
Setelah beberapa saat, mereka pun akhirnya sampai di ruangan Arya. Namun di sana ternyata sudah ada seorang wanita yang entah siapa, tiba-tiba saja datang menghampiri Arya dan kemudian berkata, “Hai Arya, lama tak jumpa. Kamu masih saja tampan seperti dulu. Aku makin sayang dan cinta deh sama kamu.”
Kania yang saat itu sedang berdiri di sebelah Arya pun spontan menengok ke arah Arya yang kala itu langsung berkata, “Untuk apa kamu ke sini, Sin?”
Mendengar Arya menyebutkan nama 'Sin' tiba-tiba saja Kania teringat tentang seorang wanita yang bernama Sintia yang di masa lalunya dia adalah wanita yang telah menghasut Arya untuk semakin membenci dirinya.
“Aih, Ar. Kenapa kamu berubah jadi tidak ramah seperti ini sih? Ini siapa?” tanya wanita tersebut yang memang benar bernama Sintia.
“Dia,...”
Ucapan Arya langsung di potong oleh Kania dengan berkata, “Oh. Aku kebetulan anak magang di perusahaan Pak Arya. Bukan begitu, Pak?"
Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung menengok ke arah Kania yang ternyata secara kebetulan Kania juga melihat ke arah Arya.
“Anak magang?! Sejak kapan perusahaanmu ini bisa di buat magang oleh anak sekolah?” tanya Sintia heran.
Mendapatkan pertanyaan itu, Arya pun langsung berkata, “Sudah. Tidak usah dibahas lagi soal ini. Cepat bilang, kamu untuk apa datang ke sini?”
“Oh. Ini. Besok malam Papa dan Mamaku mengundangmu untuk menghadiri pesta kepulanganku. Kamu datang kan?” tanya Sintia.
“Lihat besok,...” sahut Arya, “Kalau kamu sudah tidak ada keperluan lain, kamu bisa pergi sekarang. Aku sedang banyak pekerjaan dan tidak mau diganggu.”
Mendapatkan respons seperti itu dari Arya, walau terasa pedih di hati Sintia, namun Sintia masih tetap berusaha baik pada Arya.
“Oh ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu. Besok jangan lupa datang ya,” pesan Sintia.
“Hum,” sahut singkat Arya.
Merasa tidak disambut baik oleh Arya, Sintia pun akhirnya pulang.
Kania yang juga ada di tempat itu pun dan melihat kejadian itu pun akhirnya berkata, “Mas, kenapa ketus seperti itu?”
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Kania, Arya pun langsung menoleh ke arah Kania dan berkata, “Eh, Kan. Kamu ini bodoh atau bagaimana sih?! Kenapa kamu tadi bilang ke dia kalau kamu magang di sini, hah?”
Kania pun langsung melangkahkan kaki menuju bangku yang ada di hadapan meja kerja Arya lalu duduk dan kemudian menyahut, “Mas, kita berdua tahu keadaan masa lalu kita seperti apa dan aku gak mau hal dulu terulang lagi.”
Mendengar jawaban Kania, Arya pun langsung melangkahkan kakinya mendekati Kania lalu berkata, “Kan, aku jamin. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu lagi. Ok?!”
Kania pun menatap lekat-lekat pria yang ada di hadapannya itu. Dalam hatinya bergumam, “Apakah aku harus mempercayaimu, Mas?”
***
__ADS_1
Dua jam kemudian, di kediaman keluarga Aditya..
Sintia yang baru saja pulang dari kantor Arya ini pun tiba-tiba saja langsung merajuk dan hal ini tentunya diketahui oleh Mama Kiran yang kala itu baru saja keluar dari arah dapur.
“Kamu kenapa, sayang? Pulang dari kantor Arya, kenapa langsung marah-marah begini?” tanya Mama Kiran heran.
Sintia pun langsung melangkah mendekati Mama Kiran dan dengan nada merengek, dia berkata, “Ma, Mama harus bantu Sintia.”
“Bantu apa, sayang?” tanya Mama Kiran.
“Sintia mau agar Mama dan Papa mau menjodohkan aku dengan Arya pas nanti pesta. Mama mau kan bantu Sintia?” tanya Sintia penuh harap.
Mamanya pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ya sudah. Mama akan rundingkan dulu dengan Papamu, ya?”
Sintia pun mengangguk dan kemudian berkata lagi, “Usahain berhasil ya, Ma.”
“Iya. Mama usahain,...” sahut Mama Kiran, “ya sudah. Kamu sekarang istirahatlah.”
