
“Ya dirimu lha. Siapa lagi. Dirimu kan seperti Tante-tante girang. Berani-beraninya deketin suami orang. Kaya’ gak ada laki-laki lainnya aja,” ucap Kania tak kalah ketus.
“A—apa kamu bilang!?”
“Heleh. Masih gak mau ngakuin juga,” celetuk sinis Kania yang di lihat oleh Arya sehingga Arya pun tersenyum menikmati raut wajah Kania yang sedang tersulut emosi.
Di saat yang bersamaan, datang seorang pria yang langsung bertanya, “Ini ada apa kok ribut-ribut?”
Kania yang sadar dengan kehadiran pria tersebut pun lalu bertanya, “Bapak ini siapa?”
“Oh. Saya suaminya,” sahut pria tersebut.
“Wah, kebetulan sekali Bapak datang. Coba tolong disiplinkan istrinya ya, Pak. Jangan sampai berniat menggoda suami orang lagi,” ucap sewot Kania.
Mendengar ucapan Kania, Pria tersebut pun langsung bertanya, “Apa barusan tadi kamu bilang? Istri saya menggoda suami orang?”
Kania pun mengangguk dan wanita yang tadi marah-marah ini pun seketika merasa ketakutan dan kemudian berkata, “Gak, Pa. Dia gadis pembohong. Jangan dengarkan ucapannya.”
“Oh benarkah aku bohong!? Ok. Akan aku buktikan,...” ucap Kania, “yang, mana rekamannya?”
‘Deg'
Saat itu Arya terkejut. Kania tahu dari mana kalau dirinya diam-diam merekam.
Merasa Arya sangat lamban, Kania pun langsung kembali berkata, “Yang, mana!?”
Dengan ragu Arya pun langsung memberikan ponselnya dan oleh Kania pun langsung di putarkan rekaman tersebut.
Setelah beberapa saat mendengar, Pria tersebut pun langsung marah dan menarik lengan istrinya menjauh dari Arya dan juga Kania.
Sementara itu, Arya yang sudah berdua dengan Kania ini pun langsung bertanya, “Kan, kamu kenapa bisa tahu kalau aku diam-diam merekam ucapan wanita tadi?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kania yang kala itu berdiri membelakangi Arya ini pun dalam hatinya bergumam, “Aduh. Sial. Kenapa kelepasan lagi sih!?”
Dengan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian sambil tersenyum, Kania pun menjawab, “Rahasia.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Kania pun langsung segera pergi meninggalkan Arya. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Arya padanya agar bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
Arya yang mendapatkan respons seperti ini pun langsung berteriak, “Hei, Kania. Berani-beraninya kamu sekarang main rahasia-rahasiaan sama aku, ya!?”
Arya pun langsung segera menyusul Kania hingga beberapa saat kemudian, Arya melihat Kania tiba-tiba berhenti.
“Ada apa?” tanya Arya setelah berada di posisi dekat Kania.
“P—Pak, lihat itu,” ucap Kania sambil menunjuk ke arah sepasang suami istri.
Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kania dan kemudian bertanya, “Ada apa sama mereka, Kan?”
Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian tanpa sadar dia pun meneteskan air mata.
Arya yang melihat Kania tiba-tiba menangis seperti ini pun bertanya, “Kania, kamu kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?”
Kania pun tidak menyahut. Dia justru masih terisak-isak menahan tangisnya agar tidak pecah.
Arya yang mendapati Kania seperti ini pun langsung merangkul bahu Kania dan membawanya untuk duduk di tempat yang tenang.
Setelah Arya sudah memastikan Kania duduk, Arya pun langsung bertanya, “Kan, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu menangis seperti ini?"
Sambil masih terisak-isak, Kania pun menyahut, “Aku sendiri gak tahu kenapa. Hanya saja aku merasa kalau dalam hidupku tidak akan pernah merasakan hal itu.”
