The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Wanita lain


__ADS_3

Dan di waktu yang sama, Kania pun berkata, “Kenapa Mas tega lakuin ini ke aku? Bukannya Mas bilang akan buat aku jatuh cinta sama Mas, tapi sekarang apa. Mas lebih mementingkan cewek lain di bandingkan aku.”


“Ha?!”


Arya sangat bingung dengan maksud ucapan Kania. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Kania bisa mengatakan hal itu.


“Kan, maksud kamu apa? Tolong ngomong yang jelas,” pinta Arya.


“Mas, tadi siang, apa tujuan Mas Henry datang ke sekolah? Apa untuk menjemput Sebagai Sintia? Jadi, jangan-jangan Mas sudah tahu kalau hari ini Sintia pindah sekolah jadinya Mas hari ini sengaja gak ngajar melainkan menyuruh Mas Henry untuk datang menjemput Sintia. Iya?!” ucap Kania bertubi-tubi.


Arya yang mendengar ucapan Sintia panjang kali lebar ini pun tidak menyangka kalau Kania bisa berkata hal yang benar-benar seperti pemikiran anak kecil.


Arya pun tersenyum lalu berkata, “Sebelum aku jawab pertanyaanmu, apa aku boleh tanya satu hal dulu padamu?”


“Apa?” sambar Kania sambil dengan nada sewot.


“Kan, apa kamu cemburu?” tanya Arya memastikan.


‘Deg’


Hati Kania seperti merasakan sesuatu saat mendengar pertanyaan Arya.


“Gak,” sahut Kania singkat.


“Benarkah?” goda Arya yang cukup tahu persis watak Kania.


Kania pun tidak menanggapi ucapan Arya yang barusan. Dia justru berkata, “Sudah. Sekarang Mas yang jawab pertanyaanku tadi.”


Melihat sikap Kania yang salah tingkah seperti itu, Arya pun semakin yakin kalau gadis yang ada di hadapannya itu sudah sedikit membuka hatinya untuknya. Hanya saja hal ini belum disadari sepenuhnya oleh Kania.


Sambil tersenyum dan mengelus-elus rambut Kania, Arya pun berkata, “Kan, tadi kan aku udah bilang kalau aku gak bisa jemput karena sedang sangat sibuk. Jadinya aku meyuruh Henry yang menjemputmu di sekolah sebagai gantinya aku. Dan soal Sintia, aku sama sekali gak tahu kalau dia ternyata pindah ke sekolah kita itu. Jadi Kan, ini tuh bukan seperti yang kamu pikirkan tadi.”


“Tapi Mas, tadi siang kenapa Mas Henry gak nungguin aku dulu sampai keluar. Dia malah pergi begitu aja sama Sintia sambil ketawa-ketawa,” ucap Kania.


Arya lagi-lagi tersenyam-senyum mendengar ucapan Kania. Dia mengambil telapak tangan Kania dan di letakkannya di atas telapak tangannya lalu kemudian berkata, “Kan, Henry seperti itu karena dia diancam oleh Sintia. Katanya, jika dia gak mau mengikuti apa yang diinginkan Sintia, Sintia bakalan ngancurin nama baikmu di sekolah.”


“Beneran itu, Mas?” tanya Kania.

__ADS_1


Arya pun mengangguk lalu kemudian kembali berkata, “Sudah. Jangan ngambek lagi ya.”


Kania pun mengangguk dan Arya pun tersenyum lalu merangkul Kania dan menyenderkan kepalanya Kania di pundaknya.


***


Keesokan harinya, Arya masih belum bisa datang untuk mengajar dan Kania pun meminta Arya agar tidak usah ada acara jemput-jemputan, jadinya hari itu mereka pun berada di dunia masing-masing mereka sendiri.


Kania yang sedang terduduk di kelasnya sambil menatap ke arah luar jendela ini pun tiba-tiba terkejut dengan suara sapaan dari Gylsa.


Sambil mengelus-elus dada, Kania pun protes, “Gyil, lo bisa gak sih jalan sambil ada suaranya. Buat kaget aja tahu.”


“Eh eh eh.. gue jalan udah ada suaranya kali. Emang lo kira gue ini hantu yang jalannya ngambang?!...” protes Gylsa balik, “lagian lo tuh ya. Pagi-pagi udah ngelamun kaya' gini. Kalau sampai kesambet gimana?”


