The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Akhirnya


__ADS_3

Setelah terkejut dengan apa yang Gylsa dengar, Gylsa pun melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat Arya dan Adi berada.


Arya yang tahu kalau Istrinya itu akan kembali pun hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk duduk di tempatnya tadi.


Sementara itu, Adi yang sadar kalau Gylsa juga kembali bersama Kania ini pun langsung menunduk sehingga membuat Kania pun berkata, “Haisss.. Gyls, lo duduklah.”


Gylsa pun akhirnya duduk dan di saat yang bersamaan, kaki Kania menyenggol kaki Arya sehingga membuat Arya terkejut namun setelah itu paham.


“Baiklah kalau begitu. Kami berdua gak akan mengganggu kalian lagi. Jadi kalian bicarakan baik-baik ya. Jangan main kabur-kaburan lagi. Oh ya satu lagi. Sebelum berkata dan memutuskan, lebih baik pikirkan dulu. Ok!?” pesan Arya sambil menepuk pundak Adi dan kemudian langsung menggandeng tangan Kania.


Setelah beberapa saat menjauh, Kania pun bertanya, “Apa gak apa-apa kita tinggalin kaya' begini!?”


Arya pun mengangkat kedua bahunya dan kemudian berkata, “Biarkan saja. Mereka sudah besar. Lebih baik kita jalan-jalan aja sebelum besok balik.”


Kania pun mengangguk dan kemudian mereka pun memulai perjalanannya mengelilingi kapal.


Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan minta tolong sehingga membuat Arya dan Kania pun langsung mendatangi arah sumber suara.


“Ada apa, Bu?” tanya Kania pada seorang wanita paruh baya yang tadi sedang berteriak minta tolong.


“I—itu, Mbak. Anak Ibu barusan jatuh ke laut,” sahut ibu tersebut.


“Apa!?” teriak Kania dan juga Arya berbarengan.


Dan tanpa berpikir panjang, Arya pun langsung loncat ke laut tanpa meminta ijin dulu pada Kania.


“Pak!” panggil Kania.


Sama halnya dengan ibu tadi, kini Kania pun ikut berteriak meminta tolong pada siapa pun yang ada di sana.


Hingga sesaat kemudian ada beberapa orang memutuskan untuk turun mencari dengan menggunakan perahu kecil yang disediakan kapal.


Dengan harap-harap cemas, Kania pun berdoa semoga Arya dapat ditemukan dalam keadaan selamat.


Karena mungkin merasa ada keramaian, Adi dan Gylsa pun datang melihat.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat Kania sedang menangis.

__ADS_1


“Ada apa, Kan?” tanya Gylsa.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Gylsa, Kania pun langsung memeluk tubuh Gylsa sehingga membuat Gylsa bingung.


Sementara itu, Adi yang merasa ada yang tidak beres ini pun akhirnya bertanya pada orang yang juga berada di sana tentang ada apa sebenarnya terjadi.


Setelah beberapa saat kemudian, betapa syoknya Adi mendengar jawaban yang diberikan oleh orang tersebut.


Sambil melihat ke arah Kania yang saat itu sedang menangis, Adi pun bergumam, “Ar, sungguh bodohnya diri lo. Kenapa bisa-bisanya lo loncat begitu aja ke laut.”


Adi pun akhirnya mengelus-elus punggung Kania yang kala itu sedang memeluk Gylsa sambil berkata, “Kan, kamu jangan panik dan sedih ya. Mudah-mudahan Arya bisa selamat dan kembali muncul di hadapan kita.”


Mendengar hal itu, Gylsa pun langsung melihat ke arah Adi dan berkata, “Jadi Pak Arya,...”


Adi pun mengangguk dan kemudian menatap ke arah laut lepas.


Setelah hampir satu jam lamanya orang-orang itu mencari, hingga akhirnya terdengar ada suara orang dari kapal kecil berteriak, “Ketemu!”


Mendengar kata ketemu ini, seketika Kania pun langsung memastikannya apakah yang di maksud ketemu itu sudah menemukan anak itu atau Arya atau keduanya.


