
Sesaat setelah mereka membahas soal itu, seseorang pun datang dan langsung berkata, “Hai Kania, lama gak ketemu ya?”
Kania pun langsung menengok ke arah sumber suara dan di saat itu dia melihat sosok Sintia sedang berdiri di samping tempat Kania duduk.
Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, Kania pun menyahut, “Iya. Udah lumayan lama juga kita gak ketemu.”
Ke duanya sama-sama saling melempar senyum dan setelah itu Sintia pun semakin mendekat ke arah Kania lalu berbisik, “Kali ini aku datang untuk mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”
Setelah mengatakan hal itu, Sintia pun menepuk pundak Kania dan kemudian pergi.
Sementara itu, sesaat setelah Sintia pergi, Gylsa pun langsung mendekat ke arah Kania lalu bertanya, “Lo kenal sama anak tadi?”
Kania pun mengangguk lalu berkata, “Dia adalah orang yang mencintai Pak Arya jauh sebelum Pak Arya bertemu denganku.”
Mendengar hal itu dari Kania, Gylsa pun langsung terkejut.
“Apakah ini yang dinamakan saingan cinta?” gumam Gylsa dalam hati.
Dan setelah itu..
“Lalu sekarang, apa rencana lo?” tanya Gylsa.
Kania pun menggelengkan kepalanya lalu menyahut, “Gue masih belum tahu.”
Kania pun langsung memandang jauh ke arah luar jendela. Dalam hatinya bergumam, “Setelah semuanya berubah, jalan cerita seperti apa yang akan aku lalui bersama Mas Arya?”
Bel masuk pun berbunyi. Seluruh siswa yang semula berisik pun akhirnya kembali ke tempat duduk masing-masing.
Begitu pula Gylsa yang langsung duduk di belakang Kania.
Dengan selalu memperhatikan punggung Kania, Gylsa merasa kalau perempuan yang ada di hadapannya ini akan mendapatkan masalah ke depannya.
“Kania oh Kania.. sabar ya. Gue dan Fiko akan selalu ada buat lo,” gumam Gylsa dalam hati.
Kelas pun di mulai dan hari itu pun seperti biasa dilalui dengan cepat. Hingga akhirnya jam pulang pun tak terasa tiba.
Kania yang masih belum tahu apakah Arya bisa menjemput dirinya atau kah tidak ini pun hanya bisa berjalan lesu menuju gerbang sekolah.
Saat dirinya hampir saja sampai di pintu gerbang, tiba-tiba saja dia melihat sosok seorang perempuan yang sangat dia kenal sedang mengobrol bahagia dengan Henry yang kala itu rupanya di perintahkan Arya untuk menjemputnya.
__ADS_1
Belum juga Kania mendekat ke arah mereka, mereka sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan Kania yang kala itu sedang memperhatikan mereka.
***
Di dalam ruangan Arya..
Arya yang saat itu sedang sibuk menangani masalah yang sedang terjadi di kantornya ini pun tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Sintia di kantornya.
Dia tidak mengerti kenapa Sintia bisa sampai ada di ruangannya saat ini.
Dengan segera dia pun menelepon Henry.
“Hen, bisa kamu jelaskan kenapa dia bisa ada di sini,” ucap Arya to the point.
“Maaf, Tuan. Non Sintia tadi mengancam saya kalau dia akan mencoreng nama baik Non Kania di sekolah jika detik tadi saya tidak langsung membawanya ke kantor,” jelas Henry.
“Baik. Kamu lanjutkan pekerjaanmu,” ucap Arya yang kemudian langsung menutup teleponnya.
Sesaat setelah menutup teleponnya, Arya pun langsung menatap tajam ke arah Sintia yang kala itu langsung duduk di hadapannya.
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Sin?” tanya Arya to the point.
“Kamu sudah gila, Sin. Aku gak akan mungkin melepaskan Kania sampai kapan pun juga. Cam kan itu!” ucap Arya dengan penuh penekanan.
“Kenapa? Apa bagusnya dia di bandingkan aku? Aku yang sudah mengenalmu terlebih dahulu, tapi kenapa kamu malah lebih memilih dia yang gak jelas asal-usulnya itu,” ucap Sintia.