Sintia pun mengangguk dan kemudian pergi.
Sementara itu Mama Kiran yang sudah di tinggalkan oleh Sintia ini pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya tersebut.
Kania yang sudah menunggu dua jam lamanya ini untuk diberi tugas oleh Arya pun lama-lama merasa semakin terasa jenuh.
“Mas, mana? Katanya di sini aku harus mengerjakan sesuatu. Kenapa dari tadi aku masih belum di kasih tahu tentang apa yang harus aku kerjakan?” tanya Kania.
Arya pun menghentikan pekerjaannya dan kemudian berkata, “Oh. Ya sudah. Kamu ambil kertas yang ada tas guruku itu.”
Mendengar ucapan Arya Kania pun langsung menengok ke arah tas Arya dan kemudian bertanya, “Yang itu?”
Kania menunjuk ke arah sebuah tas yang tergeletak di atas sofa tidak jauh dari meja kerja Arya.
“Hum. Ambil saja kertas yang ada di dalam sana,” perintah Arya.
Kania pun langsung menghampiri tas tersebut dan membukanya lalu mengambil kertas sesuai perintah Arya.
Namun saat dia melihat tulisan yang tertera di kertas tersebut, Kania pun langsung bertanya, “Mas, ini maksudnya?”
“Iya. Kerjakan. Itu tugas saat kamu madol selama ini dari jam pelajaranku dan itu harus selesai hari ini juga,” ucap Arya dengan masih fokus menghadap ke arah komputernya.
Kania yang mendengar ucapan Arya ini pun langsung spontan menceletuk, “Ha?! Tahu gini aku sebisa mungkin menjauh darimu. Dasar guru pemaksa,”
__ADS_1
Arya yang bilang itu pun langsung melayangkan sebuah kertas yang sudah dia buntal ke arah kepala Kania.
Kania yang kepalanya terkena lemparan dari Arya ini pun langsung melihat ke arah Arya sambil bergumam, “Dasar pemarah.”
Walau seperti itu, Kania yang sedang jenuh ini pun hanya bisa mengisi kekosongan dengan mengisi tugas dari Arya tersebut.
Sambil masih dengan sibuk dengan dunianya masing-masing, tiba-tiba saja Arya berkata, “Setelah pulang dari sini, kita akan mampir membeli beberapa pakaian untukmu.”
“Untukku? Buat apa? Bajuku juga semuanya masih layak pakai,” ucap spontan dari Kania.
“Iya. Tapi kamu lupa ya kalau kita besok di undang ke pestanya Sintia,” ucap Arya.
“Lha aku kok juga ikut sih? Bukannya yang di undang itu mas aja ya?!” tanya Kania polos.
Mendengar ucapan Kania, Arya pun langsung menghentikan pekerjaannya dan kemudian berkata, “Kan, kamu itu istriku bukan sih?”
“Bukan,” sahut Kania spontan.
Lagi-lagi Arya yang mendengar ucapan Kania tersebut pun akhirnya merasa terpancing emosi dan kemudian bangun dari duduknya lalu berjalan mendekati Kania.
“Mau apa?” tanya Kania yang tiba-tiba saja merasa firasat tidak enak.
“Mau apa mau apa. Kamu sadar gak kalau kamu itu udah melakukan kesalahan?” tanya Arya kesal.
“Salah? Lha emang aku tadi salah di mananya?” tanya Kania yang semakin membuat Arya sudah tidak tahan lagi untuk memberi pelajaran pada Kania.
Arya pun semakin mendekatkan dirinya pada Kania sehingga Kania yang tidak bisa bergerak ini pun tiba-tiba saja berbaring di atas sofa dengan posisi setengah duduk.
Sedangkan posisi Arya pun kini menelungkup di atas tubuh Kania.
“Kan, rupanya kamu masih benar-benar belum mengakui pernikahan ini. Bagaimana kalau kita buat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sempurna dan sesungguhnya?” ucap Arya yang semakin mendekatkan wajahnya di atas wajah Kania.
Kania yang menerima perlakuan itu pun tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak kencang dan dirinya menjadi gugup.
“M—mas.. kita sedang ada di kantor,” ucap Kania.
“Oh. Jadi menurutmu, jika kita melakukannya di rumah, maka gak apa-apa ya?...” ucap Arya yang kemudian langsung bangun, “baik. Kalau begitu kita lakukan di rumah aja. Jangan harap saat itu kamu bisa lepas.”
“Apaaaaaaaaa?”
Bersambung...
__ADS_1