
Sesampainya ia di dalam kamar Kania, ternyata yang dia lihat...
“Kania!” teriak Arya di telinga Kania.
“Eh. Copot copot copot.”
Kania pun langsung terbangun dari mimpi panjangnya dan kemudian duduk dan menaruh kembali kepalanya lalu melanjutkan tidurnya.
Melihat refleks Kania seperti ini, Arya pun langsung menepuk jidatnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kan, bangun Yang. Sadar,” ucap Arya sambil menepuk pundak Kania.
Kania pun langsung mendongakkan kepalanya dan kemudian berkata, “Hmm. Pak gurunya udah masuk kelas, ya?”
Arya yang mendengar ini pun lagi-lagi menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Iya. Gurunya udah datang dan siap kasih kamu pelajaran.”
Mendengar kalimat terakhir seperti itu, Kania pun langsung membuka matanya lebar-lebar dan kemudian menolehkan kepalanya ke arah Arya.
Saat Kania tahu siapa yang tadi sudah mengatakan akan memberinya pelajaran, tiba-tiba saja dia spontan langsung mendorong mundur kursi meja belajarnya dan kemudian...
‘Gubrak gedebak debuk'
Kania pun jatuh ke arah belakang dengan posisi kepala tergeletak di lantai dan kaki berada di atas dengan bersandar pada bangku.
Arya yang melihat ini pun spontan langsung menolong Kania sambil berkata, “Kan, mas gak nyangka kamu bisa salto juga rupanya.”
Kania yang merasa pusing akibat jatuh ini pun berusaha menstabilkan berdirinya setelah dibantu oleh Arya berdiri.
Dengan memegang kepalanya, Kania pun berkata, “Mas baru tahu ya kalau aku jago salto?!”
Mendengar ucapan Kania, seketika tangan Arya pun memukul pelan pucuk kepala Kania sambil berkata, “Kamu ini. Lain kali jangan seperti ini lagi. Sekarang apanya yang sakit?”
Kania pun menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Cuma agak sedikit pusing aja.”
“Ya sudah. Sekarang kita keluar. Orang-orang sudah lama menunggu kita berdua,” ajak Arya.
Seakan hilang ingatan, Kania pun bertanya, “Lha ngapain pada nungguin kita? Kita emangnya mau ngapain Mas?”
Lagi-lagi tingkah Kania seperti ini membuat Arya menjadi benar-benar gemas dan ingin cepat-cepat memberinya sebuah pelajaran. Namun sayang keinginannya itu harus ditahannya untuk sementara.
“Haiss.. kita kan hari ini akan menikah. Jangan bilang kalau kamu lupa deh,” ucap Arya sambil menyipitkan matanya menatap ke arah Kania.
“Oooooh,” sahut Kania panjang.
__ADS_1
Namun beberapa detik kemudian, “Apa? Menikah?”
Kania pun langsung berputar berbalik badan dan hendak kabur dari jangkauan Arya. Namun nasib berkata lain. Arya pun langsung merangkul lehernya sambil berkata, “Sudah tidak bisa kabur lagi. Ayo sekarang ikut aku dan kita harus segera melaksanakan apa yang harus kita lakukan.”
Mendengar kalimat terakhir seperti itu, bergidik lha Kania. Dia membayangkan jika orang menikah, maka yang harus segera di lakukan sesudahnya itu berarti itu donk.
“Iiiiih,” ucap Kania sambil menggetarkan pundaknya.
Arya yang sadar kalau Kania ini sedang berpikiran yang tidak-tidak akhirnya berkata, “Sudah. Gak usah dipikirkan dan dibayangkan. Nanti juga kamu akan ketagihan.”
“Whats? Oh tidaaaaaak!” seru Kania yang saat ini sedang dirangkul dan ditarik keluar oleh Arya.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di ruang tamu dan tanpa membuang waktu lagi, acara ijab pun dimulai.
Kania yang dari bertemu Arya tidak ada serius-seriusnya sama sekali ini pun tiba-tiba merasa nerves dan..
‘Duuuuut’
Aroma sedap tiba-tiba saja tercium di setiap hidung orang-orang yang ada di sana. Tapi walau begitu, acara Ijab pun masih tetap berlangsung.
Mengenai siapa pelaku penyebar bau yang sedap itu sebenarnya ternyata sudah diketahui oleh Arya sehingga di detik-detik terakhir orang-orang bilang sah, Arya pun diam-diam langsung menusuk pinggang Kania dengan jarinya sehingga membuat Kania tanpa sadar spontan memekik, “Aw.”
