The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Ternyata memang


__ADS_3

Setelah beberapa saat menyaksikan rekaman tersebut, Arya pun langsung mengepalkan tangannya dan memukulnya ke atas meja kerjanya sambil berkata, “Sial!”


Kemudian di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Henry memberikan kabar kalau keuangan perusahaan mengalami kerugian hingga ratusan miliar.


Mendengar hal ini, Arya pun langsung merasa syok. Di satu sisi dia melihat keadaan Kania yang sedang koma dan di sisi lain, perusahaannya tiba-tiba mengalami krisis.


“Kenapa masih bisa seperti ini? Padahal aku sudah berhati-hati namun keadaannya tetap gak jauh beda dari keadaan di kehidupan yang lalu,” gumamnya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Dan dengan kondisi Kania yang masih koma, Arya pun datang untuk menjenguknya dan mendapati Mama Kiran sedang duduk menunggu di sebelahnya.


“Tante, udah lama di sini?” tanya Arya.


Mama Kiran pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Barusan, Ar.”


“Oh,” sahut Arya singkat.


“Oh iya, Al. Hasil DNA yang kemarin tante lakukan udah keluar barusan,” ucap Mama Kiran.


“Benarkah itu, Tan?” tanya Arya dan Mama Kiran pun mengangguk.


“Lalu bagaimana hasilnya, Tan?” tanya Arya.


“Hasilnya positif, Ar. Kania memang anak tante yang sudah lama sekali hilang,” jelas Mama Kiran.


Mendengar jawaban Mama Kiran, Arya pun menjadi sangat terkejut sekali. Tapi di sisi lain, Arya juga merasa senang atas Kania.


“Syukurlah, Tan. Kania kalau tahu soal ini, dia pasti sangat senang mendengarnya,” ucap Arya yang kemudian melihat ke arah Kania yang sedang terbaring.


Di saat yang bersamaan tiba-tiba saja mendapatkan sebuah panggilan telepon.


“Halo,” ucapnya.


Entah apa yang di ucapkan orang yang ada di seberang telepon. Tapi yang pasti, dari raut wajah Arya yang terlihat oleh Mama Kiran adalah, sebuah ekspresi yang menunjukkan bahwa dirinya sedang ada masalah.


“Ada apa, Ar?” tanya Mama Kiran sesaat setelah Arya menyudahi teleponnya.


Arya pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ini, Tan. Aku sedang ada beberapa masalah di kantor.”


“Masalah? Coba ceritakan. Siapa tahu tante bisa bantu kamu,” ucap Mama Kiran menawarkan bantuan.


“Oh gak usah, Tante. Biar aku yang mengatasinya sendiri. Tante cukup tolong jaga Kania saja selama aku gak ada di sini,” ucap Arya.

__ADS_1


“Oh begitu. Ya sudah kalau begitu. Kamu gak usah khawatir,” ucap Mama Kiran yang tidak mau memaksa Arya untuk mau bercerita.


“Terima kasih, Tante. Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Arya.


“Iya. Hati-hati Ar,” pesan Mama Kiran yang kemudian diangguki oleh Arya.


***


Sesampainya Arya di kantor, Arya pun langsung meminta Henry untuk memberikan semua rincian laporan keuangan dan dalam waktu kurang dari setengah jam, laporan tersebut sudah sampai di tangan Arya.


Tanpa mengulur waktu, Arya pun langsung mengecek data laporan yang sudah diberikan oleh Henry.


Setelah beberapa saat kemudian,...


“Hen, kenapa dari data ini, kita bisa banyak ke lolosan seperti ini? Apakah data pembelian yang waktu itu aku suruh cek, sudah dicek semua?”


“Sudah Tuan. Memang seperti yang sudah Tuan katakan kalau Direktur perusahaan Buana Cakra telah berani memberikan data tidak benar pada kita. Dan sesuai dengan yang Tuan perintahkan waktu itu bahwa kita sementara mengikuti alur yang mereka mainkan terlebih dahulu,” jelas Henry.


“Iya. Memang benar aku memerintahkan seperti itu, tapi kenapa bisa sampai kelolosan data hingga ratusan miliar seperti ini?” tanya Arya yang tiba-tiba menjadi emosi.


