
Kania langsung buru-buru menarik tangan Arya sehingga membuat Arya berkata, “Eh eh eh.”
Saat berada di dalam kamar, Kania pun langsung melepaskan tangan Arya sambil berkata, “Mas, dirimu jangan keluar dulu ya.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun curiga. Sambil menyipitkan matanya, Arya pun bertanya, “Apa ada yang sedang kamu sembunyiin, Kan?”
Tanpa merasa takut sedikit pun, Kania pun mengangguk sehingga membuat Arya naik darah.
“Apa yang kamu sembunyiin, Kan?” tanya Arya.
“Mas,” sahut Kania singkat yang membuat Arya jadi semakin bingung.
“Maksud kamu apa sih, Kan? Aku yang kamu sembunyiin?” tanya Arya memastikan dan Kania pun mengangguk.
“Lha tapi kenapa aku kamu sembunyiin?” tanya Arya.
Kania pun langsung duduk di tepi tempat tidur dan kemudian berkata, “Mas, tadi tuh ceritanya aku pulang bareng Gylsa dan Fiko.”
“Terus?” tanya Arya.
“Terus gak tahu kenapa mereka tiba-tiba maksa buat main ke rumah. Ya aku jadinya bingung antara dibolehin apa gak,” jelas Kania.
“Lalu kalau lihat caramu seperti ini, berarti saat ini mereka jadi kamu bolehin ke sini?” tebak Arya dan Kania pun mengangguk.
“Ya udah. Gak apa-apa. Terus kenapa juga aku yang harus kamu sembunyiin kaya' gini? Ini kan rumahku,” ucap Arya bingung.
Kania pun langsung menatap wajah Arya dengan tatapan penuh harap sambil berkata, “Hiks hiks hiks.. Mas, pokoknya jangan keluar dulu ya sebelum mereka pulang. Kalau bisa sih, sebisa mungkin jangan sampai ketahuan mereka. Ya ya ya...”
“Alasannya dulu apa?” tanya Arya.
“Alasannya ya aku takut mereka bakalan tanya hubungan kita itu apa. Jadinya jangan sampai mereka lihat Mas ya,” ucap Kania.
Arya pun terdiam sebentar lalu kemudian menyahut, “Ya udah. Lihat nanti. Aku usahain tapi tetep aku gak bisa janji.”
Mendengar ucapan Arya, Kania pun langsung menunduk lesu.
“Ya udah deh.”
Kania pun langsung berjalan ke luar kamar. Sementara itu, Arya yang melihat tingkah Kania ini pun hanya menggelengkan kepalanya.
***
Di ruang keluarga..
__ADS_1
Gylsa yang merasa aneh dengan Kania yang belum juga muncul ini pun akhirnya berdiri dan melangkah mencari keberadaan Kania.
Sambil melangkahkan kaki yang sedikit mengendap-endap, Gylsa mencari Kania sambil sedikit berteriak, “Kan, lo di mana? Kan!”
Gylsa pun melangkahkan kaki semakin menjauhi ruang keluarga dan hampir ke arah kamar Kania.
Sedangkan di saat yang sama, Fiko lebih memilih duduk tenang sambil membuka-buka tugas yang diberikan Arya.
Sesaat kemudian, Kania pun datang dengan membawa camilan dan dia bingung kenapa hanya ada Fiko saja di ruangan itu.
“Fik, Gylsa mana?” tanya Kania.
Fiko pun mengangkat ke dua bahunya lalu kemudian berkata, “Tadi dia sih berjalan ke arah sana.”
Fiko pun lalu menunjuk ke sebuah arah yang mana arah itu menuju kamar Kania.
Spontan Kania langsung berkata, “Gawat.”
Dengan buru-buru, Kania pun langsung segera mencari Gylsa. Beruntung di saat yang tepat Kania langsung menepuk pundak Gylsa dan berkata, “Lo ngapain, Gyl?”
Karena tiba-tiba seperti itu, Gylsa pun terkejut lalu berkata, “Ah lo, Kan. Bikin kaget aja.”
“Lo ngapain?” tanya Kania mengulangi pertanyaannya.
“Gue gak habis dari mana-mana,...” sahut Kania, “Dah ah. Ayo kita ke Fiko. Kasihan dia sendirian.”
