The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Posesif 1


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu. Kehidupan pernikahan mereka di sekolah masih aman tertutupi dan belum banyak pergerakan yang di lakukan oleh orang tua Kania. Hingga akhirnya datang lah seseorang dari luar kota yang ternyata teman masa kecil Kania di saat tidak tepat.


“Tuan, ini data laporan dari hasil penjualan beberapa unit rumah. Coba Tuan cek,” ucap Henry saat Arya menyempatkan diri datang ke kantor sepulang mengajar.


Arya pun langsung melihat data laporan tersebut dan kemudian bertanya, “Apakah sudah ada survei terlebih dahulu dari pihak perusahaan Buana Cakra?”


“Belum, Tuan. Hanya saja entah mengapa mereka langsung begitu saja menyetujui pembelian tersebut,” ucap Henry.


Arya pun tersenyum dan kemudian berkata, “Kamu bentuk beberapa tim untuk menyurvei kebenaran data ini. Jika diketahui ada yang fiktif, maka simpan dulu. Kita sementara ini ikuti dulu permainan dari perusahaan Buana Cakra hingga waktunya tiba, kita akan buat perusahaan tersebut menjual sahamnya.”


“Baik Tuan. Saya mengerti. Akan saya laksanakan,” sahut Henry yang kemudian pergi meninggalkan Arya di dalam ruangannya.


***


Pagi harinya, Kania yang sudah terbiasa dengan tingkah aneh Arya ini pun bangun lebih pagi lagi dan lagi-lagi Arya pun berbuat ulah.


“Kan, jangan kabur kamu,” ucap Arya yang entah sejak sedan duduk di ruang tamu.


Kania yang saat itu sedang mengendap-endap ingin keluar ini pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Hehehe.. BaMasSay. Siapa yang mau kabur sih? Aku kan mau berangkat ke sekolah. Hehehe..” ucap Kania salah tingkah.


“Berangkat sekolah? Pagi buta begini?” ucap Arya yang diangguki oleh Kania.


“Mau ngapain kamu di sana pagi-pagi begini? Mau ketemuan sama dedemit penunggu sekolah?” tanya Arya yang saat melihat jam dan ternyata masih pukul 5 pagi.


“Ya gak sebegitunya juga sih. Hmm.. aku.. aku cuma,...”


Kania tidak bisa menemukan lanjutan kalimat yang tepat sehingga Arya pun langsung berkata, “Cuma apa? Cuma mau bertemu cowok. Iya?!”


'Deg'


“Cowok apaan sih, Mas?” tanya Kania tidak begitu paham dengan maksud ucapan Arya.


Mendapatkan jawaban seperti itu dari Kania, Arya pun langsung mendekati Kania dan menatap Kania.


“Apa perlu aku yang membuatmu mau mengaku?”


\=\=Flash back On\=\=


Hari itu, Arya tidak bisa berangkat bersama Kania karena ada hal yang mengharuskan dia untuk pergi ke kantor terlebih dahulu.


Namun, saat dia telah menyelesaikan urusannya dan memutuskan untuk langsung pergi ke sekolah untuk menjemput Kania, dia melihat Kania sedang berjalan sambil bersenda gurau dengan salah seorang murid laki-laki.


\=\=Flash back Off\=\=

__ADS_1


Seperti biasa Kania spontan langsung mundur ke belakang sehingga terpepet di tembok dan Arya pun terus melangkahkan kakinya ke hadapan Kania.


“M—mas, bisa gak sih mas gak selalu melakukan ini jika ingin mengetahui sesuatu dariku?” protes Kania gugup.


“Aku suka. Kenapa?! Kamu gak suka kalau aku seperti ini padamu?” tanya Arya dengan nada menantang.


Kania pun terdiam. Dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapi rasa posesifnya suaminya ini.


“Kok diam saja?...” tanya Arya, “coba kamu jelaskan, siapa cowok yang sedang bersamamu waktu itu. Yang bersenda gurau denganmu saat pulang sekolah.”


Mendengar ucapan Arya, Kania baru menyadari kalau yang dimaksud oleh Arya itu Vino, teman masa kecilnya dulu.


“Di—dia, dia teman masa kecilku, Mas. Kebetulan saja dia baru pindah sekolah dan bertemu denganku,” jelas Kania.


“Benarkah?” tanya Arya yang terus saja semakin mendekatkan diri ke tubuh Kania.


