
Beberapa saat kemudian, Arya pun akhirnya keluar dari kamar Kania menuju ruang tamu. Di sana ada Papa dan Mamanya Kania.
“Pak?” tanya Papa Rafi cemas kalau-kalau Kania akan berbuat ulah lagi sehingga dapat membatalkan kerja sama mereka.
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya,” ucap Arya yang kemudian langsung duduk di bangku ruang tamu.
Setelah setengah jam kemudian, Kania pun akhirnya keluar untuk menemui Papa dan Mamanya serta Arya.
Dia berdandan sederhana namun bisa membuat Arya sadar kalau betapa bodohnya dia saat itu yang sudah menyia-nyiakannya.
“Kan, akhirnya kamu keluar. Sini duduk dekat Pak Arya,” ucap Mama Rina yang langsung menggandeng tangan Kania dan membawanya ke sisi Arya.
Setelah Kania duduk di sebelah Arya, Papa Rafi pun berkata, “Kania, tentunya kamu sudah tahu pasti tentang maksud kedatangan Pak Arya ke rumah kita. Jadi bagaimana jawabanmu? Apakah kamu mau menerima lamaran Pak Arya ini dan menikah dengannya?”
'Deg'
“Menikah?...” tanya Kania dalam hati, “bukannya ini hanya acara lamaran saja dan belum mengarah ke pernikahan?”
Kania pun langsung menoleh ke arah Arya namun oleh Arya, tatapan Kania ini tidak dipedulikan.
“Oh bagus. Baru awal-awal aja udah menjebakku seperti ini. Rupanya usahamu cukup keras juga ya, Mas?!” gumam Kania dalam hati.
Mendapati Kania hanya diam saja sambil menatap tajam ke arah Arya, Papanya pun ber dehem.
“Kan, bagaimana keputusanmu? Apakah kamu akan menerimanya?” tanya Papa Rafi.
Mendapati pertanyaan yang sama seperti ini untuk kedua kalinya, akhirnya Kania pun bertanya, “Pa, Kania kan masih berumur 16 tahun. Kan masih belum bisa menikah dulu. Lagi pula Kania kan juga masih sekolah. Gimana jadinya kalau Kania menikah?”
Papa Rafi pun hanya terdiam mendapat pertanyaan seperti itu. Namun di saat yang bersamaan, Arya pun berkata, “Kamu gak perlu khawatir soal itu. Di tahun pertama, kita akan menikah di bawah tangan terlebih dahulu. Baru saat umurmu 17 tahun, kita akan mengesahkannya secara hukum.”
Mendengar ucapan Arya, spontan Kania pun langsung menengok ke arah Arya sambil berkata, “Ha?”
“Dan untuk masalah sekolah, kamu tenang saja. Selama kamu sekolah, status pernikahan ini akan di sembunyikan,” sambung Arya lagi.
Di saat yang bersamaan, Kania yang mendengar semua itu akhirnya dalam hati bergumam, “Gila nih orang. Terniat sekali.”
Lalu di sisi lain...
“Bagaimana sekarang, Kan? Kamu sudah dengar sendiri kan apa yang dikatakan oleh Pak Arya barusan?” tanya Papa Rafi.
Kania pun terdiam sejenak memikirkan tentang bagaimana seharusnya dia membuat keputusan. Karena ini tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan di awal.
__ADS_1
“Kenapa jadi begini?” gumam Kania dalam hati.
“Kan? Cepat jawab. Pak Arya sedang menunggu jawaban dari kamu tuh,” ucap Mama Rina sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh Kania.
Kania yang sedang merasa di desak ini pun akhirnya berkata, “Apakah dalam hal ini aku masih ada hak untuk menolak?”
‘Deg’
“Kan, kamu jangan mengacau deh,” gumam Arya dalam hati yang kemudian menyenggol pelan telapak kaki Kania.
Kania yang tahu persis dengan maksud Arya ini pun akhirnya menghela nafas panjang.
“Ya baiklah baiklah. Anggap aku tadi tidak bertanya apa-apa. Ya sudah. Aku menerima lamaran ini. Tapi kalau untuk menikah,...” Kania menghentikan ucapannya.
“Kenapa, Kan?” tanya Mama Rina.
