
Seusai Arya menunjukkan keseriusannya untuk berubah, maka di mulai lah percintaan guru dan murid terselubung di sekolah.
Walau pun Kania belum sepenuhnya mempercayai Arya, namun tanpa disadari, ada banyak sekali keromantisan yang terjadi di antara mereka.
Dan hari ini adalah titik awal dari setiap kejadian yang mendebarkan hati.
“Kan, lo kemarin ke mana lagi sih?! Setiap lo gak sekolah, Pak Arya pun gak ngajar,” keluh Gylsa.
“Gue gak ke mana-mana, Gyl,” sahut Kania.
“Kalau lo gak ke mana-mana, kenapa lo gak masuk?” tanya Gylsa.
“Gue cuma lagi malas sekolah aja. Apalagi kemarin kan ada pelajaran Pak Arya,” sahut Kania santai sambil mencorat-coret salah satu halaman di bukunya.
“Ye.. lo ini. Kok lo segitu gak sukanya sih sama Pak Arya?” tanya Gylsa.
Kania yang ditanya seperti itu pun tidak menyahut. Sehingga membuat Gylsa menjadi semakin kepo. Namun belum juga Gylsa membuka mulutnya untuk bertanya macam-macam, tiba-tiba saja...
“Pagi semuanya,” sapa seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Arya.
Kania yang merasa kalau hari ini tidak ada mata pelajaran Arya ini pun akhirnya menceletuk, “Pak, kok bisa Bapak sih yang nongol?! Bukannya hari ini gak ada giliran Bapak ya?”
Spontan Gylsa yang ada di belakang Kania pun langsung memukul pundak Kania.
Sementara itu, Arya yang mendapatkan celetukan seperti itu pun tersenyum lalu menyahut, “Emang gak ada. Tapi berhubung Bu Dita meminta saya menggantikannya mengajar untuk hari ini, jadinya mau tidak mau.. saya akan mengajar pelajarannya sepanjang hari ini.”
Mendengar penjelasan Arya, spontan seisi kelas pun menjadi sedikit gaduh. Ada yang mengeluh dan tak sedikit juga yang senang.
Namun jangan di tanya tentang Kania. Dia sebenarnya tidak terlalu bisa dengan pelajaran ini, namun karena Bu Dita sangat pintar menerangkannya, membuat Kania sedikit banyak bisa mengerti tentang pelajaran yang sedang di bahas.
Dan sekarang...
“Tahu gitu aku madol lagi aja deh,” gerutu Kania yang masih bisa terdengar oleh semua yang ada di kelas tersebut.
Arya yang mendengar gerutukan Kania ini pun lagi-lagi langsung melemparkan kertas yang sudah dia buntal ke arah kepala Kania.
Kania yang terkena ini pun langsung memasang wajah sewot.
Maka hasilnya sepanjang hari itu menjadi hari kekuasaan Arya sekaligus hari yang sangat menyiksa untuk Kania.
Kania yang benar-benar sudah merasa jenuh ini pun tanpa takut akhirnya meminta ijin pada Arya untuk ke Toilet sebentar. Sementara itu, Arya yang sudah mengetahui akal-akalannya Kania ini pun mengizinkannya.
__ADS_1
Sesaat setelah Kania keluar, Arya pun berkata pada seluruh siswa yang ada di dalam kelas tersebut untuk istirahat selama setengah jam dan tentunya ini di sambut baik oleh seluruh siswa.
Sedangkan Arya yang setelah mengatakan hal itu pun juga langsung pergi meninggalkan kelas.
***
Di ruang olahraga...
Kania yang telah berhasil lolos keluar dari pelajaran Arya ini pun memutuskan untuk bersantai di salah satu sudut dalam ruang olahraga. Sebuah ruangan yang cukup besar karena biasa di gunakan oleh para siswa untuk bermain basket, voli atau pun bulu tangkis. Sedangkan untuk bermain sepak bola, lari, lempar lembing, tolak peluru atau pun yang sejenisnya, para siswa lebih memilih lapangan terbuka.
Karena terlalu luasnya ruangan tersebut, sehingga tidak memungkinkan bila seseorang akan menemukannya.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Arya yang seperti bisa menebak jalan pikiran Kania ini pun dapat dengan mudah menemukannya.