Gylsa pun mengangguk dan mereka pun pergi.
Sementara itu di saat yang bersamaan, Arya rupanya baru saja mau keluar dari kamar untuk mengambil makanan. Namun sebelum itu dia merasa mendengar suara Kania.
“Kok gak ada orang? Perasaan tadi jelas-jelas aku mendengar suara Kania. Apa aku yang salah dengar, ya!?” gumam Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.
Karena merasa salah dengar, Arya pun melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil makanan.
Di sisi lain, Kania yang hampir saja sampai di ruang keluarga ini pun melihat Fiko yang juga hendak pergi.
“Lo mau ke mana, Fik?” tanya Kania.
“Gue mau cari lo juga, Kan. Gue mau buang air kecil. Di mana ya toiletnya?” tanya Fiko.
“Oh toilet, ya?! Hmm, kamu lurus aja terus. Nah, kalau ada persimpangan, lo belok ke kanan ya,” ucap Kania mengarahkan.
“Oh. Ok ok ok. Ya udah. Gue ke toilet bentar ya,” pamit Fiko yang diangguki Kania.
__ADS_1
Tak selang berapa lama kemudian, tiba-tiba muncul di pikiran Kania kalau-kalau Arya ada di luar.
“Gawat,” celetuk Kania.
“Ada apa, Kan?” tanya Gylsa.
“Gue baru inget, tadi gue kasih arahan ke Fiko nya salah. Bisa-bisa nyasar dia,...” jelas Kania, “gue susul Fiko dulu ya, Gyl.”
Gylsa pun mengangguk dan dengan cepat, Kania pun melangkahkan kakinya menuju tempat Fiko berada.
Sementara itu di sisi lain...
“Aih, kok bingung ya. Tadi kan Kata Kania belok kanan. Tapi kenapa gak ada toilet di sini?! Apa gue yang salah inget ya?!” gumam Fiko.
Dan di saat yang bersamaan, pundak Fiko pun di tepuk oleh seseorang.
Mendapatkan tepukan seperti itu di pundaknya, Fiko pun spontan langsung menengok dan...
“Sori, Fik. Gue salah kasih arahan. Ya udah. Ayo. Gue anterin lo ke toilet,” ucap Kania yang diangguki oleh Fiko.
Fiko pun berjalan terlebih dahulu disusul Kania yang celingak-celinguk memastikan kalau Arya tidak ada di sana.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Kania pun merasa tenang. Pasalnya sekarang mereka sedang berkumpul dalam satu ruangan. Jadi tidak usah khawatir kalau-kalau akan bertemu Arya.
Sambil bersenda gurau, mereka pun mengerjakan tugas mereka. Tak jarang mereka pun membahas tentang guru-guru yang tidak begitu mereka suka. Di antaranya adalah Arya.
Dalam pembahasan soal Arya, Gylsa pun menceletuk, “Awalnya nih gue kira kalau Pak Arya itu guru baik yang gak nyusahin siswanya. Eh gak tahunya gue baru sadar kalau Pak Arya itu cukup ngeselin juga.”
“Iya, Gyl. Bukan cuma ngasih tugas yang gak kira-kira, tapi juga gue denger-denger katanya setiap dia keluarin hukuman itu juga gak tanggung-tanggung. Sampe bikin siswanya semedi gak keluar rumah,” timpal Fiko menambahkan.
“Gue baru tahu sekarang kenapa alasan lo benci Pak Arya, Kan,” sahut Gylsa.
Kania yang mendengarkan celotehan dan komentar teman-temannya tentang Arya ini pun hanya bisa cengar-cengir. Dia bingung apa dia harus senang atau kah sedih mendengarnya.
Tapi biarpun begitu, dia tetap berharap kalau Arya tidak mendengar obrolan mereka ini.
Sambil masih asyik membahas tentang Arya dan juga para siswi yang menjadi penggemarnya, tiba-tiba saja mereka di kejutkan oleh suara seseorang yang...
“Ehm. Rupanya kalian sangat mengagumi diri saya, ya?!”
Mendengar ucapan seperti itu, mereka yang semula asyik ini pun langsung terdiam. Ada rasa hawa dingin di tengkuk leher mereka. Dan ketika mereka menengok...
“Bapaaaaaak!!”
__ADS_1
Bersambung...