“Hmm, bisa gak kalau pernikahannya jangan sekarang,” ucap Kania sehingga membuat Arya yang menahan tawanya.
“Gak, Kan. Gak sekarang. Tapi besok,” ucap Arya yang membuat Kania menganga.
Di saat perasaan sedang merasa kacau begini, tiba-tiba Papa Rafi pun berkata, “Bagus bagus bagus. Lebih cepat memang lebih baik.”
“Eh?”
“Hello.. di jadiin jaminan si jaminan. Cuma gak gini juga kali,” gumam Kania dalam hati sambil menepuk jidatnya dalam diam.
Sementara itu Arya yang melihat ekspresi wajah Kania pun dengan sekuat tenaga menahan tawanya. Dia benar-benar merasa kalau ekspresi yang di tunjukkan oleh Kania ini benar-benar sangat lucu dan menggemaskan.
Sambil masih berusaha tenang, Arya pun lalu berkata, “Baiklah. Besok kita lakukan secara sederhana dulu. Untuk soal penghulu dan juga saksi, semua akan kami siapkan. Kalian tinggal terima beres saja.”
“Ta—tapi, Pak. Bagaimana sekolahku?” tanya Kania.
“Menurutmu?”
Mendapatkan respon seperti itu, Kania pun langsung menggerutu, “Lagi-lagi begini.”
Setelah semua telah disepakati, Arya pun berpamitan untuk pulang. Namun sebelum itu tentunya dia berbisik pada Kania, “Jangan kabur lagi. Kalau berani kabur, aku akan menggantungmu di tiang bendera sebagai gantinya bendera.”
Kania yang mendapatkan ucapan itu pun spontan menceletuk, “Dasar stres.”
Arya yang mendengar celetukan Kania ini pun tersenyum dan kemudian pergi.
__ADS_1
***
Malam harinya ketika waktu tidur tiba, baik Kania maupun Arya, keduanya sama-sama tidak bisa tidur. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Mas, jalan kisah hidupku kenapa harus sama lagi seperti ini?! Ya walau pun cara memulainya agak sedikit berbeda sih,” gumam Kania sambil menatap langit-langit kamarnya.
Sementara itu di tempat lain...
“Kan, kali ini aku tidak akan membuatmu sakit hati dan juga menderita lagi. Aku akan selalu menyayangimu dengan tulus walau bagaimana pun keadaanmu,” gumam Arya yang sama seperti Kania, menatap langit-langit kamar.
***
Pagi hari pun tiba. Sesuai dengan yang diucapkan Arya, keluarga Kania pun hanya mempersiapkan diri mereka sendiri. Tentang selebihnya, semuanya sudah di atur oleh Arya.
Kania yang semalam kurang tidur ini pun berulang kali menguap dan menaruh kepalanya di atas meja belajar.
Sedangkan Arya yang kala itu sedang dalam perjalanan pun dengan tidak sabar menantikan dirinya untuk menikahi Kania.
Setelah beberapa saat kemudian, rombongan Arya pun sampai di rumah Kania.
Dengan berpakaian sederhana namun elegan, Arya pun turun dari mobilnya diikuti beberapa orang yang membawa seserahan di belakangnya.
Keluarga Kania yang tahu akan kedatangan Arya ini pun langsung menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita.
Sementara itu, pengantin wanitanya di saat seperti ini sedang tertidur pulas di meja belajarnya.
“Pak Arya, akhirnya Anda datang juga. Silakan masuk Pak,” ucap Papa Rafi.
Setelah di persilakan masuk, Arya dan rombongan pun tanpa sungkan masuk ke dalam sambil menyerahkan semua seserahan tersebut pada keluarga Kania.
Namun ketika semuanya sudah siap, mereka baru sadar kalau pengantin wanitanya dari tadi belum kelihatan.
“Jangan-jangan ni anak kabur lagi,” gumam Papa Rafi namun masih bisa di dengar oleh Arya.
“Pak, biarkan saya saja yang akan membawanya keluar,” ucap Arya yang kemudian bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan menuju kamar Kania.
Sesampainya ia di dalam kamar Kania, ternyata yang dia lihat...
“Kania!” teriak Arya di telinga Kania.
“Eh. Copot copot copot.”
__ADS_1
Bersambung...