Sambil terus fokus memperhatikan, Kania pun bergumam, “Pak, di kehidupan ini, jangan dirimu yang ninggalin aku duluan. Kita jangan sampai berpisah seperti yang sudah-sudah dengan cara menyedihkan seperti yang lalu. Pak, aku mohon. Kembali lah.”


Untungnya, anak kecil tersebut masih hidup dan bisa di selamatkan.


Sekarang Kania tinggal menunggu Arya. Apakah dia juga kembali dengan anak itu ataukah tidak.


Setelah beberapa saat menunggu dan semua orang pun sudah pergi, Kania masih belum juga bertemu dengan Arya.


Sehingga membuat Kania berpikir kalau telah terjadi hal yang tidak-tidak dengan Arya.


“Pak, aku mohon. Muncullah Pak. Aku gak mau berpisah lagi. Benar-benar aku gak mau seperti hidup kita yang dulu. Aku gak mau, Pak. Aku gak mau,” ucap Kania lirih.


Di saat sedang merasa putus asa seperti itu, tiba-tiba saja...


“Kania!? Apa kamu benar-benar Kania yang selama ini aku kenal?” tanya seseorang dari arah belakang Kania.


Merasa mengenali suaranya, Kania pun langsung menengok dan kemudian setelah tahu siapa orang tersebut, Kania pun langsung berlari dan memeluk orang yang tak lain dan tak bukan adalah Arya, suaminya.

__ADS_1


“Iya, BaMasSay. Aku Kaniamu yang dulu. Aku ingat semuanya,” sahut Kania sambil menangis sesenggukan.


Mengetahui hal itu, Arya pun langsung membalas pelukan Kania. Dengan erat dia memeluk tubuh istrinya itu seakan tidak ingin lagi lepas.


“Kan, akhirnya. Akhirnya aku sekarang bisa lega. Karena aku, aku diberi kesempatan lagi untuk bisa menyayangimu,” ucap Arya lirih yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Adi dan Gylsa yang menyaksikan momen ini pun tanpa sadar ikut meneteskan air matanya walau mereka tidak tahu jalan cerita yang sebenarnya seperti apa.


Setelah merasa puas memeluk istrinya, Arya pun bertanya, “Ja—jadi sejak kapan kamu kembali mengingat semuanya?”


“Sejak terlahir kembali,” sahut Kania.


“A—apa!? Itu artinya selama ini kamu tidak lupa ingatan?” tanya Arya memastikan.


Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Maaf, Mas. Aku melakukan itu karena aku khawatir jika kita kembali bersama, kita bakalan berpisah seperti yang sudah-sudah dan aku sangat takut akan hal itu. Jadinya aku pikir, walau kita tidak bisa bersama, paling tidak kita bisa saling melihat satu dengan lainnya.”


Mendengar jawaban Istrinya itu, Arya pun spontan menyentil kening Kania sambil berkata, “Dasar bodoh. Walau kamu mau berulah seperti apa pun, aku pasti tidak akan mundur. Aku akan terus berusaha menangkapmu bagaimana pun caranya.”


Mendengar hal itu, Kania pun langsung menceletuk, “Berarti akan jadi usaha yang sia-sia donk buat aku!?”


Arya pun mengangguk sambil tersenyum dan kemudian berkata, “Maka dari itu, jangan lakukan hal yang sia-sia seperti itu lagi ya. Karena itu akan percuma. Ok!?”


Kania pun mengangguk sambil tersenyum.


Sementara itu di saat yang bersamaan,...


“Ehm.”


Terdengar suara berdehem sehingga membuat Arya dan Kania pun menengok.


“Kalian ini ya. Benar-benar deh. Dunia udah dianggap seperti milik berdua, sedang yang lain ngontrak,” protes Adi.


“Heleh.. kaya’ sendirinya nggak,” ucap Arya sambil melirik ke arah Gylsa sehingga membuat Gylsa pun tertunduk malu.


Melihat itu, spontan mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak dan ditengah-tengah tawa tersebut, Arya pun berbisik, “Malam ini aku akan menghukummu. Bersiap-siaplah.”


“Maaaaaaaas!!!!”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2