
Keesokan paginya, saat Kania terbangun, dia merasakan tubuhnya sakit semua. Dia benar-benar tidak menyangka kalau apa yang selama ini dia pertahankan harus terjadi lagi.
“Benar-benar laki-laki yang susah buat dihindari,” gumam Kania dalam hati sambil menaruh pergelangan tangannya di atas keningnya.
Menyadari kalau Kania sudah terbangun, Arya pun langsung berkata, “Pagi.”
Kania yang di sapa seperti itu oleh Arya pun sangat enggan sekali menjawab. Dia justru mengubah posisinya sehingga membelakangi Arya.
Arya yang diperlakukan seperti ini oleh Kania pun langsung menghela nafas panjang. Sikap Kania yang semalam sempat melunak, tiba-tiba saja harus kembali seperti semula lagi sehingga membuat Arya benar-benar sedih.
Dan sesaat kemudian, tiba-tiba saja Kania berkata, “Sebisa mungkin kita pulang secepatnya atau pesankan aku kamar satu lagi.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung berkata, “Kan, kenapa kamu masih saja seperti ini terhadapku? Kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu untukku?”
Mendengar pertanyaan Arya, Kania tidak menyahut sama sekali. Dia justru diam-diam menyembunyikan tangisnya.
Walau tidak direspons oleh Kania, Arya pun tetap pada pendiriannya. Dia akan terima semuanya bagaimana pun sikap Kania terhadap dirinya.
Arya yang selalu saja menghela nafas panjang ketika menghadapi Kania yang seperti ini pun akhirnya berkata, “Kan, aku gak mau menuruti ucapanmu. Aku masih ingin sekali bisa menaklukkan hatimu yang beku.”
Kania pun terdiam mendengar ucapan Arya. Dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi cara memberitahu ke Arya agar supaya mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu.
Setelah beberapa saat kemudian, Arya seketika teringat kejadian di kehidupannya yang lalu saat mereka melakukan hal ini. Saat itu Kania saat itu sangat susah sekali berdiri.
Dengan inisiatif, Arya pun langsung bangun terlebih dahulu dan membuatkan Kania segelas susu.
Setelah beberapa saat kemudian...
“Kan, bangunlah,” pinta Arya yang duduk di dekatnya.
Kania yang tidak punya cara lain untuk membantah ini pun langsung duduk dan melihat ada segelas air susu di tangan Arya.
“Untuk siapa segelas susu itu?” tanya Kania.
“Untukmu. Minumlah. Aku tahu kamu pasti sedang merasa lemas sekarang,” ucap Arya sambil tersenyum.
Melihat sikap Arya yang penuh perhatian dan juga ternyata masih mengingat kejadian di masa kehidupannya yang lalu ini membuat Kania seketika menunduk termenung sambil melihat gelas yang tadi diberikan Arya padanya.
Sementara itu, Arya yang melihat ini pun menjadi heran sekaligus bingung dan kemudian bertanya, “Kamu kenapa, Kan?”
Kania pun lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Arya sehingga membuat Arya menjadi benar-benar bingung dan penasaran sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Kania.
__ADS_1
Tapi walau dirinya bingung dan juga penasaran, Arya tetap tidak mau memaksa Kania untuk menjawab pertanyaannya.
“Ya sudah. Kalau kamu tidak mau menjawabnya aku gak akan memaksa. Sekarang cepatlah minum susunya. Takut keburu dingin. Aku mau mandi dulu,” ucap Arya yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan Kania.
Kania yang melihat Arya melangkah menjauh pergi ini pun bergumam, “Apakah aku harus lagi-lagi mencoba menerimanya seperti dulu? Apakah jika aku menerimamu kembali seperti dulu, jalan akhir kisah kita ada jaminan bisa berubah dan gak akan sama seperti dulu?”
Setelah bergumam seperti itu, Kania pun langsung meminum segelas susu yang ada pegangannya.
***
Siang harinya, Kania tanpa meminta persetujuan dari Arya yang saat itu sedang serius dengan laptopnya ini pun memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian.
Saat dia sedang berjalan-jalan seperti ini, Kania pun di sapa oleh salah satu penumpang kapal.
“Kok sendirian aja?” tanya seorang laki-laki dari arah belakang.
Merasa ada yang bertanya padanya, Kania pun langsung menengok ke arah orang tersebut dan bertanya, “Maaf. Kakak ini sedang bicara sama aku?”
