The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Terungkaplah sudah


__ADS_3

Dengan spontan Adi pun langsung menyahut, “Gylsa.”


“Apaaaaa!?”


Baik Kania mau pun Arya, keduanya sama-sama saling menatap. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ternyata dunia ini benar-benar selebar daun kelor.


Sementara itu, Adi yang melihat respons mereka berdua seperti itu pun merasa bingung sekaligus heran.


“Kalian kenapa berteriak seperti itu? Seperti orang terkejut aja,” ucap Adi.


“Ya memang kami terkejut,” celetuk Arya.


“Kok bisa? Emangnya kalian kenal dengan Gylsa?” tanya Adi.


Arya dan Kania pun terdiam sejenak dan kemudian Kania berkata, “Gylsa itu teman sekolahku.”


“Dia juga muridku,” ucap Arya yang menyusul jawaban Kania.


“Apaaaaaa!?”


Sekarang giliran Adi lha yang terkejut dengan apa yang dia dengar.


“Jadi,...” Adi pun langsung syok setelah tahu kalau ternyata mereka pun mengenal Gylsa, “jadi kalian mengenal Gylsa juga rupanya.”


Arya yang melihat tampang syok temannya ini pun langsung duduk mendekatinya dan merangkul bahu Adi sambil berkata, “Jangan seperti ini. Cobalah bertemu dengannya dulu. Siapa tahu, penolakanmu ini akan jadi kerugian buatmu. Ya gak, Kan?”


Kania pun mengangguk dan kemudian berkata, “Apa tadi dia bilang mau ketemu sama Kakak?”


Adi pun mengangguk dan kemudian Kania bertanya, “Di mana?”


***


Sesuai dengan tempat yang telah dikatakan oleh Adi, Kania pun duduk dengan tenang menunggu Gylsa menggantikan Adi untuk sementara.


Di saat sedang asyik-asyiknya melamun sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang, Gylsa pun nongol dengan suara teriakan yang sangat mengejutkan.


Dia berteriak, “Kania!? Lo ngapain duduk di sini?”


“Hai. Lo sendiri ngapain di sini?” tanya Kania santai.


“Gu—gue lagi ada janji bertemu dengan seseorang di sini,” sahut Gylsa.

__ADS_1


“Oh,” ucap singkat Kania.


“Lha lo ngapain ada di sini?” tanya balik Gylsa.


Sambil tersenyum penuh maksud, Kania pun menjawab, “Hehehe.. satu, gue ingin madol sekolah. Dua, gue ingin jalan-jalan. Tiga, gue ingin gangguin temen gue yang lagi mau PDKT sama calon suaminya.”


'Deg'


Mendengar ucapan Kania, Gylsa pun terkejut. Dia merasa kalau apa yang Kania katakan itu untuk dirinya.


Karena penasaran dengan alasan Kania yang ke tiga, Gylsa pun bertanya, “Maksud lo mau gangguin temen lo yang mau PDKT itu apa? Emang siapa orangnya?”


Dengan sambil tersenyum-senyum, Kania pun langsung menjawab, “Lo.”


“Ha!?”


Gylsa pun lagi-lagi terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kania. Dia sekarang benar-benar merasa kalau Kania ini memang sedang membahas tentang dirinya.


“Kan, lo kenapa tiba-tiba mikir kalau gue mau PDKT ma cowok?” tanya Gylsa.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Gylsa, Kania pun langsung memberikan isyarat berupa lambaian tangan kepada seseorang agar segera datang.


Gylsa yang tadinya sudah bingung ini pun jadi bertambah bingung sebelum akhirnya dia melihat dua orang pria sedang berjalan ke arahnya.


Setelah beberapa saat, Arya dan Adi pun sudah berada di dekat mereka dan Kania pun mempersilahkan mereka untuk duduk.


Arya yang selalu ingin dekat dengan Kania ini pun langsung menyerobot tempat duduk di sebelah Kania.


Sementara itu, Adi yang mau tidak mau kebagian duduk di sebelah Gylsa ini pun sangat enggan sekali untuk duduk.


Arya yang melihat ini pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan Kania pun yang akhirnya bertanya, “Kak, kenapa Kakak gak duduk?”


Adi pun menggelengkan kepalanya dan Gylsa pun merasa aneh lalu bertanya, “Kenapa gak mau duduk? Capek loh berdiri terus.”


