The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Sedang bulan madu


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban Kania, panggilan pun langsung diakhiri sehingga membuat Kania menceletuk, “Dasar gak jelas.”


Di kediaman keluarga Aditya..


Orang yang tadi sudah menelepon Arya ini ternyata adalah Sintia. Dengan kesal Sintia pun langsung melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.


“Kesal.. kesal.. kesal..!” teriak Sintia.


Di saat sedang berteriak, tiba-tiba saja Mama Kiran masuk dan betapa terkejutnya dia mendengar Sintia seperti itu.


“Kamu kenapa, Sintia?” tanya Mama Kiran bingung.


Menyadari kehadiran Mamanya, Sintia dengan manja berkata, “Maaaaa, tadi aku telepon Arya. Tapi kenapa yang angkat perempuan dan dia juga mengaku kalau dia itu Istrinya. Maaaa, itu perempuan siapa sih kok berani-beraninya mengaku seperti itu?”


‘Deg’


Mendengar keluhan Sintia seperti itu, Mama Kiran pun bingung harus bagaimana menjelaskannya. Karena sebelum ini, Arya sudah memintanya untuk merahasiakannya dari Sintia demi melindungi Kania.


“Eeeeeh, masa’ sih!?” ucap Mama Kiran pura-pura terkejut.


Sintia pun mengangguk dan kemudian berkata, “Beneran, Ma. Masa’ aku bohong sih?”


“Bukan begitu, sayang. Hanya saja kita kan belum tahu yang sebenarnya. Bisa aja kan perempuan itu hanya iseng aja atau hanya bercanda aja sama kamu,” ucap Mama Kiran mencari alasan.


“Emang iya sih, Ma. Soalnya aku menelepon Aryanya pakai nomor baru,” ucap Sintia.


“Nah. Apalagi begitu. Sudah. Jangan marah-marah lagi ya,” ucap Mama Kiran yang kemudian diangguki oleh Sintia.


Setelah beberapa saat kemudian, Sintia teringat alasan Mamanya tiba-tiba saja datang.


“Oh ya, Ma. Mama ada apa ke sini?” tanya Sintia.


“Oh iya, hampir aja mama lupa. Itu, tadi kata Ayahmu kamu boleh ngadain pesta,” ucap Mama Kiran.


“Beneran kok Sin,” sahut Mama Kiran yang membuat suasana hati Sintia berubah.


“Ya sudah kalau begitu. Aku mau ke kantor Arya ah,” ucap Sintia yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Mama Kiran yang melihat anaknya hendak mencari Arya ini spontan langsung memanggil Sintia. Namun di saat itu, panggilannya justru tidak dihiraukan oleh Sintia.

__ADS_1


Mendapatkan respons seperti ini, Mama Kiran pun langsung menghela nafas panjang dan benar-benar tidak tahu bagaimana caranya supaya dia bisa membantu Arya mengubah masa lalu.


***


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, Arya yang sudah berbincang-bincang sebentar dengan Adi ini pun akhirnya kembali ke kamarnya.


Di kamar, dia menemukan Kania sedang asyik membaca sebuah buku majalah sehingga ia pun tidak ingin mengganggunya.


Namun berbeda dengan Kania. Kania yang sadar akan kedatangan Arya ini pun langsung menceletuk, “Sudah selesai ngobrolnya?”


“Hem,” sahut singkat Arya.


Setelah mengatakan hal tersebut, untuk beberapa saat mereka berdua terdiam sejenak dan kemudian berkata, “O ya, tadi ada cewek tuh yang menelepon mencarimu.”


Mendengar ucapan Kania itu, Arya pun langsung mengecek ponselnya dan dia benar-benar tidak tahu itu nomor siapa.


“Kan, tadi kamu tanya namanya gak?” tanya Arya yang khawatir kalau yang meneleponnya itu sekretarisnya.


Kania pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Aku tadi sih tanya. Tapi dia masa’ ngakunya itu tunanganmu.”


“Eeeeeee!? Ngaku tunanganku?” tanya Arya memastikan kalau dia tidak salah dengar.


Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung spontan tersenyum dan kemudian berkata, “Mantap. Bagus. Pintar.”


