
Kania yang mendapati situasi seperti ini pun langsung berkata, “Sori, Vin. Sepertinya lo jangan banyak berharap deh. Soalnya gue gak mau pacaran.”
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja...
“Ehm.”
Terdengar suara seseorang berdehem, membuat seluruh siswa yang entah sejak kapan sudah datang ini seketika diam.
Begitu pula dengan Vino yang notabene-nya bukan berasal dari kelas tersebut itu pun otomatis langsung pergi.
Sementara itu, Kania yang setelah tahu siapa yang sudah datang ini pun tiba-tiba merasakan aura negatif yang terpancar dari wajah orang tersebut.
Ya, dia adalah Arya yang telah membuat semuanya spontan langsung terdiam.
“Baik. Hari ini kita adakan ujian dadakan. Harap semua bukunya dikumpulkan di meja guru. Kalian bisa mengambilnya kembali saat kalian mengumpulkan lembar jawaban ujian kalian,...” ucap Arya, “O ya satu lagi. Jika kalian mendapatkan nilai di bawah 6, maka kalian harus menerima hukuman sepulang sekolah berupa mengerjakan soal-soal yang serupa sampai benar semua.”
Seluruh siswa yang ada di dalam kelas tersebut, termasuk juga Kania, mereka semua langsung menelan ludah. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Arya memiliki sisi seperti ini.
Namun apa mau di kata. Mereka hanya bisa pasrah dengan takdir mereka hari itu. Hingga saat waktu ujian pun terasa berjalan sangat lambat dan membuat mereka merasa penat.
Sama halnya dengan siswa yang lain. Kania pun merasakan hal yang sama. Namun bukan hanya itu, dia juga merasa kalau apa yang dilakukan oleh Arya ini merupakan bentuk dari rasa marah terhadap dirinya.
“Hadeuh,” gumam Kania saat di tengah-tengah mengerjakan soal.
Dan kini, satu jam telah berlalu dan waktu yang ditentukan untuk menyelesaikan ujian pun hampir selesai. Dapat terlihat dengan jelas rasa khawatir di wajah para siswa yang ada di kelas itu.
Mereka cemas karena membayangkan jikalau nilai mereka sangat buruk dan harus menerima hukuman.
Tapi lagi-lagi mereka harus pasrah dan hanya bisa percaya pada diri sendiri.
“Ya. Waktunya udah selesai. Sekarang kalian kumpulkan lalu ambil buku kalian lagi,” ucap Arya tiba-tiba.
Dengan lesu, seluruh siswa pun menyerahkan lembar jawaban mereka dan kemudian mengambil kembali buku mereka.
Begitu pula Kania. Namun saat giliran Kania yang menaruh lembar jawaban dan juga mengambil kembali bukunya, Arya langsung membuang muka dan ini membuat Kania semakin yakin kalau Arya sedang marah dengannya.
__ADS_1
Setelah mengambil kembali bukunya, Kania pun langsung duduk dan kemudian bergumam lirih, “Baiklah. Terserah dirimu saja lha. Lanjutin aja kalau emang marah terus seperti itu. Aku sebodo amat.”
***
Tak terasa waktu pulang pun tiba. Vino yang entah sejak kapan ada di depan kelas Kania ini ternyata menunggu Kania untuk mengajaknya pulang bersama.
Namun lagi dan lagi, Kania yang terkejut dengan sosok Vino di depan pintu ini pun akhirnya berkata, “Lo ngapain di sini?”
“Gue mau ajak lo pulang bareng, Kan,” sahut Vino.
“Aduh,” batin Kania yang tidak langsung menjawabnya.
“Kan, halo.. gimana? Lo mau gak pulang bareng gue?” tanya Vino.
Dan di saat yang bersamaan, Arya yang melihat ini pun langsung datang menghampiri Kania dan kemudian berkata, “Kan, ke ruang guru sekarang.”
Setelah mengatakan hal itu, Arya pun langsung pergi mendahului Kania.
Sementara itu, Kania yang di tinggalkan ini dalam hatinya, “Nah kan.. begini lagi kan?”
“Hmm, Vin. Sori. Gue enggak bisa pulang bareng lo. Tuh, lo kan tadi dengar sendiri kalau gue di panggil suruh ke ruang guru sekarang,” ucap Kania setelah itu.