“Sungguh nyaman, bukan?” tanya Arya tiba-tiba sehingga membuat mata Kania spontan terbuka.
“P—pak, kok Bapak bisa menemukan aku sih?” tanya Kania bingung.
“Hmm. Menurutmu? Lagi pula aku tuh bingung deh sama kamu, Kan. Sebentar bilang Bapak, sebentar lagi bilang Mas. Sebenarnya kamu mau manggil aku tuh dengan sebutan apa?” protes Arya.
Kania pun terdiam sejenak lalu kemudian tertawa terbahak-bahak.
Arya yang mendengar ucapan Kania ini pun menyipitkan matanya. Dia tidak mengerti BaMasSay itu apa.
“Kenapa? Masih protes aku panggil BaMasSay? Kalau iya, ya udah. Aku ganti lagi aja deh kalau begitu,...” ucap Kania, “enaknya ganti apa ya?”
Arya yang sebenarnya masih bingung dengan ucapan Kania ini pun dengan wajah serius akhirnya bertanya, “Bentar deh. Emangnya BaMasSay itu apaan, Kan?
Melihat ekspresi Arya seperti ini pun spontan Kania pun lagi-lagi tertawa terbahak-bahak dan kemudian menjawab, “BaMasSay itu artinya Bapak Mas terSayang.”
'Deg'
Spontan wajah Arya putra memerah dapat panggilan sayang seperti itu Kania. Dia diam terpaku seperti orang-orangan sawah.
Melihat sikap Arya seperti ini, Kania pun melambaikan tangannya di depan wajah Arya sambil berkata, “BaMasSay kenapa?”
Spontan, Arya pun langsung menarik tubuh Kania yang kala itu sedang bersandar di antara a kursi penonton di barisan satu dengan kursi penonton di barisan ke dua.
Mendapatkan perlakuan seperti ini, Kania pun bingung. Apakah tadi dia sudah salah bicara lagi sehingga membuat sikap Arya padanya semakin hari semakin aneh.
Arya pun mengendurkan pelukannya lalu menatap lekat-lekat gadis yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
“Kan, kamu boleh memanggilku seperti itu tapi hanya pada saat kita sedang berdua saja. Kalau di tempat umum, kamu panggil dengan sebutan yang lain selain yang tadi, ya!?” pinta Arya.
Kania pun semakin tercengang mendengar ucapan Arya. Dalam hatinya bergumam, “Ni guru satu kenapa?”
Mendapati Kania hanya terdiam saja, Arya pun berkata, “Kan, kamu mau kan memenuhi permintaanku tadi?”
“Oh. Iya iya,” sahut Kania pada akhirnya. Walau tidak bisa dipungkiri kalau dia masih bingung dengan sikap Arya padanya.
Tiga puluh menit sudah berlalu dan kini seharusnya mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.
“Kan,” ucap Arya.
“Hmm,” sahut Kania setelah mengiyakan permintaan Arya.
“Rasanya sekarang sudah waktunya balik deh,” ucap Arya.
“Balik?! Balik ke mana?” tanya Kania yang onengnya kumat.
“Ya balik ke kelas lha. Ayo,” ajak Arya sambil melingkarkan tangannya di leher Kania dan menariknya sehingga membuat Kania menjadi berdiri dan kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Arya.
Sementara itu, di saat yang bersamaan, Kania langsung berteriak, “Aaaaaaaaaa.. aku gak mau balik ke kelas!!!”
***
Sesampainya di kelas, dengan langkah malas, Kania pun masuk dan tak selang berapa lama, Arya menyusul di belakangnya.
“Bagaimana semuanya? Sudah siap melanjutkan pelajaran?” tanya Arya.
“Siap!” seru hampir seluruh siswa yang ada di dalam kelas.
Sementara itu, Gylsa menusuk-nusuk punggung Kania dengan menggunakan pulpen.
“Kan, lo habis dari mana sih? Gue cari ke toilet, lo gak ada di sana. Lo sebenarnya ke mana tadi?” tanya Gylsa.
“Gue,...”
Di saat yang bersamaan...
“Kania!! Dari pada ngobrol terus dari tadi, lebih baik kamu maju ke depan dan kerjakan soal tadi sebelum istirahat!”
Bersambung...
__ADS_1