
Semenjak acara sekolah selesai, aktivitas belajar pun kembali seperti semula. Arya yang rupanya tidak melupakan begitu saja ini pun langsung memanggil Novi untuk datang ke ruangan guru.
Setelah menunggu beberapa saat, Novi pun datang dan tanpa basa-basi, Arya pun langsung bertanya, “Apa ada hal yang mau kamu beritahu pada saya?”
“Gak ada Pak,” sahut Novi.
“Benarkah? Lalu untuk masalah kostum robek dan kejadian lampu mati saat pentas itu bagaimana?” tanya Arya.
Mendengar ucapan Arya, Novi pun berkata, “Maaf, Pak. Saya tidak mengerti dengan maksud Bapak. Apa sekarang ini Bapak sedang menuduh saya?”
Dengan menarik nafas panjang, Arya pun langsung memanggil dua orang siswa yang kemarin kostumnya mengalami robek.
Setelah menunggu beberapa saat, ke dua siswa yang di panggil itu pun akhirnya datang. Dengan merasakan keringat dingin, mereka bertiga pun saling menatap.
Dan di saat yang bersamaan...
“Nah, sekarang bagaimana? Sudah jadi seperti ini, apa masih kamu tidak mau menjelaskan apa-apa pada saya?” tanya Arya dengan tatapan tajam.
Walau sudah ditanya seperti itu pun, Novi masih saja tetap terdiam sehingga membuat Arya berkata, “Baik. Kalau begitu. Untuk kalian berdua, coba ceritakan kejadian yang sebenarnya seperti apa. Mengapa tiba-tiba saat itu kostum kalian bisa robek?”
Mereka berdua yang di panggil tersebut pun akhirnya saling menatap dan kemudian mengarahkan tatapan mereka ke Novi. Dengan isyarat gelengan kepala, Novi berharap kalau ke dua temannya ini tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Arya yang sebenarnya selalu memperhatikan setiap detail gerak-gerik mereka itu pun akhirnya berkata, “Jika kalian mau mengatakan hal yang sebenarnya, maka kalian tidak akan saya hukum. Tapi jika kalian sampai berkata bohong, maka kalian harus menerima hukuman dari saya.”
Mendengar hal itu, sontak membuat kedua siswa tersebut pun menjadi takut. Dengan lirih salah satu dari mereka pun memutuskan untuk bicara tentang hal yang sebenarnya terjadi.
Tapi karena Arya merasa tidak puas dengan cara mengatakannya, Arya pun akhirnya menyuruh siswa tersebut mengulangi jawabannya.
Dengan rasa sedikit takut dan sambil melirik ke arah Novi, salah satu siswa tersebut pun berkata, “Kami di suruh oleh Novi, Pak. Katanya, jika kami tidak mau menuruti perintahnya, kami tidak akan tenang berada di kelas itu.”
__ADS_1
Arya yang mendengar itu pun langsung menatap tajam ke arah Novi dan kemudian berkata, “Benarkah itu Novi? Keberanian dari mana kamu mengancam temanmu seperti itu? Kalau emang kejadiannya seperti itu, justru bukan mereka yang tidak akan tenang di kelas itu, tapi justru kamu yang akan merasakan ketakutan akan hal yang sudah kamu perbuat sendiri. Sekarang katakan pada saya, kamu melakukan ini semua karena diminta seseorang atau ini keinginanmu sendiri?”
Novi pun menunduk. Biar bagaimana pun di katakan atau tidak, dia tetap akan mendapatkan hukuman. Tapi jika dia mengelak, maka ini akan mengenakan untuk Sintia.
Sementara itu, Arya yang melihat Novi diam seperti itu pun kemudian berkata, “Nov, saya gak tahu apakah ini emang kemauanmu sendiri atau suruhan orang lain. Tapi kamu pikirkan baik-baik. Jika kamu tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan ternyata ini suruhan orang lain, maka hukuman yang seharusnya di bagi berdua, jadi harus kamu semua yang menerimanya. Apa ini tidak akan mengenakan dia?”
Mendengar ucapan Arya, dalam hati Novi pun bergumam, “Memang benar yang dikatakan oleh Pak Arya. Jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, maka ini bakalan akan mengenakan Sintia.”
