The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Akan berusaha membuatmu jatuh cinta


__ADS_3

“Ehm. Kania!”


Kania yang sedang menikmati semilir angin itu pun langsung melihat ke arah yang memanggil namanya.


“M—mas!?” ucap Kania yang terkejut.


“Kenapa? Di saat seperti ini masih mau main kabur-kaburan dari aku?” tanya Arya.


“Cih. Siapa juga yang lagi main kabur-kaburan!?” ucap Kania tidak mau mengakuinya.


Arya pun kemudian duduk di sebelah Kania dan berkata, “Kan, aku tahu kamu sangat membenciku. Tapi tolong pikirkan akibat dari perbuatanmu kali ini.”


“Maksud Mas?” tanya Kania bingung karena di kehidupannya yang lalu, dia sama sekali tidak tahu kalau ada cerita terselubung dibalik kematiannya.


Arya pun menghela nafas panjang. Dia akhirnya sadar kalau didetik terakhir hidupnya Kania, Kania hanya menyimpan kebencian padanya.


“Kan, untuk saat ini aku gak bisa mengatakan semuanya padamu. Tapi hanya satu yang bisa aku beritahu padamu. Dari caramu kabur seperti ini, kira-kira apa yang akan di lakukan oleh Papamu padamu? Karena asal kamu tahu, dia melakukan ini karena dia sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan kami dan dia menyodorkanmu sebagai penjamin bagi kerja sama kami,” jelas Arya.


Kania yang mendengar itu pun spontan langsung tidak percaya. Mana mungkin Papa yang sangat dia sayangi tega membuat dirinya sebagai jaminan atas usahanya.


“Kamu kalau tidak percaya, ini aku bawa bukti berkas kontrak kerja samanya,” ucap Arya lagi sambil memberikan berkas pada Kania.


Kania yang semula enggan untuk melihat, akhirnya dengan ragu menerimanya dan membacanya.


‘Deg'


Seketika hati Kania merasakan kecewa sekaligus sedih. Tapi biar pun begitu, lagi-lagi Kania tidak bisa mempercayainya begitu saja dan ini sangat dipahami oleh Arya.


“Baik, Kan. Tadinya aku gak mau menunjukkan video ini padamu. Tapi berhubung kamu sulit mempercayai apa yang aku beritahu padamu, jadi terpaksa aku menunjukkannya. Ini, coba lha kamu lihat ini dulu,” ucap Arya yang memberikan rekaman video di dalam ponselnya.


Kania yang tadinya sulit untuk percaya ini pun akhirnya mau tidak mau percaya walau masih terasa sedikit sulit. Tapi mau bagaimana lagi. Rekaman itu memang benar-benar Papanya dan bukan orang lain.


“Kan,...” ucap Nathan yang mencoba menyadarkan Kania dari lamunannya, “kamu baik-baik saja kan?”


“M—mas, jadi.. menurutmu Papa akan melakukan hal yang berlebihan jika aku tidak menerima lamaranku?” tanya Kania.


Nathan pun terdiam. Karena percuma jika dia mengatakan sesuatu yang belum benar-benar terbukti kenyataannya.

__ADS_1


“Kan, ok. Jika kamu masih juga belum bisa mempercayainya, kamu boleh ikut aku pulang ke rumahmu dan katakan dengan berani kalau kamu menolak lamaranku. Bagaimana? Apa kamu berani?” tanya Arya yang sebenarnya tidak ingin membuat Kania sedih.


“Ta—tapi Mas, jika ternyata Papa menyetujui penolakanku ini, Mas juga mau menerimanya kan?” tanya Kania yang masih dengan keras kepalanya.


Arya pun hanya bisa mengangguk, menyetujui ucapan Kania.


Sesaat setelah itu, tanpa membuang waktu lagi, mereka pun akhirnya segera bergegas ke rumah Kania.


Sesampainya di sana, tampak Papa dan Mamanya Kania sedang menyambut kedatangan Arya.


Namun di saat yang bersamaan, Papa Rafi pun terkejut saat melihat Kania yang juga ikut keluar dari mobil Arya.


“Kania? Kenapa kamu bisa bersama dengan Pak Arya?” tanya Papa Rafi.


“Hmm, Pak. Tadi bertemu dengannya di jalan. Tapi saya ragu untuk mengajaknya pulang karena tidak tahu kalau dia putri Bapak. Namun setelah saya dekati dan bertanya di mana alamatnya, saya jadi tahu kalau dia ternyata putri Bapak. Jadinya saya sekalian mengajaknya untuk pulang,” jelas Arya.