Kania pun mengangguk kencang sehingga membuat Arya kembali berkata, “Baik. Kali ini aku percaya padamu. Tapi kalau sampai lain kali aku melihatmu hanya berdua saja dengannya, maka saat itu juga aku akan memberikanmu hukuman.”


Arya pun langsung menjauhkan tubuhnya dari Kania lalu kemudian melanjutkan ucapannya dengan berkata, “Sudah. Sekarang kamu duduk dan tunggu aku di sini. Jangan sekali lagi mencoba untuk kabur.”


Setelah mengatakan hal itu, dengan tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi Kania saat itu, Arya pun langsung pergi begitu saja.


Sedangkan Kania yang telah di tinggalkan ini pun langsung seketika terduduk lemas. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Arya seperti itu saat sudah benar-benar jatuh cinta.


“Memang sih, dirimu yang sekarang lebih menyayangiku. Tapi rasa sayangmu ini benar-benar terlalu posesif Mas,” gumam Kania.


Di perjalanan menuju sekolah, tak ada satu pun dari mereka berdua yang memulai obrolan hingga akhirnya tanpa terasa mereka pun sampai di gerbang sekolah.


Masih sambil sama-sama diam, Kania pun turun dari mobil Arya yang kemudian langsung pergi ke kelasnya.


Sedangkan Arya tidak langsung turun. Dia terdiam sejenak memikirkan sikapnya tadi pada Kania.


“Apakah aku tadi keterlaluan padanya?” gumam Arya pada dirinya sendiri.


***


Kania yang sudah berada di dalam kelas ini pun terduduk sambil menundukkan kepalanya di atas meja. Dia benar-benar merasa sangat mengantuk sekali.


Dipejamkannya matanya sejenak hingga akhirnya...


‘Tuk.. tuk..tuk..’


Ada yang mengetuk meja Kania sehingga membuat Kania mengerjapkan mata dan terbangun.


“Lo emangnya habis begadang, Kan?” tanya orang itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Vino.

__ADS_1


‘Deg’


“Aduh. Mampus deh aku kalau si Tuan posesif sampai lihat,” gumam Kania dalam hati.


Sesaat setelah itu, Kania pun menjawab, “Hehehe.. iya. Semalam gue habis begadang buat nonton film.”


“Oh,” sahutnya.


Dan tak selang berapa lama kemudian, Gylsa dan Fiko pun datang. Membuat Kania jadi merasa lega.


“Syukurlah kalian berdua datang,” gumam Kania lagi di dalam hati.


“Ehm. Pagi-pagi begini udah ngepel. Eh salah. Udah ngapel,” goda Fiko.


Mendengar ucapan seperti itu, Vino pun tersenyum. Sedangkan Kania langsung berkata, “Dih. Buat siapa ke siapa perumpamaan ngapel ini, Fik!?”


“Ya buat lo berdua kali, Oneng,” celetuk Gylsa.


“Mana ada yang seperti itu? Jangan nyebar gosip deh,” ucap Kania mengingatkan.


“Siapa juga yang nyebar gosip!?” protes Fiko.


Mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak. Lalu sesaat setelah itu, Vino pun berkata, “Eh ini gue beneran mau tanya ya. Lo pada jawab yang jujur ya.”


“Iya. Lo mau tanya apa emangnya?” tanya Gylsa.


Untuk sesaat Vino pun terdiam sebelum akhirnya dia bertanya, “Hmm, itu. Sebenarnya Kania ini udah punya pacar belum?”


Lagi-lagi Kania 'deg'.


Dia kemudian berkata, “Lo buat apa tanya soal itu?”


Dengan tanpa menjelaskan, Vino pun menjawab, “Ya mau tahu aja. Siapa tahu gue masih punya kesempatan gitu.”


Mendengar ucapan Vino, seketika Kania pun bisa membayangkan apa jadinya Arya jika mendengar hal itu.


“Lo tenang aja. Setahu gue, Kania ini belum punya pacar kok. Ya kan, Fik?” ucap Gylsa dengan mantap yang diikuti anggukan Fiko.


“Oh. Jadi ada peluang donk,” ucap Vino sambil tersenyum ke arah Kania.


Kania yang mendapati situasi seperti ini pun langsung berkata, “Sori, Vin. Sepertinya lo jangan banyak berharap deh. Soalnya gue gak mau pacaran.”


Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba saja...


“Ehm.”

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2