
Saat di sekolah..
Kania yang benar-benar merasakan tubuhnya remuk ini pun dengan gontai berjalan menuju kelas dan di saat itu pula Vino melihatnya.
Dengan segera, Vino pun langsung menghampirinya.
“Kan!” ucapnya sambil menepuk pundak Kania tiba-tiba sehingga membuat Kania terkejut dan mengelus dadanya tanpa berkata apa-apa.
“Lo kenapa, Kan?” tanya Vino.
“Kenapa apanya?” tanya balik Kania.
“Itu.. kenapa kamu terlihat seperti lagi gak ada semangat kayak gitu?” tanya Vino lagi.
Sambil melanjutkan langkahnya, Kania pun menjawab, “Oh. Aku gak kenapa-kenapa. Hanya kurang tidur aja.”
“Kurang tidur?! Kenapa sampai bisa kurang tidur?” tanya Vino lagi.
Kania pun menghentikan langkahnya tiba-tiba dan kemudian berkata, “Sudah, Vin. Aku gak apa-apa. Aku mau cepat buru-buru ke kelas.”
Setelah itu pun Kania langsung meninggalkan Vino begitu saja tanpa menghiraukan respon seperti apa yang akan di berikan oleh Vino saat itu.
Sementara itu, Vino yang diperlukan oleh Nina seperti itu pun hanya bisa diam termangu menatapi punggung Kania yang semakin menjauh pergi.
***
Di dalam kelas...
Kania pun langsung duduk sambil menunduk dan Gylsa yang sudah datang terlebih dahulu ini pun memperhatikan gerak-gerik Kania.
“Kan, lo kenapa?” tanya Gylsa bingung.
Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menyahut, “Gue ngantuk banget, Gyl.”
“Kok bisa? Lo emang semalam habis begadang?” tanya Gylsa kepo.
Belum juga pertanyaan Gylsa sempat di jawab oleh Kania, tiba-tiba saja Davi datang dan bertanya, “Kan, gimana jadinya kemarin? Lo jadi belanja?”
Kania pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Emangnya ada apa, Dav?”
__ADS_1
“Gak ada apa-apa sih. Kalau begitu, kalau semua barang yang di perlukan sudah di beli, mulai besok berarti kita bisa langsung latihan,” ucap Davi.
Kania pun mengangguk dan kemudian berkata, “Semua barang yang sudah terbeli, sudah aku serahkan ke Pak Arya.”
“Lha kenapa harus di serahkan pada Pak Arya? Kenapa gak langsung di bawa saja ke sini supaya bisa di coba muat apa nggaknya?” tanya Davi bingung.
“Oh. Itu nanti yang membagikannya ke kita itu Pak Aryanya sendiri. Soal kenapa aku serahkan barangnya pada Pak Arya, itu karena Pak Aryanya sendiri yang meminta seperti itu,” jelas Kania yang membuat Davi pun akhirnya mengerti.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Davi yang diangguki oleh Kania.
Tak selang berapa lama kemudian, Arya pun masuk ke dalam kelas dengan membawa dua kantong berisi beberapa perlengkapan dan juga peralatan.
“Baik anak-anak. Saya akan memberikan kostum pada kalian hari ini. Harap di coba terlebih dahulu. Jika ada yang kebesaran bisa ditukar dengan yang kekecilan, ya. Saya akan menunggu di sini,” ucap Arya sambil memberikan bungkusan tersebut pada Davi dan Novi.
Setelah beberapa saat kemudian, kostum pun sudah terbagi semua dan kini mereka mencobanya.
Sedangkan Kania yang tidak ikut dalam penampilan ini pun hanya duduk sambil menopang dagu memperhatikan teman-temannya yang sedang heboh.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba muncul salah seorang siswa datang menemui Arya sambil berkata, “Pak, kok bajunya sudah robek seperti ini sih waktu aku mau pakai?
Arya pun langsung melihat ke arah Kania dan Kania pun hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya.