Henry pun terdiam sejenak dan kemudian dia berkata, “Tuan, aku ingat sekarang. Saat itu memang sepertinya data yang kemarin kita terima itu hanya sebagian saja. Untuk selebihnya mereka tidak mengeluarkan secara keseluruhan.”


“Maksudnya?” tanya Arya dan akhirnya Henry pun menjelaskan semuanya.


“Kenapa kamu gak memberi tahukan hal ini lebih cepat?” tanya Arya.


“Maaf, Tuan. Aku juga baru tahunya barusan saja ketika semuanya sudah terlanjur seperti ini,” sahut Henry.


Arya pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Baiklah. Coba kamu panggil pihak terkait dan kita akan buat mereka mengakui semuanya saat diam-diam kita rekam.”


“Baik Tuan,” ucap Henry yang kemudian bergegas memanggil orang yang bersangkutan.


***


Malam harinya, setelah masalah di kantornya sudah bisa dia atasi, Arya pun langsung datang melihat kondisi Kania.


Sesampainya dia di Rumah Sakit, Arya masih mendapati Mama Kiran berada di sana.


“Maaf, Tante. Aku tadi lama,” ucap Arya.


“Gak apa-apa, Ar. Bagaimana masalahmu di kantor? Apakah udah bisa teratasi?” tanya Mama Kiran.

__ADS_1


Arya pun mengangguk dan kemudian berkata, “Sudah, Tante. Semua sudah bisa diatasi. Hanya saja saat ini ada yang mau aku sampaikan pada Tante.”


“Apa itu, Ar?” tanya Mama Kiran.


Alvaro pun terdiam sejenak. Dia memikirkan sebaiknya bagaimana cara yang bagus untuk menyampaikannya.


“Hmm, begini Tan. Mengenai orang yang telah mencelakai Kania itu. Aku menemukan ternyata dia adalah,...”


Alvaro pun menghentikan ucapannya sehingga membuat Mama Kiran pun penasaran.


“Siapa Ar, yang telah melakukan hal seperti pada anak Tante?” tanya Mama Kiran.


“Hmm, Tan. Tapi maaf sebelumnya karena apa yang akan aku katakan ini adalah berdasarkan bukti CCTV yang aku dapatkan,” ucap Arya.


“Iya, Ar. Katakan aja siapa orang tersebut,” ucap Mama Kiran.


Alvaro pun lagi-lagi terdiam sebentar dan kemudian menjawab, “Dia adalah Sintia, Tan.”


Bagaikan disambar petir, Mama Kiran yang mendengar kabar tersebut pun langsung syok dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gak. Gak mungkin, Ar. Mana mungkin Sintia melakukan hal itu?!” ucap Mama Kiran tidak percaya.


“Iya, Tan. Ini buktinya kalau Tante tidak percaya,” ucap Arya yang langsung memperlihatkan bukti rekaman tersebut yang sudah di pindahkan ke ponselnya.


Mama Kiran pun langsung melihat isi rekaman tersebut dan betapa terkejutnya dia saat melihat kejadian yang sebenarnya saat itu.


Setelah mengetahui tentang hal itu, Mama Kiran pun langsung hendak pulang.


“Tan, mau ke mana?” tanya Arya.


“Tante mau membuat perhitungan dengan anak tidak tahu diuntung itu. Coba kamu kirimkan ke tante bukti rekaman tersebut, supaya Om mu juga bisa melihat anak angkat kesayangannya sudah melakukan hal keji pada anaknya sendiri,” ucap Mama Kiran penuh amarah.


“Tapi Tan,...” ucap Arya ragu.


“Udah berikan saja buktinya,” ucap Mama Kiran tegas.


“Baik Tante,” ucap Arya yang kemudian langsung mengirimkan rekaman tersebut pada Mama Kiran.


Dan di saat yang bersamaan, rupanya Sintia sedang ada di luar sedang memantau keadaan Kania. Sehingga dia tidak sengaja mendengar kalau dirinya hanya anak angkat dan Kania yang merupakan anak kandung orang yang sudah dia anggap orang tua kandungnya sendiri selama ini.


“Kania, kamu sudah mengambil Arya dariku dan kini kamu juga akan mengambil orang tuaku. Lihat saja nanti. Aku akan buat agar kamu tidak bisa mendapatkan semuanya.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2