
Saat siang harinya, seperti yang sudah dikatakan oleh Arya, Kania dan Gylsa pun pergi belanja ditemani oleh Arya.
Namun saat mereka masih menunggu Arya di halaman parkir, mereka bertemu dengan Vino sehingga membuat Kania menjadi bertanya-tanya dalam hati kenapa Vino bisa ada di tempat itu juga.
Berbeda dengan Kania yang hanya berbicara dalam hati, Gylsa justru langsung berkata, “Eh, Vin. Lo kok ada di sini? Apa ada urusan dengan Kania?”
Vino pun hanya tersenyum dan berkata, “Iya. Aku ada urusan dengan Kania sekaligus aku juga ingin ikut menemani kalian belanja.”
'Deg'
Kania pun merasa kalau Vino masih saja tidak menyerah dengan perasaannya.
“Hmm, Vin. Lo kan punya kelas sendiri dan kelas lo pastinya juga punya acara sendiri kan. Nah, lo kenapa gak urus kelas lo aja tapi malah mau ikut kita belanja dan dari mana juga lo tahu kalau kita mau belanja?” tanya Kania bingung.
Lagi-lagi Vino pun tersenyum. Namun belum juga pertanyaan Kania itu terjawab oleh Vino, tiba-tiba saja..
“Rupanya kalian semua sudah kumpul. Ya sudah. Ayo kita jalan,” ajak Arya.
Dengan langkah pasti, Vino pun mengikuti langkah Arya dan membuat Kania ingin sekali bertanya apa Vino tidak masalah kalau ikut.
Ketika semuanya sudah masuk ke dalam mobil, kini hanya tinggal Kania saja yang masih terdiam terpaku di luar.
“Hei, Kan. Masuk. Ngapain lo bengong aja di luar?” teriak Gylsa yang langsung menyadarkan Kania.
Dan di saat yang bersamaan..
“Ya sudahlah,” gumam Kania yang kemudian masuk.
Saat di dalam mobil, dia menyadari ada yang salah dengan posisi duduk mereka.
“Hei, Gyl. Itu kenapa Vino bisa duduk di depan? Vino yang mau atau di suruh sama Pak Arya?” tanya Kania berbisik.
“Dia yang mau, Kan. Tadi dia langsung aja duduk di depan kaya' gitu,” sahut Gylsa.
“Terus Pak Aryanya diem aja?” tanya Kania lagi yang sedang merasa bingung.
“Iya. Emang ada apa, Kan?” tanya Gylsa heran.
“Oh. Gak ada apa-apanya,” sahut Kania.
__ADS_1
Dan setelah percakapan mereka itu, di sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat pusat perbelanjaan.
“Pak, Bapak yakin kita belanjanya di sini?” tanya Kania yang merasa kalau barang yang dia cari tidak dijual di sana.
“Yakin lha, Kan. Ayo kita turun,” ucap Arya yang menyuruh mereka semua turun.
Dengan ragu, Kania pun mengikuti saja apa kemauan Arya.
Saat ada di dalam, mereka pun berjalan mengitari setiap toko di tempat tersebut. Namun dari sekian banyak barang yang ingin mereka beli, mereka hanya menemukan beberapa saja.
“Pak, sepertinya barang yang kita butuhkan hampir semuanya gak di jual di sini deh,” ucap Kanaya.
Arya pun terdiam saja tidak menanggapi ucapan Kania sehingga membuat Kania memiliki firasat tidak enak.
“Kenapa lagi nih orang satu? Apa dia lagi merasa cemburu?” gumam Kania dalam hati.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Gylsa tiba-tiba saja menceletuk, “Hmm, bagaimana kalau kita berpencar aja? Biar gue dan Vino yang mencari ke sebelah sana, lalu lo ma Pak Arya ke sebalah lainnya. Nanti satu jam lagi kita kumpul di sini lagi.”
Mendengar ucapan Gylsa, Kania pun langsung melihat ke arah Pak Arya dan kemudian bertanya, “Bagaimana, Pak?”
“Ya sudah. Seperti itu saja,” sahut Arya.
“Ta—tapi Gyl,” ucap Vino yang sepertinya tidak suka dengan keputusan seperti ini.
