The Possessive Perfect Teacher

The Possessive Perfect Teacher
Sebuah akhir yang diharapkan (END)


__ADS_3

“Ar, lihat! I—itu,...” ucap Adi sambil menunjuk ke arah seseorang berjaket hitam dengan memakai topi sedang berjalan semakin cepat mendekati Kania.


“Gawat!! Bahaya!!”


Semakin lama orang itu semakin mendekati Kania. Saat itu untuk sesaat dia terlihat terdiam hingga akhirnya dia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya.


Tampak terlihat sebuah belati ada di tangan kanannya yang mana saat itu dia terlihat dalam posisi seperti akan menusuk.


Sementara itu, Arya yang bergerak dengan cepat bersama dengan Henry ini pun langsung bertindak.


Dengan cepat Henry memegang tangan si pelaku yang memegang belati dan Arya langsung menarik tangan Kania hingga sampai di pelukannya.


Adi dan Gylsa yang masih dalam posisi bersembunyi ini pun diam-diam menghubungi polisi.


Ketika tangan si pelaku sudah berhasil ditahan, di saat itulah Arya tahu kalau memang ternyata benar Sintia pelakunya.


“Sin, ternyata memang benar-benar kamu!?” ucap Arya.


“Hahahahaha... Ar, kenapa kamu bisa tahu kalau aku mungkin akan melakukan hal ini pada Kania eh salah, pada istri tercintamu itu!?” ucap sinis Sintia.


“Sin, tolong jangan seperti ini. Kita bicarakan semuanya dengan baik-baik bisa kan?” pinta Arya.


“Cih. Gak mau dan gak akan pernah mau. Aku sampai kapan pun gak akan ikhlas membiarkan perempuan itu mengambil semua kebahagiaanku,” ucap Sintia.


“Sin, sadar Sin. Tolong jangan seperti ini,” pinta Arya lagi.


“Gak!” teriak Sintia sambil berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Henry.


Namun Henry yang mengetahui hal ini pun dengan sekuat mungkin menahan Sintia agar tidak dapat melepaskan diri.


Sambil mencoba berjaga-jaga manakala Sintia berhasil kabur, Arya pun mengambil posisi bersiap-siap jika sewaktu-waktu Sintia berhasil melepaskan diri.


Hingga beberapa saat kemudian, polisi akhirnya pun tiba dan Sintia pun langsung di amankan.


Saat proses membawa Sintia ke mobil polisi, Sintia pun berteriak, “Aku gak akan pernah membiarkan hidup kalian bahagia. Aku akan buat kalian terpisah selama-lamanya. Hahahahaha....”


Arya pun langsung merangkul pundak Kania dan mengelus-elusnya sambil berkata, “Akhirnya kita dapat menyelesaikannya.”


Di saat yang bersamaan, Adi dan Gylsa pun nongol lalu bertanya, “Kalian baik-baik saja?”

__ADS_1


Sambil menganggukkan kepala, Arya pun berkata, “Kami baik-baik aja. Terima kasih kalian sudah mau membantu kami berdua.”


“Sama-sama, Ar. Gak usah sungkan kaya’ gitu,” ucap Adi.


***


Kira-kira satu bulan semenjak kejadian itu. Kania pun fokus melanjutkan sekolahnya. Dia pun memutuskan untuk tinggal bersama Papa Aditya dan juga Mama Kiran selama masih sekolah dan Arya walau agak sedikit berat, tapi dia mendukung keputusan Kania.


Sesekali Arya menginap dan itu di saat akhir pekan.


Dan di akhir pekan ini...


“Mas, besok kita pergi lihat Sintia yuk,” ajak Kania waktu sebelum mereka tidur.


“Kamu yakin mau melihatnya?” tanya Arya.


Kania pun mengangguk dan kemudian menjawab, “Aku yakin, Mas. Biar bagaimana pun Sintia itu kan juga masih Adikku. Jadi wajar kan kalau aku datang menjenguknya!?”


Mendengar ucapan Kania, Arya pun tidak dapat berkata apa-apa lagi selain menyetujuinya. Tapi sebelum itu Arya meminta Kania untuk berjanji agar apa pun yang terjadi nanti, Kania harus bersiap-siap dan itu disetujui oleh Kania.


Akhirnya keesokan harinya...


“Mas, kenapa kita ke sini?” tanya Kania bingung karena Arya membawanya ke sebuah Rumah Sakit.