Mendapatkan respons seperti itu Kania pun langsung menggerutu, “Tapi setelah aku pikir-pikir, jawaban aku tadi itu jawaban bodoh. Kenapa juga aku harus mengakui kalau aku ini istrimu.”


Mendengar ucapan Kania, seketika Arya merasa sangat syok sekali. Dia benar-benar tidak habis pikir kalau istri yang sekarang itu merupakan istri yang kejam.


Di saat yang bersamaan ponsel Arya pun berdering dan itu ternyata dari Henry.


“Halo,” ucap Arya.


“Halo, Tuan. Tuan, kita ada sedikit masalah,” ucap Henry agak sedikit panik.


Arya yang mendengar ini pun menjadi merasa bingung dan akhirnya bertanya, “Sedikit masalah!? Maksudnya?”


“Itu, Tuan. Non Sintia tiba-tiba saja datang dan memaksa untuk bertemu dengan Tuan,” ucap Henry.


Arya yang mendengar ini pun kemudian bergumam, “Ternyata sesuai prediksi kalau dia datang di saat-saat ini.”

__ADS_1


Dan setelah bergumam seperti itu, Arya pun langsung berkata, “Hen, bilang aja ke dia kalau Aku sedang bulan madu dengan istriku. Tapi kamu jangan sampai menyebut nama Kania padanya.”


Mendapatkan perintah seperti itu dari Arya, Henry pun langsung berkata, “Baik, Tuan. Saya akan sampaikan sama seperti yang Tuan perintahkan.”


Setelah mengatakan hal itu, telepon pun diakhiri dan Arya pun langsung melihat ke arah Kania yang masih asyik dengan majalahnya.


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, sesuai dengan yang diperintahkan oleh Arya, Henry pun langsung berkata, “Maaf, Non Sintia. Tadi Tuan bilang kalau dia tidak bisa di ganggu karena dia saat ini sedang menikmati bulan madunya bersama istrinya.”


Mendengar hal itu, sontak membuat Sintia pun langsung menjadi syok dan kemudian bergumam, “Jadi perempuan yang tadi mengaku sebagai istrinya itu memang benar-benar istri Arya.”


Sambil terduduk di atas bangku yang ada di belakangnya, Sintia pun langsung bertanya, “Memangnya Arya sudah menikah? Kapan?”


Henry pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menjawab, “Maaf, Non. Aku gak berani bilang apa-apa soal masalah pribadi Tuan.”


Ingin rasanya Sintia marah setelah mendengar ucapan Henry seperti itu. Namun sebisa mungkin dia menahannya dan langsung memutuskan untuk pergi.


***


Setelah Sintia sampai di rumah, dia pun sudah tidak bisa membendung lagi rasa amarahnya dan juga kekesalannya.


Dengan emosi dia pun berteriak sehingga membuat Mama Kiran pun langsung mendatanginya.


“Sin, ada apa sih kamu teriak-teriak seperti ini?” tanya Mama Kiran.


Sintia yang melihat kehadiran Mama Kiran ini pun langsung berkata, “Ma, Arya Ma. Dia sudah menikah. Rupanya perempuan yang tadi mengaku istrinya ini memang benar-benar istrinya Arya.”


Mendengar ucapan Sintia seperti itu, Mama Kiran pun tidak dapat berkata apa-apa kecuali berucap, “Eeeeeeeh!?”


Sintia yang dalam keadaan marah ini pun tanpa memedulikan di sana sedang ada Mamanya ini pun langsung berkata, “Aku telat. Ternyata aku datangnya telat.”


Melihat putrinya seperti ini pun langsung mencoba menenangkan Sintia dengan berkata, “Sabar, Sin. Mungkin Arya bukan jodohmu. Kamu jangan seperti ini.”


“Ma, Mama gak tahu sih. Sebenarnya aku sudah menyukai Arya dari waktu aku SMP. Namun saat aku mengatakannya, dia bilang kalau aku harus sekolah dulu yang benar, baru setelah itu soal ini bisa dibicarakan lagi,” ucap Sintia yang membuat Mama Kiran terkejut namun juga bingung.


Di satu sisi itu adalah anak kandungnya dan di sisi lainnya adalah anak angkatnya. Keduanya kenapa bisa terlibat hubungan dengan Arya.


“Haissss..”


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2