
Malam harinya, Arya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya ini pun tidak sadar kalau hari sudah gelap. Diambilnya tas kerjanya dan kemudian dia pun pulang.
Namun sesampainya di rumah, betapa terkejutnya dia mendapati rumah dalam keadaan gelap.
“Kania masa’ sudah larut malam begini masih belum pulang?!” gumam Arya sejenak sebelum masuk ke dalam rumah.
Saat setelah itu, dia pun langsung masuk dan menyalakan semua lampu di dalam rumah dan memastikan kalau Kania ada atau tidak di dalamnya.
Namun saat dia masuk ke dalam kamar, dirinya lagi-lagi dibuat terkejut oleh Kania yang sedang tertidur dengan masih menggunakan pakaian seragam sekolah beserta wajah yang sembap.
Langsung didekatinya Kania dan dia pun duduk di sebelah Kania tertidur.
“Kan, sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu hari ini?” gumam Arya yang tahu akan membangunkan Kania atau tidak.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja Kania mengerjapkan matanya dan dengan samar dia melihat sosok Arya ada di hadapannya.
“Meski dalam tidur pun kenapa aku harus mimpiin kamu sih Mas?” gumamnya sambil kembali memejamkan mata dan berbalik badan.
Arya yang mendengar ucapan Kania barusan ini pun merasa kalau Kania saat ini sangat membenci dirinya. Entah apa yang sudah dia perbuat sampai membuat Kania seperti ini.
Dibiarkannya Kania tertidur kembali dan Arya pun langsung membersihkan tubuhnya yang sedang merasa letih tersebut.
Beberapa saat kemudian, setelah merasa tubuhnya jauh lebih segar, Arya pun kembali duduk di sebelah Kania dan berkata, “Kania, bangun sayang. Ganti baju dulu baru setelah itu tidur lagi gak apa-apa.”
Kania yang merasa mendengar suara Arya ini pun bukannya bangun malah menutup telinganya dan tubuhnya dengan menggunakan selimut.
Arya yang melihat sikap Kania seperti ini terhadapnya ini pun menghela nafas panjang. Dia benar-benar bingung sebenarnya apa kesalahan dia sehingga Kania seperti ini.
“Kan, bangun sayang. Bangun. Ganti pakaianmu dulu,” ucap Arya lagi dengan nada lembut sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kania pelan.
Kania yang diperlakukan seperti itu pun mau tidak mau menjadi bangun. Dengan mengerjapkan matanya terlebih dahulu, dia baru sadar kalau memang Arya sudah ada dan saat ini sedang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Karena masih merasa kesal dan sakit hati karena kejadian siang tadi, Kania pun langsung bangun dan menjauhi Arya.
Arya yang melihat respons Kania seperti ini pun bertanya, “Kamu kenapa, Kan?”
Kania pun menggelengkan kepalanya tidak menjawab.
“Ya sudah. Sini sebentar,” panggil Arya dan lagi-lagi Kania hanya menggelengkan kepalanya.
“Kenapa gak mau, Kan?” tanya Arya.
“Aku benci Mas,” sahut spontan Kania.
‘Deg’
Mendapatkan jawaban seperti itu dari Kania, tiba-tiba hati Arya menjadi sangat sakti sekali.
“Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu, Kan? Apa salahku kali ini sama kamu?” tanya Arya bingung.
Kania pun terdiam sejenak lalu kemudian bertanya, “Siapa wanita tadi siang?”
Tanpa menjelaskan siapa wanita yang dimaksud, Kania pun langsung berkata, “Mas bohong. Katanya mau berubah dan mencintaiku di kehidupan Mas yang sekarang, tapi kenapa di belakangku, Mas malah jalan sama wanita lain dan makan siang pula.”
Mendengar kata-kata 'makan siang' barulah Arya sadar dengan siapa wanita yang Kania maksud.
“Oh dia rupanya yang kamu maksud,...” ucap Arya, “dia itu orang yang akan menjalin hubungan kerja sama denganku. Aku gak punya hubungan apa-apa sama dia.”
Walau sudah mendapatkan penjelasan seperti itu dari Arya, tapi Kania tetap saja marah dan diam.