Dengan menarik nafas panjang, Arya pun memberanikan diri untuk mengelus-elus rambut Kania dan kemudian berkata, “Kan, jika kamu emang ingin sekali merasakan seperti mereka tadi, aku mohon.. aku mohon bukalah pintu hatimu untukku dan ijinkan aku memperlakukanmu sama seperti mereka tadi. Ya!?”
Saat mendengar ucapan Arya, Kania pun langsung menatap lekat-lekat pria yang ada di hadapannya itu. Ada semacam perasaan tidak mungkin dan juga mustahil jika itu sampai terjadi.
Ditatap seperti ini oleh Kania, Arya pun langsung berkata, “Kamu tidak percaya?”
Ditanya seperti itu, Kania pun langsung membuang muka dan tidak menjawab sehingga membuat Arya lagi-lagi menghela nafas panjang.
“Ya sudahlah. Ayo kita makan,” ajak Arya.
Setelah mereka selesai mengisi perut mereka sampai kenyang, mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar.
Kania yang sudah merasa lelah ini pun tertidur duluan. Sementara itu, Arya pun masih berjaga melihat ke arah luar jendela kamar yang menampilkan pemandangan laut yang terhampar luas.
Di saat dia sedang larut dalam pemandangan laut tersebut, tiba-tiba saja..
__ADS_1
“Jangan.. jangan.. jangan pukul aku, jangan pukul aku,” gumam Kania sambil masih menutup matanya.
Arya yang mendengar ini pun langsung berlari menghampiri Kania.
“Kania.. Kania.. kamu kenapa Kania? Bangun Kania.. Kania,” ucap Arya sambil memukul pelan pipi Kania.
Beberapa saat kemudian, Kania pun membuka matanya dan kemudian melihat Arya ada di dekatnya.
Tanpa berpikir macam-macam, Kania pun spontan langsung memeluk Arya sambil berkata, “P—Pak, mereka berdua mau memukul aku dengan menggunakan kayu, Pak.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung mengelus-elus punggung Kania sambil berkata, “Sudah. Tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Mereka sekarang sudah menerima hukumannya. Kamu tenang saja ya!?”
Kania pun terdiam sesaat dan kemudian bertanya, “Emangnya mereka siapa, Pak? Lalu kenapa mereka ingin sekali memukul aku?”
Arya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Nanti jika saatnya sudah tepat, aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Sudah. Sekarang kamu lanjutkan tidurnya. Aku akan duduk di sebelahmu.”
Mendengar ucapan Arya seperti itu, entah mengapa tiba-tiba saja Kania menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Bapak tidur saja dekat aku. Aku soalnya masih takut kalau-kalau aku akan bermimpi seperti itu lagi.”
“Apa kamu yakin dengan ucapanmu? Kamu apa tidak takut denganku?” tanya Arya memastikan.
Kania pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Ngapain aku takut. Bukannya kata Bapak kalau kita ini suami istri? Jadi gak seharusnya aku takut sama Bapak kan!?”
‘Deg’
“Beneran gak takut?” tanya Arya lagi.
Kania pun mengangguk dan kemudian menjawab, “Iya, beneran.”
Mendengar ucapan Kania, Arya pun benar-benar semakin tidak bisa menahannya lagi.
Dengan penuh keinginan yang sudah sampai pada puncaknya, Arya pun langsung menjatuhkan tubuh Kania di atas tempat tidur dan kemudian bertanya, “Kalau aku seperti ini bagaimana? Apa kamu takut?”
Mendapatkan respons seperti itu dari Arya, Kania pun menjadi panik. Dia lupa kalau Arya tidak boleh dipancing. Jika tidak, maka hal yang selama ini dia hindari akan terjadi juga.
“Ba—Bapak mau ngapain?” tanya Kania.
“Menurutmu!?”
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dan juga persetujuan dari Kania, Arya yang sudah benar-benar rindu akan sentuhan Kania ini pun langsung menyerang Kania sehingga membuat Kania berteriak, “Aaaaaaaaargh! Bapaaaaaak!”
Bersambung...