
“Nov, maksud lo tuh apa sih?” tanya Kania.
“Eh, Kan. Mendingan lo jangan sok kecantikan deh. Pak Arya itu cuma sukanya sama gue. Jadi lo mendingan mundur aja deh,” ucap Novi.
“Eh?”
Kania sebenarnya sudah tahu akan terjadi hal ini. Namun di kehidupannya yang lalu...
\=\=Flash back On\=\=
Saat kejadian ini terjadi, Arya kebetulan lewat dan dia tidak membela Kania sama sekali. Sehingga membuat Novi dan kawan-kawannya semakin menjadi-jadi menindas Kania dan memberi pelajaran pada Kania.
\=\=Flash back Off\=\=
Di saat yang bersamaan, Arya lewat dan ini sama persis dengan kejadian yang lalu. Hanya saja...
“Ada apa ini?” tanya Arya yang melihat kejadian itu.
“Oh, Bapak. Gak kok Pak. Gak ada apa-apa. Ya kan, Kan?” ucap Novi meminta dukungan dari Kania.
Arya pun melihat ke arah Kania dan kemudian bertanya, “Apa benar itu, Kan?”
Di tanya seperti itu, Kania hanya diam saja. Soalnya mau bagaimana lagi. Kalau bilang tidak apa-apa, tentunya Arya yang jauh lebih jelas tahu dibandingkan siapa pun. Tapi kalau bilang ada apa-apa, berarti Kania niat menambah masalah.
Arya yang melihat Kania hanya diam saja ini pun berkata, “Kan, kenapa diam? Katakan aja apa adanya. Gak usah takut.”
Saat mendengar ucapan Arya seperti itu, dalam Kania pun menggerutu, “Mas sih enak bilang gak usah takut. Tapi kalau aku bilang ada apa-apa, bukannya itu akan nambah masalah aja.”
“Kan?!” ucap Arya yang lama-lama kesal.
“Oh. Iya, Pak. Gak ada apa-apa kok. Hehehe..” ucap Kania pada akhirnya.
Ada sedikit rasa kecewa di raut wajah Arya saat mendengar jawaban Kania.
“Oh ya sudah kalau begitu. Kalau emang gak ada apa-apa. Tapi ingat, kalau lain kali saya lihat ada hal seperti ini lagi, gak peduli kalian itu benar apa salah, kalian tetap dapat hukuman. Ok?! Nah, sekarang kalian cepat ke kelas masing-masing. Sebentar lagi masuk dan untuk kamu, Nov. Kamu ikut saya,” ucap Arya tegas.
“Baik Pak,” sahut mereka.
Namun di sisi lain, ada yang tersenyum bangga dan itu ditunjukkan di hadapan Kania.
Ya, dia adalah Novi. Karena dia merasa kalau Arya memanggilnya seperti itu berarti itu tandanya memang Arya lebih menyukai dirinya di bandingkan ke Kania.
Sementara itu, Kania yang melihat ekspresi wajah Arya ini pun menyipitkan mata. Dia merasa kalau Arya akan melakukan sesuatu pada Novi.
“Sudahlah. Biarkan saja. Suruh siapa buat ulah,” gumam Kania yang kemudian pergi ke kelas.
***
__ADS_1
Di dalam kantor guru...
Arya pun menatap lekat-lekat wajah Novi sehingga membuat Novi menjadi salah tingkah.
Di tengah-tengah salah tingkahnya Novi, Arya pun mengeluarkan ponselnya dan kemudian memutarkan sebuah rekaman percakapan.
Betapa terkejutnya Novi saat mendengar rekaman tersebut.
“Gimana, Nov? Masih tidak mau mengaku kalau kamu berniat membully Kania?” tanya Arya.
“Bu—bukan seperti itu, Pak. Itu hanya salah paham saja. Saya tidak bermaksud seperti itu Pak pada Kania,” jelas Novi.
“Oh benarkah?” tanya Arya dengan nada tidak percayanya.
Novi pun mengangguk-angguk kencang.
“Lalu kalau kamu memang tidak bermaksud seperti itu, lalu kenapa kamu menghadang jalannya Kania dan juga melarang dia dekat-dekat denganku?” tanya Arya.
“Hmm.. hmm.. itu,...”
Novi bingung bagaimana cara melanjutkan ucapannya.
“Itu apa?” tanya Arya lagi.
“I—itu.. saya melakukan itu karena saya gak mau rasa suka Bapak ke saya itu terbagi-bagi,” sahut Novi dengan penuh rasa percaya dirinya.
Saat mendengar ucapan Novi, ingin sekali Arya tertawa terbahak-bahak. Namun sebisa mungkin dia tahan karena dia harus tetap menjaga image nya sendiri.