“Kamu gak percaya? Ya sudah. Kapan-kapan akan aku ajak kamu untuk menemuinya,” ucap Arya.
Namanya juga Kania, dia benar-benar keras kepala. Meskipun jelas-jelas sudah mendengar ucapan Arya, dia masih saja berkata, “Kalau emang hanya hubungan kerja sama, kenapa harus ada makan siang berdua di luar dan bukannya di kantor aja.”
__ADS_1
Arya yang mendengar ucapan ini pun langsung spontan menepuk jidatnya dan kemudian berkata, “Tadi, selain ada kami berdua, masih ada satu orang lagi yang belum datang. Dia adalah suami dari wanita yang tadi kamu sebutkan itu. Kenapa bisa kami makan di luar?! Itu karena suami dari wanita tersebut mengajakku makan siang.”
Setelah mendengar penjelasan Arya, Kania masih saja tetap terdiam dan ini membuat Arya ingin mencoba memastikan sesuatu.
“Kan, kenapa kamu bisa tahu kalau aku makan siang di luar bersama wanita lain?” tanyanya.
Kania pun menunduk lalu dengan nada lirih menyahut, “Aku tadi siang tiba-tiba ingin datang ke kantormu, tapi di hadang oleh scurity. Katanya gak boleh masuk kalau gak punya janji dulu. Ya sudah. Aku balik. Tapi sebelum aku balik, aku melihat Mas dan ngikutin Mas.”
“Oh. Jadi seperti itu rupanya,...” ucap Arya yang sudah mengerti masalahnya di mana, “kalau kamu sudah lihat aku, kenapa kamu gak langsung datangi aku aja? Kan kita bisa makan berempat.”
“Aku udah terlanjur kesal, Mas. Jadinya aku mending milih pulang aja,” sahut Kania.
“Kesal? Apa kamu sedang cemburu, Kan?” tanya Arya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania pun hanya diam saja. Dia sendiri juga masih bingung dengan apa yang sedang dia rasakan pada Arya.
“Kan? Kenapa diam? Kamu cemburu melihatku jalan dengan wanita lain?” tanya Arya memastikan.
“Gak tahu, Mas. Hanya saja, gak tahu kenapa aku tiba-tiba saja marah sekaligus jadi teringat bayangan masa lalu saat Mas menduakan aku. Saat itu, hatiku terasa pedih sekali,” jelas Kania.
Mendengar ucapan Kania, Arya pun spontan langsung memeluk tubuh Kania sambil berkata, “Kan, aku gak tahu lagi harus bagaimana caranya membuatmu percaya padaku. Tapi aku hanya bisa menjanjikan kasih sayang yang tulus buatmu. Ya sudah. Begini aja. Kalau begitu, setiap ada acara di luar aku akan mengajakmu. Gimana?”
“Ya gak gitu juga kali Mas,” sahut Kania.
“Lha terus?” tanya Arya bingung.
“Mas, maafin aku. Bayangan masa lalu itu selalu saja membuatku takut untuk membuka hatiku untuk mas. Aku takut akan merasakan sakit hati lagi,” ucap Kania lirih.
Arya pun terdiam mendengar ucapan Kania. Dia sedih namun juga tidak bisa menyalahkan Kania akan hal itu karena dia tahu persis apa yang sudah dia lakukan pada Kania di kehidupan lalu.
“Ya sudah kalau memang begitu. Aku akan terus menunggumu sampai kapan pun. Walau sampai akhir pun kamu tetap gak membuka hatimu, aku masih akan tetap mencintai dan menyayangimu,...” ucap Arya sambil mengelus-elus rambut Kania, “Sudah. Sekarang kamu ganti pakaianmu dulu ya. Aku mau keluar sebentar buat menelepon Henry.”
__ADS_1
Belum juga Arya melangkahkan kakinya meninggalkan Kania, Kania terlebih dahulu menahan tangan Arya sambil berkata, “Mas, walau pun aku belum bisa membuka hatiku sepenuhnya untuk Mas, tapi rasanya hatiku ini pelan-pelan sudah mulai bisa mencintaimu kembali. Jangan buat aku hancur lagi ya, Mas.”
Bersambung...