Arya yang mendengar ucapan Sintia seperti itu pun mendadak darahnya mendidih dan emosinya pun memuncak.
“Cukup Sintia! Aku tidak tahu keberanian dari mana kamu bisa mengatakan semua itu, tapi aku tidak akan pernah menyukaimu terlepas dari ada atau tidaknya Kania saat ini,” ucap Arya kesal.
“Ar, sekarang kamu bisa bilang kalau kamu tidak akan pernah menyukaiku itu karena kamu tidak memberikan kesempatan kepadaku. Jika kamu mau memberikan aku kesempatan, aku jamin kamu pasti akan menyukaiku. Lagi pula, aku melakukan ini semua karena aku ingin mempertahankan hubungan kita yang sudah lama terjalin,” ucap Sintia panjang kali lebar.
Mendengar ucapan Sintia, lagi-lagi menambah rasa kekesalan Arya.
“Omong kosong! Emangnya ada hubungan apa antara kita selama ini hah?! Dengar ya, Sin. Kamu itu hanya orang lain dan Kania itu istriku. Walau apa pun yang akan kamu lakukan, itu tidak akan mempengaruhi hubunganku dengan Kania karena dia itu istri sah ku. Jadi jangan harap kamu bisa masuk seenaknya seperti itu ke dalam hubungan kami berdua,” sahut Arya tegas.
“Baik. Aku akan ingat ucapanmu hari ini. Jangan salahkan aku jika akan berbuat nekat,” ancam Sintia dan kemudian pergi begitu saja.
Entah apa maksud kata berbuat nekat yang Sintia ucapkan tadi. Tapi yang pasti di saat Sintia sudah pergi, Arya pun memandangi foto Kania sambil bergumam, “Jalan cerita masa lalu memang berubah dan mungkin jalan cerita yang baru akan menanti kita. Tapi jika hal itu terjadi, aku tidak peduli. Aku akan tetap menjagamu.”
__ADS_1
***
Sore harinya di rumah Arya..
Kania yang sedari siang selalu teringat dengan kejadian tadi siang pun suasana hatinya menjadi badmood.
Antara kesal dan benci pun menjadi satu. Dia sungguh tidak dapat berpikir jernih setelah kejadian itu.
Hingga akhirnya Arya pun pulang. Dengan segera dia pun langsung mengunci pintu kamarnya dan berharap hari itu dia tidak akan bertemu dengan Arya.
Arya yang telah lelah setelah seharian bekerja ini pun langsung masuk dan mencari Kania.
Diketuknya pintu kamar dan dicobanya untuk membuka pintu kamar tersebut, namun ternyata dikunci oleh Kania.
Mendapati hal ini, Arya pun berteriak, “Buka pintunya sayang. Aku mau masuk.”
Namun sayangnya tidak dapat respons dari Kania.
Mengetahui hal ini, Arya pun lagi-lagi berteriak, “Maaf Kania. Aku tahu kamu marah padaku karena tidak bisa menjemputmu. Tapi bukannya aku sudah menyuruh Henry untuk menggantikan aku?”
Masih saja tidak mendapatkan respons dari Kania.
Mendapatkan respons seperti ini, Arya pun langsung pergi dan sesaat kemudian kembali untuk membuka pintu kamar tersebut dengan menggunakan kunci duplikat.
Saat pintu kamar terbuka, dengan segera Arya pun langsung melangkah mendekati Kania yang saat itu sedang duduk bersandar di atas tempat tidur sambil memeluk guling.
“Kan, kamu marah?” tanya Arya lembut.
Kania masih saja diam.
“Kan, tolong jangan seperti ini. Katakan sesuatu supaya aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” pinta Arya.
Kania yang semula menunduk ini pun langsung melihat ke arah Arya dengan tatapan tajam dan mata yang merah akibat menangis.
Arya yang melihat keadaan Kania seperti itu pun spontan merasa hatinya seperti teriris pisau. Sangat perih.
Dan di waktu yang sama, Kania pun berkata, “Kenapa Mas tega lakuin ini ke aku? Bukannya Mas bilang akan buat aku jatuh cinta sama Mas, tapi sekarang apa. Mas lebih mementingkan cewek lain di bandingkan aku.”
“Ha?!”
__ADS_1
Bersambung..