The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Kania koma


__ADS_3

“Dan untuk kamu, Kania. Ini kartu ATM khusus aku buatkan untukmu bermain bersama teman-temanmu. Pakailah berapa pun kamu mau,” ucap Arya yang langsung memberikan sebuah kartu ATM dengan nilai nominal 10 juta di dalamnya.


“Ha?!”


Kania sangat terkejut dengan sikap Arya yang sangat royal seperti itu. Belum juga Arya menanggapi respons Kania, Henry sudah terlebih dahulu berkata, “Ayo Nyonya. Kita pergi sekarang. Kasihan teman-teman Nyonya kalau harus menunggu lama di sekolah.”


Mendengar ucapan Henry yang sudah mengajaknya seperti itu, Kania pun langsung menyahut, “Oh iya iya. Sebentar.”


Kania pun langsung mengambil tas dan juga kartu ATM yang tadi diberikan Arya padanya.


Sebelum memutar tubuhnya, Kania pun berkata, “Baiklah. Kalau begitu aku akan puasin mainnya sampai lupa buat pulang. Lihat aja.”


Sesaat setelah itu, Kania pun langsung pergi bersama Henry.


Sementara itu, Arya yang mendengar ucapan Kania sebelum dia pergi ini pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian bergumam, “Lakukan semua yang mau kamu lakukan selama itu bisa membuatmu bahagia, Kania.”


***


Setelah beberapa saat, akhirnya Kania dan yang lainnya pun sudah berkumpul semuanya.


Dengan segera mereka langsung meminta Henry untuk langsung meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota.


Tak selang berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di tempat yang di tuju.


Tanpa menghiraukan Henry dan juga Fiko, Kania dan juga Gylsa pun langsung menikmati aktivitas belanjanya hari hingga tanpa terasa hari sudah sore.


Dengan hati riang, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan Henry dan juga Fiko yang bertugas membawa semua barang-barang belanjaan hingga ke halaman parkir.


Namun di sisi lain ternyata ada seseorang yang tidak sengaja menemukan keberadaan mereka. Dengan wajah penuh dendam, orang tersebut pun langsung menancap gas dan di saat orang yang ada di sekitar Kania lengah, tiba-tiba saja...


'Jedeeeer'


Dan sontak membuat Gylsa, Fiko dan juga Henry langsung menoleh ke arah sumber suara.


“Kania!!!”


Di saat yang bersamaan, ternyata ada Mama Kiran sedang ada di sana hendak pulang.

__ADS_1


Karena merasa mendengar teriakkan seseorang memanggil nama Kania, Mama Kiran pun langsung menghampiri dan betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan Kania.


“Ka—kania!...” ucap Mama Kiran yang juga ikutan berteriak, “kalian.. kalian cepat panggil ambulance.


“Udah Tante. Ambulance sedang dalam perjalanan menuju ke sini,” sahut Fiko.


Di saat yang bersamaan Henry pun segera mengabari Arya setelah memanggil ambulance.


Arya yang kala itu sedang mengerjakan pekerjaannya ini pun langsung berhenti dan kemudian langsung meluncur ke Rumah Sakit.


“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Arya sesaat setelah sampai di depan ruang Operasi.


“Belum tahu, Tuan. Dokter sedang memeriksanya di dalam,” sahut Henry.


“Ya sudah. Sekarang coba kamu selidiki, siapa yang sudah dengan sengaja melakukan ini pada Nyonya,” perintah Arya.


“Baik Tuan,” sahut Henry yang kemudian langsung pergi.


Tak selang berapa lama kemudian, Dokter pun keluar dan kemudian berkata, “Di antara kalian, apakah ada yang bergolongan darah O?”


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, sontak membuat orang yang ada di sana pun langsung saling menatap satu sama lainnya dan di saat yang bersamaan, Mama Kiran yang ternyata juga ada di sana pun langsung berkata, “Saya, Dok. Saya bergolongan darah O.”


Sementara itu, Arya, Gylsa dan juga Fiko menunggu dengan harap-harap cemas.


