The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Sintia kabur


__ADS_3

Setelah pulang dari acara reuni Arya dan teman-temannya, Sintia pun langsung melemparkan tasnya ke atas kasur.


Dia kesal karena Arya dan teman-temannya selalu membahas tentang perempuan yang katanya menjadi istri Arya itu.


Jika mengingat akan hal itu, Sintia pun bergumam, “Ngapain sih di omong-omong begitu? Ngapain juga tadi Arya pura-pura mesra-mesraan di telepon sama orang yang ngakunya Istrinya itu. Padahal kan udah jelas-jelas kalau Arya itu berbohong. Dia kan sama sekali belum nikah. Kenapa harus bilang ke semuanya kalau dia udah nikah sih!?”


Sintia pun kesal dengan sendirinya. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Arya menghadapi dirinya.


“Ar, kenapa kamu sekarang begini sih sama aku? Bukannya kita itu sama-sama saling suka!? Apa yang buat kamu berubah?” gumam Sintia.


Sintia yang tadinya terbaring ini tiba-tiba bangun dan duduk lalu kembali bergumam, “Gak, aku gak bisa begini. Pokoknya Arya harus bisa jadi suamiku kelak. Aku harus minta Papa agar menjodohkan kami.”


Setelah menggumam seperti itu, Sintia pun langsung pergi mencari Papa Aditya.


“Ma, Papa mana?” tanya Sintia.


“Papa lembur, sayang. Mungkin pulangnya agak malam,” sahut Mama Kiran.


“Yaaaaa.. jadi Papa lembur ya!? Padahal ada yang mau aku omongin sama Papa,” ucap Sintia kecewa.


Melihat anaknya seperti itu, Mama Kiran pun menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Emangnya kamu mau ngomong apa sama Papa? Nanti biar mama yang sampaikan.”


Sintia pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ma, tolong bilang ke Papa supaya mau menunangkan aku dengan Arya. Plis.”


‘Deg’


Mama Kiran tiba-tiba saja hatinya gelisah mendengar ucapan Sintia seperti itu.


“Sin, mama rasa lebih baik kamu gak usah lanjutkan keinginanmu itu deh,” ucap Mama Kiran.


“Kenapa?” tanya Sintia bingung.


“Sebab Papamu sepertinya gak bakalan setuju dengan permintaanmu tadi,” sahut Mama Kiran.


“Iya. Tapi kenapa, Ma? Kok Papa bisa sampai gak setuju,” tanya Sintia heran.


Mama Kiran pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Baiklah. Mama akan tetap sampaikan sama Papamu. Tapi kamu juga harus bersiap-siap jikalau beneran Papamu gak menyetujuinya.”


Sintia semakin merasa aneh dengan ucapan Mamanya. Dia benar-benar tidak tahu alasannya kenapa bisa sampai Papanya gak akan setuju seperti itu.


Di dalam kamar..


Suasana hati Sintia benar-benar kacau. Dia merasa kalau semua orang tidak mendukung dirinya mendapatkan kebahagiaannya. Dia benar-benar kesal.

__ADS_1


***


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda..


Kania yang melihat Arya pulang ini pun menyambutnya di luar dan ketika Arya turun dari mobil, Kania langsung menghampirinya dan bertanya, “Bagaimana tadi, Mas? Apa Sintia buat ulah?”


Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Semua baik-baik aja, Kan. Beruntung tadi teman-temanku membahas tentang kamu. Sehingga membuat Sintia tidak akan berani menunjukkan dirinya.”


“Syukurlah,...” sahut Kania, “eh, emangnya teman-temanmu bahas aku tentang apa? Jangan-jangan kalian menjelek-jelekkan aku ya?”


“Sembarangan,” ucap Arya sambil merangkul pinggang Kania dan membawanya masuk ke dalam.


***


Malam harinya, di kediaman keluarga Aditya..


Benar saja, malam itu Papa Aditya pulang malam. Terlalu banyaknya pekerjaan sehingga membuat Papa Aditya lembur hingga larut.


Sesampainya di rumah, Papa Aditya tidak bertemu dengan Sintia karena saat itu Sintia sudah tidur.


Sementara itu, Mama Kiran yang sedang menunggu Papa Aditya pulang ini pun masih terjaga hingga akhirnya Mama Kiran pun dapat bertemu dengan Papa Aditya.


Melihat istrinya belum tidur, Papa Aditya pun bertanya, “Ma, kenapa Mama belum tidur?”


