
“Oh begitu. Kalau begitu pantau terus dan laporkan padaku,” pinta Arya.
“Baik, Tuan.”
Setelah itu panggilan pun diakhiri.
Sementara itu Papa Aditya yang mendengar percakapan itu pun langsung bertanya, “Gimana, Ar? Ada kabar?”
“Pa, sepertinya Sintia akan pulang.”
***
Di saat yang bersamaan..
Kania masih mengobrol dengan mama Kiran. Saat itu Kania ingin mengalihkan pikiran Mama Kiran agar tidak terus menerus merasa stres akibat memikirkan Sintia.
“Emm.. Ma,” ucap Kania.
“Iya, sayang. Ada apa?” tanya Mama Kiran.
“Syukurlah, sayang kalau kamu bahagia. Mama senang mendengarnya,” sahut Mama Kiran.
Kania pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Oh iya, Ma. Mama bisa gak ceritain kenapa aku bisa menghilang dari pelukan Mama saat itu?”
Mama Kiran pun terdiam sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang.
“Waktu itu, mama sedang mengajak kamu yang berumur sekitar dua tahun berjalan-jalan di taman bermain. Karena kecerobohan mama yang waktu meninggalkanmu sendirian karena mama sedang mengantarkan anak lain ke Mamanya, sehingga membuat anak Mama sendiri malah yang hilang. Saat itu mama tidak ada berhentinya menyalahkan diri mama sendiri,” jelas Mama Kiran.
“Oh begitu. Lalu Papa di mana saat itu?” tanya Kania.
“Papamu saat itu sedang menggendong Sintia dan mengajaknya menaiki sebuah permainan karena saat itu Sintia memaksakan untuk naik. Alhasil, karena kamu tidak suka dengan hal tersebut membuat Mama yang harus menjagamu secara terpisah dengan Papa,” jelas Mama Kiran.
Mendengar penjelasan Mama Kiran, Kania pun mengerti sebab kenapa dia bisa di bawa oleh orang tua angkatnya itu.
Tapi ada satu hal yang ingin Kania pastikan dan membuatnya menjadi bertanya, “Ma, jadi saat itu Sintia juga sudah Mama Adopsi ya?”
Mama Kiran pun mengangguk dan menjawab, “Iya. Mama mengadopsi Sintia dari dia baru lahir. Soalnya saat itu Ibunya meninggal saat melahirkannya dan Ayahnya pergi bersama dengan wanita lain di saat yang bersamaan.”
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, di saat Mama Kiran sedang menceritakan tentang sejarah masa lalu anak-anaknya, tiba-tiba saja...
‘Klontang’
Terdengar suara kaleng yang tidak sengaja di senggol membuat Kania dan Mama Kiran pun langsung keluar.
Betapa terkejutnya mereka berdua saat mengetahui siap yang sudah menyenggol kaleng tersebut.
“Sintia!?” ucap mereka bersamaan.
Sintia pun mundur selangkah demi selangkah sambil menunjukkan ekspresi yang sulit dilukiskan.
“Ma, apa yang mama tadi bilang itu gak benar kan!?” ucap Sintia.
“Sayang, ayo masuk dulu. Mama akan jelaskan semuanya. Kamu jangan salah paham dulu,” pinta Mama Kiran.
Sambil menggelengkan kepalanya, Sintia pun berkata, “Enggak, Ma. Aku gak mau masuk. Aku ternyata bukan anak Mama dan Papa. Pantas aja Mama dan Papa bersikap seperti itu akhir-akhir ini padaku. Ternyata Mama sudah menemukan anak kandung Mama.”
“Bukan begitu sayang. Kalian berdua itu sama-sama anaknya Mama dan Papa. Kamu jangan merasa dan juga berpikir seperti itu ya. Ayo kita masuk dulu ke dalam. Kita bicara baik-baik,” pinta Mama Kiran lagi.
“Gak, Ma. Aku gak mau,” ucap Sintia yang kemudian langsung berbalik badan dan pergi.
Di saat yang bersamaan itulah Arya dan Papa Aditya turun dari mobil dan melihat Sintia sedang berlari.
Arya yang melihat ini pun langsung bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya dan kemudian mengejar Sintia.
Namun tidak tahu kenapa, Arya tidak dapat menemukan Sintia walau Arya sudah menyusuri jalan yang ada di sekitar rumah.
Saat itu Arya bergumam, “Larinya yang cepat atau dia saat ini hanya menyelinap dan bersembunyi di gang kecil sehingga mobil tidak bisa menjangkau!?”
Karena merasa tidak mendapatkan hasil, Arya pun kembali ke rumah Papa Aditya. Di sana sudah ada Mama Kiran yang menangis sedih.
“Bagaimana, Ar?” tanya Papa Aditya.
Arya pun hanya menggelengkan kepalanya dan di saat yang bersamaan Mama Kiran pun berkata, “Ini semua salah mama. Kenapa saat itu mama gak menyadari kehadirannya dan malah mengatakan semua itu.”
“Enggak, Ma. Ini bukan salah Mama. Yang harus di salahkan itu aku. Aku kenapa harus bertanya seperti itu di saat-saat seperti ini. Ini semua salahku, Ma. Bukan salah Mama,” ucap Kania.
Papa Aditya yang mendengar ini pun akhirnya mau tidak mau berkata, “Sudah. Dalam hal ini emang tidak ada yang salah. Sintianya aja yang seperti kekanak-kanakan. Belum menerima penjelasan, tapi udah menyimpulkan. Sudah. Jangan salahkan diri kalian lagi.”
Arya pun langsung merangkul pinggang Kania sambil berkata, “Bener sayang. Udah. Jangan salahin dirimu sendiri ya. Sekarang yang harus pikir kan hanya satu. Bagaimana caranya supaya kejadian nekat waktu itu tidak terulang lagi.”
Kania pun mengangguk dan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Arya.
__ADS_1
Sedangkan Papa Aditya dan Mama Kiran yang mendengar ini pun menjadi bingung dan akhirnya bertanya, “Apa maksudnya kejadian nekat waktu itu terulang lagi? Memang ada kejadian nekat apa waktu itu?”
Bersambung...