Mendengar pekikan Kania, Mama Rina pun spontan bertanya, “Kamu gak apa-apa, Kan?”
Kania pun menggelengkan kepalanya lalu menunduk.
Sementara itu, Arya yang melihat tingkah lucu Kania dari awal mereka bertemu tadi itu pun merasa beruntung karena bisa di berikan kesempatan untuk mengenal Kania dari sisi yang berbeda.
“Kan, terima kasih,” ucap Arya berbisik di telinga Kania yang manakala saat itu dia sedang menunduk malu.
Setelah mengatakan hal itu pada Kania, Arya pun berkata pada orang tua Kania bahwa dirinya akan membawa Kania untuk tinggal di rumahnya setelah acara selesai.
Kania yang mendengar hal itu pun spontan langsung bertanya, “Harus pindah juga ya? Harus sekarang?”
Arya yang mendapatkan pertanyaan ini pun langsung berkata, “Menurutmu?”
“Ish. Lagi-lagi kayak gitu,” gerutu Kania sambil memonyongkan bibirnya.
Di saat yang bersamaan..
“Iya, Pak. Silakan aja kalau emang Anda mau membawa Kania ke rumah Bapak. Kami gak keberatan kok. Ya kan, Ma?” ucap Papa Rafi yang diangguki oleh Mama Rina.
Kania yang melihat Papa dan Mamanya tidak ada sedih-sedihnya seperti ini saat mengatakan hal itu, tiba-tiba merasakan kalau dirinya seperti bukan anak kandung mereka.
__ADS_1
“Nah, Kania. Kamu dengarkan ucapan Papa dan Mamamu?! Ayo nanti kita pulang ke rumah kita sendiri,” ajak Arya.
Kania pun menggelengkan kepalanya dan berbisik dengan nada merengek, “Gak mau.”
Melihat kelakuan Kania yang dari pagi seperti itu, lantas membuat Arya memiliki keinginan untuk mengusili gadis yang sekarang ini sudah sah menurut agama sebagai istrinya ini.
Dengan melangkahkan kakinya mendekati Kania, Arya pun berbisik, “Kan, kalau kamu gak mau ikut dengan mas, maka mas yang akan tinggal di sini dan akan menyiksamu hingga lelah. Tentunya orang tuamu gak akan menolongmu pada saat itu terjadi, bukan?! Gimana?”
Mendengar ucapan Arya seperti itu, spontan wajah Kania pun memerah dan itu membuat Arya semakin semangat menjaili istri kecil kesayangannya itu.
Kania pun menarik sedikit kain baju Arya dan berkata dengan lirih, “Mas, kalau aku ikut denganmu, kamu harus janji jangan berbuat macam-macam padaku ya.”
Sambil menahan tawa, Arya pun berkata, “Hum.”
“Beneran, Mas?” tanya Kania yang masih kurang percaya dengan Jawaban Arya.
“Ya udah. Terserah kamu. Pilihan ada di tanganmu,” ucap Arya santai sambil tersenyum membalas ucapan selamat dari orang-orang yang ada di acara itu.
Kania yang mendengar jawaban Arya seperti ini pun terdiam. Dia merasa kalau dirinya sedang dijahili oleh Arya.
Sementara itu, Arya yang telah selesai menanggapi ucapan selamat dari orang-orang ini pun langsung melihat ke arah Kania yang sedang terdiam membisu.
Disenggolnya bahu Kania hingga Kania pun terdorong ke samping dan kemudian melihat ke arah Arya.
“Kenapa diam saja? Udah ditentukan belum jawabannya?” tanya Arya.
“Iya iya.. aku ikut,” sahut Kania pada akhirnya.
Mendengar jawaban Kania seperti itu, Arya pun tersenyum dan akhirnya acara itu pun berlangsung hingga siang hari.
***
Sore harinya di rumah Arya..
Kania yang tidak langsung di ajak pulang ke rumah Arya ini pun merasa sangat lelah sekali. Ingin rasanya ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang nyaman.
“Mas, kamarku di mana?” tanya Kania.
“Baru juga datang, Yang. Masa’ udah tanya kamar di mana,” goda Arya.
“Maaaaaas! Bukan seperti itu yang aku maksud,” teriak Kania.
Melihat tingkah Kania, tanpa harus ditahan lagi, Arya pun langsung menggendong Kania sambil berkata, “Baiklah. Mas sepertinya sudah mengerti apa yang dimaksud oleh istri kesayangan mas ini.”
__ADS_1
“Aaaaaaaargh.. maaaaaaaas!!”
Bersambung..