Dan sesaat kemudian, Novi pun akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya dan ini sebenarnya sudah bisa di duga oleh Arya.
“Baiklah. Berhubung kalian udah mau berkata jujur, maka saya hanya akan memberikan skor 3 hari pada kalian. Terhitung mulai besok. Jadi saya berharap, setelah kejadian ini, kalian tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Arya yang Kemudian menyuruh mereka pergi.
Sesaat setelah mereka sudah pergi, Arya pun menyandarkan kepalanya di bangkunya dan kemudian bergumam, “Sintia.. Sintia.. rupanya kamu tidak menyerah dengan kenyataan.”
Sesaat setelah bergumam seperti itu, Arya pun langsung melaporkan hal ini pada wali kelas Sintia.
Dengan menyerahkan bukti rekaman yang tadi Arya ambil diam-diam ini, Arya pun menyerahkan keputusan hukuman untuk Sintia pada wali kelas Sintia.
***
Di rumah keluarga Aditya...
Mama Kiran yang mendapati anaknya tidak kunjung sekolah selama beberapa hari ini pun akhirnya merasa curiga dan kemudian datang menghampiri Sintia ke dalam kamarnya.
“Sin, beberapa hari ini kenapa kamu tidak sekolah? Apa kamu sakit?” tanya Mama Kiran baik-baik.
Sintia pun hanya menggelengkan kepalanya sehingga membuat Mama Kiran pun bertanya lagi, “Lalu kenapa kamu beberapa hari ini gak masuk?”
Bukannya menjawab pertanyaan dari Mamanya ini, Sintia justru mengatakan hal lain.
__ADS_1
“Ma, kenapa sih Arya harus udah menikah dengan perempuan gak jelas seperti Kania itu?” tamu Sintia kesal.
“Kok gak jelas sih, Sin?! Ya mungkin menurutmu gak jelas, tapi menurut Arya kan Kania itu perempuan yang jelas dan juga baik,” ucap Mama Kiran.
“Mama! Kenapa sih Mama selalu membela Kania? Sebenarnya yang anak Mama itu aku atau Kania?” ucap kesal Sintia yang kemudian langsung pergi meninggalkan Mamanya.
Mama Kiran yang melihat tingkah laku putrinya ini pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Sin, kenapa kamu bisa sampai punya karakter seperti ini? Andaikan anak Mama waktu itu masih bisa mama temukan, mungkin usianya akan sama seperti dirimu saat ini.”
***
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Arya sengaja membawa Kania untuk datang ke kantornya.
Kania yang dari awal tidak tahu alasan Arya mengajaknya ini pun kemudian bertanya, “Mas, sebenarnya Mas itu nyuruh aku ikut Mas ke sini alasannya apa sih?”
Arya pun langsung menghentikan aktivitas pekerjaannya dan kemudian menjawab, “Biar kamu gak bisa kabur-kaburan lagi dari aku.”
Mendengar jawaban Arya, Kania menyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Heleh. Kabur. Siapa juga yang mau kabur. Palingan juga langsung main sama Gylsa dan juga Fiko. Terus pulangnya malam deh.”
“Oh begitu kah?! Ya sudah tunggu sebentar,” ucap Arya yang langsung menghubungi Gylsa dan Fiko lalu Henry.
Kania yang memperhatikan Arya seperti itu pun langsung bertanya, “Mas, ngapain Mas menghubungi mereka semua?”
Belum juga pertanyaan Kania di jawab oleh Arya, tiba-tiba saja Henry sudah datang terlebih dahulu dan berkata, “Tuan, ada perintah apa?”
“Kamu antarkan nyoya jalan-jalan bersama ke dua temannya yang sekarang sedang menunggu di sekolah. Awasi mereka dan jangan sampai terjadi hal apa-apa pada mereka khususnya Nyonya,” perintah Arya.
“Baik Tuan,” sahut Henry.
“Dan untuk kamu, Kania. Ini kartu ATM khusus aku buatkan untukmu bermain bersama teman-temanmu. Pakailah berapa pun kamu mau,” ucap Arya yang langsung memberikan sebuah kartu ATM dengan nilai nominal 10jt di dalamnya.
__ADS_1
“Ha?!”
Bersambung...