The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Keras kepalanya Vino


__ADS_3

Sudah tiba satu jam dari waktu yang di tentukan. Mereka pun akhirnya berkumpul kembali di tempat yang semula.


Kania dan Arya yang sebenarnya tidak mencari ini pun berpura-pura datang terlambat. Sementara itu, Gylsa dan Vino sudah datang terlebih dahulu.


“Gyl, kenapa mereka belum juga datang?” tanya Vino yang mulai khawatir dengan Kania.


“Biarin aja, Vin. Nanti juga mereka nongol,” sahut Gylsa santai.


Walau sudah di jawab seperti itu oleh Gylsa, tapi tetap saja dalam hati Vino, dia merasa gelisah.


Gylsa yang melihat Vino seperti ini pun bertanya, “Lo kenapa, Vin? Kenapa sikap lo kaya' orang lagi gak tenang gitu?”


Tanpa memikirkan jawabannya, Vino pun spontan langsung menyahut, “Gue kepikiran Kania, Gyl.”


“Lha ngapain juga lo kepikiran Kania?! Dia kan lagi sama Pak Arya, guru kita sendiri,” ucap Gylsa.


“Ah lo, Gyl. Lo kan tahu kalau gue sayang ma Kania. Jadi wajar lha kalau gue kepikiran dia,” ucap Vino.


“Haisss..” gumam Gylsa.


Tak selang berapa lama kemudian, Arya dan Kania pun akhirnya datang. Namun saat itu, ada yang berubah dengan penampilan Kania dan ini disadari oleh Vino.


“Kan, kenapa di cuaca seperti ini, lo pakai syal?” tanya Vino.


Dengan sedikit gagap, Kania pun menjawab, “Hmm, ini. Tadi saat gue ma Pak Arya lagi keliling, tiba-tiba aja gue lihat dan suka ma syal ini. Jadinya gue putusin buat beli deh. Hehehe...”


Tampak terlihat dari wajah Vino yang sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Kania.


“Sudah sudah. Bagaimana? Apa kalian menemukan tempat yang kita cari?” tanya Arya mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Pak, sepertinya memang benar kalau barang yang mau kita beli itu gak di jual di sini,” ucap Gylsa.

__ADS_1


“Oh begitu. Ya sudah kalau begitu. Kita akan cari di tempat lain aja,” ucap Arya yang kemudian diangguki oleh mereka bertiga.


Sesaat setelah itu, tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka pun akhirnya langsung bergegas menuju ke tempat lainnya.


Arya yang sebenarnya sudah menyuruh Henry untuk mencari dan membeli semua itu pun hanya memanfaatkan situasi agar dirinya dapat merasakan bagaimana rasanya berjalan-jalan dengan anak sekolahan. Terutama Kania.


Sementara itu, Vino yang dari tadi merasa curiga dengan Kania ini pun selalu saja menatap tajam ke arah syal Kania.


Dia sangat tidak percaya kalau hanya itu alasan yang sebenarnya yang diucapkan oleh Kania tadi.


Tak selang berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di sebuah pasar tradisional.


Dengan segera, mereka pun langsung turun dari mobil dan sementara itu, Arya langsung mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.


Saat Arya sudah pergi dan Gylsa yang sedang menengok-nengok mencari tempat yang menjual barang yang mereka butuhkan, Vino pun langsung menarik tangan Kania dengan cepat sehingga Gylsa yang ada di sana pun tidak menyadari kalau Kania dan Vino sudah tidak ada di dekatnya.


Sementara itu, Kania yang di tarik tangannya ini pun langsung mencoba menahan langkahnya sambil bertanya, “Lo ini apaan sih, Vin? Lo kenapa tarik-tarik gue kaya’ begini?”


Tanpa menjawab pertanyaan Kania, Vino pun langsung melepaskan syal yang Kania pakai. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada bekas tanda ciuman di leher Kania.


Kania pun langsung membenarkan kembali syal yang dia gunakan dan kemudian menjawab, “Ini bukan urusan lo, Vin.”