Mendengar ucapan Arya, Membuat Novi sontak menjadi menangis lalu berlari. Sehingga membuat guru yang ada di ruangan itu pun bertanya, “Ada apa, Pak? Tadi dia kenapa?”
“Biasalah, Pak. Bocah. Belum dewasa dan pikirannya masih sempit,” sahut Arya santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Oh.”
Beberapa saat setelah itu, Kania yang sudah terlebih dahulu berada dalam kelas ini pun melihat Novi dengan wajah sembap berjalan masuk ke dalam kelas.
Dalam hati, Kania pun bergumam, “Banar-benar alurnya udah berubah. Entah ke depannya akan bisa jauh lebih baik atau malah lebih buruk.”
Dan sesaat setelah itu, bel masuk pun berbunyi. Pelajaran hari itu pun berjalan seperti biasanya hingga jam pulang pun tiba.
Kania yang enggan terlibat masalah lagi seperti tadi pagi ini pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa menunggu Arya.
Dengan ditemani oleh Gylsa dan Fiko, Kania pun menaiki kendaraan umum. Namun siapa sangka di tengah perjalanan, Gylsa tiba-tiba saja berkata, “Eh, Fik. Gimana kalau kita main ke rumah Kania dulu. Sekalian kita kerjakan tugas dari Pak Arya yang waktu itu.”
Seketika Kania pun menengok ke arah Gylsa dan juga Fiko. Ingin rasanya dia bilang tidak boleh, tapi dia bingung jika ditanya alasannya.
“Aduh. Gimana nih?...” gumam Kania dalam hati, “niatnya gak mau nambah masalah, tapi kenapa masalahnya malah nambah sendiri?”
__ADS_1
Dan di saat yang bersamaan...
“Boleh boleh boleh. Bener juga tuh. Kita sekalian aja mampir ke rumah Kania buat main sekaligus kerjain tugas. Gimana, Kan?” tanya Fiko dengan memasang wajah penuh harap.
Melihat wajah Fiko dan Gylsa yang seperti itu, Kania pun hanya bisa cengar-cengir bingung harus jawab apa.
Namun walau begitu, pada akhirnya Kania hanya bisa mengangguk dan itu saja sudah cukup membuat kedua temannya senang.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai juga di rumah Kania. Lebih tepatnya sih rumah Arya. Namun karena mereka tidak tahu akan hal itu, jadinya mereka menganggap rumah itu rumah Kania.
Sambil melihat-lihat sekeliling, Gylsa pun berkata, “Gila, Kan. Rumah lo bagus banget. Kaya rumahnya orang kaya tahu gak sih.”
“Hehehehe..” sahut Kania.
Padahal di dalam hatinya, dia bergumam, “Gimana gak bagus nih rumah, lha yang punya aja seorang CEO.”
“Eh, Kan. Ada kolam renangnya gak?” tanya Fiko kepo.
“Ada. Kenapa emangnya, Fik?” tanya Kania.
“Hmm.. boleh gak kapan-kapan kita berenang di sini?” ucap Fiko malu-malu.
“Eh?! Ya boleh lha. Kamu ini gimana?!” ucap Kania sambil tersenyum.
“Beneran, Kan?” tanya Gylsa memastikan.
“Beneran,” sahut Kania.
“Waaaah asyik banget,” ucap ceria Gylsa dan Fiko.
Dan di saat yang bersamaan terdengar suara mobil datang.
“Nah loh. Aku lupa,” gumam Kania yang masih bisa di dengar oleh Gylsa.
“Nah loh kenapa, Kan?” tanya Gylsa bingung.
Kania pun langsung menarik tangan ke dua temannya ini sambil berkata, “Gak ada apa-apa. Ayo kita ke ruang keluarga kalau begitu.”
Kania pun langsung cepat-cepat membawa kedua temannya itu dan kemudian berpesan kepada mereka agar jangan ke mana-mana dengan alasan takut mereka nyasar.
Walau terkesan agak sedikit janggal, tapi berhubung mereka hanya tamu jadinya mereka berdua pun menuruti Kania.
Sesaat setelah memastikan semuanya aman, dengan secepat kilat Kania langsung menemuinya Arya yang saat itu baru saja turun dari mobil.
Sedangkan Arya yang melihat Kania sudah ada di rumah ini pun langsung berkata, “Kan, kok kamu,...”
Mulut Arya langsung di tutup oleh tangan kanan Kania dan kemudian Kania berkata, “Mas, diam dulu. Nanti aku jelasin. Ayo kita cepetan ke kamar.”
__ADS_1
Kania langsung buru-buru menarik tangan Arya sehingga membuat Arya berkata, “Eh eh eh.”
Bersambung...