Kania pun terdiam mendengar ucapan Gylsa. Entah mengapa hatinya masih tetap saja merasa tidak tenang walau pun semalam Arya sudah menjelaskan semuanya padanya.


Merasa tidak ditanggapi, Gylsa pun lagi-lagi protes, “Hei, Woi! Lha dia malah diem aja gak nyahut. Berasa kaya’ ngomong sama patung kalau lagi begini ini.”


Dan sesaat kemudian...


“Gyl,” ucap Kania pada akhirnya.


“Gue ngerasa seperti ada yang mengganjal di hati gue sendiri tapi gue gak tahu apa itu,” ucap Kania.


Mendengar ucapan Kania, Gylsa pun menyipitkan matanya lalu bertanya, “Emang hati lo itu ngerasa mengganjal kaya’ gimana sekarang?”


Sambil mengangkat kedua bahunya, Kania pun berkata, “Gak tahu. Cuma rasanya tuh gak enak aja. Kaya' semacam kepikiran tentang Pak Arya dan juga gosip tentang Sintia kemarin. Ya kaya' gitu lha kurang lebih.”


“Hehehehe... Rupanya ada yang sedang cemburu nih ye,” goda Gylsa.


'Deg'


Lagi-lagi hati Kania merasakan sesuatu saat mendengar kata 'cemburu' ini.


“Apa iya aku merasa cemburu?” gumam Kania dalam hati.


Melihat Kania hanya diam dan termenung tanpa mengelak ucapannya tersebut, membuat Gylsa pun berkata, “Kan, kalau lo ragu dan belum tahu persis bagaimana perasaan lo sekarang ini, mending lo coba tanyakan sama diri lo sendiri. Apakah ada sesuatu yang gak biasa setiap kali dekat dengan Pak Arya.”

__ADS_1


Kania pun mengangguk lalu kemudian kembali menatap ke arah jendela luar.


***


Pulang sekolah, tanpa berpikir panjang, entah mengapa Kania rasanya ingin sekali datang ke kantor Arya.


Dengan menaiki kendaraan umum, dia pun langsung pergi menuju kantor Arya.


Namun siapa sangka, saat sampai di kantor Arya, dia di hadang oleh scurity yang bertanya, “Mbak, maaf. Mau cari siapa ya?”


“Saya mau cari Pak Arya, Pak. Apa saya boleh masuk?” tanya Kania.


“Maaf, Mbak. Apa Mbak sudah ada janji sebelumnya?” tanya scurity itu lagi.


Kania pun menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


Melihat respons Kania seperti itu, Scurity itu pun kembali berkata, “Waduh maaf banget, Mbak. Mbak gak bisa masuk kalau belum buat janji terlebih dahulu. Soalnya Pak Arya hari ini berpesan tidak mau di ganggu siapa-siapa.”


“Oh begitu ya,...” ucap Kania, “terima kasih Pak kalau begitu.”


Kania pun langsung berbalik arah dan dari kejauhan dia melihat Arya sedang berjalan keluar bersama seorang wanita cantik.


Kania pun langsung mengikutinya dan akhirnya mendapati kalau ternyata mereka rupanya sedang makan siang di salah satu restoran mewah.


Melihat adegan ini, perasaan Kania pun campur aduk.


Di saat dia sudah menemukan jawaban atas perasaannya itu, dia juga lagi-lagi menemukan kenyataan yang sangat menyakitkan.


Dengan menahan tangisnya, Kania pun langsung pergi. Sementara itu di saat yang bersamaan, Arya sekilas seperti barusan melihat Kania. Namun setelah di perhatikan benar-benar ternyata tidak ada.


“Kenapa aku tiba-tiba terbayang Kania ya!? Apa tadi itu perasaanku aja!?” Gumam Arya.


***


Di rumah Arya...


Kania yang baru saja sampai ini pun langsung melemparkan tas dan juga menjatuhkan dirinya juga di atas tempat tidur.

__ADS_1


Dengan posisi tengkurap, Kania pun menangis. Dalam tangisnya, dia pun bergumam, “Mas, jalan cerita di masa lalu memang udah berubah. Tapi kenapa dirimu gak berubah. Katanya mau mencintaiku di hidupmu yang sekarang ini, tapi kenapa kamu malah jalan sama wanita lain di belakangku? Dan kenapa juga aku harus terjerumus di dalam rasa sakit yang sama seperti dulu lagi? Kenapa?”


Bersambung...


__ADS_2