Arya pun merangkul Kania dan membawanya masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam, betapa terkejutnya dia melihat sesosok perempuan yang dia kenal sedang memeluk sebuah guling dan menyebut guling tersebut dengan sebutan 'Arya' lalu setiap kali dia melihat ada orang yang lewat di depannya, dia pun memanggil dengan panggilan 'Arya'.


Karena terlalu bingungnya Kania, akhirnya dia bertanya, “Mas, Sintia kenapa?”


Tanpa mau menjawab to the point, Arya hanya justru menjawabnya melalui sebuah jari telunjuk yang menunjuk ke arah sebuah papan nama Rumah Sakit.


Lagi-lagi di saat itulah, Kania merasa terkejut lagi. Betapa tidak, karena Rumah Sakit yang dia dan Arya datangi saat ini adalah Rumah Sakit Jiwa.


Sambil juga ikut menunjuk ke arah papan nama tersebut, Kania pun berjalan, “Mas. Ini,...”


Walau Kania tidak melanjutkan ucapannya, Arya tetap mengangguk seolah mengiyakan apa yang sebenarnya Kania ingin katakan.


Betapa syoknya Kania mendapatkan kenyataan seperti ini.

__ADS_1


“Mama dan Papa sudah tahu hal ini?” tanya Kania dan Arya pun mengangguk.


“Oh begitu,” ucap Kania.


Di saat yang bersamaan, dalam hati Kania bergumam, “Cintanya pada Arya terlalu besar, hingga dia jadi seperti ini. Ternyata mencintai seseorang terlalu berlebih-lebihan juga gak bagus buat kesehatan mental. Apalagi mencintai seseorang yang nyatanya sudah menjadi milik orang lain. Haisss..”


***


Hingga beberapa waktu kemudian...


Akhirnya tiba juga saat kelulusan sekolah Kania. Dengan perjuangan yang panjang. Mengulang dan mengulang kembali jalan cerita hidupnya, kini dia dan Arya akhirnya dapat juga menemukan sebuah akhir yang diharapkan.


Dan saat upacara kelulusan dan di depan seluruh siswa yang hadir, Arya tiba-tiba saja memanggil Kania untuk maju ke depan.


Dengan penuh tanda tanya, Kania pun melangkahkan kakinya dan berbisik, “Ada apa sih ini?”


Arya tidak menjawab pertanyaan Kania. Dia justru tersenyum lalu berkata, “Hari ini, aku akan katakan pada seluruh siswa dan juga guru yang hadir saat ini bahwa aku, Arya Dinata ingin melamar salah seorang siswi yang bernama Kania Larasati untuk menjadi pasangan hidupku sekaligus Ibu dari anak-anakku kelak. Apa kamu bersedia, Kania?”


Mendengar Arya tiba-tiba melamar seperti itu, sontak membuat seluruh siswa dan guru pun berteriak sambil bertepuk tangan sehingga membuat Kania sangat gugup di buatnya.


Dengan menahan rasa malu, Kania pun menjawabnya dengan mengangguk-angguk kepalanya sehingga semakin hebohlah acara upacara kelulusan saat itu.


***


Kini satu bulan telah berlalu..


Arya akhirnya dengan berani mengakui Kania sebagai istrinya dan bukan hanya itu, dia pun mengadakan pesta yang meriah sebagai wujud dari rasa bahagianya itu.


“Kan, akhirnya kita bisa melewati ini semua bersama-sama,” ucap Arya di tengah-tengah pesta.


Kania pun mengangguk dan kemudian berkata, “Jika sudah jera dengan rasanya berjuang mendapatkan aku, maka jangan sekali-kali Mas berbuat kesalahan yang membuat Mas menyesal. Karena belum tentu kita akan dapat mengulangi kehidupan kita lagi seperti dulu. Jadi jangan sia-siakan hasil yang sudah di dapat ini.”


Mendengar Istrinya berpesan seperti itu, Arya pun berkata, “Tentu saja, sayang. Aku gak akan menyia-nyiakan hasil sudah kita dapatkan ini. Tapi tentunya ke depannya kita juga perlu saling mengingatkan agar tidak ada kejadian seperti kemarin-kemarin untuk yang kedua kalinya lagi.”


Kania pun mengangguk.


Setelah saat itu hingga seterusnya, Kania dan Arya hidup berbahagia dengan di karuniai sepasang anak. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan.


Sama halnya dengan Kania dan Arya, Adi dan Gylsa pun akhirnya menikah dan memiliki satu orang anak laki-laki.

__ADS_1


Kehidupan persahabatan mereka pun akhirnya dibawa hingga ke anak-anak mereka.


\=\=END\=\=


__ADS_2