Kania yang mendengar ucapan Vino ini pun lagi-lagi dalam hatinya bergumam, “Aduh ni cowok. Plis deh. Jangan bikin masalah buat aku.”
Melihat Kania diam saja, Vino pun lalu berkata, “Kan, gimana? Gue tunggu lo aja kalau gitu ya?”
“Hmm, Vin. Jangan tungguin gue deh. Soalnya gue gak tahu bakalan lama atau gak di sana,” ucap Kania yang mengharapkan Vino menyerah.
“Gak apa-apa. Gue bakalan tetep tunggu sampai lo selesai. Ok?!” ucap Vino kekeh.
“What?!” teriak Kania dalam hati saat mendengar respons Vino.
Dan setelah itu,..
“Ya udah. Terserah lo aja deh kalau begitu. Yang penting gue udah kasih tahu,...” ucap Kania, “dah ya. Gue tinggal ke ruang guru dulu.”
__ADS_1
Vino pun mengangguk dan kemudian Kania pun langsung bergegas menyusul Arya ke ruang guru.
Belum juga Kania sampai di depan ruang guru, tiba-tiba saja tangan Kania ada yang menarik.
Di bawanya Kania ke halaman belakang sekolah. Tepatnya di bawah pohon yang biasa tempat Kania madol saat jam pelajaran.
Sesaat setelah sampai, tangan Kania pun di lepas dan yang menarik tangan Kania pun berbalik badan lalu Bertanya, “Kan, kamu kenapa sih gak pernah mau menuruti ucapanku?”
Ya. Dia lah Arya. Yang sudah menarik tangan Kania dan langsung protes.
Kania yang melihat wajah marah Arya ini pun langsung duduk santai dan bersender di pohon besar kesayangannya itu.
“Mas, atas dasar apa Mas bilang kalau aku gak pernah mau nurutin ucapanmu?” tanya Kania sambil menatap lurus ke depan.
Arya yang masih tetap berdiri sambil melihat ke arah Kania ini pun menyahut, “Tadi pagi apa? Lalu barusan itu apa?”
Kania pun terdiam. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Arya yang sekarang jauh lebih mengesalkan jika di bandingkan dengan Arya yang waktu dulu.
Arya yang melihat Kania hanya terdiam ini pun kemudian kembali berkata, “Kan, kenapa diam aja? Jawab Kan, jawab!”
“Mas, Mas itu mau jawaban seperti apa dari aku?! Bukannya aku bilang, dia itu hanya teman masa kecilku aja. Kami berdua tidak ada hubungan apa-apa,” jelas Kania.
“Itu kamu. Dia? Belum tentu dia sama sepertimu yang beranggapan seperti itu,” ucap Arya.
Mendengar ucapan Arya, Kania pun menarik nafas panjang dan kemudian bertanya, “Mas, di kehidupan ini, Mas itu berumur berapa sih? Kenapa sikapmu itu benar-benar ngalahin anak SMP yang emosinya selalu di duluin kalau lagi cemburu?!”
Mendapat ucapan seperti itu dari Kania, Arya pun langsung menyahut, “Ini bukan soal umur, Kan. Aku begini karena rasa takutku akan kehilangan dirimu.”
“Dasar posesif,” celetuk Kania.
Arya yang mendengar celetukan Kania ini pun lagi-lagi langsung menyahut, “Iya. Mungkin aku benar-benar posesif. Tapi aku posesif terhadap istriku sendiri dan bukannya terhadap istri orang lain. Apa aku salah?”
Kania pun terdiam mendengar ucapan Arya. Sebenarnya dia bisa mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Arya padanya. Namun walau seperti itu, dia tetap merasa kalau posesifnya Arya ini menunjukkan kalau Arya tidak mempercayainya sebagai seorang istri.
“Kan, kenapa kamu lagi-lagi diam begini?” tanya Arya saat melihat Kania yang terdiam.
__ADS_1
“Mas. Ok. Aku jujur. Sebenarnya tadi pagi Vino nembak aku di depan Gylsa dan juga Fiko. Hanya saja udah langsung aku tolak. Dan barusan sebenarnya dia ingin mengajakku pulang bareng. Tapi lagi-lagi juga udah aku tolak dan dia pun masih tetap kekeh mau tungguin aku. Nah kalau udah begitu, apa itu juga termasuk salah aku yang kelihatan gak nurutin mau Mas?”
Bersambung...