Dan di saat yang bersamaan..


“Pa, Kania gak mau di lamar dan juga menikah dengannya. Kania gak mau Pa,” ucap Kania yang langsung to the poin begitu saja tanpa menunggu masuk ke dalam terlebih dahulu.


Papanya pun langsung menarik tangan Kania dan berbisik, “Kan, kamu ini bicara apa? Pokoknya papa gak mau tahu. Kamu harus terima lamarannya.”


“Tidak. Kamu tetap harus menerimanya. Papa gak mau tahu,” ucap Papanya yang juga kekeh dengan keputusannya.


“Tapi, Pa. Aku benar-benar gak bisa menerimanya,” ucap Kania yang sama-sama kekehnya dengan Papa Rafi.


'Plak'


“Dasar anak gak tahu di untung. Sekarang kamu masuk ke dalam dan cepat bersiap-siap!” bentak Papa Rafi yang dapat di lihat jelas oleh Arya.


“Gak mau!” teriak Kania juga yang kemudian berlari masuk ke dalam.


Sesaat setelah Kania pergi, Papa Rafi pun meminta maaf pada Arya atas sikap Kania barusan.


Arya pun langsung berkata, “Baik, Pak. Saya tidak apa-apa. Saya bisa mengerti dengan sikap putri Bapak itu. Tapi dengan keadaan yang seperti ini, apakah perjanjian kerja sama tetap akan kita jalankan ataukah lebih baik dibatalkan saja?”


“Pak Arya, saya mohon jangan batalkan kerja sama kita. Nanti biar saya bujuk sebentar putri saya itu agar mau keluar menemui Anda dan menerima lamaran dari Anda,” ucap Papa Rafi.

__ADS_1


“Tidak perlu. Biar saya sendiri yang akan coba mengobrol dengannya. Di mana kamarnya?” tanya Arya.


“Mari, Pak. Saya akan antarkan Bapak ke kamarnya,” ucap Papa Rafi yang kemudian menunjukkan jalan pada Arya.


Sementara itu di sisi lain dan di saat yang bersamaan, Kania saat ini sedang menangis di dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Papanya akan benar-benar tega melakukan hal itu padanya.


‘Tok.. tok.. tok..’


Kania sangat enggan sekali menyahut. Dia yakin akan percuma jika dia menyahut sebab ketukan itu pastinya adalah seseorang yang akan menyuruhnya segera keluar.


Dan disisi lain, karena merasa tidak juga ada jawaban dari Kania, orang yang mengetuk pintu itu pun akhirnya masuk begitu saja dan kemudian kembali menutup pintu kamar tersebut lalu menguncinya dari dalam.


“Kan,” ucap orang itu yang ternyata Arya.


“M—mas Arya?!” ucap Kania terkejut.


Arya pun langsung duduk di sebelah Kania yang saat ini sedang tidur tengkurap dan menangis.


“Bagaimana? Apa sekarang kamu udah bisa percaya dan menerima kenyataannya?” tanya Arya sambil menunduk melihat ke arah Kania.


Kania pun mengangguk lesu.


“Lalu apa kamu masih dengan pendirianmu untuk menolakku?” tanya Arya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania pun terdiam. Dia berpikir, jika dia kekeh dengan pendiriannya, maka entah apa yang akan di lakukan oleh Papanya. Tapi jika dia menerima Arya, dia jelas-jelas tahu kalau dia sangat tidak ingin berurusan dengan Arya.


Di sela-sela diamnya Kania, Arya pun langsung membuat posisi tubuh Kania terlentang dan kemudian..


'Cup'


“Kan, beri aku kesempatan untuk membuktikan diri kalau aku mencintaimu dan juga akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Ya?!”


Saat mengatakan hal itu, wajah mereka sangatlah dekat sehingga membuat degup jantung Kania menjadi berdebar kencang.


“M—mas, jujur, saat ini aku masih belum bisa menerimamu. Namun baiklah. Aku akan memberikan satu kesempatan lagi padamu. Berusahalah dengan keras agar aku bisa mencintaimu,” ucap Kania pada akhirnya.


“Iya sayang. Aku akan berusaha. Terima kasih banyak,” ucap Arya yang kemudian lagi-lagi mencium Kania.

__ADS_1


Kali ini bukan ciuman di kening Kania, melainkan ciuman lembut di bibir Kania yang lagi-lagi membuat keduanya benar-benar merasakan seperti sedang meluapkan kerinduan yang teramat sangat.


Bersambung..


__ADS_2