Dan di saat yang bersamaan, datang satu persatu siswa dan mengadukan hal yang sama seperti siswa yang sebelumnya membuat Arya pun langsung memijat keningnya.
“Sudah sudah. Sekarang cek satu per satu saja kostumnya dan sisihkan yang sudah robek dengan yang masih bagus,” ucap Arya yang kemudian dilakukan oleh para siswa tersebut.
Beruntung, saat dilakukan penyisihan kostum tersebut, hanya ada beberapa pakaian saja yang robek. Sementara untuk sebagian besar yang lain masih bagus. Jadinya semuanya masih dalam batas aman.
“Ya sudah kalau begitu, berhubung semuanya sudah kebagian kostum, besok kita akan memulai latihan. Saya harap semua bisa hadir dan melakukan persiapan dengan tugasnya masing-masing. Sekarang kalian boleh pulang dan istirahat lebih awal. Lalu untuk kamu, Kania. Kamu ke ruang guru dulu,” ucap Arya yang langsung pergi meninggalkan kelas.
Kania yang merasa namanya di sebut dan di panggil suruh ke ruang guru itu pun langsung mengambil tas dan kemudian berjalan membuntuti Arya.
Sementara itu, di saat yang bersamaan..
“Rasain lho. Emang enak?!” celetuk Novi lirih.
Di sepanjang perjalanan ke arah kantor, mereka hanya saling diam satu sama lain hingga akhirnya mereka sampai di ruangan guru.
“Mereka sudah mulai melakukan Rencananya padamu, Kan. Apa yang bakal kamu lakuin untuk membalas mereka?” tanya Arya saat sudah duduk di bangku kerjanya.
__ADS_1
Kania pun terdiam sambil menunduk. Dia sama sekali tidak fokus pada apa yang sedang dikatakan oleh Arya barusan.
Mendapati Kania hanya terdiam seperti ini, Arya pun langsung mengetukkan pulpennya di atas meja sambil berkata, “Kania?! Kamu dengar tidak apa yang barusan aku katakan?”
Kania pun langsung menatap Arya dan kemudian berkata, “Pak, aku boleh pulang gak? Aku ngantuk.”
Mendengar jawaban Kania, Arya pun langsung menepuk jidatnya dan kemudian berkata, “Tunggu di mobil.”
Arya pun memberikan kunci mobilnya pada Kania dan Kania langsung menerimanya lalu kemudian pergi.
Di saat yang bersamaan, telepon Arya pun berdering.
“Halo,” ucapnya.
“Tuan, di suruh pulang ke rumah Tuan Surya sekarang,” ucap Henry.
“Oh. Baiklah,” sahut Arya yang kemudian mengakhiri panggilannya dan kemudian menyusul Kania.
Kania yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil ini pun, dengan tanpa peduli, dia langsung memejamkan matanya tertidur.
Sementara itu, Arya yang baru saja menyusul masuk ke dalam mobil dan mendapati Kania tertidur pulas ini pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kemudian memakaikan sabuk pengaman pada Kania.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka pun sampai di rumah ayahnya Arya dan Kania yang dari awal berangkat hingga sampai pun masih belum bangun ini akhirnya dibangunkan oleh Arya.
Dengan sambil mengerjapkan matanya, Kania bertanya, “Sudah sampai ya?”
“Iya, tuan putri tidur. Sudah sampai. Ayo kita turun sekarang. Ayah sudah menunggu kita,” ucap Arya.
Kania yang tadinya belum begitu tersadar dari tidurnya ini pun tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar kata Ayah.
Sambil melotot dan melihat ke arah Arya, Kania pun berkata, “Tadi Mas bilang apa? Rumah siapa ini?”
“Rumah Ayahku, Kan. Beliau sudah menunggu kita,” ucap Arya.
“A—apa?! Tapi aku masih belum siap bertemu,” ucap Kania.
Arya pun tidak memedulikan ucapan Kania. Dia pun langsung turun dan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Kania lalu menariknya keluar sambil berkata, “Gak. Aku belum siaaaaaaap!!!”
Bersambung...
__ADS_1