“Biarin aja, Gyls. Mau besarin betis katanya,” celetuk Arya yang langsung spontan kepalanya di dorong oleh Adi.


Melihat ini, Kania pun pun menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Kak, duduklah sebelum Pak Arya mengeluarkan kata-kata yang lebih nusuk lagi.”


Mendengar ucapan Kania, mau gak mau dengan enggan Adi pun langsung duduk di sebelah Gylsa.


Sementara itu, Gylsa yang dari awal tidak tahu tentang Adi ini pun tampak masih celingak-celinguk menunggu seseorang sehingga membuat Kania pun berkata, “Sudah. Gak usah di cari. Orangnya udah ada di sebelah lo.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Kania, Gylsa pun spontan langsung menengok ke arah Adi yang saat itu langsung menutupi wajahnya dengan sebuah buku daftar makanan.


Karena merasa penasaran, Gylsa pun langsung berkata, “Dia Adi!?”


Kania pun mengangguk sambil tersenyum diikuti Arya yang juga mengangguk sambil memanggil pelayan.


Gylsa yang masih tidak percaya ini pun tetap melihat ke arah Adi sehingga membuat Adi pun risih dan akhirnya berkata, “Iya iya.. ini aku. Haissss.”


Setelah mendengar ucapan Adi, Gylsa pun langsung menyipitkan matanya sekilas dan kemudian langsung pergi.


Kania yang melihat Gylsa seperti ini pun langsung berteriak, “Gyl, lo mau ke mana?”


“Gue mending pergi aja dari pada harus ketemu sama orang yang dari awal gak bisa terima kehadiran gue,” sahut Gylsa sambil berteriak sehingga membuat Kania langsung melihat Arya yang hanya mengangkat ke dua bahunya.


Melihat respons Arya yang seperti itu, Kania pun langsung menghela nafas panjang dan kemudian segera berlari menyusul Gylsa.


Dan sesaat setelah Kania pergi, Arya pun langsung berkata, “Adi, lo tuh ya benar-benar deh. Sekarang perasaan lo gimana setelah melihat dan bertemu dengan orangnya?”


Adi pun hanya terdiam sehingga membuat Arya kembali berkata, “Makanya, jangan bilang sesuatu yang belum dipastikan dulu, Di. Khawatirnya tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi nanti.”


Mendengar ucapan Arya, Adi pun masih tetap saja terdiam. Sedangkan untuk Arya, dia malah asyik mengemil makanan yang tadi udah sempat dia pesan.


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, Kania yang menyusul Gylsa ini pun langsung sebisa mungkin meraih tangan Gylsa dan setelah itu berkata, “Gyl, jangan seperti ini. Kita kembali ya. Gak enak. Di sana kan juga ada Pak Arya. Masa’ sikap lo seperti ini.”


Untuk sesaat Gylsa pun terdiam dan kemudian berkata, “Tapi Kan, gue merasa kalau Adi benar-benar tidak menginginkan kehadiran gue.”


“Jangan bilang seperti itu. Kalian kan belum saling mengenal. Wajar aja jika kalian merasa bingung dan serba salah lalu akhirnya ujung-ujungnya enggan seperti itu. Tapi cobalah untuk salah satu dari kalian yang memulai, mungkin suasana akan lebih cair nantinya,” ucap Kania.


“Iya sih, Kan. Tapi tetap aja gue ngerasa gak nyaman kalau diperlakukan seperti itu,” ucap Gylsa.


Sambil merangkul bahu Gylsa, Kania pun berkata, “Sudahlah. Coba dulu, ya!?”


Akhirnya Gylsa pun mengangguk. Namun belum juga mereka melangkahkan kakinya, Gylsa teringat kalau ada yang aneh dengan Kania.


“Kan, kenapa lo juga bisa ada di sini dan Pak Arya juga bisa bersama lo di sini? Pasti bukan karena sekedar mau bolos aja kan?” tanya Gylsa.


Kini giliran Kania yang terdiam sejenak dan kemudian bertanya, “Beneran lo ingin tahu?”


Gylsa pun mengangguk cepat dan Kania pun berkata, “Tapi lo harus janji jangan kasih tahu ini ke siapa pun ya.”


Lagi-lagi Gylsa pun mengangguk dan akhirnya Kania pun menjawab, “Ehm.. begini, sebenarnya gue dan Pak Arya itu udah menikah dan Pak Arya itu suami gue.”

__ADS_1


“Apaaaaaaa!?”


Bersambung...


__ADS_2