“Oh. Bukan urusan gue? Iya? Gimana bisa jadi bukan urusan gue, Kan? Lo kan tahu kalau gue itu suka sama lo dan gue gak suka lihat lo di giniiin ma cowok lain,” bentak Vino.


Kania pun hanya terdiam sejenak lalu kemudian berkata, “Vin, ada orang yang udah gue cintai. Gue sangat gak mungkin buat terima lo. Jadi gue harap, plis, jangan terusin perasaan lo ke gue itu ya.”


Vino yang mendengar itu pun mendadak menjadi lemas. Dia sama sekali tidak habis pikir kalau teman masa kecilnya kini sudah memiliki orang lain selain dia untuk berada di dekatnya.


“Gak. Gue gak mau nyerah. Gue bakalan rebut lo balik dari tangan cowok itu,” ucap Vino kekeh.


Kania yang mendengar ucapan Vino ini pun benar-benar tidak tahu harus bagaimana cara menjelaskannya supaya Vino bisa mengerti.

__ADS_1


Namun di saat yang bersamaan,...


“Vin, lo ini ya! Mau bawa Kania gak bilang-bilang dulu. Kaya’ main rahasia-rahasiaan aja kalian berdua ini,” protes Gylsa yang akhirnya menemukan Kania dan juga Vino.


Baik Kania mau pun Vino, raut wajah mereka berdua tampak tidak terlalu baik. Mereka berdua sama-sama berwajah marah dan kesal sehingga membuat Gylsa pun bertanya, “Kalian kenapa? Apa kalian lagi ada masalah?”


“Gyl, lo tahu gak kalau ternyata ada orang lain yang telah melakukan sesuatu di leher Kania,” ucap Vino dengan nada emosi.


Gylsa yang mendengar ucapan Vino ini pun langsung melihat ke arah Kania dan Kania yang dilihat pun tiba-tiba menunjukkan ekspresi tidak bersahabat.


“Aih. Beginilah kalau nekat buat orang jadi curiga,” gumam Gylsa dalam hati yang sebenarnya sangat mengerti kira-kira apa dan siapa yang melakukan itu pada Kania.


“Hmm, Vin. Lo kenapa kelihatannya marah banget gini sih?! Kan biarin aja kalau Kania mau bagaimana. Toh dia sudah dewasa dan tahu baik buruknya,” ucap Gylsa mencoba meredam amarah Vino.


“Ya gak bisa gitu lha, Gyl. Gue tuh gak suka aja kalau lihat ada orang yang bakalan rebut Kania dari sisi gue,” ucap Vino.


Gylsa yang mendengar ini pun langsung menatap ke arah Kania yang kala itu sedang kesal.


“Aih, Vin. Lo sepertinya emang harus tahu kalau Kania lo ini emang udah di rebut oleh seseorang dan lo udah gak akan punya kesempatan lagi buat ngerebut balik Kania,” ucap Gylsa.


Vino yang mendengar ini pun sontak bertambah kesal. Siapa sebenarnya orang yang sudah berani merebut Kania tersebut.


“Vin, gue mohon. Kalau lo emang sayang sama gue, lo pastinya bakalan biarin gue bahagia dengan orang yang gue pilih, bukan?” tanya Kania.


“Gak. Gue tetep gak bisa terima ini. Gue bakalan rebut lo balik Kan,” ucap Vino kekeh.


Dan di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja...


“Benarkah? Lalu bagaimana caramu menerima kenyataan kalau sebenarnya Kania ini sudah menikah dan menjadi istri orang lain?” ucap Arya yang spontan membuat Kania, Gylsa dan juga Vino pun langsung menengok ke arah Arya.


Dengan refleks, Kania pun langsung menepuk jidatnya dan Gylsa yang ada di situ pun langsung mencubit kecil lengan tangan Kania.

__ADS_1


“Maksud Bapak apa?”


Bersambung...


__ADS_2