Mama Kiran pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menjawabnya, “Pa, Sintia yang udah buat mama gak bisa tidur.”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Mama Kiran pun menceritakan semuanya. Hingga keesokan harinya...


“Pa, Papa gak kerja?” tanya Sintia.


Papa Aditya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak. Hari ini Papa ijin gak masuk. Soalnya ada yang harus papa selesaikan di rumah.”


“Oh,” sahut Sintia singkat.


“Ada apa, Sin?” tanya Papanya.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, untuk sejenak Sintia pun terdiam. Namun pada akhirnya dia pun bertanya, “Pa, aku boleh minta tolong gak?”


“Mau minta tolong apa?” tanya Papa Aditya pura-pura belum mengetahui apa-apa.


“Hmm, begini Pa. Pa, aku ingin Papa menunangkan aku dengan Arya. Apa Papa mau dan bisa?” tanya Sintia.


Untuk sesaat Papa Aditya pun terdiam dan kemudian berkata, “Sin, maaf. Itu gak mungkin.”

__ADS_1


Mendengar jawaban Papa Aditya, Sintia pun langsung bertanya, “Kenapa gak mungkin, Pa?”


“Karena Arya sudah menikah,” sahut Papa Aditya.


“Gak Pa. Itu semua bohong, Pa. Aku tahu itu. Itu semua gak benar,” ucap Sintia menampik kenyataan.


Papa Aditya pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Sin, itu semua benar adanya. Arya emang sudah menikah. Jadi Papa mohon, jangan lagi punya keinginan untuk menikah dengannya. Ok!?”


Mendengar ucapan Papanya, Sintia pun sontak merasa lemas. Dia benar-benar tidak menyangka kalau apa yang selama ini dia ketahui itu adalah benar.


Namun walau begitu, Sintia masih bersikeras menipu dirinya sendiri dan mengatakan kalau semuanya adalah bohong. Arya belumlah menikah. Apa yang dia dengar ini merupakan sebuah lelucon untuk mengerjai dirinya.


Sintia yang antara sadar dan tidak sadar dengan pikirannya ini pun langsung memutuskan untuk pergi begitu saja. Tanpa berpamitan, dia pun langsung pergi meninggalkan rumah.


Papa Aditya dan Mama Kiran yang melihat ini pun langsung kompak berteriak memanggil Sintia, namun sayangnya tidak dihiraukan oleh Sintia.


Awalnya Mama Kiran dan Papa Aditya menyangka kalau Sintia pergi tidak akan lama. Namun setelah ditunggu satu jam, dua jam bahkan hingga menyongsong malam pun Sintia masih belum juga pulang dan itu membuat Mama Kiran menjadi khawatir.


Dengan cemas, Mama Kiran pun berkata, “Pa, ini gimana? Udah malam begini kok Sintia belum juga pulang?”


Jangankan Mama Kiran, Papa Aditya pun sebenarnya khawatir dengan keadaan Sintia. Dia sangat cemas karena Sintia belum juga kembali.


Dengan menghela nafas panjang, Papa Aditya mencoba berkata, “Ma, kita coba tunggu sampai besok pagi. Jika besok pagi belum juga pulang, kita coba minta bantuan Arya dan Kania untuk mencarinya. Bagaimana?”


Dengan berat hati Mama Kiran pun akhirnya mengangguk dan kemudian berkata, “Ya udah kalau begitu, Pa. Mama bisa apa lagi selain hanya mengikuti saja. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Sintia di luar sana.”


“Aamiin, Ma. Semoga aja,” sahut Papa Aditya.


***


Keesokan harinya...


Benar saja Sintia tidak kunjung pulang semalaman. Itu semakin menambahkan rasa khawatir dalam diri Mama Kiran.


Sedangkan sesuai dengan ucapannya semalam, Papa Aditya pun langsung menghubungi Arya dan juga Kania agar segera datang.


Tak sampai menunggu hingga lama, Arya dan Kania pun akhirnya sampai di rumah Papa Aditya.


Melihat Kania datang, Mama Kiran pun langsung memeluk tubuh putri kandungnya tersebut dan berkata, “Kan, saudara angkatmu kabur.”


“Maksudnya?” tanya Arya yang mendengar ucapan Mama Kiran.


“Sintia Kabur, Ar. Setelah tahu akan kenyataan kalau kamu memang benar-benar sudah menikah,” jelas Papa Aditya.

__ADS_1


“Apaaaa!?”


Bersambung...


__ADS_2