Sesaat setelah mereka berdua pergi, Kania pun langsung bertanya, “Kenapa bisa Vino ikut dengan kita sih, Mas?”
Di tanya seperti itu, Arya masih saja diam. Dia bukannya menanggapinya, tapi dia malah jalan meninggalkan Kania seorang diri.
Kania yang melihat sikap dingin Arya seperti ini pun langsung menepuk jidatnya sambil berkata, “Parah banget kalau lagi cemburu.”
Dengan segera dia pun menyusul langkah Arya dan diimbanginya langkah Arya tersebut.
Saat perjalanan, Arya dengan wajah datar tiba-tiba berkata, “Sintia dan Novi memiliki niat terselubung terhadapmu, Kan."
“Hah? Maksudnya?” tanya Kania yang tidak begitu paham dengan ucapan Arya.
“Aku mendengarnya dari teman masa kecilmu itu. Dia bilang katanya dia tidak sengaja mendengar saat Sintia dan juga Novi sedang merencanakan akan membuatmu dalam masalah saat memegang uang anggaran itu,” jelas Arya.
“Oh. Jadi itulah sebabnya Mas meminta uang anggaran itu supaya Mas yang pegang dan menemaniku hari ini belanja serta juga membawa banyak orang?” tanya Kania memastikan dan Arya pun mengangguk.
__ADS_1
“Tapi kenapa Vino juga ikut di ajak? Bukankah jelas-jelas kalau batas toleransi Mas terhadapnya itu sangat tipis alias Mas tuh cemburu banget sama dia?” tanya Kania bingung.
“Ya mau bagaimana lagi, Kan. Dia jugalah yang memberikan saran agar kita menemanimu belanja hari ini,” sahut Arya.
“Oh. Jadi ini tuh bukan hasil pemikiranmu tapi melainkan hasil pemikiran Vino rupanya?!” gumam Kania kecewa namun dapat di dengar oleh Arya.
Arya spontan menghentikan langkahnya dan kemudian berkata, “Kan, kita ke suatu tempat dulu yuk.”
“Hah? Kita mau ke mana?” tanya Kania bingung.
“Pokoknya ikut aja yuk,” ajak Arya yang langsung menarik tangan Kania.
Dengan pasrah, Kania pun mengikuti langkah Arya yang menuntunnya.
Hingga kemudian mereka berada tiba di salah satu sudut pusat perbelanjaan itu. Di sana terlihat sangat sepi sehingga membuat Kania bertanya, “Mas, mau ngapain kita ke sini?”
Arya pun lagi-lagi hanya terdiam. Namun bedanya saat ini adalah dia langsung menyandarkan Kania ke dinding dengan ke dua tangan yang memegang ke dua bahu Kania.
Kania yang diperlakukan seperti ini pun bertanya, “Mas, mas mau ngapain? Ini tempat umum, Mas.”
‘Cup'
Dengan secepat kilat Arya pun mencium bibir Kania sekilas dan kemudian berkata, “Aku mau kasih kamu tanda hak milik dulu. Kalau gak, aku gak akan bisa tenang.”
“Hah?! Ta—tapi Mas,...”
Ucapan Kania langsung terpotong karena Arya langsung melanjutkan ciumannya kembali.
Dengan penuh dengan hasrat, ciuman Arya itu pun langsung menjalar ke jenjang leher Kania dan dengan sengaja Arya pun meninggalkan jejak di sana.
“Aw Mas,” pekik Kania.
Arya pun kemudian menyudahi ciumannya dan kemudian berkata, “Sepertinya udah cukup. Seperti ini aja dulu. Nanti di rumah kita lanjutkan lagi.”
“A—apa, Mas?” tanya Kania yang tangannya langsung ditarik oleh Arya.
Belum juga pertanyaan yang tadi ditanggapi oleh Arya, sambil memegangi lehernya yang tadi di kasih tanda oleh Arya, Kania sudah lagi-lagi bertanya, “Eh eh eh Mas, kita mau ke mana?”
“Kita cari syal buat menutupi lehermu,” sahut Arya.
__ADS_1
Bersambung...