Setengah jam, satu jam, hingga dua jam lamanya mereka berada di dalam sehingga membuat Arya sangat gelisah.


“Kania, kamu jangan pergi lagi. Aku mohon. Kita masih belum menyelesaikan jalan cerita di kehidupan kita yang sekarang. Kamu gak boleh nyerah. Kamu harus bertahan,” gumam Arya dalam hati sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Tak selang berapa lama kemudian, Mama Kiran pun keluar dan kemudian duduk mendekati Arya.


“Ar, apa Tante boleh meminta ijin padamu untuk melakukan tes DNA terhadap istrimu?” ucap Mama Kiran lirih.


“Maksud Tante?”


Arya sangat bingung dengan maksud ucapan Mama Kiran.


“Begini, Arya. Sebenarnya Sintia bukanlah anak kandung tante. Dia hanyalah anak yang tante adopsi dari panti asuhan. Sedangkan anak Tante sendiri telah menghilang. Tante dan Om sudah mencarinya ke mana-mana, tapi selalu gagal. Dan saat ini, secara kebetulan, Kania memiliki golongan darah yang seperti anak kandung Tante. Jadi, tante hanya ingin memastikan apakah Kania adalah anak tante atau bukan,” jelas Mama Kiran.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Mama Kiran, tiba-tiba saja Arya teringat tentang cerita yang pernah di katakan oleh Ayahnya waktu itu.


Dengan berpikir ulang, Arya pun menyadari kalau semua itu bisa saja ada kemungkinan.


“Baik, Tante. Lakukan saja tes DNA yang tente inginkan. Namun sebelum itu aku berpesan pada Tante, jika emang ternyata Kania adalah putri Tante yang telah lama hilang, tolong untuk sementara rahasiakan dulu dari semuanya. Apakah Tante bersedia?” ucap Arya.


Mendengar ucapan Arya, Mama Kiran pun merasa heran dan kemudian bertanya, “Kenapa harus dirahasiakan terlebih dahulu, Ar? Emangnya ada apa?”


“Nanti, Tante. Nanti akan aku jelaskan kalau keadaan Kania sudah berhasil membaik dan situasi udah mulai terkendali,” sahut Arya yang membuat Mama Kiran menjadi sangat tanda tanya.


Tak selang berapa lama kemudian, Dokter pun keluar dan mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar namun kondisi Kania saat ini sedang dalam keadaan koma. Hanya tinggal menunggu seberapa besar keinginan Kania untuk kembali.


Arya yang mendengar ini pun langsung terduduk lemas dengan ditemani Fiko yang ada di sebelahnya.


Sementara itu, entah mengapa tiba-tiba saja Mama Kiran merasakan kesedihan yang mendalam dan menangis sambil di peluk oleh Gylsa yang kala itu juga ikut bersedih.


***


Beberapa waktu telah berlalu dan Kania pun sekarang sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Hanya Arya yang bersikeras untuk menjaga Kania saat itu. Sedangkan untuk Mama Kiran, Gylsa dan juga Fiko, mereka bertiga memutuskan untuk kembali.


“Kania, bangun sayang. Jangan biarkan aku hidup di Dunia ini sendirian,” gumam Arya lirih sambil memegang tangan Kania.


Sementara itu di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ponsel Arya pun berdering.


“Halo,” ucap Arya.


Setelah beberapa saat kemudian...


“Apa?!”


***


Keesokan harinya, Arya yang tidak percaya dengan keluarganya Kania karena masa lalu kehidupan mereka ini pun akhirnya meminta tolong agar Gylsa dan juga Fiko datang untuk menjaga Kania.


Sementara itu, Arya yang setelah mendapatkan kabar mengenai pelaku penabrakan terhadap Kania ini pun langsung menuju kantor untuk melihat sendiri bukti berupa rekaman CCTV yang terpasang di area parkir yang sudah didapatkan oleh Henry.


Setelah beberapa saat menyaksikan rekaman tersebut, Arya pun langsung mengepalkan tangannya dan memukulnya ke atas meja kerjanya sambil berkata, “Sial!”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2