Laki-laki itu pun mengangguk sambil tersenyum lalu kembali bertanya, “Kenapa kamu sendirian?”
Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menjawab, “Aku gak sendirian. Aku ada di kapal ini dengan seseorang.”
“Hmm, dia sedang sibuk dengan laptopnya. Karena aku bosan, jadinya aku putusin untuk jalan-jalan,” jelas Kania.
“Oh jadi begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu. Aku temani kamu berkeliling, mau gak?” tanya laki-laki tersebut dan Kania pun mengangguk sambil tersenyum.
Di perjalanan berkeliling, mereka pun akhirnya sama-sama saling berkenalan satu dengan lainnya. Sehingga Kania pun jadi tahu kalau laki-laki yang sedang berjalan bersamanya itu bernama Adi dan dia berada di kapal ini karena sudah memiliki janji dengan teman lamanya.
Setelah mengobrol asyik dengan Adi, Kania jadi tahu kalau mereka berdua memiliki hobi yang sama dan juga sifat yang sama. Sehingga Kania merasa sangat nyaman sekali saat mengobrol dengan Adi.
“Hmm... Oh iya, Kak Adi. Kakak berjalan bersamaku seperti ini, apakah pacar Kakak gak akan cemburu?” tanya Kania.
“Haissss... Siapa pula yang punya pacar. Aku belum punya pacar, Kan. Justru aku tuh yang mengkhawatirkan kamu,” ucap Adi.
“Mengkhawatirkan aku!? Kenapa?” tanya Kania.
Mendengar Kania bertanya seperti itu, Adi pun langsung menghentikan langkahnya dan kemudian menjawab, “Aku khawatir kalau pacarmu akan marah padaku.”
Dan di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ada seseorang yang dari belakang menyahut, “Bukan pacar, tapi suami.”
Mendengar seseorang mengatakan seperti itu, sontak membuat Kania dan juga Adi langsung menengok ke arah sumber suara.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka, khususnya Kania saat mengetahui kalau yang tadi menceletuk seperti itu adalah Arya.
Arya pun langsung berjalan mendekati Kania dan merangkul pinggangnya ini pun kemudian berkata, “Di, lo bukannya ngehubungi gue, eh malah asyik-asyikkan sama istri gue di sini. Dasar playboy cap kadal.”
“Eeeeeeeh.. jadi Kania ini istri lo, Ar?” tanya Adi terkejut yang kemudian diangguki oleh Arya.
“Lha!? Gue mana tahu kalau Kania istri lo. Kania juga gak ada sebut nama lo sih tadi,” ucap Adi sambil melirik ke arah Kania.
“Hem,...” sahut Kania, “Kakak juga gak tanya soal itu. Jadi ngapain juga bahas tentang Pak Arya.”
Kania pun langsung melepaskan pinggangnya dari rangkulan tangan Arya dan kemudian pergi.
Adi yang melihat sikap Kania berubah drastis ini pun langsung bertanya, “Ar, Kania kenapa?”
Arya yang sebenarnya tahu sebenarnya ada apa dengan Kania ini pun lebih memilih untuk menjawab, “Tidak apa-apa. Dia hanya tidak ingin mengganggu kita aja.”
“Benarkah?” selidik Adi yang kemudian diangguki oleh Arya.
“Sudahlah. Ayo kita bahas masalah kita sendiri,” ajak Arya yang langsung merangkul bahu teman lamanya itu.
“Memangnya kita ada masalah apa sampai harus dibahas segala!?”
***
Sementara itu di saat yang bersamaan, Kania yang sudah berada di dalam kamar ini pun tiba-tiba saja mendengar suara dering ponsel milik Arya.
Karena takut kalau panggilan tersebut penting, Kania pun langsung mengangkatnya.
“Halo,” sapa Kania.
“Ini siapa?” tanya seseorang yang terdengar seperti seorang suara wanita itu to the point.
“Lha ini siapa?” tanya Kania ganti.
“Aku tunangannya,” sahut wanita tersebut.
Mendengar jawaban wanita tersebut seperti itu, Kania pun langsung juga berkata, “Kalau kamu tunangannya, maka aku istrinya.”
Setelah mendengar jawaban Kania, panggilan pun langsung diakhiri sehingga membuat Kania menceletuk, “Dasar gak jelas.”
Bersambung...
__ADS_1